KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahUsulan Pembentukan Wartawan Unit DPRD Tidak Dijawab Pemkab Serdang Bedagai oleh : Agus Suriadi
21-Nov-2017, 20:36 WIB


 
 
Kabar Indonesia - Serdang Bedagai, Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sergai terkait pembahasan R-APBD Sergai TA 2018, Kamis (16/11)  di gedung DPRD Sergai, Dusun II Desa Firdaus, Sei Rampah.Sambil menyampaikan pandangan umum Fraksi, tiga fraksi antara lain
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
CERPEN

CERPEN: Surat dari Masa Depan
Oleh : Salman Faris | 25-Des-2007, 13:03:58 WIB

KabarIndonesia - "Pemirsa inilah TV Break Channel 2 pukul 19.00 WIB bersama saya Arya Kusuma. Sekelompok peneliti Inggris mengklaim telah menemukan bukti bahwa pemanasan global telah mencairkan es di Antartika lebih cepat dari perkiraan semula. Diduga lebih dari 13.000 kilometer persegi laut es di Semenanjung Antartika telah hilang dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini. Dalam pengumuman hasil penelitian di Konferensi Perubahan Iklim di Exeter, para ilmuwan dari British Antarctic Survey (Bas) juga mengatakan kenaikan permukaan laut di seluruh dunia akibat lelehan es selama ini masih kurang diperhatikan. Demikian TV Break untuk saat ini, TV Break akan kembali satu jam lagi." Suara televisi itu masih menderu, semetara aku masih berkonsentrasi dengan setumpuk pekerjaan. Mataku tak lepas dari layar komputer, sehingga aku hanya mendengarkan suara pembawa berita.

"Pak, berarti es di kutub akan mencair ya?" Istriku bertanya singkat. Semetara jari-jari tanganku masih melekat di keyboard komputer.       

Aku alihkan pandangan ke arah istriku yang masih terpaku pada sofa butut dekat  televisi. Aku tak bereaksi. Aku masih enggan bicara karena pekerjaan masih menumpuk.            

"Pak, bapak kok nggak jawab?" istriku sedikit protes. "Bapak capek ya?" sekali lagi istriku bertanya. Aku tak bergeming. 
           

Istriku menghampiri meja kerjaku yang berisi buku, catatan dan entah apalagi yang bercampur menjadi pemandangan yang kurang sedap dipandang mata.            
"Pak, istrirahat pak. Ingat kesehatan. Makan dulu," Kata istriku pendek-pendek.           
Aku berhenti sejenak. Aku pun masih enggan menjawab atau meladeni perkataan istriku. Lebih baik aku makan dan bergegas kembali ke meja kerja. Mungkin karena besok aku harus melaporkan kondisi keuangan perusahaan dalam rapat direksi, aku tak banyak waktu untuk sekedar makan ataupun tidur.

Kalau saja laporan keuangan tidak tuntas malam ini, berarti besok adalah hari terburuk dalam hidupuku. "Pak Indra, tolong anda usahakan serapi mungkin kondisi keuangan kita. Saat ini harapan saya tertumpu pada anda," kata itu kembali teringat olehku.            

"Pak Indra kan tahu, seluruh perusahaan kertas memang agak kacau. Nah, tugas anda untuk menuntaskan kekacauan itu. Dengan sedikit perubahan, maka keuangan perusahaan akan terlihat rapi."            

Aku berhenti mengetik laporan keuangan perusahaan. Aku menghela napas panjang. Aku lihat istriku yang terlelap di depan televisi. Tertangkap olehku gambar sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Entah apa masalahnya sehingga pria itu memarahi pacarmya.            

Aku kembali memandang layar komputer. Terlihat deretan angka laporan perusahaan yang telah tersusun. Ya, Aku telah menyelesaikan laporan keuangan perusahaan, tapi mengapa aku seakan melakukan kesalahan yang sangat besar.            

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa terpaku pada pekerjaan ini. Bagaimana nasib anak dan istriku jika aku dipecat. Darimana aku mendapatkan uang kalau bukan dari pekerjaanku sekarang ini?           

Aku mendesah. Aku lelah, kemudian aku terlelap dalam mimpi yang buruk. Aku terhanyut dalam banjir bandang. ***

"Pemirsa inilah TV Break Channel 2 pukul 7.00 WIB bersama saya Sinta Hapsari. Pemirsa, banjir bandang kembali terjadi di Kalimantan Barat. Banjir kali ini menelan korban 13 orang dan ratusan orang lainnya menderita penyakit muntaber sementara lebih dari 765 KK kehilangan rumah. Diperkirakan kerugian dalam banjir kali ini mencapai puluhan milyar Rupiah. Upaya warga untuk mencegah banjir tersebut tidak dapat membendung derasnya arus yang terjadi karena hujan selama tiga hari tanpa henti.

Demikian TV Break untuk saat ini, TV Break akan kembali satu jam dari sekarang."           

Aku sedikit tertegun. Tadi malam aku juga bermimpi ditelan banjir bandang. Tak disangka, berita hari ini pun dipenuhi dengan banjir bandang.            

"Pak, kok akhir-akhir ini banjir terus ya," Istriku membuyarkan pikiranku tentang mimpi tadi malam.           

"Mungkin karena hutan gundul, Bu." Rara, anakku yang berusia 12 tahun angkat bicara.            
"Kata ibu guru sih seperti itu. Jadi, Rara mau jaga hutan biar nggak gundul. Rara juga udah tanam pohon di kebun belakang." Ujar Rara lagi panjang lebar.           
"Rara memang pintar ya, sudah bisa tanam pohon sendiri. Rara tanam pohon apa?" tanyaku penasaran.            
"Pohon pepaya," jawabnya lugu.           
Aku tersenyum kecil, Istriku pun ikut tersenyum. Rara yang baru menginjak kelas enam SD pun tahu cara mencegah banjir. Setidaknya Rara sudah melakukan hal yang barangkali orang lain pun tak mau peduli.            

"Pak, Rara boleh tanya sesuatu?" tanyanya disertai mimik serius.
"Boleh, sayang."            
"Sebetulnya siapa sih yang menebang pohon-pohon di hutan?"

Aku terdiam sejenak. Ada jeda antara aku dan Rara. Bagaimana aku harus menjawabnya. Itu artinya membuka semua kesalahan perusahaan tempat aku bernaung.            
"Ehm..., siapa yah. Pastinya bukan bapak kan? Hahaha..." Aku tertawa. Rara masih terpaku. Reaksinya tak seperti yang aku harapkan. Ia malah bertanya lagi.            
"Ya, Rara tahu bukan bapak. Tapi, siapa?" Rara masih bertanya.            
"Yang salah ya penebang pohon," Istriku meredam pembicaraan. "Ayo Rara berangkat sekolah. Katanya masuk jam 8."             
Aku menatap kosong piring dan sendok yang masih utuh. Aku belum melahapnya sesendok pun.            
"Pak, Rara berangkat ya." Rara mencium tanganku.         
"Belajar yang rajin ya. Hati-hati."            
"Pak, dimakan buburnya. Nggak selera? Atau mau dibuatin nasi goreng?" Istriku menawarkan nasi goreng siap saji yang lezat.           

"Nggak usah Bu. Bapak makan bubur aja." Aku segera menyantap bubur ayam buatan istriku yang terasa gurih dengan taburan kacang kedelai dan bawang goreng yang renyah dan sedap. Namun, tetap saja aku tak dapat melepaskan perasaan gundah. Siang ini jam 10, aku akan menyerahkan semua laporan yang aku selesaikan tadi malam.

"Pak, kok akhir-akhir ini banyak ngelamun. Ada apa pak? Kalau ada masalah bicara saja terus terang." Istriku bertanya serius. Aku kembali menyuapkan sendok ke mulutku yang sudah kosong.            

"Bu, aku hanya capek aja. Mungkin karena tadi malam lembur nyelesain laporan. Jadi pagi ini kelihatan lesu. Kemarin sama juga bu, yang ada di pikiran ya laporan ini," Aku menujukan laporan keuangan yang telah aku selesaikan. Aku mencoba menyembunyikan kekhawatiran ini. Biarkan aku yang menanggung segala resiko yang telah aku perbuat.           

"Bapak berangkat dulu ya, Bu. Hati-hati dirumah." Aku berjalan agak tergesa kea rah mobil. Sementara istriku tersenyum di teras rumah. Ia melambaikan tangannya saat mobilku keluar dari bagasi. Aku pun melambaikan tangan.***            

"Ton, kamu punya obat sakit kepala nggak?" kepalaku tiba-tiba pusing. Entah karena terlalu banyak melihat layar komputer yang berderet angka-angka.           

"Sakit kepala ya. Makanya kalau lembur ingat waktu. Sebentar ya, aku cari dulu di laci obat."            
Anton segera mencari obat permintaanku. Hanya dalam hitungan menit, Anto kembali dengan satu bungkus obat sakit kepala.           
"Ini tuan obatnya," Anton tersenyum mengodaku. Sementara sakit kepalaku tak tertahankan lagi.            

Sebutir obat sakit kepala aku telan. Aku sedikit lega. Aku menunduk. Anton kembali ke meja kerjanya yang persis di sebelah meja kerjaku.            

"Ton, terima kasih ya," ujarku dengan kondisi kepala sedikit membaik.           
"Yoi, jangan khawatir deh tuan Indra, hahaha...," Anton kembali mengodaku. Ada-ada saja tingkah rekan kerjaku yang satu ini.           
Setelah sakit kepalaku telah reda, aku mencoba kembali menyelesaikan laporan lain. Tapi, sakit dikepala ini tak kunjung reda. Aku memutuskan untuk membuka e-mail.            

Dalam inbox hanya ada beberapa surat dari perusahaan lain dan kolega. Setelah aku membaca beberapa surat, mataku tertuju pada satu surat dengan subyek "Surat dari Masa Depan" tanpa nama pengirim.           

Aku masih terpaku, mungkin saja ada yang iseng dan mencoba membuat lelucon dengan surat itu. Satu kali klik, surat itu terbuka. Surat itu benar-benar tanpa pengirim. Tampilan suratnya pun unik, ada gambar manusia-manusia botak dan gambar tanah yang retak. Dan baru pada bagian akhir terdapat surat untukku.

Saat ini adalah tahun 2070, usia saya baru 50 tahun, tetapi penampilan saya seperti seseorang yang telah berusia 85 tahun.
Saya menderita gangguan ginjal serius, karena saya tidak minum dengan cukup. Saya khawatir saya tidak memiliki waktu lebih lama lagi untuk hidup. Saya adalah salah satu orang tertua di masyarakat.

Saya ingat sewaktu saya berusia 5 tahun, Semuanya tampak berbeda. Banyak pepohonan di taman, Rumah-rumah memiliki kebun yang indah, dan saya dapat menikmati mandi selama setengah jam. Saat ini, kita menggunakan handuk dan minyak pencuci untuk membersihkan tubuh kita. Dahulu, wanita memiliki rambut yang indah.

Saat ini, kita harus mencukur kepala untuk menjaganya  tetap bersih tanpa menggunakan air. Dahulu, ayahku mencuci mobilnya dengan air yang keluar dari selang. Saat ini,  anakku tidak percaya bahwa air dapat digunakan dengan cara seperti itu
. Saya ingat bahwa peringatan SELAMATKAN AIR di poster-poster, radio dan TV, tapi tidak satu orangpun memperhatikannya. Kami pikir air tidak akan pernah habis. Saat ini, semua sungai, danau, waduk dan lapisan air bawah tanah kering atau terkontaminasi          

Aku benar-benar tertegun dengan surat ini. Apakah itu benar? Air yang saat ini benar-benar melimpah menjadi barang yang sangat langka bahkan lebih berharga dari emas dan berlian. Bagaimana mungkin?            

"Ton, coba kamu lihat e-mail ini," Aku memanggil Anton untuk melihat surat itu.           

"Ada apa sih Ndra, kayak orang kesurupan aja." Anton membaca surat itu agak lama.sebentar kemudian ia tertawa dan kembali ke meja kerjanya.           

"Ndra, itu sih kerjaan orang iseng aja. Coba kamu cerna deh, mana bisa sih orang dari masa depan nyuratin kamu. Kalau bisa juga mana mungkin cuma kamu yang dikirimi, harusnya semua orang juga dikirimi. Coba deh dipikir?" Anton tak percaya dengan surat itu. Sementara aku percaya dengan surat itu.            

Pasti orang dari masa depan berusaha memperingatkan kita untuk menjaga bumi dari ancaman rusaknya lingkungan.            

Aku bergegas merapikan dan mencetak laporan yang telah aku susun. Aku merubah beberapa angka yang ada dalam laporan. Setelah melaporkan ke bagian manajemen keuangan, aku kembali ke meja kerja.            
Dengan kebulatan tekad, aku mengetik surat pengunduran diri dari perusahaan yang bergerak di bidang kertas. Dengan berat hati pula, aku mengikhlaskan penghasilan yang cukup menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaanku sebelumnya. Tapi akan lebih berat lagi menghancurkan harapan semua orang untuk menghirup udara segar dan menikmati segelas air putih ataupun sekedar menikmati secangkir teh di sore hari.***            

"Pak, hari ini kiriman bibit jati akan datang. Dan jangan lupa untuk ngecek bibit sengon dan karetnya," Teriak istriku yang berada di ruang keluarga. Sementara aku masih terpaku pada layar komputer untuk mengecek jumlah bibit-bibit pohon yang telah tersedia.           

Kring... Kring....! "Halo, rumah keluarga Indra." "Bapak Indra ada, tunggu sebentar," suara istriku menerima telepon.            
"Pak, ada telepon dari PT Papper."            

Aku menggeleng, dan aku terdiam. Sementara istriku menjawabnya, "Maaf ya pak. Bapak sedang ada keperluan di luar."  
http://www.kompas.com/, 3 Februari 2005. Diambil dari power point APJ Abdul Kalam -Willy Sidharta dengan sumber artikel yang dipublikasikan di majalah "Crónicas de los Tiempos", pada April 2002

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia