KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalBocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu? oleh : Wahyu Ari Wicaksono
24-Okt-2014, 15:46 WIB


 
 
Bocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu?
KabarIndonesia - Jakarta, Pengumuman nama-nama yang akan segera mengisi beberapa kursi kementerian adalah peristiwa yang paling ditunggu oleh masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi kabar santer bahwa Jokowi akan segera mengumumkan nama-nama pembantunya tersebut secara unik di teriminal 3 Pelabuhan Tanjung
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tak Datang 23 Okt 2014 17:37 WIB

Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Bahaya Ghibah
Oleh : Muhammad Subhan | 16-Apr-2008, 18:22:29 WIB

KabarIndonesia - Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari neraka.” (HR. Ahmad dengan sanad Hasan) Ghibah berasal dari kata ghaib yakni tidak hadir. Ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan. Nabi SAW telah mendefinisikan dalam batasan-batasan yang amat jelas tentang maksud dari mengumpat atau menggunjing, dengan tidak meninggalkan ruang bagi kesalahpahaman makna, sehingga tidak akan menimbulkan keraguan sedikitpun.

Suatu ketika Rasulullah ditanya, “Ya Rasulullah, apakah sebenarnya ghibah itu?” Beliau menjawab: “Engkau sebut (bicarakan) saudaramu dengan apa yang tidak disenanginya”. Orang tersebut berkata:“Bagaimana jika yang aku bicarakan itu benar?” Nabi Menjawab: “Jika yang engkau bicarakan itu benar, maka kamu telah mengghibah (menggunjing)-nya, dan jika tidak benar, maka kamu telah menuduh dan melakukan kebohongan besar” (HR. Muslim). Dengan demikian jelaslah bahwa makna ghibah itu adalah membicarakan orang lain dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyangkut kekurangan badannya, keturunannya, akhlaknya, pakaiannya atau segala sesuatu yang berhubungan degannya. Orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan ia tidak lepas dari dosa orang yang menggibah, kecuali kalau ia mengingkari dengan lidah, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkan ke pembicaraan lain, maka hendaklah ia melakukannya.

Allah SWT membuat suatu perumpamaan yang amat hina dan buruk sekali tentang orang yang bergunjing, yang tidak ada lagi perumpamaan yang lebih jelek dan lebih keji dari perumpamaan ini. “Hai orang-orang yang mengaku beriman, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya sesama mukmin yang telah menjadi bangkai? Tentu saja kamu merasa jijik. Oleh sebab itu, hendaklah kamu benci dan jijik pula mempergunjingkan saudara kamu sesama mukmin, sebagaimana kamu benci dan jijik memakan daging bangkainya yang sudah mati, bahkan lebih patut kamu benci dan jijik mempergunjingkannya, sebab akibatnya lebih hebat, yaitu siksa yang akan kamu terima nanti di dalam neraka Huthamah. (lihat QS. Al-Hujurat: 12 dan Al-Humazah). Agama dapat membenarkan seseorang menyebut kejelekan orang lain di belakang yang bersangkutan dalam keadaan; orang yang dizalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang berbuat zalim terhadap dirinya kepada pihak yang diduga dapat mengatasi penganiayaan tersebut. Boleh membicarakan kejahatan atau keburukan yang dilakukan seseorang, dengan maksud agar kemungkaran dan kezaliman tersebut dapat diatasi dan disingkirkan.

Dalam rangka memberi peringatan kepada orang lain agar ia tidak dirugikan oleh orang yang kita pergunjingkan tersebut. Menyebut keburukan seseorang untuk meminta penjelasan agama mengenai kelakuan orang tersebut. Dan jika orang yang dibicarakan tersebut melakukan kejahatan secara terang-terangan dan tanpa malu memperbuatnya.

“Siapa yang mencampakkan selubung rasa malu, maka tidak ada salahnya menggunjingnya” (HR. Baihaqi). Semoga kita terhindar dari perbuatan ghibah, dan upaya-upaya mendekati perbuatan ghibah. Hanya kepada Allah kita berserah diri dan mensucikan diri. Wallahu a’llam. ***


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sastra Tanpa Riset 05 Okt 2014 10:09 WIB

 
Korban Lapindo Tagih Janji Jokowi 23 Okt 2014 20:21 WIB

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 
Papua Kalahkan Sumut 24 Okt 2014 11:23 WIB


 

 

 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia