KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
CERPEN

CERPEN: Kembalilah Masa Laluku
Oleh : Salman Faris | 25-Des-2007, 13:02:54 WIB

KabarIndonesia - Kotaku kini semarak dengan adanya pemilihan walikota yang telah memasuki tahap pengajuan pasangan walikota dan wakilnya. Sedikitnya 5 pasangan telah resmi terdaftar dalam KPU kota. Dari lima pasangan itu akan di putuskan siapa saja yang berhak maju ke babak selanjutnya yaitu babak kampanye. Sebelum keputusan tersebut akan dilaksanakan test yang mengharuskan pasangan tersebut untuk menjalaninya. Setidaknya ada tiga test yang harus di jalani.

Kelima pasangan tersebut adalah pasangan Suwardi-Eko Hariyanto, Imam Azlani-Rangga Handika, Yusuf Umar-Yudha Prasetya, Retno Mulyaningrum-Edo Kosasih dan pasangan yang menurutku memiliki kharisma luar biasa yaitu Triono Kusuma-Sri Martini.

Gegap gempita menyambut walikota yang baru juga telah merasuki setiap warga kota. Dimanapun dan kapanpun juga, hal yang di bicarakan adalah pemilihan walikota. Sedangkan nasib walikota yang lama hanya tinggal menunggu keputusan hakim pengadilan negeri kota.

Kasus yang sempat membuat jatung dan emosi warga menjadi tak karuan itu hanya berawal dari sumbangan masyarakat untuk korban bencana alam di daerah lain yang di tampung oleh walikota.

Ternyata setelah beberapa lama, uang tersebut tak kunjung tersalurkan. Usut punya usut, walikota telah kabur beserta uang sumbangan sebesar 250 juta. Kontan saja warga kota marah dan memboikot walikota. Dan surat permohonan kepada DPRD kota agar memproses walikota pada pengadilan negeri kota. Setelah menjadi buron selama delapan bulan, akhirnya walikota berhasil tertangkap di daerah pesisir pantai yang tak jauh dari kota.

Dalam pengakuannya, walikota hanya mengaku menyumbangkan semua uang tersebut. Namun, setelah didukung bukti-bukti yang kuat dalam persidangan, akhirnya walikota mengaku. Dan pada hari ini akan di putuskan apakah walikota bersalah ataua tidak?

Aku sebetulnya sudah gerah dengan peristiwa yang menimpa walikota. Namun, sebagai warga yang baik, aku harus menyerahkan semuanya pada proses hukum.

Namun, lagi-lagi aku pun kurang percaya seratus persen pada hukum yang akhir-akhir ini berpihak pada kekayaan bukan pada keadilan.

Sempat aku bertanya pada mahasiswa hukum temanku. Apakah nilai keadilan dalam hukum telah bergeser? Ia hanya menjawab dengan tegas bahwa hukum adalah keadilan, tidak ada hal yang akan mengesernya, yang patut disalahkan adalah pelaku dalam pengadilan hukum itu yang telah menggeser makna hukum dan keadilan yang sebenarnya.

Aku sempat kaget, namun aku enggan meneruskan perdebatan tersebut. Bagiku akan cukup adil apabila kenyataan yang terjadi adalah yang di ceritakan. Bukan cerita kebohongan yang aku dengar dari setiap persidangan di pengadilan.

Walikota tampak sedikit lesu hari ini. Namun, ia tampak lebih segar dari beberapa hari yang lalu. Ia memakai baju koko dan peci hitam. Apakah ini pakaian walikota sehari-hari? Aku jadi ragu.

Namun ada pernyataan warga yang menyebutkan bahwa sebetulnya hanya menutupi diri walikota yang sesungguhnya sehingga dalam keputusan nanti ia akan mendapatkan keputusan yang lebih ringan atau malah sebaliknya ia akan bebas dari jeratan hukuman penjara yang telah menantinya.

Aku duduk di tengah-tengah warga yang menantikan persidangan itu. Tampak beberapa anak SMA dan SMP menonton persidangan itu. Mereka ambil bagian sebagai saksi yang menyerahkan uang langsung kepada pihak kantor walikota. Sehingga mereka pantas berada di persidangan itu.

Hakim telah duduk di kursi tengah. Kali ini ia terlihat lebih kurus di bandinkan seminggu yang lalu. Mungkin karena keputusan ini memang berat. Sebagai hakim tentunya akan memutuskan setiap keputusan dalam setiap persidangan.

Dalam hati kecilnya ia mungkin akan merasakan hal yang bertentangan dengan hati nuraninya dan peraturan yang menyebabkan keputusan tersebut.

Aku membaca raut wajahnya yang sedikit berkerut. Wajah yang penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran. Sedangkan dua orang disampinganya adalah orang yang memiliki peranan penting juga sebagai penimbang keputusan. Artinya, keputusan hakim sebetulnya merupakan keputusan beberapa ahli yang berada dalam persidangan tersebut. Untuk menjadi hakim tentunya menjadi hal yang sangat luar biasa berat.

Walikota kembali menyeka keringat yang dari tadi mengucur dari dahinya. Aku teringat pesannya dalam sebuah upacara. Hari itu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Ia berpesan pada para pendidik dan anak didik untuk segera berbenah diri menghadapi era globalisasi dan mengedepankan semangat nasionalisme.

Dalam pidatonya yang kurang lebih lima belas menit, ia sering mengatakan kita harus berbenah dan pembenahan yang harus di laksanakan adalah pembenahan diri sediri. Itulah yang terpenting dan termudah yang kita lakukan.

Saya berjanji akan senantiasa berbenah diri. Siapa sangka, ia malah mengingkari janjinya sendiri di hadapan orang banyak. Ia lupa bahwa ia harus pandai mengatur katanya sendiri dan bertanggungjawab pada kata yang ia ucapkan. Ia melupakan pengendalian diri. Ia lupa segalanya karena di depannya adalah sebuah kenikmatan yang semu belaka.

Kini saatnya ia kembali mempertanggungjawabkan kesalahan kecilnya. Dan harus tegar di hadapan orang yang ia ceramahi selama beberapa menit.

“Sidang kasus walikota dengan tuduhan pengelapan uang sumbangan sebesar 250 juta di buka untuk umum,”

Hakim membuka sidang dengan memukul palu sebanyak tiga kali.

“Selanjutnya akan dilakukan pembacaan keputusan,” Hakim kembali membacakan acara yang akan dilalui dalam persidangan.

“Sebelumnya, apakah saudara terdakwa walikota hadir dalam persidangan?”

“Hadir,” jawab walikota.

“Apakah saudara penuntut dalam hal ini di wakili seorang warga dan di bantu oleh penuntut umu hadir?”

“Hadir,” jawab warga tadi.

“Baiklah, hakim ketua akan membacakan keputusannya,”

Suasana dalam persidangan sedikit tenang. Kali ini aku pun terdiam berkonsentrasi mendengarkan keputusan yang akan dibacakan oleh hakim ketua.

“Keputusan hakim ketua yaitu memutuskan bahwa saudara walikota di hukum penjara selama 2 bulan di potong masa tahanan dan membayar denda sebesar 20 juta serta mengembalikan uang sejumlah 250 juta,”

Serentak warga dalam persidangan berteriak minta keadilan. Bagaimana mungkin orang yang mengelapkan uang hanya di penjara 2 bulan dan membayar denda 20 juta sedangkan warga lain yang hanya mencuri ayam bisa di penjara lebih dari 4 bulan.
Sungguh tak adil, sungguh tak adil. Serentak warga yang kebanyakan ibu-ibu it uterus meneriakan yel-yel tentang keadilan. Walaupun pendidikan mereka di bawah rata-rata, namun mereka setidaknya mengerti tentang arti sebuah keadilan.

Aku hanya terdiam. Aku sedikit terkejut dengan keputusan hakim yang memihak walikota. Aku tak mengerti cara berpikir hakim ketua. Bukannya aku benci hakim ketua atau aparat hukum tapi apakah wajar untuk peristiwa memalukan dengan mengelapkan uang sumbangan hanya di ganjar dengan 2 bulan penjara dan denda 20 juta.

Hukum dari mana yang menyebutkan seperti itu.
Sebagai mahasiswa, aku merasa bertanggung jawab dengan hal itu. Tugasku pun belum selesai sampai disini. Aku harus berbuat sesuatu untuk meneruskan pengadilan ini sampai Mahkamah Agung.

Suasana yang tadi memanas berangsur-angsur mulai mereda. Kini hakim ketua menanyakan kepada salah satu perwakilan warga. Perwakilan warga tersebut dengan tegas menyatakan banding ke pengadilan tinggi. Ia menjawab pernyataan hakim ketua dengan lantang dan bersemangat. Sehingga warga merasakan kepuasan. Warga yang menyaksikan pengadilan tersebut beramai-ramai pulang dengan hati lega.

Aku kembali ke rumah dengan hati lega. Aku berjalan dengan santai menyusuri perempatan jalan menuju rumahku. Aku beristirahat sejenak di warung Mang Didin yang tak jauh dari rumahku. Mungkin hanya sekitar tiga atau empat rumah. Aku biasanya bercakap-cakap dengan Mang Didin.

Mulai dari berita sepakbola sampai pemilihan walikota dan wakil yang kini telah menyelesaikan beberapa test. Kata Mang Didin peluang calon pasangan Triono Kusuma-Sri Martini sedikit terganjal karena ada rumor yang menyebutkan pasangan tersebut belum memenuhi salah satu syarat. Entah syarat apa yang menyebabkan kedua calon pasangan kemungkinan akan di hapus dalam daftar pasangan tetap walikota dan wakil walikota.

Ah, aku sedikit terpukul. Mang Didin mengatakan hal itu dengan muka yang masam. Ia tak menyukai keterselubungan di balik semua kejadian di dalam politik. Politik itu kejam kata Mang Didin. Ia sebetulnya hampir menjadi sarjana kalau saja ia menyelesaikan skripsinya yang bertentangan dengan dosennya yang mempunyai pendapat lain.

Sarjana Sosial Politik katanya. Aku hanya terdiam ketika ia menceritakan rentetan peristiwa hengkangnya dari kampus SosPolnya tercinta. Sebetulnya ia sangat menyukai kehidupannya sebagai aktivis yang menyuarakan hati nuraninya sehingga keadilan akan tetap menjadi keadilan. Keadilan tanpa embel-embel di dalam keadilan itu. Begitu katanya berulang-ulang.

Aku sedikit banyak belajar dari Mang Didin. Walaupun tak sempat menyelesaikan gelar sarjananya, namun ia sangat terpelajar. Bahkan ia dipercaya memegang karang taruna desa dan aku adalah salah satu bawahannya.

Kita harus hidup dalam masyarakat, dan kita harus memberikan sumbangsih untuk masyarakat itu, ia mengucapkan itu dengan senyum yang selalu mengembang dari wajahnya.

Aku salut dengan pemikiran dan juga kedewasaan bepikirnya. Ia tak pantang menyerah dengan keadaan. Ia malah menjadikan keadaannya menjadi sebuah asset yang berharga. Jarang-jarang kita memiliki keutuhan hidup seperti ini, katanya suatu ketika dalam obrolan malamku dengannya.

Kali ini mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan berita mengenai pasangan yang lolos tahap selanjutnya. Terdapat tiga pasangan yang lolos yaitu Suwardi-Eko Hariyanto, Yusuf Umar-Yudha Prasetya dan Triono Kusuma-Sri Martini. Hatiku kini terasa lega. Hal yang kutakutkan kini tak terjadi. Pasangan yang aku dukung telah melewati masa test yang sulit.

Beberapa hari kemudian, masa kampanye bergulir. Aku merasakan uforia yang berlebih pada warga kota hingga menyebabkan perkelahian antar pendukung pasangan. Kerugian yang dialami pendukung pun tak sedikit. Bukan hanya korban secara material tapi lebih dari itu adalah korban nyawa.

Aku tersadar. Kali ini aku merasakan hal aneh dalam pengiriman suara untuk pemilihan besok. Ketertutupan pihak KPU menyebabkan aku agak sedikit ragu dengan kondisi pemilihan besok.

Hari ini adalah hari pemilihan. Aku melangkahkan kaki menuju TPS yang tak berada jauh dari rumahku. Hanya beberapa meter saja sehingga aku mendapati rumah pak RT yang berubah menjadi TPS.

Aku mengantri dengan tenang. Tak berapa lama aku diipanggil dan diberikan kertas suara. Kemudian secara cepat aku menyoblos pasangan yang aku sukai. Hanya dalam beberapa menit saja, aku telah memberika hak suara. Betapa senangnya aku merasakan pemilihan walikota yang begitu demoratis.

Aku terus memantau hasil pemilihan walikota melalui TV lokal. Kini hasil akhir dari pemunggutan suara terpampang dengan jelas. Pasangan yang aku jagokan hanya mendapatkan sekitar 35,67 % sedangkan pasangan lainnya unggul lebih jauh dengan 50,89 %.

Sehingga kemenagan mutlak diberikan kepada Yusuf Umar-Yudha Prasetya. Aku tertunduk lesu. Aku yakin bahwa pasangan yang aku jagokan akan memenangkan pemilihan walikota ini. Tapi apa daya, aku hanya satu dari berpuluh-puluh ribu bahkan beratus-ratus ribu lainnya. Namun, aku telah memilih sesuai hati nurani yang memang aku sampaikan untuk kebaikan bersama.

Sebetulnya kota telah memiliki pasangan walikota yang hebat dan berwibawa pada beberapa periode yang lalu, tapi entah karena persaingan dan kecemburuan, akhirnya walikota tersebut mengundurkan diri dan pindah dari kota yang di bangunnya dengan jerih payah.

Saat itu aku merasakan hal yang indah dan damai sebagai warga kota. Aku ingin kembali kepada masa itu. Karena masa itu, Ayahkulah yang memimpin kota ini, karena ayahkulah yang membangun kota ini dengan jerih payah. Usiaku pada saat itu adalah lima tahun. Tapi aku merasakan keindahan yang luar biasa. Ayah selalu terlelap dalam kondisi memegang sebuah laporan ataupun sambil memikirkan nasib kota ke depan. Kini aku ingin kembali ke masa laluku.

Masa di mana aku dapat merasakan kasih sayang yang kini aku dapatkan dari diriku sendiri. Ayah ibuku telah tiada pada saat aku berusia tujuh tahun. Orangtuaku di bunuh pada suatu malam, ketika aku terlelap tidur. Aku sebatang kara. Kembalilah masa laluku… aku menangis sambil menyaksikan tawa pasangan walikota yang baru.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia