KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

CERPEN: Profesor Miskin

 
CERPEN

CERPEN: Profesor Miskin
Oleh : Arianto Takubesi | 29-Des-2007, 23:07:52 WIB

KabarIndonesia - Frekuensi radio tua..begitulah julukkan Pak Van. Perjalanan karirnya tidak lain melalui radio tua yang selalu ia dengar. Pukul sebelas malam dan kadang lebih sedikit, radio Pak Van masih juga memecah tidur Bu Van bahkan warga sekitar. Pak Van, seorang penulis kawakan yang tinggal bersama istrinya di sebuah daerah perkampungan.

Umurnya mendekati kepala delapan, namun masih bisa begadang sampai subuh hari. Bu Van kadang-kadang jengkel dengan kelakuan si Bapak. "Udah malam ko belum tidur si bapak? Orang lagi asik dengarin radio ko, suruh tidur...jawab si bapak dengan enteng. Kalau kamu mau tidur ya tidur aja.., bukan begitu..tapi suara radionya itu kecilin dikit, Bu Van berkata dengan nada agak marah. 

Si bapak malah tersenyum.., ia sepertinya tidak mau tahu dengan tetangga sebelah yang sudah tidur pulas. Kelakuan si bapak tidak pernah alpa setiap malam. Saya selalu mendengar dia memutar radinya keras-keras, maklum sudah tua..kata Persi, narasumber yang sedang diwawancarai.

Suatu saat saya sedang asik menonton siaran langsung kualifikasi liga eropa, ternyata Pak Profesor belum tidur. Dan  kedengarannya seperti itu-itu saja siaran radionya, kata saya pada istri saya yang sedang hamil muda. Kedua anak saya telah tertidur pulas dari sore tadi.

Tolong pakaikan selimut pada Roben, anak laki-laki yang sangat hobi menonton sepak bola. Ia tertidur pulas di atas springbed, sementara hembusan angin sepoi dari sawah semakin membuatnya terlelap sampai besok. I can get resi from you. . kata Persi terbata-bata menggunakan bahasa ingris. Satpam lalu mengambilkan resi untuk Persi. Thak's..katanya perlahan.

Sambil menulis angka rupiah pada resi, ia pun melihat sang profesor duduk paling depan kursi antrean. Persi baru mengetahui kalau sepeda sang profesor ada di parkiran. Begitu kuatnya fisik sang profesor mendayung sepeda dari rumahnya sampai ke sini, pikir Persi dalam hati. Laki-laki lima puluhan itu segera duduk dekat si Bapak.

Hai..Persi ada apa ke sini? Tanya sang profesor dengan sangat tanang. Saya mau transfer uang buat anak saya yang sedang sekolah di Indonesia. Selang beberapa menit nama Pak profesor dipanggil, ia masih sempat berceloteh dengan kasir ketika sedang mengambil uang pensiunan. Kulit kepalanya silau terkena lampu neon..tidak lama kemudia ia menoleh ke arah Persi lalu ke luar. 

Ia mendayung sepeda sampai tubuhnya di penuhi dengan keringat, baju putih terlihat seperti transparan menembus puting susu yang mengantung itu. Sang profesor masih sempat menegur orang-orang yang di temuinya di jalan, ia menemui sebagian orang Indonesia yang tinggal di kompleks rumahnya, sekitar tiga kilometer sang profesor mendayung sepedanya melalui jalan setapak yang di buat khusus untuk sepeda dayung.

Hampir di setiap jalan terbentang hamparan sawah yang sangat luas, aliran air melewati pematang sebelah jalan. Orang Indonesia yang kebanyakan mengikuti suaminya pergi ke sana menganggap sang profesor sebagai orang termiskin di kompelks itu termasuk istri Persi nyaris menganggap juga demikian.

Banyak warga menggosip kemana-mana, tapi sang profesor dan ibu selalu sabar mendengar kabar burung seperti itu. Padahal istrinya baik, belanja sayur pun tidak sembarang. Saya sering ketemu istrinya ketika membeli sayur di mall.

Padahal suaminya hanya menggunakan sepeda dayung kemana-mana. Setiap malam saya sering mendengar radio yang di putar keras-keras.. kata Nina, istri seorang temannya, orang Indonesia.  Bapak yang sering lewat di depan rumah menggaunakan sepeda? Tanya Dina untuk meyakinkan. Bapak itu pernah di ganggu dengan nama SS. Apa itu SS? Tanya Nina dengan nada serius.

Sarjana Sastra, ia mendapat gelar itu di Indonesia dan sesampainya di sini ia dipanggil dengan nama SS ketika bekerja di sebuah restoran kecil. Nama aslinya ialah Pak Van..lalu mengapa ia di panggil seperti itu? Tanya Nina lagi.

Orang Belanda biasanya hanya menggunakan nama ketika sedang melamar pekerjaan. Lain halnya dengan pak Van ketika melamar pekerjaan, ia mempertontonkan nama sekaligus gelar dan ijasah-ijasahnya. Bosnya sering mengejeknya dengan nama SS saat bekerja sebagai waitres.

Selama beberapa tahun ia bekerja sambil melanjutkan S2-nya di sini. Reni, istri Persi hanya diam ketika mendengar gosip ibu rumah tangga yang kebanyakan dari Indonesia itu. Pak SS, nama kamu aneh ya..SS, nama kamu SS ya? Tanya Nistel, seorang Belanda asli pindahan Indonesia.

Sejak Pak Van masuk S2, ia mulai berkenalan dengan Jhon, Rico dan masih banyak teman yang sering di ajak ke rumahnya. Kelakuannya mulai berubah secara perlahan, kini ia tidak pernah merasa sombong. Tapi masih ada kebiasaan-kebiasaan jelek yang masih dibawa dari Indonesia..kata Dina dengan enteng.

Kebiasaan seperti apa Din? Tanya Nina. Saya selalu terganggu dengan suara radionya yang diputar setiap malam. Ia tidak pernah mengenal waktu yang wajar, dan efeknya bisa mengganggu orang lain..begitu kata Dina.

Namun pada kenyataannya tidak seperti itu, Dina hanya ingin melampiaskan rasa dendamnya saja dengan cara menjelek-jelekkan pak Van dengan istrinya. Pak Van sekarang telah mendapat pekerjaan yang layak yakni menjadi seorang dosen pada sebuah Universitas Terbuka, ya katakanlah seperti itu jika di Indonesia..begitu penjelasan narasumber.

Pak Van, Rico, dan Jhon sebagai dosen terbang sampai sekarang. Meskipun sudah berumur namun mereka sering datang ke Indonesia memberikan pengajaran sastra dan budaya kepada mahasiswa ITB di Bandung.

Saya juga sering bertemu dengan mereka bertiga. Dulu saya tinggal dekat rumah Pak Van di kompleks perumahan warga Indonesia, begitu kata narasumber menyentak tidur Bu Van. Penyiar pun memberikan tanda pada Pak Persi untuk berhenti sejenak dan mendengarkan tembang berikut.

Bu Van mengarahkan wajah ke tembok bambu lalu melanjutkan tidurnya dengan lebih nyeyak. Dua menit berlalu, pak Van menarik kreteknya dalam-dalam kemudian bermimpi dengan tulisannya. Nada lagu pelan-pelan merendah dan penyiar mulai kembali menyapa pemirsa. Persi pun melanjutkan cerita tentang pengalamannya saat berada di belanda. Ia memuji Pak Van..ini karena loyalitasnya yang tinggi.

Mulai dari pekerjaannya yang rendah sampai menjadi seorang dosen, tetapi gajinya pas-pasan untuk menghidupi istri dan anak. Rumahnya dibuat dengan arsitek Belanda yang sederhana tapi sangat nyaman untuk ditinggali.

Kondisi halaman dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai kebun. Pohon-pohon disekitarnya mengundang hawa sejuk. Saya biasa melewati depan rumahnya, di situ saya hanya melihat sebuah sepeda tua yang diletakan di atas rumput yang hijau-hijau. Pak Van selalu menggunakan sepeda tuanya pergi ke kampus atau kemana saja selagi jarak itu masih bisa ditempuh menggunakan sepeda. Kedisiplinannya pun menjadi nilai tambah tersendiri, ia selalu datang tepat waktu.
 
Bahkan, lima belas menit sebelum perkuliahan, Pak Van sudah tiba. Ia memilih jalan pintas agar tidak terjebak macet. Selain itu, Pak Van juga mendapat keuntungan ganda yakni dapat menjaga kesehatannya. Asap kendaraan tidak sembarangan masuk ke dalam tubuhnya.

Saya kaget ketika bertemu dengan beliau di Bandung. Wajah dan perawakannya berubah menjadi awet muda. Saya melihat beliau sedang mengajar di kelas Bahasa, ia memakai kaus oblong warna putih. Hai pak..bagaimana kabarnya, sudah sekitar sepuluh tahun sejak kepindahan saya ke Indonesia, kita tidak pernah bertemu..apa bapak masih mengingat saya? Begitu sapa saya..ia pun kaget dan menatap saya heran.

Oia tetangga saya yang di Belanda? Ia pak, betul..saya balas menjawab. Saya membuka kisah kami berdua saat bertemu di sebuah bank pemerintahan di Belanda. Ia menebarkan senyum kecil ke arah saya, lalu menyodorkan setumpuk permen. Pak Persi ya..? begitu sapa seorang profesor dengan nada sederhana sekaligus lembut di dengar.

Saya tinggal bersama Jhon dan Rico di sebuah apertemen di Bandung, kami hanya beberapa minggu saja setelah itu pulang ke Belanda..kata Pak Van. Kalau gitu ke apertemennya nanti saya antar saja pakai mobil saya, saya menawarkan jasa pada mereka. Namun, Pak Van sendiri menolak tawaran saya.

Ia bukan sombong, tapi kebetulan letak apertemen tempat tinggalnya tidak terlalu jauh jaraknya dari kampus, mereka memilih untuk berjalan kaki. Sekaligus olahraga katanya.... Saya sempat berpikir bahwa Pak Van adalah seorang profesor yang tidak pantas berjalan kaki.

Selain itu, mengapa ia rela meninggalkan anak dan istrinya di Belanda? padahal Pak Van sudah mengakhiri masa kerjanya di Belanda. Apakah dia adalah seorang profesor yang miskin? Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh penyiar pada narasumber. Hal ini ditanyakan bukan saja untuk dijawab, lebih dari pada itu untuk direnungkan oleh penyiar sekaligus pendengar.

Pak Van membolak balik badan sementara radionya masih terdengar. Lantunan instrumen Kenny G terbang bersama-sama imajinasinya, sementara tubuhnya tertidur pulas. 

Burung pipit bersiul memanggil pagi, menerobos alang-alang rumah dan dinding kayu. Makhluk alam memberi tanda tentang waktu yang terus berjalan. Mereka mengajar Pak Van untuk peka, bukan hanya dalam mimpi selebihnya menuntut kenyataan.  Pukul empat tiga puluh dua menit, setengah sadar ia memeluk erat tubuh bu Van lalu meneruskan tidurnya. 

Pak Van segera memutar volume radio pada posisi min lalu tombol of dan segera berbaring, sementara bisik bambu-bambu taman sesekali ikut menimangnya.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia