KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
23-Jul-2014, 06:01 WIB


 
 
Top Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan Juli 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Rio Anggoro sebagai Top
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

Kenangan 15 Jul 2014 22:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB


 
 
ROHANI

Sabar Menggapai Takwa di Bulan Ramadhan
Oleh : Wahyu Barata | 12-Aug-2012, 01:43:44 WIB

KabarIndonesia - Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya kita panjatkan kepada Allah Rabbul ‘Alamin, atas nikmat kesempatan kita kembali menjumpai bulan Ramadhan. Tetapi kita tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan 1434 H tahu depan. Oleh sebab itu  alangkah baiknya kita memaksimalkan ibadah shaum di bulan Ramadhan tahun ini sebagai media efektif untuk melakukan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara.

Di bulan Ramadhan Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk menjalankan satu kewajiban, yaitu ibadah puasa. Namun kewajiban sebagai hamba Allah tidak hanya untuk puasa saja, tidak sebatas shalat atau ibadah ritual lain. Puasa dapat dijadikan titik tolak untuk menuju perubahan kehidupan agar kaum muslimin secara keseluruhan menjadi lebih baik dan bertakwa.

Di bulan Ramadhan setiap muslim mendambakan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Kehidupan dinamis di bawah sebuah sistem yang shahih, yang bias mnentramkan jiwa, menjernihkan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia; kehidupan yang dipimpin orang-orang shaleh, berpandangan jauh ke depan, dan visi keummatannya lebih dominan daripada visi dan kepentingan nafsu pribadinya. Semua itu berlandaskan takwa, yang membuat manusia meraih derajat paling mulia di sisi Allah SWT : "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa." (Q. S. Al Hujurat (49) : 13).Takwa pun menjadi buah manis dari ibadah puasa selama bulan Ramadhan : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Q.S. Al Baqarah (2): 183).Jika umat-Nya mengerjakan ibadah puasa Ramadhan dngan benar (sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW) dan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT sambil belajar memahami hakikat berbagai ibadah untuk membentuk dan menjadikan jiwa seorang muslim tunduk pada segala aturan (syariah), insya Allah hikmah takwa itu akan terwujud.

Untuk mencapai takwa Islam menunjukkan berbagai metode antara lain, banyak beramal shaleh, shalat malam (tarawih), jangan membicarakan keburukan orang lain, membayar zakat fitrah, banyak silaturahim, dan sebagainya.Intinya melakukan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri pada Allah SWT.Aktivitas keseharian harus sangat selektif, lebih baik diam dan tidur jika aktivitas yang dilakukan malah menjauhkan diri dari Allah SWT. Bagi setiap muslim yang bertakwa, Ramadhan tidak akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak dan ukiran yang terpahat kuat di dalam dirinya, yaitu nilai kesadaran akan pentingnya kembali hidup taat dengan aturan Allah SWT. Aqidah dan syariah Islam adalah kebutuhan serta persoalan antara hidup dan mati, harus menjadi factor penentu hidup ini berarti atau tidak, mulia atau hina, di dunia maupun di akhirat kelak.Ibadah puasa wajib di bulan suci Ramadhan bagi umat Islam memiliki konsep yang sangat jelas dan final.Apabila dikerjakan dengan baik, tulus dan ikhlas sebagai suatu perwujudan bentuk bakti kepada Allah SWT, puasa juga bisa menggugah kepekaan sosial, melatih kesabaran, memupuk semangat kebersamaan, dan menggugah kepedulian sosial.

Dalam konsep Islam sangat eksplisit dijelaskan bahwa shaum adalah ibadah istimewa di hadapan Allah SWT, bagi hamba-hamba-Nya yang melakukan ibadah shaum di bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah SWT berikan kepada umat Islam agar menjadi hamba-hamba_Nya yang sabar, tawakkal, dan bertakwa dengan cara-cara yang Allah SWT tunjukkan, yaitu pada lapisan paling luar, cara yang harus ditempuh adalah menahan lapar (makanan) dan haus (minuman) masuk ke dalam perut sehari penuh, sebab makanan dan minuman adalah unsur duniawi ( di mana perut sebagai simbol keduniawian).

Menahan lapar dan haus bermakna menahan atau setidaknya mengurangi nafsu duniawi.Islam menyebutkan bahwa shaum yang baik adalah shaum yang tidak hanya menahan lapar dan haus fisik saja (makanan dan minuman masuk ke dalam perut), puasa juga menahan godaan batin (nafsu).Shaum adalah ajang pertempuran antara kesalehan dan ketamakan, kerakusan, dan sejenisnya. Jika diamalkan dengan baik, puasa bukan sesuatu hal yang mustahil bahkan sangat mungkin bisa dijadikan sebagai media untuk menempa diri bagi segenap insan muslim yang wajib menjalankannya. Paling tidak, di tengah gencarnya tudingan yang sangat miring terhadap umat Islam sebagai satu komunitas yang identik dengan kekerasan (dalam hal ini terorisme) seperti yang terjadi akhir-akhir ini.Umat Islam bisa langsung menepis tudingan itu dengan menahan diri (puasa) hingga tidak sampai terjadi konflik terbuka. Pada satu aspek ini saja, yaitu kesabaran, yang nilai prakteknya terdapat di dalam spirit puasa, umat Islampun semoga terselamatkan dari suasana perang atau kekerasan.Apabila tudingan-tudingan buruk terhadap umat Islam (radikal dan teroris), seolah-olah dapat dibuktikan kebenarannya, akan sangat berbeda jika analisa banyak kalangan terhadap adanya konspirasi global yang didalangi zionis Israel dan Amerika Serikat yang bermaksud mencabik-cabik dunia Islam, termasuk juga komunitas Islam di Indonesia yang terbesar di dunia terbukti pula benar adanya. Sesabar apapun jika umat Islam terus-menerus difitnah dan disudutkan, cepat atau lambat kesabaran itu akan terkikis juga.

Sementara di lain pihak, tradisi bangsa Indonesia yang mengagungkan bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, di antaranya dengan cara berpakaian serba bagus dan meningkatkan kualitas menu kuliner, ditangkap oleh para pengusaha sebagai peluang bisnis. Peluang itu katanya, dianggap sebagai rangsangan untuk mengeksploitasi ekonomi dengan berbagai teknik pemasaran.Para pengusaha mengadakan penjualan besar-besaran produknya ke supermarket nyaris tanpa batas.Sehingga dapat mengeruk untung dari momentum Ramadhan.

Nafsu belanja masyarakat dipacu lewat berbagai iming-iming hadiah dan potongan harga yang tak masuk akal.Banyak penawaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ibadah puasa Ramadhan.Disadari atau tidak, sekarang muncul kesan adanya komersialisasi bulan Ramadhan.Misalnya berbagai penawaran atau promo paket wisata, paket belanja, paket murah, paket iklan, paket pemasaran produk, dan lain-lain.Nilai puasa menjadi komoditas kapitalis yang bertentangan dengan roh dan hakikat puasa itu sendiri. Bukankah ibadah shaum di bulan suci Ramadhan seharusnya membuat kita menjadi lebih rendah hati, berperilaku sederhana dan terkendali, ramah, dan peka terhadap berbagai masalah sosial. Jiwa keberagamaan  yang selalu mengedepankan kebersamaan, kesatupaduan, menjaga, dan memelihara kehidupan yang aman, tertib, damai, dan sejahtera. Bila puasa Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai ibadah ritual yang sakral, tetapi menjadi kegiatan budaya atau sekadar tradisi tahunan, hakikat ibadah puasa yang mengajarkan kesederhanaan, kejujuran, dan kedisiplinan, hilang ditelan deru industri.Tetapi dalam pelaksanaan shaum di bulan Ramadhan pun seolah-olah kita hanya menunggu datang dan perginya bulan Ramadhan, lalu setelah itu kita kembali kepada kesibukan yang biasa kita lakukan di bulan-bulan lain. Seakan-akan bulan Ramadhan hanya pada Ramadhan.Kita berpuasa, menahan diri hanya pada bulan Ramadhan.

Itupun kehidupan bulan Ramadhan yang seperti itu masih menyisakan tanda Tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridhaan Tuhan mereka. Tanda tanya itu antara lain, di manakah posisi Allah dalam diri kita di tengah kesibukan-kesibukan yang kita jalani itu? Seberapa murnikah niat kita dalam beribadah?Seberapa jauh dorongan nafsu yang samar menyusuri keinginan kita mendapatkan ridha Allah?

Padahal konsep Islam tentang ibadah puasa di bulan suci Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk melatih kesabaran, dan menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu. Setelah direnungkan, mungkin akan kita sadari bahwa hawa nafsu begitu halus tersembunyi dalam diri kita, sering berjejal-jejal dengan harapan mendapatkan ridha Allah SWT. Kita berzikir atau membaca Al Quran, misalnya, dengan kehendak mendapatkan ridha Allah SWT.

Tetapi seiring dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu malah mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak mulia itu justru melenceng melanggar aturannya.Kita berzikir atau membaca Al Quran tidak lagi murni mengharap ridha Allah SWT Yang Maha Dekat, namun kita keraskan suara kita seolah-olah kita menyeru orang tuli.Bahkan kita membenarkan zikir itu dengan memakai pengeras suara dengan alasan itu merupakan syiar. Saya tidak mengerti apa yang dimasud dengan syiar seperti itu? Apakah Rasulullah SAW yang melarang zikir keras-keras itu tidak mengerti syiar?Apakah para sahabat, Imam Syafe ‘I, dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tidak mengerti syiar? Lagi pula apakah karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikkan hak orang lain sekecil apapun untuk tidak diganggu oleh suara keras-keras. Nafsu yang samar sering menyusup kea mal yang kita harapkan di terima Allah SWT, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima Allah SWT tanpa mempedulikan hak orang lain yang juga ingin amalnya diterima Allah SWT. Bahkan sering karena kita terlalu ingin mendapatkan ridha Allah SWT, lalu kita mempersetankan hak orang lain sesama hamba Allah SWT untuk beribadah sesuai dengan kemampuannya.Kita ambil contoh, mereka yang karena ingin menghormati bulan suci Ramadhan, memaksa para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib berpuasa pada bulan Ramadhan. Di sana ada musafir-musafir yang diperkenankan tidak berpuasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang tidak boleh berpuasa. Setiap tahun di bulan Ramadhan di Daarut Tauhid, Masjid Salman Institut Teknologi Bandung, masjid-masjid dekat rumah penduduk, pesantren, hingga sekolah-sekolah umum, sering mengadakan pesantren kilat untuk murid-murid sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran agama Islam diadakan dalam waktu relatif singkat, mulai dari empat hari, seminggu, hingga sebulan.Kegiatan ini dianjurkan pemerintah.Beberapa tempat bahkan sudah mengadakan pesantren kilat sebelum masuk bulan Ramadhan.Daripada anak-anak sekolah main tidak karuan lebih baik ikut pesantren kilat saja.Para peserta hanya datang sesuai jadwal pelajaran.Pelajarannya meliputi ilmu Fiqih, Akhlak, Tauhid Tariqh, dan Ibadah.Setiap peserta dibagi ke dalam berbagai kelompok sesuai umur dan kemampuan. Selain mendengarkan ceramah dan berdiskusi para peserta juga langsung mempraktekkan ilmu yang diperolehnya. Praktek shalat, doa, membaca Al Quran, dan sebagainya. Di manapun kita akan mengikuti pesantren kilat yang penting adalah niatnya untuk beribadah, selain mengisi liburan pesantren kilat Ramadhan juga membimbing para pesertanya dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat.Umat Islam dituntut untuk menelaah ulang secara kritis nilai-nilai intrinsic yang terdapat di dalam ibadah puasa Ramadhan.Sebagai sebuah komitmen keberagamaan, nilai puasa Ramadhan perlu dibaca kembali dengan hati nurani untuk menumbuhkan sifat dan sikap religius yang benar-benar bermanfaat dan bermakna bagi usaha pembebasan dan penyelamatan masyarakat dan bangsa. Roh kesatupaduan (jamii'un) yang dimaksudkan dalam Al Quran Surat Ali Imran : 103, agaknya perlu kita dalami bersama agar memperoleh nilai takwa, sebagaimana  menjadi tujuan akhir dari ibadah puasa hanya akan berarti pada saat bisa diaplikasikan dalam sebuah konteks sosial berupa kebersamaan, bukan keceraiberaian.

Berpuasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekadar dalam arti harfiah, yaitu menahan lapar, haus, amarah, nafsu seks di siang hari, namun juga berpuasa dalam arti hakiki yaitu kesabaran, ketenangan, dan ketekunan.Tentu  jangan hanya dilakukan di bulan Ramadhan, tetapi juga di kehidupan setiap hari dan selama hayat dikandung badan. Anggap saja sebagai upaya membangun kesabaran, sabar dari segala hal.

Termasuk sabar menahan keinginan berbelanja, sabar untuk tidak membicarakan orang lain, sabar menolak itikad berbuat buruk, sabar dalam mengendalikan hawa nafsu.Siapa saja yang berpuasa pada bulan suci Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan semata mengharap ridha Allah SWT, akan ke luar dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru ke luar dari rahim Ibunya. Pahala berbagai amal dilipatgandakan oleh Allah SWT hingga 700 kali lipat (kata ustadz di masjid dekat rumah saya), bahkan lebih.Bulan Ramadhan merupakan bulan sabar, bulan jihad, dan kemenangan. Sejarah membuktikan pada bulan Ramadhan inilah Allah SWT memberikan pertolongan kepada kaum muslimin berupa kemenangan dalam pembebasan kota Makkah (Futuh Mekah), perang Badar, dan berbagai kemenangan seperti penaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol dan Portugal). Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini miliaran kaum muslimin di seluruh dunia menunaikan kewajiban puasa.Lewat kasih sayang-Nya Allah SWT menurunkan bulan Ramadhan. Bulan penuh rahmat, keberkahan ,dan pengampunan.Bulan pertama kali diturunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Setan-setanpun  dibelenggu.Bulan Ramadhan juga merupakan bulan membaca Al Quran, bulan mengeluarkan zakat fitrah, bulan memakmurkan masjid, bulan untuk bertaubat dari segala dosa, bulan ishlah antar sesame kaum muslimin, bulan silaturahim, bulan menolong mereka yang membutuhkan, bulan menjaga lisan dan perbuatan, bulan pembaharuan dan pengokohan iman, serta bulan penyucian hati dan pikiran.

"Ramadhan adalah bulan-Nya yang diserahkan-Nya kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata untuk-Nya.Bersucilah untuk-Nya.Bershalatlah untuk-Nya.Berpuasalah untuk-Nya.Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya."Itulah bulan Ramadhan, bulan yang semua waktunya merupakan kemuliaan dan keutamaan.Namun, terdapat suatu perkara yang tidak kalah utama dan agungnya, yaitu kembalinya kaum muslimin menjadi umat yang satu (ummatan wahidah) ibarat satu tubuh, ditarapkannya seluruh hokum Allah SWT, berpegang teguhnya kaum muslimin kepada Al Quran sebagai tali Allah Rabbul ‘Alamin, serta mengemban risalah Islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah kuno maupun modern menuju cahaya Islam. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum muslimin secara batiniah. Oleh sebab itu, Ramadhan tidak begitu saja berlalu seperti moment-moment rutin lain yang tidak membekas. Apa lagi justru menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bangga terhadap kebesaran semu kita. Semoga Allah SWT mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Semoga kita bias meraih takwa dengan optimal.

Penulis, tinggal di Bandung 

Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massaoleh : Dispen Kormar
18-Jul-2014, 21:20 WIB


 
  Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massa Dalam rangka memelihara kesiapsiagaan pasukan yang akan diterjunkan dalam proses pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang pada 22 Juli mendatang memasuki tahap rekapitulasi suara di KPU, satu Satuan Setingkat Batalyon (SSY) pasukan siaga Pam Pilpers Pasmar-2 Marinir menggelar Latihan penanggulangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia