KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiProgram-Program PMOH untuk Top Reporter HOKI, Pegawai Negeri, dan Swasta oleh : Redaksi-kabarindonesia
11-Feb-2018, 16:42 WIB


 
 
KabarIndonesia - Ikuti Program Istimewa bagi yang pernah menjadi Top Reporter HOKI kapan pun Anda terpilih dan berhasrat memperdalam ilmu menulis dan tertarik mengikuti Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH).

Program Instansi pun diberikan kepada Instansi Pemerintah atau Swasta yang
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Keindahan Khatulistiwa 12 Feb 2018 16:21 WIB

Merakyatlah 12 Feb 2018 16:21 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Hapus Tatto Gratis 27 Jan 2018 12:27 WIB

 
 
CERPEN

Elang yang Terluka (Cerpen)
Oleh : Yunita | 16-Nov-2007, 03:29:15 WIB

Ibarat burung, sekarang aku adalah burung yang kehilangan satu sayap, yang tidak bisa sempurna lagi untuk terbang. Memaksa terbang pun hanya bisa tertatih-tatih. Tapi jikalau aku tidak terbang, banyak sekali ranjau pemburu yang setiap saat siap melukai bahkan membunuhku. Bukan itu saja, bahkan kehidupan anak-anakku juga terancam oleh kekejaman sang pemburu. Itulah sebuah perumpamaan kehidupanku saat ini. Lebih-lebih sekarang anak-anakku mulai tumbuh besar. Aku takut kondisi seperti sekarang ini akan mempengaruhi jiwa mereka. Karena, perkembangan mental dalam lingkungan yang tidak sehat, secara tidak langsung akan membentuk jiwa yang tidak sehat pula. Mengingatkan aku di masa kecilku.

Pernah kuimpikan mimpi yang sempurna, namun aku sadar kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Aku hanyalah aku yang tidak akan bisa memiliki kesempurnaan. Tidak mungkin aku memiliki kehidupan yang sempurna, apalagi dengan sebelah sayap saja. Kesempurnaan itu memang hampir pernah kumiliki. Di kala itu sayapku masih utuh. Dua sayap kumiliki dengan keindahannya. Kalau itu, aku baru saja tumbuh menjadi seekor burung merpati yang cantik. Banyak burung yang ingin memiliki aku, namun aku telah memilih burung elang untuk memiliki aku. Tidak pernah aku menyangka kalau burung elang adalah burung yang sangat perkasa. Banyak burung yang sangat takut padanya. Aku tidak pernah menyangka Elangku yang dulu kukenal begitu pendiam, lembut tak banyak bicara, apalagi dia kupilih karena dia lebih matang dan dewasa, kuharap dia bisa membimbing, memanjakan dan menyayangiku seperti yang tidak pernah kudapat di masa kecilku. Namun ternyata dia sekeras batu. Pendiamnya ternyata banyak menyimpan sejuta kekerasan. Kekecewaan demi kekecewaan tertimbun dalam hatiku. Aku tidak pernah membicarakan kekecewaan yang ada karena setiap kali aku membicarakannya, itu sama saja seperti membakar api amarahnya. Menangis pun bagiku bukan lagi merupakan senjata ampuh yang biasa dipakai wanita untuk meluluhkan hati laki-laki. Senjata itu sama sekali tidak mempan, karena hati elangku adalah baja yang tidak bisa diluluhkan oleh senjata apapun. Amarahlah balasan untuk tangisanku. Bukan kasihan bahkan simpati ataupun pelukan yang menenteramkan hati. Namun inilah aku, aku yang lemah dan begitu mengagungkan keutuhan. Meski sejuta luka lahir dan batin menggores, aku masih ingin hidup karena aku masih memiliki cinta. Cinta untuk anak-anakku, cinta untuk orang tuaku dan cinta untuk untuk orang-orang yang aku kasihi. Terutama untuk Elangku.

Aku ingin terus memeluk burung Elangku yang begitu perkasa dengan segala kebekuan hatinya. Aku memang pernah dekat dengan burung Cendrawasih dan kedekatanku dengan Cendrawasih ini melebihi kedekatanku dengan burung-burung yang lain, namun cintaku tetap untuk Elangku. Bahkan Elangku tidak tahu bahwa kebersamaanku dengan Cendrawasih banyak aku isi dengan segala sesuatu tentangnya. Tentang keperkasaan Elangku, keindahan hari-hari bersama Elangku, kesedihan yang ada dengan Elangku. tentang besarnya cintaku kepada Elangku walaupun Elangku telah beberapa kali menorehkan luka. Bahkan juga, banyak sesuatu yang aku dapat dari Cendrawasih. Pelajaran tentang sebuah hidup, petuah yang berharga, bagaimana cara menghadapi seekor burung Elang yang perkasa dengan segala kelemahan yang aku miliki, bagaimana menghilangkan segala keegoisan yang aku punya. Tapi mengapa setelah Elang tercintaku tahu kedekatanku dengan Cendrawasih, malah menjadikan bumerang bagi diriku sendiri? Padahal dari Cendrawasih aku dapat semangat untuk mendapatkan kembali cintaku yaitu Elangku. Aku harus melupakan segala kekejaman yang pernah dilakukan Elangku karena memang begitulah seekor Elang. Aku tidak boleh lupa bahwa sekejam apapun Elang yang perkasa akan tetap melindungi keluarganya.

Kini tiga belas tahun sudah aku arungi bahtera kehidupan bersama Elangku. Aku masih menginginkan Elangku seperti yang dulu dengan segala kekurangan, kelebihan, serta kebekuan hatinya. Aku bersyukur, Elangku sudah tidak sekejam dahulu dan telah meninggalkan kebiasaan buruknya. Namun, begitulah sang Elang tetaplah Elang. Dia tidak akan bisa berubah menjadi burung yang lain. Perangai dan watak telah terukir. Kebekuan hatinya tak jua mencair. Setiap kali aku mengingat dia, perih rasanya hati ini. Saat itu juga rasa rindu sangat menyesakkan dada. Hanya air mata yang bisa melukiskan kerinduan itu. Di mana hari-hari indah yang pernah kami miliki. Di mana mimpi-mimpi yang pernah kita rajut berdua. Kini aku seperti membeku kedinginan sendiri. Betapa ingin kurengkuh selimut kehangatan cinta Elangku. Betapa ingin aku berada dalam pelukan kekasihku, merasakan hangat napasnya membelaiku. Menikmati rengkuhan lengannya. Merasakan genggaman erat jemarinya. Berlari bersama mengitari padang rumput yang luas. Tertawa dan menangis bersama bukan hanya menangis sendirian meratapi nasib cintaku.

Masih bisakah kebahagiaan itu kurengkuh kembali? Namun rasanya sulit sekali, karena Elangku masih merasa terluka oleh kedekatanku dengan Cendrawasih. Tapi bukankah aku juga terluka karena kini sayapku tinggal sebelah? Apakah aku harus terbang meninggalkan Elangku agar dia bahagia tanpa adanya bayang-bayang kekhilafanku? Haruskah selamanya aku memendam kerinduan kepada Elangku sendirian dan menyimpannya sampai mati? Ingin aku menjadi lilin untuknya. Ingin aku nyalakan lilin dalam kegelapan lorong hatinya. Ingin selalu kuterangi jalan yang kami lalui dengan cahayaku. Aku rela terbakar demi kebahagiaan Elangku tercinta. Dengan sebelah sayapku aku takkan terbang kemana-mana. Aku ingin menemani Elangku yang terluka, karena akulah penyebab luka yang diderita Elangku. Perlahan namun dengan sekuat tenagaku, aku ingin menutup luka Elangku. Biarlah para pemburu yang ingin melukai bahkan ingin membunuhku di luar sana. Aku akan bertahan hidup beriring doa agar para pemburu sadar dan membiarkan kami burung yang terluka ini hidup berbahagia selamanya dengan anak-anak kami.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEKoleh : Rohmah Sugiarti
12-Feb-2018, 22:21 WIB


 
  Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEK Menteri Komunikasi & Informasi RI Rudiantara (kedua kiri) bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kanan), Chief Executive Officer & Founder Go-Jek Nadiem Makarim (kiri) dan President & Co-Founder Go-Jek Andre Soelistyo berswafoto bersama seusai konferensi pers
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Konsisten Pegang Teguh Netralitas 15 Feb 2018 23:19 WIB


 

 
 

 

 

 

 

 
Walk to Museum Bahari Yogyakarta 12 Feb 2018 16:23 WIB

 

 

 

 
Nasehat Mengelola Amarah 04 Feb 2018 11:15 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia