KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

CERPEN: KL

 
CERPEN

CERPEN: KL
Oleh : Salman Faris | 30-Des-2007, 05:09:16 WIB

Husnah menghela nafas yang agak panjang. Dadanya terasa sesak. Ada yang menyesak dihatinya. Ia tak sanggup untuk makan sebutir nasi pun. Bahkan untuk minum air putih, ia harus berjuang melawan sakit punggungnya yang kian menjadi.
Beberapa hari yang lalu ia jatuh dari lantai 2 sebuah perumahan mewah. Ia tak sadarkan diri saat ditemukan. Tubuhnya terkulai lemah. Ia langsung dibawa ke rumah sakit sesaat setelah jatuh.
Ia kembali mencoba bernafas lega. Tapi ia hanya mengeryitkan dahi, tanda kesakitan.
 
”Sudah makan?” tanya suster melihat bubur dan minuman yang masih utuh. Husnah tak menjawab. Hanya mengeleng. Lalu kembali diam.
Suster itu keluar setelah gagal membujuk Husnah untuk makan sesuap bubur yang sudah dingin. Suster itu tersenyum sebelum keluar. Ia mencoba bersabar dengan kondisi Husnah yang sangat tertekan.
Husnah kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Ia sedang menyapu lantai dan membersihkan meja dekat jendela. Tanpa sebab, ia terpeleset dan terjatuh. Kejadiannya pun serba cepat sehingga ia tak sempat berpegangan pada jendela. Dan kemudian ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Beruntung ada beberapa tetangga yang menolongnya dan segera membawanya ke rumah sakit. Tak banyak orang yang mengantarnya sampai rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, dokter dan suster segera membawanya ke UGD. Setelah operasi berlangsung, Husnah dapat tertolong. Kondisinya masih lemah dan masih harus dirawat hingga beberapa hari.
***

”Mak, Yahya pengen beli sepatu baru,” Yahya, anak pertama Husnah terus meminta.
”Sabar ya, Nak. Mak juga pengen mbeliin sepatu baru. Tapi Mak baru gajian minggu depan. Sabar ya, Nak,” Husnah menghela nafasnya.
”Mak janji kan?” Yahya menatap Maknya yang terdiam sejenak.
Husnah berpikir sejenak. Dilihatnya Yahya yang tumbuh dewasa dan memiliki keinginan untuk tetap bersekolah.
“Mak, Kalau Mak nggak punya uang. Yahya bisa bantu Mak di Pabrik,” ucapan Yahya membuyarkan lamunan Husnah.
“Sudahlah, Nak. Mak nggak perlu kamu bantu. Yang penting kamu belajar yang rajin. Nanti Mak beliin kamu sepatu baru,” Yahya tersenyum puas. Wajahnya kini terlihat ceria dan penuh harapan.

Husnah kembali larut dalam lamunannya. Kini yang ada di benaknya adalah bekerja keras untuk Yahya dan Yati. Kedua anaknya yang telah ia biayai dengan suaminya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu diketuk. Husnah segera membukanya. Suaminya telah pulang.
”Mas, lembur lagi?” tanya Husnah sambil menyiapkan makanan.
”Ya, Nah. Bulan ini Mas lembur lagi.”
“Jangan terlalu capek , Mas. Nanti sakit lagi kayak kemarin,” Suaminya lahap memakan ikan asin, tempe dan sambal kesukaanya.

“Ndak, Nah. Aku ndak capek. Kamu yang kelihatan capek.”
Husnah terdiam sejenak. Pikirannya kembali melayang pada pekerjaannya. Tiga bulan lagi ia akan kembali menganggur.
“Nah, kamu kan tahu kalau aku lembur. Jadi masaknya jangan terlalu banyak. Besok, mungkin aku pulang pagi.”
Husnah masih melamun.
”Nah! Husnah!” Suaminya berteriak memanggilnya.
”Eh... Ya, Mas. Besok aku masak sedikit aja.”
”Jangan nglamun, Nah. Sebaiknya kamu tidur saja. Kamu kelihatan capek.”
”Ya, Mas. Kalau mau bikin kopi, mas tinggal tuang air panas yang ada di tremos.”
”Ya, udah. Kamu tidur sana. Besok kan kamu berangkat pagi.”
”Ya Mas!”
***

Seperti biasanya, Husnah menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anaknya. Kali ini, ia masak sedikit seperti kehendak suaminya.

Nasi, telur dadar serta kerupuk selalu menemani Husnah dan keluarganya setiap sarapan. Baginya, ini merupakan menu yang istimewa mengingat kondisi keuangan yang tipis.
Suami dan kedua anaknya telah berada di meja makan kecil ketika Husnah tengah berbenah di dapur.
”Mas sama anak-anak sarapan aja dulu.”
Tak berapa lama anak-anaknya telah selesai sarapan. Sementara suaminya berada didapur membantunya.
“Nah, kamu sarapan dulu. Biar Yati yang bantu aku mencuci piring.”

Husnah makan dengan lahapnya, seakan lamunannya kemarin hanya masa lalu.
“Mas, nanti sore Nah mau bantu Mbok Darmi nyuci di kampung sebelah,” ucap Husnah sambil membereskan meja makan.
”Kamu jangan terlalu capek. Nanti kamu sakit,” suaminya agak khawatir dengan kondisi Husnah yang terlihat capek.
”Ndak, Mas. Nah baik-baik aja.”
Rumah berukuran 25 meter itu sepi setelah Husnah dan suaminya pergi bekerja.
***

“Nah, denger-denger kita mau habis kontraknya ya?” tanya teman Husnah.
”Ya, kita tinggal tiga bulan lagi disini.”
”Gimana ya nasib kita selanjutnya?” Husnah siap untuk menjawab namun seorang temannya terlihat berlari menuju arahnya.
”Nah! Sar!” teriaknya.
”Ada apa?” ucap Husnah singkat.
”Ini ada kabar bagus buat kita,” ia membawa selembar kertas bekas bungkus gorengan.
”Apa beritanya?” tanya Sari.
”Ini!” ia menunjukan beritanya.

”TKW?” Husnah agak sedikit terkejut setelah membaca iklan TKW.
”Ya, kita bisa keluar negeri. Gratis dan dapat uang saku lagi,” Ujar Heni yang tersenyum sambil menghabiskan gorengan terakhirnya.
”Kalau nggak salah, ada biaya pengiriman dan biaya paspornya?” sari agak ragu-ragu.
”Waduh, mau kerja kok harus ngeluarin uang.” Husnah kembali berpikir.
”Biasanya sih dipotong dari gaji kita kalau sudah kerja,” Jelas Sari.
”Benar, Sar? Berarti kita bisa cari duit lagi,” Heni kembali ceria sambil mengusap minyak bekas gorengan di pipinya.
Seseorang kembali berlari kearah Husnah, Sari dan Heni. Seseorang itu terlihat cemas.
”Mbak, ada yang bernama Husnah disini?” tanya orang itu.
”Ya, saya mas. Ada apa?” Jawab Husnah pendek.
“Suami Mbak kecelakaan setelah terjatuh dari lantai 3.”
Husnah pingsan seketika. Suaminya meninggal pada saat mengecat gedung Kimas yang berlantai sembilan.
Husnah sangat tertekan. Beban yang kini dipikulnya sangat berat. Apalagi setelah ditinggal suaminya yang pekerja keras dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga.
Rencananya untuk menjadi TKW kembali muncul. Apalagi kontrak pekerjaannya sebentar lagi habis.
Ia menitipkan Yahya dan Yati kepada bapak dan ibunya yang ada di Semarang.

Jalan yang ditempuhnya tinggal selangkah lagi ketika pelatihan yang dijalaninya memasuki hari terakhir. Bersama Sari dan Heni, Husnah mantap menjadi TKW.
”Nah, akhirnya kita bisa berangkat ya,” ujar Sari.
”Aku sebetulnya berat ninggalin Yahya dan Yati. Tapi, mudah-mudahan aja mereka baik-baik aja,” nafas Husnah terasa berat. Ia membuka dompet dan mendapati foto suami dan kedua anaknya.

”Sudahlah, Nah. Mereka pasti ngerti apa yang kita lakuin. Kita kerja susah payah kan demi mereka,” sela Heni.
”Katanya mau lihat bangunan yang tinggi banget di Malaysia. Kan bentar lagi kita berangkat,” gumam Sari terlihat bersemangat.

”Atau awak mau kemane, saya nak coba antar,” Ujar Heni menirukan logat Malaysia yang belum sempurna.
Husnah agak terhibur dengan kehadiaran mereka berdua. Ia anggap mereka adalah saudara seperjuangan yang mencari nafkah di negeri orang. Entah tekad apa yang menyebabkan Husnah memberanikan diri berangkat ke Malaysia. Hanya saja, Yahya dan Yati mendukung kepergiannya. Apalagi tanpa suami, Husnah harus bekerja lebih keras lagi.
Husnah tak henti-henti melihat ke langit yang tampak cerah. Dilihatnya bintang yang berkelip-kelip dan bulan yang tersenyum. Ia menumpahkan air matanya. Antara sedih, gundah dan tekad yang bulat seakan bertarung dalam diri Husnah.
”Kenapa aku harus ke Kuala Lumpur?” tanyanya dalam hati.
”Kerena aku harus mencari nafkah buat Yahya dan Yati,” Ia menjawab spontan.
”Bukankah bekerja di Jakarta lebih dari cukup?” tanyanya lagi.
”Yahya dan Yati sebentar lagi masuk SMA dan SMP, kamu butuh biaya banyak,” suara hatinya seakan-akan menjawabnya dengan tegas.

Tekad yang melemah kini justru bertambah kuat. Kini tak akan ada orang yang dapat menghalanginya untuk mencari nafkah di Kuala Lumpur.
***

”KL! KL!” suara gemuruh orang-orang yang berada di Bandara.
”Hen, kita sudah sampai di KL,” suara Sari terasa serak.
”KL?” tanya Husnah.
”Iya, Kuala Lumpur,” Heni menyerobot Sari.
”Oh, Kuala Lumpu itu KL ya,” Husnah agak bingung.
”Ya sudah, katanya kita mau diantar ke tempat penampungan,” ujar Sari.
”Iya, lama banget!”
 
Rombongan TKW itu lama menunggu. Hampir dua jam lebih mereka terlantar di Bandara. Mereka seakan tak sabar untuk bekerja pada majikan mereka. Tiba-tiba seorang petugas keamanan menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan keamanan. Mereka kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Banyak diantara mereka yang ketakutan. Mereka hanya TKW, dan sudah menjadi tanggung jawab penyalurlah yang mengurusi semua administrasi dan masalah lainnya.
Husnah, Heni dan Sari hanya terdiam. Mereka tak bisa menjawab pertanyaan bahasa inggris yang dilontarkan petugas. Mereka hanya diam dan mencoba menahan air mata yang akan tumpah.
***

Husnah belum terlalu baik kondisinya. Ia masih belum sanggup memakan apapun. Bubur ataupun buah masih belum sanggup ia makan. Ia merintih ketika disuapi bubur atapun pisang.
”Ibu Husnah, ayo dimakan buburnya. Biar sehat dan bisa pulang ke Indonesia,” suster itu membujuk Husnah.
Tidak ada jawaban dari Husnah. Hanya gelengan kepala yang bisa Husnah berikan. Suster itu kembali mencoba memaksa. Tapi Husnah tetap tak mau. Suster itu akhirnya pasrah. Tapi ia tetap ramah dan mengerti kondisi yang dialami Husnah. Jatuh dari lantai 2 ketika sedang bekerja. Dan majikannya seakan tak peduli dengan musibah yang dialami Husnah. Majikannya hanya memberikan pesangon yang hanya cukup untuk perawatan selama 3 hari. Alangkah mirisnya hati Husnah.
Hari itu, Husnah sedang membersihkan lantai, ketika tiba-tiba saja Majikannya mecela pekerjaannya dan memukulnya. Husnah tak bergeming. Ia hanya pasrah. Ia terjatuh didekat jendela dan kemudian secara tak sengaja terpeleset dan terjatuh dari lantai 2.

Beruntung warga sekitar menemukan Husnah dengan luka memar disekujur tubuhnya. Majikannya berdalih bahwa ia tak melihat Husnah jatuh.
Air mata Husnah kembali tumpah. Ia tak sanggup menahan pedihnya penderiataan yang di alami. KL. KL. KL. Ia hanya bisa mengucapkannya pendek. KL. Hanya kata itu yang sanggup ia gumamkan.

”KL, aku datang untuk mencari nafkah. Semoga di KL, kita beruntung,” Ia ingat kata yang pernah ia ucapkan ketika melihat menara Petronas yang tinggi menjulang ke angkasa. Ketika itu, Heni dan Sari berharap yang sama dengan Husnah.
”KL!” Husnah mencoba teriak. Tapi tubuhnya terasa sakit. Ia menyeka air matanya ketika seorang suster membuka pintu ruangan.

”Ibu Husnah, besok rombongan dari KBRI akan datang. Jadi Ibu Husnah makan yang banyak ya,” suster itu berkeras untuk memaksa Husnah untuk makan bubur.
Husnah tetap tak mau. Ia tetap tak bergeming.
Rombongan dari KBRI? Ia masih berpikir. Ia pernah ke tempat itu, tapi yang ia dapati hanya kekecewaan. Ia mengurus keperluan, namun tak satu pun orang yang mau melayaninya.
Tiba-tiba saja Husnah melempar piring dan gelas. Seketika itu piring dan gelas pecah dan bertebaran di lantai.
“KL!” Ia mencoba berteriak. Tapi tak satu pun suara yang keluar dari mulutnya.
***

Akhir 2007
Untuk Pahlawan Devisa Indonesia

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia