KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMengakhiri Ujian Nasional (UN) oleh : Syafbrani
20-Apr-2014, 12:39 WIB


 
 
Mengakhiri Ujian Nasional (UN)
KabarIndonesia - Secara kasat mata UN hanyalah merupakan bentuk tes tertulis bagi siswa. Tidak lebih! Tapi jika dibedah secara mikroskopis akan nampaklah jalur konvergensi (penyatuan) yang mengarah pada satu tujuan: TARGET KELULUSAN yang sepertinya sudah menjadi Tuhan!

selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB





 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Syukur Kita Kepada Guru 21 Apr 2014 11:07 WIB

Paskah Abadi 21 Apr 2014 11:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Sepatu

 
CERPEN

Sepatu
Oleh : Heni Kurniawati | 19-Mei-2010, 23:56:08 WIB

KabarIndonesia - Hujan turun lagi pagi ini, bahkan lebih lebat dari kemarin. Meskipun sudah hampir penghujung Mei, musim hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Cuaca semakin tak menentu. Kadang mendung gelap tetapi tidak turun hujan, kadang cerah tetapi begitu ada sedikit mendung hujan turun juga. Hujan di pagi hari adalah hal yang paling kubenci karena aku tidak bisa naik motor ke kantor. Selain tidak suka dengan bau lepek jas hujan, tidak ada becak yang stand by di dalam kompleks perumahan. Sementara sudah terlalu terlambat untuk menelepon dan menunggu taxi datang. Terpaksa aku harus jalan kaki sampai ke jalan raya untuk naik angkot.

Jam menunjuk ke angka 7:10 ketika aku mengunci pintu. Segera kugulung celana sampai bawah lutut dan kupakai Sandal Jepit-ku. Aku lebih suka berangkat ke kantor dengan Sandal Jepit daripada sepatuku basah oleh hujan. Butuh 15 menit untuk sampai ke kantor dan jam kerjaku dimulai pukul 7:30. Kubuka payung sambil berdo’a semoga aku tidak terlambat pagi ini. Hujan terasa sangat dingin begitu kakiku bersentuhan dengan airnya. Aku berjalan cepat karena tidak memiliki banyak waktu.

Ketika hampir sampai di pintu gerbang kompleks, aku merasa seperti ada yang tertinggal. Kubuka tas dan berusaha mengingat-ingat apa yang mungkin tidak terbawa. Agenda kerja sudah, tempat minum sudah, bekal makan siang sudah, apalagi ya...Astaghfirullah, sepatuku....Ternyata aku lupa membawa sepatu. Gosh...tidak mungkin ngantor tanpa sepatu.

Bergegas aku kembali ke rumah. Jam 7:17, bisa dipastikan aku terlambat pagi ini. Sempat terpikir untuk bolos saja tetapi nanti siang ada meeting dengan departemen Business Controller dan beberapa outstanding jobs harus diselesaikan hari ini. Aku berjalan sangat cepat seperti dikejar hantu. Tak sedikitpun aku menoleh kanan kiri, yang terpikir hanya mengambil sepatu dan secepatnya berangkat ke kantor lagi.

Tergesa aku masuk setelah Kenek angkot membuka pintu. Waktuku tinggal 5 menit, meskipun terlambat setidaknya aku tidak terlambat terlalu lama. Setelah menaruh kantong plastik berisi sepatu di samping tempat dudukku, aku merapikan pakaian dan jilbabku. Selembar tissue menyeka butir-butir keringat yang memenuhi dahiku setelah berjalan maraton dua kali rute dari rumah hingga ke jalan raya.

“Kiri, Pak,” teriakku pada Kenek angkot sepuluh menit kemudian.
Segera kurentangkan payung dan keluar angkot. Sambil berlari-lari kecil aku berusaha melindungi baju dan tubuhku dari hujan. Kulirik arlojiku yang menunjukkan pukul 7:35, lima menit aku terlambat. Jalanku semakin cepat. Namun tiba-tiba langkahku terhenti.
Astaghfirullah, sepatuku...!!! Jantungku terasa berhenti berdetak saat tersadar kalau sepatuku tertinggal di angkot. Bagaimana mungkin aku kerja dengan Sandal Jepit? Sementara angkot telah melaju jauh.

Sepatu itu satu-satunya sepatu Ecco yang kupunya, hadiah ulang tahun pernikahan yang pertama dari suamiku. Tiga bulan lalu ketika bertugas ke Thailand, suamiku sengaja mampir ke Pinklao Ecco Store Bangkok untuk membeli sepatu itu. Selain karena kualitasnya yang sangat bagus, modelnya juga kusukai. Ecco Shine, koleksi terbaru Ladies Shoes dari pabrik sepatu yang berkantor pusat di Denmark itu telah mencuri kekagumanku sejak pandangan pertama setelah bungkusannya terbuka. Warnanya shiny black, bertumit agak tinggi, dan kulitnya tidak keras sehingga jari-jari kakiku merasa nyaman. Suamiku pasti akan kecewa jika tahu sepatu yang ia hadiahkan tertinggal di angkot. Duh, betapa lalainya aku, tak bisa menjaga pemberian dari orang tercinta.

“Hujan sialan...,” aku mulai mengumpat.

Ingin rasanya menangis atas kesialan yang terjadi bertubi-tubi pagi ini. Capek-capek kembali ke rumah mengambil sepatuku hanya untuk ditinggal di angkot? Huh, Dasar Bodoh, Lalai...! Gara-gara hujan sialan! Umpatanku melompat-lompat dalam hati, mendesak-desak ingin dimuntahkan.

Sampai di ruangan kerja, aku terduduk lemas. Sambil menyalakan komputer aku bertanya pada rekan kerjaku, berharap ia membawa sepatu cadangan hari ini. Kebetulan aku hanya berdua dengannya di ruangan ini dan biasanya kalau hujan sepatu ditinggal di kantor dan kami pulang dengan sandal jepit atau sandal karet.

“Ci, ada sepatu yang nganggur nggak?”

Uci menoleh, sedikit bingung karena datang-datang aku menanyakan sepatu.

“Lho, memang sepatumu kemana?”

“Ketinggalan di angkot,” jawabku memelas.

“Hah? Kok bisa? Sepatu yang mana?” tanya Uci.

Sontak ia tertawa terpingkal-pingkal, menertawakan kebodohanku. Ekspresinya membuatku semakin sebal, tapi untunglah ia membawa sepatu kets karena akan ikut senam setelah pulang kantor. Kebetulan ukuran sepatu kami sama. Aku bersyukur telah dipinjami sepatu meskipun penampilanku menjadi sangat lucu. Stelan blezer dipadu dengan sepatu kets putih bagiku lebih baik daripada tidak berani keluar ruangan karena tidak bersepatu. Lebih-lebih kalau harus berurusan dengan personalia.

Saat istirahat tiba aku menelepon suamiku dan menceritakan kejadian pagi ini. Aku bersyukur ia tidak marah karena memang sebelum bercerita aku memintanya berjanji untuk tidak marah. Tetapi selanjutnya, ia juga memintaku berjanji untuk lebih disiplin dan berangkat kerja lebih pagi. Ini demi kebaikanku sendiri, agar aku tidak terburu-buru dan bertindak lalai. Tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaannya. Aku juga berjanji akan menjaga barang-barang pemberiannya dengan baik.*


Sidoarjo, 18 Mei 2010
*) Ditulis oleh: Heni Kurniawati, Cerpenis, Alumnus Sastra Inggris Unitomo Surabaya.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Menduniaoleh : Irwan Gunawan
19-Apr-2014, 22:28 WIB


 
  Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Mendunia Membicarakan mangga gedong gincu, yang terbayang tentu saja rasanya yang asam manis, tekstur dagingnya yang berserat, bentuknya yang bulat dan warna kulitnya yang kemerah-merahan layaknya wanita berdandan menor dan genit. Inilah kesan pertama ketika menikmati mangga yang kini makin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 
Anjlok, Suara Demokrat di Jatim 20 Apr 2014 12:37 WIB

 

 

 

 
Pasar Terapung di Kalsel 06 Apr 2014 19:18 WIB


 

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Penyertaan Tuhan 20 Apr 2014 00:29 WIB

Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia