KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSwasembada Pangan Era Pembangunan, Sebuah Kenangan akan Harapan oleh : Iin Suwandi
04-Mar-2015, 11:53 WIB


 
  KabarIndonesia - Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer yang paling mendasar bagi manusia. Kebutuhan pangan sangat penting bagi kehidupan umat manusia yang akan mempengaruhi sendi kehidupan lainnya. Kehidupan sosial politik suatu negara akan terganggu manakala rakyat lapar karena seluruh rakyat
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Di Rantau Kurindu Ibu Pertiwi 06 Mar 2015 21:00 WIB

Derita Hilang, Keluhan Hilang 04 Mar 2015 11:45 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Banjir Bikin Stres Deera Idol! 18 Feb 2015 20:35 WIB


 

 
 
ROHANI

Bahaya Ghibah
Oleh : Muhammad Subhan | 16-Apr-2008, 18:22:29 WIB

KabarIndonesia - Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari neraka.” (HR. Ahmad dengan sanad Hasan) Ghibah berasal dari kata ghaib yakni tidak hadir. Ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan. Nabi SAW telah mendefinisikan dalam batasan-batasan yang amat jelas tentang maksud dari mengumpat atau menggunjing, dengan tidak meninggalkan ruang bagi kesalahpahaman makna, sehingga tidak akan menimbulkan keraguan sedikitpun.

Suatu ketika Rasulullah ditanya, “Ya Rasulullah, apakah sebenarnya ghibah itu?” Beliau menjawab: “Engkau sebut (bicarakan) saudaramu dengan apa yang tidak disenanginya”. Orang tersebut berkata:“Bagaimana jika yang aku bicarakan itu benar?” Nabi Menjawab: “Jika yang engkau bicarakan itu benar, maka kamu telah mengghibah (menggunjing)-nya, dan jika tidak benar, maka kamu telah menuduh dan melakukan kebohongan besar” (HR. Muslim). Dengan demikian jelaslah bahwa makna ghibah itu adalah membicarakan orang lain dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyangkut kekurangan badannya, keturunannya, akhlaknya, pakaiannya atau segala sesuatu yang berhubungan degannya. Orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan ia tidak lepas dari dosa orang yang menggibah, kecuali kalau ia mengingkari dengan lidah, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkan ke pembicaraan lain, maka hendaklah ia melakukannya.

Allah SWT membuat suatu perumpamaan yang amat hina dan buruk sekali tentang orang yang bergunjing, yang tidak ada lagi perumpamaan yang lebih jelek dan lebih keji dari perumpamaan ini. “Hai orang-orang yang mengaku beriman, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya sesama mukmin yang telah menjadi bangkai? Tentu saja kamu merasa jijik. Oleh sebab itu, hendaklah kamu benci dan jijik pula mempergunjingkan saudara kamu sesama mukmin, sebagaimana kamu benci dan jijik memakan daging bangkainya yang sudah mati, bahkan lebih patut kamu benci dan jijik mempergunjingkannya, sebab akibatnya lebih hebat, yaitu siksa yang akan kamu terima nanti di dalam neraka Huthamah. (lihat QS. Al-Hujurat: 12 dan Al-Humazah). Agama dapat membenarkan seseorang menyebut kejelekan orang lain di belakang yang bersangkutan dalam keadaan; orang yang dizalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang berbuat zalim terhadap dirinya kepada pihak yang diduga dapat mengatasi penganiayaan tersebut. Boleh membicarakan kejahatan atau keburukan yang dilakukan seseorang, dengan maksud agar kemungkaran dan kezaliman tersebut dapat diatasi dan disingkirkan.

Dalam rangka memberi peringatan kepada orang lain agar ia tidak dirugikan oleh orang yang kita pergunjingkan tersebut. Menyebut keburukan seseorang untuk meminta penjelasan agama mengenai kelakuan orang tersebut. Dan jika orang yang dibicarakan tersebut melakukan kejahatan secara terang-terangan dan tanpa malu memperbuatnya.

“Siapa yang mencampakkan selubung rasa malu, maka tidak ada salahnya menggunjingnya” (HR. Baihaqi). Semoga kita terhindar dari perbuatan ghibah, dan upaya-upaya mendekati perbuatan ghibah. Hanya kepada Allah kita berserah diri dan mensucikan diri. Wallahu a’llam. ***


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utaraoleh : Jumari Haryadi
01-Mar-2015, 10:19 WIB


 
  Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utara Lomba MTQ ke-42 Lampung Utara yang berlangsung sejak 23 Februari 2015 di desa Subik Kecamatan Abung Tengah berakhir pada 27 Februari 2015. Kegiatan yang diikuti 230 peserta dari 23 kecamatan tersebut dimenangkan oleh Kecamatan Tanjung Raja dan menempatkannya sebagai
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Dukung Program Swasembada Pangan 05 Mar 2015 05:55 WIB

Jangan Takut Ancaman Pihak Asing 05 Mar 2015 05:54 WIB

 

 

 

 

 

 

 
NamaKU = JiwaKU 25 Feb 2015 08:26 WIB

 

 
PKK Harus Mengefektifkan Posyandu 06 Mar 2015 21:09 WIB


 
Rambu Car Free Day Di Bogor 06 Mar 2015 21:06 WIB


 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia