|
|
|
| |
KabarIndonesia - Di sela-sela pencanangan Gerakan Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir di Mataram kemarin, Presiden SBY kembali curhat. Beliau mengeluh dengan menyebut ada gerakan politik yang saat ini berkampanye keliling Indonesia menjelek-jelekkan pemerintahan. Gerakan itu, kata SBY, mengatakan seolah-olah Indonesia selengkapnya....
|
|
|

CERPEN
Keruntuhan Hati
Oleh : Fitrah Anugrah | 19-Des-2009, 22:30:30 WIB
|
Pandanglah seorang anak kecil lusuh yang duduk di depan sebuah mall di kota besar. Matanya mengawasi setiap yang datang terutama sepasang orang tua yang berjalan hilir mudik. Dia ingin mengikutinya tapi security selalu mencegahnya. Karena dia dekil, lusuh, dan dia hanya seorang anak jalanan yang kerjanya hanya mengemis, dan mengamen depan mall. Tapi lihatlah dia baik-baik terlihat wajahnya dan geraknya tidak seperti anak jalanan yang lainnya.
Junaedi, si anak lusuh itu memandang sepasang orang tua yang duduk di depan sebuah resto, jakunnya naik turun melihat mereka makan ayam goreng. Ingin rasanya dia mengemis karena perutnya telah kelaparan siang itu. Tapi serasa tertahan sebuah ingatan. Airmatanya mengalir perlahan. Junaedi tetap berdiam di tempat itu, dekat bangku sepasang orang tua itu makan. Berdiam mematung kaku meski beberapa orang yang hilir mudik di mall menyenggol dia. Tetap saja tak bergeming dari tempatnya berdiri. Seorang security menyeretnya dari tempat itu setelah sepasang orangtua itu memanggil security. Karena risih dengan pandangannya. Junaedi berontak dan meronta. Tapi apalah arti tenaga anak kecil itu jika dibanding tenaga security yang perkasa. Sempat pula dia dibentak agar disuruh diam. Junaedi diam dan mengikuti kemana security itu menyeretnya. Pernah dia merasakan tamparan dari security itu ketika dia disuruh diam tapi malah menjerit. Security itu menampar mulut Junaedi hingga bibirnya berdarah. Junaedi kesakitan dan menangis saat itu tapi tak ada yang memperdulikan. Bahkan teman-temannya memperolok-olok dia yang kesakitan. Jikalau begitu Junaedi hanya lari pada sebuah sungai di sebelah mall itu duduk dipinggir sungai. Dia pun menangis sejadi-jadinya dan mengadu pada sungai itu tentang kelakuan security dan teman-temannya. Pada aliran sungai yang membelah kota itu Junaedi sering mengadukan keadaannya. Kadang bila malam dia berteriak-teriak sejadinya, terutama ketika bulan purnama dan cahaya bulan yang terang itu memantul ke sungai.
Junaedi hanya memanggil nama ibunya sambil berteriak-teriak menunjuk bayangan bulan itu. Pernah tiba-tiba dia menjebur ke sungai itu untuk menemui bayangan bulan. Teman-temannya sesama anak jalanan berteriak-teriak supaya ada yang menolong. Mereka takut menolong karena sungai itu sungai besar berarus kuat dan dalam. Entah darimana datangnya seorang lelaki berumur 40-an menjebur juga ke dalam sungai itu dan menolongnya. “Goblok. Kenapa kamu njebur ke sungai. Kamu ingin mati anak kecil” kata pemuda itu terengah-engah ketika berhasil mengentasnya. “Ada ibu. Ada ibu disana, Om. Di sungai itu” Jawab Junaedi yang juga nampak terengah-engah. “Itu bukan ibumu!! Lihat baik-baik di sungai itu. Itu bayangan bulan saja” Kata pemuda itu sambil menunjukkan tangannya ke sungai itu.
“Bayangan bulan di sungai itu memang indah. Bayangan itu bercahaya bergoyang-goyang serasa menarik aku untuk masuk ke dalamnya. Tapi tak tahukah kau!!!! Kau bisa terbunuh olehnya. Kau akan tenggelam. Mati.” Junaedi hanya termangu sambil menggigil memandang anak muda itu yang berteriak-teriak seperti orang yang membacakan sajak.
“Aku seperti kau anak kecil selalu mengagumi cahaya bulan itu. Menantikan cahaya itu tiap malam. Kita pun bergentayangan tiap malam hanya untuk mencari bulan. Kita pun sama telah disiksa oleh penantian itu. Lalu dia muncul hanya sebagai bayangan. Aku dan kau ingin meraihnya tapi kita menderita sendiri karenanya. Hanya Fatamorgana” Lanjut pemuda itu sambil matanya melotot dan menunjuk ke langit seakan-akan marah pada langit itu. “Siapa nama kamu anak kecil yang malang. Namaku Marbeji” tiba-tiba pemuda itu mengulurkan tangannya dan setengah terbungkuk memandang wajahnya.
Anak itu kaget. Dalam kekagetannya Junaedi mengulurkan tangannya dengan rasa penasaran seorang anak kecil. Bulan perlahan mulai redupkan bayangan sinarnya dalam sungai itu. Jalanan kota telah lenggang. Marbeji pulang ke rumahnya sambil mengajak Junaedi menginap di rumahnya. Yang tak jauh dari sungai. Malam itu jadilah mereka memulai sebuah hubungan persahabatan dari hal yang tak terduga. ************************** ********************* Pada Sebuah kamar mewah menjelang pagi-pagi seorang perempuan dengan pakaian acak-acakan duduk di ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terdengar pelan isak tangis darinya sambil sebutkan nama anaknya. Tangisnya mungkin terbentur mewahnya kamar itu dan cekikan beberapa lelaki di luar kamar.
Suara musik oldies dari luar kamar rupanya menembus juga ke dalam kamar itu. Keromantisan musik oldies yang mengalun beradu tangisan sedih dari wanita itu hingga kamar itu selalu menjadi ruang pertanyaan yang tak terjawab terutama menjelang pagi. Lamat-lamat suara ayat suci terdengar dari jauh beriring kokok ayam. Lelaki yang cekikan dan berkumpul di luar kamar itu beranjak pergi.
Terdengar bunyi mobil dan motor yang di stater meninggalkan rumah itu. Pintu kamar itu terbuka, seorang lelaki tinggi dan berkacamata mendatangi wanita itu. Dia duduk di samping wanita itu. sambil memeluk wanita itu. “Istriku sekarang ganti kau meladeni aku?” kata lelaki itu perlahan. “Tidak mau!!! Saya capai!!!” jawab wanita itu tegas. “Apa kau bilang!!! Aku ini suamimu khan!!!!” Lelaki itu membentak wanita itu sambil tangannya mencekik lehernya. Kalau sudah begini wanita itu takut sekali. Sebab kalau tidak melayani kemauannya seringkali rambutnya dijambak dan mukanya ditampar dengan keras hingga berbekas telapak tangan di pipinya. Mau tidak mau wanita itu meladeni lelaki yang suaminya itu untuk bersetubuh. Meladeni hingga suaminya puas dan tertidur karena kecapekan. Setelah itu wanita itu hanya merintih kesakitan tapi tertahan suaranya karena suaminya paling sensitif dengan suara tangisan wanita. Biasanya kalau dia mendengar tangisan dari istrinya dia akan membentak kalau tidak maka pukulan dari tangannya akan melayang menampar bibir atau pipi wanita itu.
Sulami adalah seorang wanita cantik beranak satu yang berasalnya dari suatu daerah yang jauh dari rumahnya sekarang. Kecantikannya masih menjadi lirikan beberapa orang lelaki yang mengenalnya di kampungnya biarpun sudah 3 tahun berceraiannya dengan suaminya yang pertama. Kemudian berkenalanlah dia dengan Darmuni seorang perantau yang berprofesi sebagai sales yang kebetulan sedang menjajakan barang di kampunya.
Dari penampilan Darmuni yang mengesankan bagi Sulami ditambah dengan cara tutur bahasa Darmuni yang halus membuat Darmuni jatuh hati. Darmuni pun menerima dan mengerti dengan keadaan Sulami yang telah bercerai dengan suaminya. Sulami sebetulnya kurang mengetahui latar belakang dari Darmuni. Sulami hanya mendengar dari cerita-cerita teman-temannya yang telah berkenalan dengan dia. Bila Darmuni itu orang kaya di daerah asalnya. Darmuni pun seorang jujur sebab sepengetahuan teman-temannya dia sering terlihat di rumah ibadah tiap tiba waktu beribadah. Berbinar hati Sulami bila mendengar cerita-cerita baik tentang Darmuni. Sulami pun merasa pilihannya pas. Sulami ingin mencari calon pendamping yang setia dan bisa mencukupi kebutuhan dia dan anaknya. Terjadilah pernikahan sesuai yang dikehendaki dua orang itu. Darmuni pun mengajak Sulami ke tempat kediamannya di seberang pulau. Karena Darmuni mengaku di sana dia punya rumah sendiri. Darmuni pun tidak membawa anaknya ikut serta. Anaknya dititipkan pada ibunya yang sudah tua dan hidup sendirian. Apa hendak dikata, semua sudah terlanjur terjadi.
Impian Sulami untuk menjalin kehidupan yang bahgia setelah pernikahannya kedua bertolak impian. Darmuni ternyata menyimpan sebuah ular di rumahnya. Darmuni telah menikah dan beristri dengan seorang wanita yang lebih tua umurnya darinya bahkan boleh disebut sebagi ibunya. Marwiya demikian nama istri pertama dari Darmuni. Ternyata seorang makelar bagi para hidung belang di tempatnya.
Sungguh tragis. Darmuni pun ternyata sangat cinta kepada Istri pertamanya. Bahkan Darmuni mengiyakan Istri pertamanya ketika disuruh mencari wanita lagi untuk dinikahi Darmuni kemudian dijadikan wanita penghibur di rumah mereka. ”Bisnis menggiurkan” begitulah pikiran dari Marwiya ketika menyampaikan usulan ini kepada Darmuni saat itu. Darmuni nurut dan patuh saja ke usulan istri pertamanya bahkan menjalankan ide gila dari istri pertamanya. Bahkan Sulami ternyata korban kesekian dari ide gilanya ini. Entah dimana wanita-wanita yang jadi korban yang lain sebelum Sulami. Sulami tidak bisa lari dari tempat itu sebab dia tak pernah di kasih uang buat belanja sepeserpun oleh Darmuni. Sulami oleh Darmuni dan wanita tua itu dijual ke lelaki hidung belang di rumahnya. Tiap malam bila senja datang beberapa lelaki hidung belang datang ke rumah itu bergiliran. Mereka seperti kelihatan tamu dan teman bagi Darmuni. Setelah mengobrol-obrol dan bertransaksi dengan Darmuni barulah beberapa lelaki itu masuk ke sebuah kamar. Di sana Sulami sudah menunggu. Jerit tangis dan kesakitan dari Sulami di dalam kamar itu rupanya tak terdengar oleh Darmuni, Marwiya, dan beberapa lelaki yang menunggu giliran. Teredam alunan musik yang disetel kencang dalam rumah itu. Kedua orang itu tinggal menunggu uang dari orang yang telah memakai tubuh dari Sulami.
Darmuni pun rela sebagai suami dari Sulami kebagian jatah terakhir ketika menjelang pagi. Hal tersebut dilakukan setiap malam dan banyak lelaki hidung belang berdatangan ke tempat itu karena tarifnya murah dibanding tempat yang lain. Di samping itu keamanan terjamin karena sepertinya aparat di daerah itu melegalkan hal itu. Barangkali prostitusi menjadi satu-satunya hiburan di daerah seberang pulau itu. Daerah yang jauh dari kota namun banyak pekerja dari luar yang berdatangan sebab daerah itu menyimpan beberapa bahan tambang yang dieksplorasi terus. Dibutuhkan banyak pendatang luar terutama orang lelaki untuk mengeksplorasi tambang tersebut. Sedang penduduk asli daerah tersebut hanya berjualan dan memberi tempat penginapan bagi pendatang lelaki itu. Tentu saja para lelaki yang kesepian jauh dari keluarganya atau pula istrinya membutuhkan sebuah hiburan buat melepaskan kebutuhan biologisnya.
Seminggu sekali, Sulami diajak oleh Darmuni dan Marwiya ke luar rumah dan berjalan-jalan. Biasanya Darmuni dan wanita itu membawa Darmuni ke dokter umum untuk mengechek kesehatan dan menyuntik Sulami dengan suntikan yang membuat Sulami agar tidak bisa hamil selain itu biar tidak berpenyakit kelamin. Setelah dari klinik dokter mereka membawa Sulami berbelanja pakaian, parfum, dan alat-alat kecantikan di pertokoan daerah itu. Entah mengapa bila diajak begitu Sulami hanya mengikut saja bagai kerbau dicocok hidungnya. Bisa saja Sulami melarikan diri bila dia diajak keluar dan jalan-jalan oleh mereka. Tapi Sulami sudah pasrah dengan dirinya yang sudah kotor dan hina. Tentu saja di daerah itu tak ada yang mau menolong Sulami. Orang-orang daerah tersebut sudah tahu siap itu Sulami. “Ingat Kau takkkan bisa lari dari tempat ini!” Kata Marwiya sambil mengacak pinggang saat itu. “Orang-orang di sini sudah tahu namamu. Mungkin kau akan dilempar batu bila bertemu dengan orang yang tahu kamu sedang lari. Malah mungkin kamu diseret ke lapangan lalu dirajam beramai-ramai di sana. kecuali kamu keluar bersama kami!!” lanjutnya dan Sulami pun hanya diam menundukkan pandangan kalau sudah begitu.
“Percuma disesali sudah terjadi. Aku memang seorang penghibur. Aku malu pada ibuku, dan anakku. Semua sudah hancur. Aku yang bersalah karena aku telah menerima pinangan Darmuni yang ternyata lelaki bejat itu. Hiks… ” Sulami merintih dalam hati lalu pecah airmatanya. “Jangan menangis. Kutampar kau jalang” kata Darmuni sambil menjambak rambut Sulami. Tangan Darmuni yang satunya siap-siap buat menampar Sulami. Darmuni perlahan hentikan tangisnya dan mulai memaksakan senyum. Sulami memegang erat tangan Darmuni yang mau menamparnya. Dia ketakutan dengan tangan Darmuni yang kelihatan kokoh. “Ya begitu tersenyum. Kamu kalau senyum jadi cantik. Dan kecantikanmu laku dijual…hahahaha…Jalang” kata Darmuni sambil tersenyum dan tangannya mencubit pipi Sulami. Sulami tersipu malu-malu mendapat perlakuan begitu dari suaminya. Biar bagaimanapun juga dia lelaki yang telah dipilih dan dinikahi Sulami dengan sah. Tapi lihatlah wajah Marwiya agak cemberut dan sedikit melengoskan pandangan. “Kamu ingin kaya kan. Kamu pingin kaya dan itu yang kamu inginkan dan omongkan selalu dulu sebelum menikah. Kamu merasa tidak bisa menjadi kaya di tempat asalmu makanya kamu kuajak kemari biar jadi kaya raya…hahaha. Lihatlah kamu menempati rumah mewah dan memakai baju baru terus tiap minggu. Parfum dan kosmetika selalu tersedia. Kurang apa kita..” lanjut Darmuni. Sulami dulu pernah jatuh hati dengan Darmuni karena kata-kata manisnya. Kata-kata manis yang lembut bagai semilir angin membawakan harapan dan janji buatnya. Sulami kembali mendapat kesegaran dengan kata-kata Darmuni yang lembut dan menjanjikan. “Janganlah kuatir istriku kita pasti kaya. Seperti janjiku padamu. Makanya jagalah kecantikan dan kesehatanmu selalu biar banyak lelaki yang datang kepadamu. Hanya cara itu yang bisa kau lakukan di sini agar cepat kaya di tempat yang jauh dari asalmu.jangan kuatir aku setia kepadamu. kamu tetap istriku di samping Marwiya ini…Hahahaha” kata Darmuni bertutur lembut menerangkan sambil mengelus-elus rambut pendek Sulami. “Terima kasih suamiku. Aku cinta kamu.
Kuulurkan tangan, tubuh dan jiwaku buatmu saja seperti yang kuucap dulu” jawab Sulami dengan agak terbata-bata. Darmuni meraih tangan Sulami yang disodorkan padanya lalu mengecupnya. Marwiyah yang di samping Darmuni sambil berkacak pinggang langsung pergi meninggalkan mereka. Darmuni memang piawai dalam meluluhkan hati seorang wanita. Betapa Sulami selalu dibuatnya bertekuk lutut biarpun penyiksaan demi penyiksaan diterima olehnya. Sulami pun rela mengikuti apa kemauan Darmuni bahkan sampai rela meninggalkan anaknya. Barangkali Sulami melupakannya. Sudah hampir setahun ini Sulami menghilang ke pulau seberang tanpa pernah mengirim duit buat biaya hidup anaknya. Tetapi kadang Sulami merindukan pula anaknya di kala kesepian mendera dirinya.Sulami hanya bisa menangis, tapi tangisnya terbentur megahnya dinding rumah itu dan deburan ombak laut di samping rumahnya di pinggir laut. Rasanya tak mungkin meninggalkan rumah itu yang sudah menjadi penjara baginya.
Seandainya dia bisa bebas keluar, Sulami tak mungkin lagi kembali seperti dulu. Kehormatannya sebagai wanita yang hanya diberikan kepada lelaki terhormat yang dipilihnya telah runtuh di pulau seberang. Sering dia memaki-maki sendiri. Memaki kepada Suaminya sekarang, kepada mantan suaminya, kepada bapaknya yang telah meninggal dunia. Inginnya dia bunuh diri dengan menjebur ke dalam laut itu tapi kadang bayangan wajah anaknya yang menunggu nya tergambar di horizon pantai jauh. Keyakinan ingin bertemu anaknya sesungguhnya sangat keras dalam batinnya sebagai ibunya. Tapi keyakinan itu dapat dibentur dengan ombak gairah dan semilir birahi dari Darmuni suaminya. Keinginannya pun terpecah menjadi butir-butir pasir. “Biar saja anakmu dengan neneknya. Dan aku gak suka dengan kehadiran dia di sini. Tak memberi untung bagi usahaku. Terserah padamu bila mau mengikuti aku, kamu lepaskan anak itu. Bila tidak mau kita sampai di sini saja. Aku mau kembali ke daerahku. Ada tugas yang harus kulakukan” ujar Darmuni yang dikenangnya seminggu setelah pernikahannya. Ketika mereka akan berangkat ke pulau seberang. Ke tempat tinggal Darmuni di pulau jauh dari tempat tinggal ibunya.
Mak Weji nama ibu Sulami Sesudah kepergian Sulami dan menantunya ke pulau seberang sering sakit-sakitan. Rasanya Mak Weji tak bisa menelan makanan ditambah kurangnya beristirahat. Hatinya merasa berat ketika akan melepaskan mereka pergi. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi dengan anaknya. Ditambah dengan menantunya yang tidak mau menerima kehadiran anak dari suami Sulami yang pertama. Bukan ibunya tidak mau menerima dan menampung cucunya karena ibunya juga orang cukup. Dari peninggalan sawah mantan suaminya dan uang pensiunan sudah lebih dari cukup bagi dia menghidupi dirinya. Penjelasan dari Darmuni, menantunya yang meyakinkan serta Sulami yang memohon direstui keberangkatannya ke pulau seberang membuat luluh hati dia. Mak Weji bersedia menerima anaknya. Namun bayangan-bayangan buruk itu selalu menghantuinya. Bayangan itu ditepisnya senantiasa dengan mengelus-elus kepala cucunya. Kalau sudah begitu Mak Weji selalu nembang buat mengenang anaknya yang telah pergi dan mengingatkan cucunya gar selalu ingat ibunya. Tiga bulan sesudah kepergian Sulami, pada hari subuh seperti biasa Mak Weji bangun, mandi, dan siap-siap beribadah.
Mungkin karena masih ngantuk atau karena badannya yang memang sudah mulai lemah, Mak Weji terpleset di lantai kamar mandi. Kepalanya membentur lantai kamar mandi. Darah mengucur dari telinganya. Mak Weji pingsan dan tak sadarkan diri. Tiada yang tahu dan tiada yang mendengar apalagi menolong dia. Hingga cucunya yang bangun karena kebelet pipis berlari ke kamar mandi. Demi melihat gambaran ngeri seperti itu cucunya sangat ketakutan. Dia kencing di celananya karena ketakutan itu lalu berlari keluar berteriak-teriak histeris minta tolong. Tetangganya berdatangan menuju rumahnya. Mereka melihat ternyata Mak Weji telah terkapar meninggal dunia dalam kamar mandi. Beramai-ramai mereka menggotong mayat itu lalu mengadakan upacara kematian bagi Mak Weji. Rupanya tetangga-tetangganya tak memberitahu saudara-saudara dari Mak Weji tentang kematiannya. Tetangganya hanya tahu kalau Mak Weji hidup seorang diri dengan seorang cucunya yang sudah masuk Sekolah Dasar. Cucunya yang diperkenalkan bernama Junaedi. Sedang mau memberitahu Sulami anaknya yang tinggal di perantauan, tetangganya tidak tahu di mana alamatnya. Sesudah kematian Mak Weji, para tetangganya dengan dipimpin Pak RT mengadakan pertemuan mengenai masa depan cucu Mak Weji dan rumahnya. Hasilnya sementara Junaedi dititipkan kepada Pak RT beserta rumah dan sawahnya juga. Untuk biaya hidup dan kebutuhan sekolah Junaedi yang sudah masuk Sekolah Dasar diambilkan dari hasil sawah garapannya.
Perubahan kejiwaan pun terjadi pada Junaedi setelah kehilangan nenenknya. Dia menjadi pemurung dan sangat sensitif pada setiap orang yang diketahuinya. Kadang kelakuannya tampak liar seperti tak ada orang yang disegani dan ditakuti. Teman-teman sepermainannya pun mulai menjauh darinya karena dia mulai menampakan keanehan. Seringnya dia memanggil nama ibunya Sulami pada setiap wanita yang lewat depan rumah Pak RT. Pak RT yang menjadi bapak pengasuhnya sering menenangkan hati dan menghiburnya dengan bermacam mainan dan perasaan sayang darinya. Tapi hal itu tak cukup buat Junaedi tersenyum. Wajahnya selalu cemberut, bersedih hati, murung, seperti menyimpan sesuatu dalam matanya yang siap meledak. Suatu hari Pak RT jalan-jalan ke kota bersama keluarga dan tentu mengajak Junaedi. Mereka jalan-jalan di suatu mall besar di kota itu, makan bersama dan bermain di arena permainan dalam mall itu. Pak RT dan istrinya lengah pada saat mereka bergembira menikmati permainan. Junaedi menghilang dalam keramaian. Dia menyelinap di kerumunan orang-orang dan pergi dari arena permainan itu. Junaedi turun dari lantai 3 mall itu menuju lantai bawah. Junaedi keluar dari mall itu dan dia menuju sebuah sungai besar yang ada di samping mall itu. Dia menatap alir sungai itu yang nampak tenang. Junaedi merasa tenang melihatnya lalu dia melirihkan nama ibunya.
Junaedi tidak tahu di arena permainan ada sedikit keramaian karena Pak RT dan istrinya kebingungan mencari Junaedi hingga di umumkan di pengeras suara berita kehilangan itu. Tapi mana ada yang tahu dan mau tahu di antara pengunjung mall itu, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Pak RT dan istrinya akhirnya berkeliling di seputar mall itu menelusuri jalan keluar dan masuk mall itu. Termasuk di samping mall itu di tempat parkir mobil serta bertanya pada setiap orang. Tapi nihil hasilnya. Hingga pada suatu titik klimaks pencarian dan waktu pun mulai beranjak sore pak RT menghentikan pencariannya. Pak RT pulang ke tempatnya dengan mobil dan sebelumnya mendatangi kantor kepolisian setempat buat melaporkan tentang kehilangan ini. Pak RT pasrah dengan hal ini disamping terbesit ucapan dari istrinya tentang anak itu yang bukan anak sendiri, jadi biarkan saja dia menghilang. ************************** ********** “Hei anak kecil. Kamu telah bangun. Ini teh hangat buatmu serta pisang goreng. Minum ini dulu biar segar badanmu” seru Marbeji kepada Junaedi yang telah bangun dari kasur tipis miliknya “Rupanya kau sangat kelelahan dan tak terurus badanmu. Lihat betapa dekilnya badanmu dan bajumu sangat bau dan kotor. Kau anak kecil mengapa bisa terjadi seperti itu” pikir Marbeji sambil melihat Junaedi yang makan pisang goreng dengan lahap. “Anak kecil siapakah orang tuamu dan darimana asalmu? Dan ibumu di mana dia? Mungkin saya bisa membantumu anak kecil. Ceritalah” tanya Marbeji lagi sambil menyalakan rokok kreteknya. Meledak tangis dari anak itu. Apalagi ketika nama ibunya disebut oleh Marbeji. Marbeji pun mendekatkan badannya pada Junaedi. Merengkuhnya dan mengusap-usap kepalanya. “Tenang Junaedi. Om melindungimu di sini. Tenang ya. Cobalah bercerita seingat kamu” tanya Marbeji dengan lembut. “Ya. Om makasih” Junaedi pelan-pelan hentikan tangisnya meski ada isak disela tangisnya. Junaedi pun bercerita tentang masa lalunya hingga dia sampai ke mari. Menyebutlah Junaedi pada beberapa nama yang membekas di ingatan kecilnya. Nama Sulami sebagai ibunya yang hilang, Mak Weji neneknya yang telah meninggal dunia, Darmuni, bapak tirinya yang membawa ibunya, dan Pak RT yang pernah mengasuhnya dan sampai sekarang belum menemukan dirinya.
“Ternyata menyedihkan juga kisahmu anak kecil. Seharusnya kau tak boleh mengalami kisah sedih itu pada usiamu. Om juga mengalami kisah sedih sepertimu. Om pun terdampar di kota ini karena kisah masa laluku” Marbeji memeluk Junaedi erat sambil mengusap-usap kepalanya. Entah ada getaran apa Marbeji begitu meluapkan perasaan sayangnya pada Junaedi. “Om terdampar ke sini karena seorang wanita. Karena om dikhianati wanita. Dulu di kampung jauh om lama menjalin hubungan dengan nya dalam suka dan duka. Kita pun berjanji akan menikah kelak. Om tinggal dia sementara untuk belajar jurnalistik di kota ini sekaligus bekerja. Ah apa daya ketika om balik tujuh tahun yang lalu ternyata dia telah pergi dan menikah dengan orang seberang pulau…hiks” Marbeji menerangkan keadaan dia sebelumnya. Tak terasa tetes airmatanya pelan-pelan jatuh mengalir. “Aku seperti juga kamu begitu sakit dan merindu. Lihatlah aku selalu merindukan dia. Aku selalu pergi ke sungai besar itu. Aku menunggunya datang pada aliran sungai itu. Menjelang senja bahkan larut malam kadang ku di sungai sampai pagi. Lihatlah anak kecil aku juga merindukan wanita itu”
Tiba-tiba meledak emosi lelaki itu. Emosi layaknya seorang penyair membaca puisi. Junaedi hanya bengong dan keheranan memandangnya “Aku tahu aku sudah gila. Aku tahu hidupku tak teratur semua karena wanita dan karena lelaki bajingan. Tiap hari aku hanya begini saja menulis, dan menulis segala perasaanku padanya. kukirimkan pada koran. Aku memang gila gilaku karena terlalu cinta padanya. Kau tahu anak kecil!!! Cintaku mendalam kepada wanita itu seperti cintamu kepada ibumu. Lihatlah kita ini hanya mahluk-mahluk yang merindu dan terbuang karena perasaan cinta berlebih”
Marbeji pun meneruskan kata-katanya. Matanya sesekali melotot ke Junaedi dan sesekali memandang ke atas. Lalu dia pun menghisap rokoknya dan mengepulkannya ke langit kamarnya. “Semua yang kukerjakan selama ini hanya buat dirinya. Aku bekerja, mengumpulkan uang, membangun rumah dan bersiap-siap buat pernikahanku dengan dia. Ingat kulakukan ini hanya buatnya”, lanjut Marbeji dan tubuhnya tiba-tiba bergetar dan melepas pelukan Junaedi. Marbeji pun menangis lirih dan menutup mukanya denga kedua telapak tangannya.
“Semua ini memang salahku. Semua ini memang karena kebodohanku. Aku tak memahami berbagai pertanda yang ada. Aku dibutakan dan dibodohkan oleh cinta ku kepadanya.” mengisak tangis dan kata lirih dari Marbeji. “Ah sudah semua sudah berakhir. Biar dia bersenang-senang denhan lelakinya di negeri seberang sana. Ingat anak kecil. Tangis lelaki sangat mahal harganya. Tangis itu tak boleh tercurah. tangis itu harus berganti pembalasan dan dendam yang akan mengalir terus. Aku telah simpan sebuah senjata buat lelaki bajingan itu. Lihat saja saatnya Anak kecil. Akan kukelupas kulitnya suatu saat” perlahan Marbeji menghentikan tangisnya. Dia pun sudah mulai tersenyum pada Junaedi. Marbeji melihat jam di arloji. Dia harus berangkat kerja sebagai jurnalis di sebuah kantor media di kota itu. Jarak tempat kerja dengan rumahnya pun tak jauh. Sebelum berangkat kerja Marbeji berpesan kepada Junaedi dulu dan tak lupa memberi dia selembar 5 ribuan buat jajan Junaedi. “Junaedi. kamu tinggal di sini saja ya. Jangan ke mana-mana saya mau berangkat kerja dulu. Nanti jelang sore saya kembali. Tolong jaga rumah ini” kata Marbeji yang siap-siap berbenah mau berangkat kerja.
******************************
Senja pun tiba, Marbeji tergesa-gesa pulang ke rumah sambil membawa sebuah koran. Ada yang ingin disampaikan pada Junaedi. Langsung saja dia membuka pintu. Ternyata Junaedi tidak ada di rumah. Sejenak Marbeji bertanya tentang kepergian Junaedi dari rumahnya. Akhirnya dia mengetahui kalau Junaedi pasti ke Sungai besar di kotanya. Cepat-cepat setengah berlari Marbeji menuju sungai besar itu. Tepatlah dugaan Marbeji. Seorang anak kecil duduk di pinggir sungai dengan tatap kosong dan namanya menyebut-nyebut nama Sulami, nama ibunya. Dialah si Junaedi dan girang hati Marbeji melihat dia masih selamat dan baik-baik saja. Marbeji pun memeluk dia erat. Setelah itu Marbeji menunjukan sebuah majalah dari penerbitannya yang baru terbit kepada Junaedi. “Anak kecil teman wartawanku dari pulau seberang sedang menulis berita tentang bisnis prostitusi dan hubungannya dengan sebuah pembunuhan. Tentu kamu tak bisa membaca dan mengerti tulisannya.
Coba kamu pandang gambar fotonya saja” kata Marbeji sambil menyodorkan halaman berisi berita tentang itu. “Om. Wanita dalam foto ini om. Wanita ini ibuku om. Ibuku. Kenapa dengan dia om. Loh kenapa dengan dia sampai masuk majalah dan ada gambar polisinya om. Lelaki itu juga om dia bapak tiriku. Lihat dia diseret polisi. Ada apa om. Tolong jelaskan” meluap rasa ingin tahu Junaedi melihat sebuah wajah dalam foto di majalah yang telah dikenal sebelumnya. Itulah wajah ibu dan bapak tirinya.
“Anak kecil kuatkan hatimu ya. Om selalu bersamamu terus. Ikhlashkan kepergian ibumu. Ibumu telah meninggal satu bulan dari sekarang” jelas Marbeji. “Apa Om. Ibuku telah mati. Tidak mungkin. Tiap saya tidur dia selalu datang dan memberiku senyum. Tak mungkin. Dia pun bilang dalam mimpiku akan datang buatku. Tak mungkin Om” setengah membentak karena ketidak percayaan berita itu. Marbeji pun memeluk anak itu erat. Dia kuatir anak itu menjadi liar karena pemberitahuan ibunya telah mati. Sambil memeluk, Marbeji bercerita kisah tentang ibunya di majalah itu.
“Bu Sulami, ibumu telah terbunuh sebulan yang lalu. Dia dibunuh oleh suaminya Darmuni atas suruhan dari istri pertamanya. Istri pertamanya jengkel karena seharian pintu kamarnya ditutup terus. Sehingga lelaki hidung belang yang ingin menikmati tubuhnya malam itu gigit jari. Marwiya jengkel karena telah rugi beberapa ratus ribu karena penolakan ibumu melayani tamu-tamu yang datang. Di antara tamu-tamu itu ada aparat yang datang” kata Marbeji menjelaskan. “Maaf ya Anak kecil saya jelaskan lagi. Ibumu tidak mau melayani lelaki itu karena dia sedang sakit parah dan hal itu sudah dijelaskan sebelumnya. Tapi Marwiya tidak mengerti demikian juga Darmuni suaminya yang memukul dan memaksanya melayani tamu-tamu itu. Sulami menurut dan patuh dan mereka tidak mengetahui sebetulnya kunci kamar rumah telah diambil Sulami sebelumnya. Lalu Sulami pun mengunci kamar itu” lanjut Marbeji sambil tetap memeluk Junaedi.
“Anak kecil kamu tentu tak faham bahasa orang dewasa ini, tapi saya ingin menjelaskan tentang ini” jelas Marbeji dan Junaedi hanya mengangguk saja sambil mengisak-isak tangis kecilnya. “Akhirnya jelang pagi Darmuni bersama Marwiya mendobrak pintu itu. Darmuni membawa linggis buat mendobrak dan mencongkel pintu itu. Pintu itu pun berhasil terbuka. Dengan emosinya Darmuni melayangkan linggis itu ke kelamin Sulami yang sedang beristirahat karena sakit parah. Darmuni pun juga memecahkan kepala Sulami. Begitu keji. Mayatnya Sulami dilemparkan begitu saja ke laut lewat jendela di kamar itu oleh Marwiya dan Darmuni” “Mayat ibumu terdampar di pantai daerah itu. Ditemukan oleh seorang lelaki yang akan memancing. Lelaki itu kenal dengan wanita itu juga potongan busananya. Karena dia pernah memakai tubuh ibumu. Dia kasihan melihat keadaan mayat ibumu yang compang-camping. Dia pun melapor ke kepolisian tentang mayat itu. Polisi pun melakukan penyelidikan terungkaplah nama Darmuni dan Marwiya. Sebetulnya Darmuni dan Marwiya mau menutupi masalah itu karena kenal dengan beberapa aparat dan juga mau membayar berapa pun yang aparat maui agar kasus itu dapat ditutup. Tapi kasus itu sudah sampai ke telinga media dan salah satu wartawan yadalah rekan kerjaku dia terus menuntut kasus ini diungkap juga beberapa kasus wanita yang menghilang di daerah itu.”
“Anak kecil kamu mengerti kan. Ketahuilah lelaki yang menjadi bapak tirimu itu adalah lelaki yang menikah dan membawa lari pacarku dari kampungnya. Sebelum ibumu dibawa lari dia. Semoga ada hukuman mati buat mereka” Mabeji pun mengakhiri penjelasannya kepada Junaedi sambil memeluknya. Tak terasa air mata kedua lelaki itu mengalir membasahi pipi mereka masing-masing. Bayang matahari yang akan tenggelam jatuh di permukaan sungai di pinggirnya. Senja telah turun dan pada langit berpendar warna merah beradu warna kuning dalam lanskap langit biru. Terlihat sekelompok burung kembali ke sarangnya dari langit yang mulai berwarna ungu.
Lambat-lamabat dari jauh dalam aliran sungai ada dua buah benda hanyut dan tenang mengalir. Kedua benda itu seperti tubuh manusia dan berwarna merah seluruhnya. Entah hanya bayangan atau manusia yang terhanyut karena tampak tak jelas. Seperti bayangan tak jelas seorang manusia berjenis kelamin wanita yang hanyut di sungai. Berjalan terus dan mengalir benda itu melewati dua orang lelaki yang saling berpelukan di pinggir sungai. Ke dua bayang benda itu menuju muara sungai di ujung kota itu. Muara sungai yang menjadi pelabuhan laut bagi kota itu. “Om saya ingin menemui ibuku” Junaedi melepas diri dari pelukan Marbeji. Dia menjebur ke dalam aliran sungai. Marbeji hanya termangu.
Bekasi. 22 nov 2009
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com// |
|
|
|
|
|
|
|
| |
DAMPAK BANJIR - Lahan jagung seluas 7 hektar menjadi rusak akibat terkena dampak banjir di Kecamatan Kota Barat Gorontalo, Rabu (28/7). (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|