KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiAndakah Calon Editor Sukarelawan HOKI? oleh : Redaksi-kabarindonesia
23-Aug-2016, 17:30 WIB


 
 
Andakah Calon Editor Sukarelawan HOKI?
KabarIndonesia - Harian Online KabarIndonesia (HOKI) sedang membuka kesempatan kepada pewarta warga HOKI yang tertarik bergabung sebagai salah satu Tim Editor Sukarelawan.  Bila Anda tergerak untuk
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA


  • Glocal
  • 15-Nov-2011, 13:41:36 WIB










 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Tiada Hari Tanpa Berita Duka 07 Aug 2016 10:07 WIB

Hidup di Negeri Dongeng 01 Aug 2016 20:48 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Munafik
Oleh : Js Kamdhi | 08-Feb-2011, 11:47:53 WIB

Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” (Mazmur 8: 1-5)

Suatu realitas hidup, yang akhir-khir ini menggejala, adalah munafik dan kemunafikan. Orang munafik selalu  sikap bermuka dua. Ada ketidakjujuran. Ada kesenjangan antara tutur kata dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan belakang. Orang munafik menjalani hidup seperti bunglon. Sangat lihai berubah ‘warna hidup’. Sangat cerdas untuk menyesuaikan lingkungan hidupnya. Seperti bunglon kelihaian berubah warna, tentu saja, demi teraihnya keuntungan diri. Demi hidup aman-terpandang-sukses, orang munafik berganti-ganti ‘setting hidup’.

Hidup dalam kemunafikan menyuburkan penghayatan hidup yang semata-mata mencari-mengejar-meraup keuntungan diri dari setiap kesempatan tanpa mempertimbangan etika dan moral. Kemunafikan menjadikan orang tidak lagi malu-risih-takut dalam perbuatan-perbuatan tercela.

Refleksi kita apakah sabda Tuhan
“Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” masih bermakna? Apakah kita juga terjerumus dalam munafik dan kemunafikan? Sahabat, alangkah sia-sianya hidup kita bila kita menghayati pergumulan hidup ini dengan kemunafikan. Alangkah nistanya, bila kita berada dalam ‘kubangan kemunafikan’. Alangkah berdosanya kita bila tidak dapat lepas dari himpitan kemunafikan  sekadar demi keuntungan diri: uang-harta-jabatan.

Itulah sebabnya kita harus berani ‘membersihkan diri dari kemunafikan’, sehingga mampulah kita berucap, “Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit.” Pasti menuntut pertobatan. Menutut kesediaan hati untuk mendekatkan diri pada sumber dan asal hidup: Tuhan Yang Mahabesar. Pasti, menuntut penyerahan diri yang total atas penyelenggaraan Tuhan.

Sahabat, hanya orang-orang yang cerdas berucap, “Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit.” Akan menyadari betapa Tuhan telah memilih kita. Tuhan telah mengundang kita untuk menyempurkan karya penyelamatan.

Bahkan, sejak bayi dan kanak-kanak Tuhan telah memilih kita untuk hidup dalam karya penyelamatan-Nya. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Kesadaran bahwa Tuhan telah memilih kita sejak bayi, maka kita pun akan bertumbuh-berkembang-berbuah. Kita akan berjuang untuk melipatgandakan talenta-karunia-berkat dalam kehidupan nyata. Akan  berserah diri pada Tuhan, sungguh dalam karya  nyata: memberikan diri pada sesame, terlebih yang membutuhkan.

Laksana sebatang lilin, kita akan bernyala sampai habis demi tersingkapnya kekelapan. Menumbuhkan optimism hidup. Membangunkan yang terlelap. Membangkitkan semangat yang lebit-lesu. Mengokohkan yang lemah. Meringankan yang terbeban.

Sahabat, dalam pergumulan hidup yang demikian inilah, semua orang percaya akan mendasari hidupnya dengan kesadaran, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” Inilah jawaban panggilan, menyambut uluran tangan Tuhan. Dan, inilah yang keberimanan yang Tuhan kehendaki…


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Inovasi Bekraf Melalui Bekidoleh : Wahyu Ari Wicaksono
18-Aug-2016, 14:21 WIB


 
  Inovasi Bekraf Melalui Bekid Pameran lukisan Istana Negara bertajuk¬†Goresan Juang Kemerdekaan: Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, sangat diminati masyarakat. Bahkan kemarin antrean pendaftaran penonton yag berminat mencapai 9 meter.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 

 
GIIAS Hadirkan Kemewahan Otomotif 12 Aug 2016 11:56 WIB


 
Hidup Sehat dengan Berlari 15 Aug 2016 07:34 WIB


 
Sayur untuk Hidup 13 Jun 2016 09:27 WIB


 

 

 

 
Sungai Citarum Sakit Keras 07 Aug 2016 10:09 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia