KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
20-Sep-2014, 05:40 WIB


 
 
Top Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan September 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Agus Suriadi sebagai Top Reporter untuk kategori berita artikel.

Segenap Dewan Redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) mengucapkan selamat atas prestasinya dan terima kasih atas kontribusinya selama ini. Semoga terus bersemangat berkarya
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tagihan itu 20 Sep 2014 05:47 WIB

Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 

Resensi Buku: Kaum Homo di Tepian Agama dan Negara

 
ROHANI

Resensi Buku: Kaum Homo di Tepian Agama dan Negara
Oleh : Mulyadi J. Amalik | 11-Des-2008, 16:06:30 WIB

KabarIndonesia - Mungkin buku ini  cukup menarik hadir di ruang perpustakaan Anda. Sebuah buku yang cukup nyeleneh, tapi apik.

Judul buku  : Save Our Sex, Kaum Homo Bersatulah!
Penulis       : Soffa Ihsan
Penerbit      : Pustaka Cendekiamuda, Jakarta
Cetakan      : 1, Januari 2008
Tebal          : x + 161 halaman

Terbetik kabar love story yang berakhir bahagia produk pasangan gay bernama Salim (33) asal Palestina dan Ezra (40), warga Israel, walaupun mereka tak lepas dari ancaman fatwa haram pemeluk Islam, Yahudi, dan Kristen. Keduanya bisa tinggal di Tel Aviv, Israel, karena pemerintah negara tersebut telah mengesahkan undang-undang yang membolehkan hubungan sejenis sejak tahun 1998.

Cuma, tak berarti pasangan tersebut aman dari ancaman fisik dan psikis (Koran Tempo, 2/4). Cerita ini tak baru. Dalam buku Save Our Sex, Kaum Homo Bersatulah! karya Soffa Ihsan tersaji serba-serbi dunia gay di sejumlah negara dengan berbagai dilema dan polemiknya. Penulisnya berkisah soal kaum gay masa kini dan masa Sebelum Masehi.

Namun, silang-sengketanya hampir sama dari zaman ke zaman, menyangkut otoritas budaya, tafsir agama, dan hukum negara. Otoritas agama-lah yang paling keras menghadang kaum homo.           

Pada 9 November 2006, misalnya, pecah konflik dan kerusuhan di Israel yang dipicu rencana parade sejuta gay dan lesbian di Yerussalem. Mereka adalah aktivis gerakan perdamaian dan anti-perang yang terhitung kuat di Israel. Meskipun Mahkamah Tinggi Israel sudah menyetujui, kelompok Yahudi ultra-ortodoks menentangnya.

Kaum Yahudi ekstrem ini tak ragu-ragu menyerang polisi dan memblokir Shabbat Square di Yerussalem sembari beraksi membakar tong-tong sampah serta ban bekas. Suara penentangan juga datang dari gereja Katolik Roma. Setahun sebelumnya, aksi serupa ditandai dengan tertikamnya tiga orang peserta parade tersebut oleh seorang anggota sayap kanan Yahudi (hlm. 18-19).            

Istilah sodomi sudah ada di teks kuno Abad Pertengahan dan salah satunya dari Bibel. Istilah itu mengacu pada perilaku homoseksual di kalangan umat Nabi Luth. Substansi cerita zaman Nabi Luth ini tak jauh berbeda dengan versi Islam.  

Soffa menelusurinya hingga jauh ke abad awal perkembangan Islam. Homoseksual dan pedofilia sudah terjadi sejak pemerintahan Islam masa Bani Umayyah, Abbasiah, Fathimiyah, hingga Utsmaniah. Para ilmuwan sejarah, seperti Ibnu Jabir, Ibnu Khaldun, Abu Umar al-Kindi, Ibnu Ilyas, dan Nashir Khasru menulis tentang itu.           

Berikutnya, khalifah Abdurrahman III dari khilafah Umawi II yang berkuasa pada awal abad ke-10 M di Spanyol adalah seorang homoseksual. Tahun 1249 M, saat Mesir dikuasai dinasti Mamluk, ada praktik pelacuran yang "menjual" laki-laki muda dan tampan. Biasanya korban diambil dari masyarakat pedalaman untuk para tentara yang sedang bertugas di medan perang.

Di Maroko pada awal abad ke-18 M, sering terjadi penculikan terhadap laki-laki belia untuk dijual kepada laki-laki dewasa. Di Syiria pada awal abad ke-19 M, sebagian kalangan Druze yang menganut mazhab Syiah sudah biasa berhubungan seksual sesama jenis. Praktik homoseksual itu lazim pula pada masa kekuasaan Syah Iran di Iran dan dipunahkan setelah kekuasaan diambil alih kaum Revolusi Islam yang difiguri Imam Khomeini. Sekitar 4.000 gay dieksekusi mati.            

Kini di Arab Saudi; negara Islam yang menjadi pusat peribadatan muslim sedunia--syariat Islam dan hukum negara sangat melarang homoseksual dengan ancaman hukuman mati bagi pelakunya. Akan tetapi, "mal-mal di Jeddah telah menjadi tempat berkumpul para homoseksual" dan "kencan antargay telah mulai dilakukan secara terbuka di jalan-jalan" (hlm. 52).
 
Bahkan perkawinan massal 25 pasang gay pernah dilakukan di Madinah. Data ini dikutip Soffa dari buku Inside The Kingdom yang ditulis oleh Carmen bin Laden, saudara ipar Osamah bin Laden. Buku Carmen ini mengungkap pula perilaku homoseksual kaum jet set dan perempuan lajang di lingkungan kerajaan Arab Saudi. "Dari fakta sejarah ini, saya jadi tahu mengapa di beberapa kitab fikih selalu terdapat bahasan bahwa hukumnya makruh mengajak anak belia yang tampan untuk shalat berjamaah di masjid," tulis Soffa (hlm. 51).

Buku tipis yang dipadati banyak data kasus kaum homo ini mengupas juga masalah gay di Indonesia saat ini. Bahkan, praktik homoseksual di bilik-bilik pondok pesantren di Indonesia disinggung pula oleh penulisnya.

Tentu tak meragukan sebab Soffa adalah santri lulusan Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dan Pesantren Al-Munawir, Krapyak, Yogyakarta. Ia mengaku menulis buku ini sebagai refleksi kritis atas wacana syariat Islam di Indonesia. Namun, ia tak bermaksud mengetengahkan pandangan alternatif yang seolah-olah bisa menyelesaikan segala hal.

Mungkin karena buku ini terlalu ringkas, maka tak banyak hal bisa dikupas secara detil. Bila digarap lebih mendalam berdasarkan data-data yang ditampilkan, analisisnya pasti maksimal dan tuntas sehingga bisa menjadi monumental. Tentu saja tak cukup dengan 161 halaman. Namun, setidaknya buku ini sudah merepresentasikan kerisauan seorang santri di tengah-tengah kemajuan kehidupan modern yang memukau sekaligus penuh dengan ambiguitas.*              

Catatan:
Buku ini sudah pernah didiskusikan dalam forum terbatas Kantata Research Indonesia pada awal Mei 2008 yang dihantar oleh penulisnya sendiri, Soffa Ihsan.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com//    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Jangan Salah Menuntun Anak di Jalanoleh : Jumari Haryadi
16-Sep-2014, 14:43 WIB


 
  Jangan Salah Menuntun Anak di Jalan Siapa orang yang tak sayang dengan anaknya? Namun ternyata masih ada saja orang yang tak paham cara menjaga anaknya, misalnya ketika sedang membawanya jalan-jalan. Seperti terlihat dalam foto yang di ambil di Jalan Rajawali, Kota Bandung (14/09/2014). Seorang ibu menuntun anaknya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Kumpulan Petapa dari Kanekes 19 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia