KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

CERPEN: Emak

 
CERPEN

CERPEN: Emak
Oleh : Fiyan Arjun | 08-Nov-2007, 19:35:07 WIB

KabarIndonesia - Ah, Emak! Semua kenangan manis itu membuatnya sedih. Siapa yang dapat disalahkan, kalau seorang manusia yang dikandung selama sembilan bulan lamanya, ternyata watak dan karakternya sangat berbeda dengan Rosma. Bagai langit dan bumi!

Dengan gontai Rosma berlari-lari kecil menerobos gelapnya terowongan kecil di rumah sakit. Paras cantiknya berubah menjadi pucat. Pandanganya nanar seperti menyimpan sebongkah penyesalan. Setelah sampai di salah satu ruang rawat. Ia terkejut ketika di ruang rawat ada seseorang yang akan merenggang nyawa. Ia terus memandangi ruang rawat. Ruang dimana seorang perempuan tua terkulai lemas tanpa daya. Emak. Ya, Emak!

Ruang rawat itu terasa suram. Menyerupai suasana hati Rosma kala itu. Betapa bedanya ruangan itu. Dimana Emak dirawat dengan tempat Rosma bekerja. Wangi dan ber-AC, semua menyiratkan aura kebahagiaan dan kesuksesan seorang Rosma. Tidak seperti tempat Emak dirawat. Berbagai bau obat-obatan dan tabung-tabung oksigen yang berjajar menjadi penopang hidup. Begitulah Rosma berdesah ketika mereka memasuki ruangan yang ia benci.

Di hadapannya terbaring lemah sosok yang sangat familiar. Dan dari bagian itu merupakan dari gambaran Rosma. Bentuk wajahnya yang tirus selalu ia lihat jika Emak bercermin, jari-jari yang dimilikinya juga ia miliki. Begitu pun bibirnya yang pucat adalah bibir milik Rosma. Sosok itulah yang membuat dirinya marah, sekaligus sedih. Rasa rindunya yang membuncah sehingga Rosma putus asa untuk melupakannya. Dialah orang yang selama ini membuat dirinya menjadi seorang wanita sukses dalam karirnya. Emak! "Nduk kamu nggak kerja," lirih Emak pelan ketika terbangun lalu membelai rambut Rosma dengan lembut. "Rosma kerja kok, Mak! Tapi hanya separuh hari, " jawab Rosma setelah menatap Emak yang pucat pasi. Bagai orang terkena anemia."Emak nggak usah banyak bergerak. Biar Rosma saja yang mengambil apa yang Emak mau, " ujar Rosma berusaha menenangkan hati Emak.

***

Rosma tak habis mengerti kenapa ia selalu bertengkar dengan Emak. Segala sesuatu yang akan dilakukannya seakan salah di mata Emak. Begitu juga sebaliknya. Apapun yang Emak katakan, bagi Rosma tidak logis, tak masuk akal. Semua peraturannya kolot, kuno dan mengekang. Tapi Emak yang ada dihadapannya kini berbeda sekali. Setiap hari Rosma terus berdebat panjang lebar. Perdebatan itu hampir sering berakhir dengan tangisan dan permusuhan. Di mata Emak, mungkin Rosma sudah dicap anak durhaka. Sedangkan di mata Rosma, Emak adalah orangtua yang mau menang sendiri. Egois!

Ugh! Rosma dongkol setengah mati. Kolot, kuno dan ungkapan-ungkapan yang tidak pantas dilontarkan keluar dari bibir mungil Rosma.

"Emak sudah bilang jangan! Jangan! Sebab kamu bukan muhrimnya bergaul dengan siapa itu...?"

"Raja yang Emak maksud?"

"Ya, benar!" jawab Emak ketus kepada Rosma"

Padahal teman-teman Rosma tidak seperti itu. Seperti yang dikatakan Emak. Selalu keluar malam tanpa tujuan dan sebagainya. Dua jam sesudah Rosma habis untuk berdebat kusir dengan Emak. Entah melantur kemana-mana. Akhirnya Rosma berhenti bertengkar setelah dirinya marah, ketika Emak menyebutnya dengan anak yang tidak bisa diatur.

"Pasti kamu nanti tidak akan menjadi apa-apa. Hanya jadi anak liar!" Kata-kata Emak kasar. Menyakitkan.

***

"Tidak Emak, tidak Mbak Siska semua sama saja. Apakah begitu sikap orang dewasa? Selalu menasehati. Dan selalu inilah-itulah,"gerutu Rosma sambil masuk ke kamar lalu menangis sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

"Sudahlah Ros, Emak pasti lagi capek. Mungkin hari ini dagangannya kurang laku, "hibur Mas Arya kakak Rosma yang paling sulung sambil membelai rambutku.
"Tapi semua kata-kata Emak, tidak adil Mas!" kata Rosma berapi-api. Sesak oleh emosi.

Tapi kapan Rosma bisa meraih kebebasan seperti wanita lain. Apakah sayang itu membelenggu? Bukankah sayang itu artinya memberikan kepercayaan penuh. Apakah karena Emak pernah ditinggal sama bapak, sehingga dia tidak pernah mempercayai orang lain.

"Bukan salah aku Mas, kalau Bapak meninggalkan Emak. Kenapa aku yang tersiksa tidak pernah merasakan kebahagiaan?" isak Rosma lagi kepada kakaknya. Mas Arya kakak pertama dari keluarag Rosma itu hanya terdiam melihat Rosma tak seperti biasanya.

Rosma sedang kesal pada orang rumah. Tak peduli siang dan malam selalu begitu kebiasaannya. Entah sudah yang keberapa kalinya Rosma memberikan penjelasan kepada Emak tentang hubungannya dengan Raja. Raja, cowok yang baru sebulan Rosma kenal lantaran Aisah teman baiknya itu memperkenalkannya pada saat di kampusnya mengadakan acara bazar peduli kemanusiaan. Itu pun Rosma hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Tidak lebih dari itu.

Ini terhitung sudah ketiga kalinya Rosma mendapatkan larangan dari Emak maupun Mbak Siska, kakak kedua darinya.

"Ros, seharusnya kamu pikirkan kuliahmu. Bukannya keluyuran kemana tahu.... yang tidak ada gunanya," ujar Emak saat Rosma masih di bangku kuliah.

Apakah Rosma salah kalau mencintai masa remaja ku saat itu? Apakah salah Emak, sebagai orang tua yang melindungi anaknya, sedangkan anaknya semakin besar dan mulai memilih keinginannya sendiri? Terkadang Rosma suka berkhayal tentang hubungannya dengan Emak rukun. Nyatanya sulit bagi Rosma menyatukan persepsi antara dirinya dengan Emak. Dan semakin banyak tanda tanya. Mengapa? Rosma semakin sadar.

Emak..., saat ini Rosma sudah disisimu, sementara kau tertidur tak berdaya dalam mimpi-mimpimu dan rambut putihmu melekat di dahimu menyatu dalam peraduan.

***

Di salah satu ruangan di rumah sakit itu, Rosma melihat Emak kembali. Tubuhnya yang kurus dan raut wajahnya yang tirus, Emak membuat hati Rosma hancur dan menyesal. Rosma kembali memegang tangannya yang sudah berkerut. Emak hanya diam seribu bahasa yang membuat tak mengerti apa yang diisyratakan padanya. Dan sorot matanya yang kosong menggambarkan bahwa Emak sangat mencintai dirinya. Sehingga setiap detik demi detik bunyi pendeteksi detak jantung membuat Rosma selalu bertanya-tanya. Tetapi kekerasan di hatinya masih menyirat di sana. Dan mulut Emak belum mampu mengucapkan sepatah kata. Sedangkan airmata yang bersumber dari muara mata tak sengaja mengalir di pipi Rosma. Entah airmata kerinduan atau penyesalan? Rosma mengusap. Pertahanan Rosma berusaha menahan isak tangis yang mendesah dari tenggorakannya. Tapi tidak bisa! Airmatanya terus mengalir tak terbendung lagi.

"Rosma sayang Emak!"

Akhirnya Rosma hanya mampu mengucapkan kalimat itu sambil kembali menggenggam tangannya yang dingin sedingin salju. Emak tak menolak saat Rosma memohon maaf padanya. Ia tetap membisu biru. Lalu nafasnya berlomba-lomba dengan kehidupan nyata. Lalu genggaman tanganya terlepas dari tangan Rosma.Tetapi sebelum Emak menutup matanya Rosma masih ingat saat Emak mengatakan sesuatu padanya.
"Emak percaya, kamu bukan wanita cengeng. Hampir sebulan kita menangis bersama-sama. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah berusaha menemukan jawabannya. Tapi itu semua percayakan saja kepada Yang Maha Kuasa. Mungkin di sana nanti tempat Emak lebih lapang dibanding saat ini dan juga kamu tak lagi memikirkan Emak, Ros," lirih Emak saat itu.

Saat itu Emak memandang Rosma tidak seperti biasanya. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Seakan-akan Emak sedang menceritakan kegiatan sehari-harinya. Begitu datar, hati Rosma semakin miris mendengarnya.

"Emak akan pergi selama-lamanya hari ini. Sebelum Emak tak kuasa memandang Rosma, Emak percaya kamu akan sanggup menghadapi hari depanmu kelak tanpa Emak."

Begitulah nasehat yang disampaikan oleh Emak kepada Rosma sebelum kelopak mata Emak tertutup. Sungguh bagi Rosma bagai pemandangan yang sangat menyakitkan sekaligus menyedihkan.

***

Di pemakaman Emak. Semilir angin semerbak bunga kamboja merasa lebih kuat untuk mengujungi makam Emak. Daun-daun serta rerumputan sekitar pemakaman itu bagai tangan-tangan tengadah mengharapkan ampunan Emak dari Yang Maha Kuasa. Ya, siapa lagi kalau bukan untuk Emak....!

Tapi kini Emak ....

"Sudahlah Ros, tabahkan hatimu. Mungkin ini jalan terbaik untuk Emak..."

Rosma mendengar samar-samar suara dari belakang sambil memegang pundaknya saat itu memanjatkan doa di atas makam Emak. Lalu Rosma menoleh mencari asal suara itu.

Ternyata suara itu berasal dari teman baiknya Aisah dan seorang lelaki berbaju kok berwarna hitam gelap. Yang tak lain Raja. Ya, Raja. Cowok yang ia kenal atas jasanya di kampus. Sudah hampir tiga tahun mereka tak pernah bertemu dengannya. Semenjak Rosma mendapatkan gelar sarjana di kampusnya.

"Sori ya Ros, kita-kita baru tahu, " kata Aish mewakili.

"Sudahlah Ros kita yang masih hidup sekarang ini harus menjalani segala apa yang almarhumah wasiatkan padamu, " timpal Raja memberikan semangat kepada Rosma.

Ucapan Raja seakan-akan membuat Rosma berpikir untuk melakukan suatu hal terhadap maksud Emak. Emak memanglah seorang istri dan juga seorang ibu yang benar-benar patuh pada suaminya serta adat yang selama ini mereka tanamkan pada diri Rosma. Walau sebenarnya Emak pernah disakiti oleh seorang laki-laki yang tak lain Bapaknya sendiri. Entah dimana keberadaan Bapaknya sedangkan Rosma tidak pernah mengetahuinya. Dimana lelaki itu berada. Ia tahu bapaknya masih hidup. Itu pun dari pemberitahuan tetangga dekatnya yang mekihat Bapaknya bersama wanita lain. Tak lain istri keduanya dan bersama seorang anak kecil.

Adzan Maghrib membuyarkan segala kenangan Rosma bersama Emak. Saatnya Rosma kembali menunaikan perintahNya. Bermunajat atas kekuasaanNya. Hanya doa-doa yang ia haturkan kepada Sang Khalik untuk disampaikan untuk Emak yang ia cintai. Rasanya Rosma berat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan Emak di sana...

Dilewatinya tapak demi setapak di sekitar pemakaman Emak bersama Aish, Raja dan teman-temannya semasa kuliahnya dulu sedari tadi menemai Rosma. Hanya kebisuan yang tampak dimata Rosma ketika ia meninggalkan makam Emak.***

Teruntuk Emak yang aku sayangi dan aku cintai. Semoga kau sehal selalu!!

Sumber illustrasi gambar : www.bentarabudaya.com



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia