KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Adakah Sorga Dan Neraka

 
ROHANI

Adakah Sorga Dan Neraka
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 17-Jan-2019, 17:30:05 WIB

KabarIndonesia - Suatu hari seorang guru sedang bersama muridnya duduk di atas balai bambu, berbincang tentang kehidupan dan kematian. Di tengah perbincangan mereka pagi itu, tiba-tiba datang seorang anak muda dengan wajah menunduk lesu seakan sedang dilanda depresi dan ingin menghabisi hidupnya dengan bunuh diri. 

Anak muda itu bertanya;"Tuan Guru, apakah sorga neraka itu sungguh ada?"   Dengan tegas sang Guru menjawab; "Ada nak. Jauhilah siksaan neraka akibat tindakan burukmu dan carilah kebahagiaan sorga dengan tindakan kebajikan."   

Si anak muda itu terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya dan mulai tersenyum.  Seketika bangkit kembali semangatnya. Maka ia pun beranjak pergi dengan langkah lebih tegar.   Siang harinya, seorang anak muda lain datang tergopoh-gopoh menemui mereka dengan wajah tegang, gelisah dan penuh misteri. 

Ia pun bertanya sama. "Tuan Guru, tegaskan padaku apakah sorga dan neraka itu ada?"   Dengan tetap tenang Sang Guru menjawab; "Tidak ada nak. Tidak ada. Jalani saja kehidupanmu ini dalam keikhlasan mendalam." Dan anak muda itu pun terdiam, lalu merenung sembari berlalu menjauh.  

Petang hari menjelang kedua Guru dan murid itu beranjak dari tempat duduk mereka, tampak mendekat seorang tua dengan wajah tenang dan lagi-lagi bertanya hal yang sama. "Tuan, apakah sorga dan neraka itu ada?"     

Kali ini dengan tenang Sang Guru menatap orang tua itu tanpa kata-kata dan hanya tersenyum penuh makna, hingga si orang tua itu pun tersenyum dan berlalu.   

Sang murid menahan gurunya untuk tidak pulang ke pondok. Karena ia merasa kebingungan mendengar jawaban dan sikap gurunya yang berbeda-beda terhadap pertanyaan yang sama.  

Ia pun mencoba mengoreknya.  "Guru, kenapa Guru menjawab berbeda-beda terhadap pertanyaan yang sama itu, bahkan kepada si orang tua tadi Guru malah hanya tersenyum?"     

Kali ini Sang Guru menjawab dengan lugas pada muridnya. "Nak, anak muda pertama itu sama sekali gelap dalam pemahaman kehidupan setelah kematian. Dia sedang depresi dan ingin bunuh diri. Maka aku harus mengatakan bahwa sorga dan neraka itu ada, agar ia tidak melakukan hal buruk terhadap dirinya."   

"Pada anak muda kedua tadi, dia berpotensi menjadi fanatik dan terjebak hanya oleh pahala dan dosa, sehingga kehilangan keikhlasan dalam setiap perbuatan. Dia hanya ingin berbuat baik demi sorga serta membenci keburukan dan kesalahan karena takut pada neraka. Padahal tak seorang pun benar-benar tahu apa yang benar-salah dalam kehidupan ini, kecuali karena kesepakatan atas baik-buruk. Maka kukatakan tidak ada sorga neraka agar ia tetap ikhlas menjalani hidup ini."   

"Sedangkan pada lelaki tua yang terakhir itu, aku hanya tersenyum karena sesungguhnya ia sudah memahami sorga neraka secara benar dan ia telah melampaui pemahaman akan kedua hal itu"     

Si murid tercenung sesaat, mencoba memahami lebih jauh kata-kata gurunya.  Namun ia sungguh tak sanggup mencerna hal itu. "Baiklah Guru. Terima kasih telah menjelaskan semua itu, namun sayang aku masih tetap bingung akan jawaban-jawaban itu.  Jika sorga dan neraka itu sungguh ada, mohon ajarkan aku bagaimana cara agar bisa tersenyum seperti lelaki tua terakhir tadi."     

Sang Guru tersenyum, menyadari muridnya sangat ingin mengetahui pendapatnya tentang sorga dan neraka. "Sederhananya begini, Nak. Aku pernah diajarkan bahwa istilah neraka itu berasal dari kata Nara dan Ika.  Nara berarti manusia.  Ingatlah kata narasumber atau narapidana, kau akan mengerti arti kata itu.  Lalu kata ika adalah kata penunjuk yang berarti 'itu'.  Ingatlah kata Bhineka Tunggal Ika yang berasal dari kata Bhina-ika Tunggal ika; berbeda itu satu juga itu."     

 "Jadi, kata Neraka itu bermakna sebagai ‘manusia itu'.  Alam neraka berarti alam manusia itu. Ya, alam manusia inilah sering disebut alam penuh penderitaan.  

Itu sebabnya di alam manusia ini lebih mudah menemukan penderitaan dan sangat sulit mendapatkan kebahagiaan.  Tidak hanya orang miskin mudah menderita, bahkan orang-orang kaya pun tidak luput dari penderitaan. Ada yang bahagia karena memiliki kekayaan, namun menderita oleh penyakit. Ada yang bahagia karena tubuhnya sehat, namun menderita karena kesendirian.  Manusia biasa lebih banyak menemukan hal-hal yang membuat mereka menderita daripada membuat mereka bahagia."     

"Setelah mengalami kematian, bagi Jiwa-Jiwa atau Ruh yang tetap berada atau terjebak dalam dimensi kehidupan manusia atau dunia ini, seringkali akan mengalami penderitaan yang lebih berat lagi.  Sebab ia seakan berada di tempat yang ia inginkan, namun ia sendiri tidak sungguh-sungguh diinginkan oleh keluarga dan kerabatnya untuk tetap berada di alam manusia ini.  Sekali pun Ruh seperti itu tetap ada di sekitar keluarga atau kerabat yang ditinggalkannya, di sana tak seorang mampu melihat atau mendengarnya.  Ia menjadi terasing dalam keramaian.  Tidak bisa lagi berbincang, menyampaikan keadaannya, atau pun mengatakan hal-hal terakhir yang ingin ia sampaikan pada orang-orang di kehidupan ini.  Perasaan terasing seperti itu bisa menciptakan ketersiksaan bagi Ruh-Ruh yang terjebak di alam manusia ini."     

"Apalagi bagi Ruh-Ruh yang banyak melakukan kegiatan atau tindakan negatif dan buruk dalam hidupnya, akan lebih mudah terjebak pada dimensi alam manusia ini.  Penyesalan atas apa yang pernah dilakukannya dalam kehidupan ini membuatnya enggan meneruskan perjalanan Ruh ke alamnya sendiri.  Kebencian atau pun kecintaan yang terlampau besar pada kehidupan yang telah ditinggalkan di bumi, membuat Sang Ruh terikat dalam dimensi kehidupan bumi ini. Namun tanpa adanya tubuh fisik untuk ditempati, membuat segalanya menjadi sulit baginya.  Mirip saat kita terdampar di sebuah pulau terasing dan tidak mempunyai alat atau sarana untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang kita butuhkan. Seperti juga halnya nelayan yang dikelilingi banyak ikan di lautan, namun tak memiliki kail, jaring atau alat apa pun untuk menangkap ikan-ikan itu."     

"Mereka yang mati dengan bunuh diri, membunuh orang lain dengan cara apa pun, atau terlalu banyak menyakiti diri sendiri atau mahluk-mahluk lain di kehidupan ini, Ruhnya akan lebih lama terasing di alam manusia ini.  Mereka sungguh menderita oleh rasa penyesalan itu.  Sebab di alam sana, kesadaran Ruhnya akan mengalami perubahan dan lebih mudah melihat kebenaran serta kekhilafan dirinya selama kehidupan. Penyesalan mereka sungguh menyiksa karena tak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki semua yang telah terjadi itu."     

Si murid mengernyitkan alisnya.  Tangannya menahan dagu, mencoba memahami kata-kata Sang Guru. "Baiklah Guru. Aku akan mencoba mencerna dan memahami pengetahuan ini.  Lalu bagaimana dengan alam sorga? Sungguhkah ada alam membahagiakan seperti itu?"     

Sang Guru kembali melanjutkan dengan tenang. "Bolehlah kau pahami alam Sorga itu berasal dari kata Swar-Ga, atau Swa-raga.  Kata Swar-ga bermakna sebagai alam cahaya (Swar). Sedangkan kata Swa-raga bermakna sebagai alamnya sendiri (Swa) dalam wujud (raga) Ruh.  

Jadi kata Sorga atau Swarga itu bisa kau pahami maknanya sebagai suatu alam yang merupakan rumah sejati bagi para Ruh, suatu alam yang penuh cahaya.  Baik cahaya cinta kasih ataupun cahaya kesadaran dan pengetahuan.  Tentu saja Ruh-Ruh yang setelah kematian di bumi berhasil dengan lapang melanjutkan perjalanannya ke alamnya sendiri yang penuh cahaya, akan bermandikan cahaya cinta kasih Tuhan dan dipenuhi cahaya kesadaran sejati.  Semua itu akan menenangkan dan memberi kebahagian dalam rasa pemahaman sejati terhadap seluruh kehidupan yang telah dilaluinya."     

"Masalahnya adalah tidak semua Ruh yang meninggalkan kehidupan ini setelah kematian akan segera dengan ikhlas meninggalkan alam manusia ini atau melanjutkan ke alamnya sendiri.  Kebimbangan dan keraguan Ruh meneruskan perjalanannya bisa akibat kemelekatan terhadap kehidupan duniawi atau karena penyesalan diri itu.  Maka Sang Ruh ibarat sedang berjalan di atas jembatan kecil yang bergoyang-goyang, membuatnya mudah jatuh ke alam neraka.  Demikianlah ilustrasi perjalanan para Ruh yang sedang bimbang di alam kematian."     

"Bagi Ruh-Ruh yang telah mantap dalam kesadaran dan keikhlasan, mereka akan dengan leluasa, tenang dan damai meninggalkan dimensi alam manusia ini untuk meneruskan perjalanan ke alamnya sendiri yang penuh cahaya cinta kasih dan kesadaran."     

"Itulah sebabnya semua ajaran agama dihadirkan untuk terus mengingatkan manusia agar selalu berlatih ikhlas melepas apa pun yang ada di kehidupan manusia ini.  Tanpa keikhlasan, Jiwa-Jiwa atau Ruh mereka akan lebih mudah terjebak dan melekat pada kehidupan duniawi yang tidak kekal ini."      

Perlahan si murid mulai melihat terang pemahaman dalam penjelasan Sang Guru.  Namun masih ada yang ingin diketahuinya. "Namun bagaimana dengan pandangan bahwa di kehidupan bumi ini sendirilah sesungguhnya telah tersedia alam sorga dan neraka itu?"     

Sang Guru menepuk pundaknya dan mengajaknya mengamati orang-orang di kehidupan ini. "Betul nak. Bukankah sudah kukatakan bahwa neraka itu adalah alam manusia ini. Alam manusia ini tidak saja bisa menjadi alam penuh penderitaan bagi manusia, juga bagi Ruh-Ruh yang terjebak di sini setelah kematian.  Namun alam manusia ini juga bisa menjadi alam penuh kebahagiaan sorgawi bagi mereka yang sudah sampai pada pemahaman akan diri sejatinya.  Sebab mereka tidak terjebak oleh suka duka dan berbagai dualitas kehidupan lainnya di bumi ini.  Mereka telah menyadari dirinya sendiri, menyadari Swa-Raganya atau Swar-ganya sendiri yang penuh cahaya kesadaran dan cinta kasih."     

"Maka orang-orang yang telah menemukan alam sorganya di bumi ini, akan hidup sebagai orang-orang tercerahkan dan penuh cinta kasih.  Mereka banyak melakukan kebajikan di kehidupan ini, mencerahkan dan gemar membantu orang-orang lainnya. Mereka mudah berbahagia dalam segala keadaan hidupnya. Kelak setelah menyelesaikan kehidupan ini, dengan mudah pula Ruhnya mencapai keikhlasan untuk meneruskan perjalanan ke alam sorga dalam dimensi lain di alam kehidupan setelah kematian.     

Si murid merasakan sudut bibirnya mulai terangkat sedikit.  Senyum pemahaman mulai tersungging di sana, meski masih menyisakan ruang kosong untuk dilengkapi dengan pembabaran pengetahuan yang lebih mendalam. ***

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia