KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiSang Penantang Takdir! oleh : Mang Ucup
16-Apr-2015, 08:55 WIB


 
 
Sang Penantang Takdir!
KabarIndonesia - Amsterdam, Begitu kita brol dilahirkan di dunia ini; setiap manusia tanpa perkecualian ditakdirkan TSM (Tua - Sakit - Mati), bahkan begitu Anda
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA


  • Glocal
  • 15-Nov-2011, 13:41:36 WIB










 
BERITA LAINNYA
 
 
Sakit Hati Dipolisikan 04 Apr 2015 11:06 WIB

 
Dialog via SMS 16 Apr 2015 14:15 WIB

Keunikan di Bumi Dewata 15 Apr 2015 07:33 WIB

 
Tahura Sultan Adam 13 Apr 2015 02:01 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
RESENSI NOVEL: Let Me Be With You 04 Apr 2015 10:55 WIB


 
Krisis Kepercayaan Narasumber 15 Apr 2015 07:48 WIB


 
 
ROHANI

Munafik
Oleh : Js Kamdhi | 08-Feb-2011, 11:47:53 WIB

Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” (Mazmur 8: 1-5)

Suatu realitas hidup, yang akhir-khir ini menggejala, adalah munafik dan kemunafikan. Orang munafik selalu  sikap bermuka dua. Ada ketidakjujuran. Ada kesenjangan antara tutur kata dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan belakang. Orang munafik menjalani hidup seperti bunglon. Sangat lihai berubah ‘warna hidup’. Sangat cerdas untuk menyesuaikan lingkungan hidupnya. Seperti bunglon kelihaian berubah warna, tentu saja, demi teraihnya keuntungan diri. Demi hidup aman-terpandang-sukses, orang munafik berganti-ganti ‘setting hidup’.

Hidup dalam kemunafikan menyuburkan penghayatan hidup yang semata-mata mencari-mengejar-meraup keuntungan diri dari setiap kesempatan tanpa mempertimbangan etika dan moral. Kemunafikan menjadikan orang tidak lagi malu-risih-takut dalam perbuatan-perbuatan tercela.

Refleksi kita apakah sabda Tuhan
“Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” masih bermakna? Apakah kita juga terjerumus dalam munafik dan kemunafikan? Sahabat, alangkah sia-sianya hidup kita bila kita menghayati pergumulan hidup ini dengan kemunafikan. Alangkah nistanya, bila kita berada dalam ‘kubangan kemunafikan’. Alangkah berdosanya kita bila tidak dapat lepas dari himpitan kemunafikan  sekadar demi keuntungan diri: uang-harta-jabatan.

Itulah sebabnya kita harus berani ‘membersihkan diri dari kemunafikan’, sehingga mampulah kita berucap, “Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit.” Pasti menuntut pertobatan. Menutut kesediaan hati untuk mendekatkan diri pada sumber dan asal hidup: Tuhan Yang Mahabesar. Pasti, menuntut penyerahan diri yang total atas penyelenggaraan Tuhan.

Sahabat, hanya orang-orang yang cerdas berucap, “Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu mengatasi langit.” Akan menyadari betapa Tuhan telah memilih kita. Tuhan telah mengundang kita untuk menyempurkan karya penyelamatan.

Bahkan, sejak bayi dan kanak-kanak Tuhan telah memilih kita untuk hidup dalam karya penyelamatan-Nya. Mulut bayi-bayi dan anak-anak telah Kau letakkan daya kekuatan-Mu. Kesadaran bahwa Tuhan telah memilih kita sejak bayi, maka kita pun akan bertumbuh-berkembang-berbuah. Kita akan berjuang untuk melipatgandakan talenta-karunia-berkat dalam kehidupan nyata. Akan  berserah diri pada Tuhan, sungguh dalam karya  nyata: memberikan diri pada sesame, terlebih yang membutuhkan.

Laksana sebatang lilin, kita akan bernyala sampai habis demi tersingkapnya kekelapan. Menumbuhkan optimism hidup. Membangunkan yang terlelap. Membangkitkan semangat yang lebit-lesu. Mengokohkan yang lemah. Meringankan yang terbeban.

Sahabat, dalam pergumulan hidup yang demikian inilah, semua orang percaya akan mendasari hidupnya dengan kesadaran, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, siapakah manusia hingga Engkau mengingat-Nya? Siapakah manusia hingga Engkau mengindahkan-Nya?” Inilah jawaban panggilan, menyambut uluran tangan Tuhan. Dan, inilah yang keberimanan yang Tuhan kehendaki…


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menikmati Hiruk Pikuk di Pantai Parbaba Samosiroleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
13-Apr-2015, 16:25 WIB


 
  Menikmati Hiruk Pikuk di Pantai Parbaba Samosir Debur ombak menerjang pantai dan suara hiruk-pikuk ribuan pengunjung, tua muda sampai anak-anak, menjadi pemandangan mengasyikkan di Pantai Parbaba, Samosir, seperti terlihat dalam foto (5/4). Pantai Parbaba dengan pasir putihnya kini salah satu obyek wisata yang ramai menyedot wisatawan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Ironis di Negara Agraris 08 Apr 2015 11:24 WIB


 

 
 

 

 

 

 

 
Mobil, Buku, Soekarno dan Mandela 16 Apr 2015 14:11 WIB


 

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia