KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Puisi-Puisi Silivester Kiik 17 Jun 2019 15:16 WIB

Sayap Muratara 17 Jun 2019 15:14 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Bolehkah Simbolisme Dalam Agama Dan Ketuhanan

 
ROHANI

Bolehkah Simbolisme Dalam Agama Dan Ketuhanan
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 11-Mei-2019, 16:15:04 WIB

KabarIndonesia  -  Sampai tiba di jaman modern yang penuh hasil cipta kecerdasan intelektual akal pikiran ini, perdebatan bahkan pertikaian perlunya simbolisasi Tuhan dalam beragama terus berlangsung.  Ada yang menganggap bahwa Tuhan yang tak berwujud itu tidak perlu diwujudkan ke dalam kehidupan nyata, ada pula yang menganggap hal itu sangat diperlukan.   

Dari perbedaan sudut pemahaman ini kemudian berkembang perdebatan pembenaran yang tak berkesudahan. 
Joko Kendal yang sering mengamati konflik pemikiran seperti itu hanya bisa mengelus dada.  Namun ia sendiri tidak mengerti bagaimana membantu menyelesaikan hal itu.  Tidak mungkin ia membenarkan apalagi terasa membela salah satu pihak, karena itu hanya akan menambah kerumitan perdebatan mereka.  Maka ia hanya bisa mengeluh pada Nasrudin, sahabat yang selalu bisa memahami jalan pikiran.

"Kawanku Nasrudin, kau pun pasti sepaham denganku saat mengamati betapa tiada pernah ada hentinya pertikaian antara sesama manusia yang menganut ajaran agama berbeda di bumi ini.  Mereka selalu bertikai tentang penting tidaknya mewujudkan Tuhan dalam ritual mereka.  Masing-masing memiliki alasan pembenaran.  Nah, kalau menurutmu, apa yang bisa kita lakukan untuk menyadarkan keduanya bahwa semua itu sama saja?"

Mendengar keluhan sahabatnya, Nasrudin tersenyum, lalu ia meminta Joko Kendal mengamati senyumnya.

"Apa yang kau lihat dan pikirkan tentang senyumku ini, kawan?", tanyanya.

"Mungkin kau sedang bahagia? Atau kau merasa geli dengan keluhan dan pertayaanku? Atau kau pun sedang geli melihat kenyataan itu?" Joko Kendal mencoba memaknai senyum yang tersungging di bibir sahabatnya.

Nasrudin tetap tersenyum sebelum mengupaskan makna senyumannya sendiri.

"Nah, lihatlah kawan.  Kau pun memiliki banyak persepsi berbeda atas senyumku ini. Kau bahkan tidak yakin mana dari persepsimu itu yang sungguh-sungguh sesuai dengan isi pikiranku yang terwakili oleh senyum itu.  Begitulah, bahkan senyum di wajah bisa menjadi simbol dari rasa yang terpendam di dalam.  Ketika terhadap satu senyum itu kau coba mengupasnya, kau bisa memiliki banyak kupasan yang berbeda."

"Bayangkan kalau kupasan yang berbeda dari orang lain terhadap senyumku yang sama ini kalian perdebatkan, maka itu akan menjadi perdebatan yang tidak pernah usai.  Sebab kalian berdebat atas persepsi dan sudut pandang kalian masing-masing.  Sedangkan kebenaran dari makna senyuman itu hanya aku sendiri yang tahu."

"Setiap ekspresi yang tampak di wajah manusia, bisa menjadi simbol dari isi hatinya.  Air mata, alis yang berkerut, mata yang menutup, tarikan napas yang dalam, bahkan setiap gerakan dari bahasa wajah dan tubuh kita adalah sebuah simbol yang mewakili perasaan.  Seluruh ciptaan di bumi ini sendiri adalah simbol pengetahuan yang tersembunyi di dalamnya.  Bahkan warna-warni bunga dan buah di bumi ini menjadi simbol dari berbagai pesan alam."

"Jadi, entah dianggap bahwa simbil itu diperlukan atau tidak di kehidupan ini, kenyataan berbicara bahwa semua yang ada di bumi ini adalah simbol-simbol.  Ayam jantan berkokok bisa menjadi simbol akan terbitnya matahari.  Bulan menjadi simbol tercapai pencerahan Jiwa manusia.  Bunga teratai menjadi simbol kesucian."

"Lalu kenapa manusia menyukai simbol-simbol? Tak lain karena simbol adalah bahasa tertulis atau terwujud.  Setiap kata adalah simbol dari apa yang dimaksudkan oleh pikiran.  Setiap wujud huruf adalah simbol dari kata-kata.  Jadi, manakah yang bukan simbol?"

"Apalagi ketika berbicara tentang pemujaan terhadap Tuhan yang ‘nyata ada' namun tak pernah disepakati seperti apa wujud nyata-Nya.  Di sinilah kemudian ada yang berani mewujudkan keberadaan ‘Tuhan yang nyata' itu lewat simbol-simbol.  Ada yang mewujudkannya sebagai huruf, arca, patung, gambar, kata-kata, nama, atau apapun yang bisa mereka jadikan perwakilan dari maksud pikiran mereka tentang Tuhan."

"Bahkan ada yang menjadikan kekosongan, keheningan, kilatan cahaya, kedamaian, air mata, keharuan, ataupun kebahagiaan sebagai simbol dari kehadiran Tuhan atau berkah-Nya.  Setiap orang berhak menjadikan apa pun sebagai simbol dari perasaannya. Sebagian simbol bisa menjadi simbol yang disepakati bersama oleh suatu komunitas, sebagian lagi menjadi simbol-simbol yang hanya menjadi kesepakatan pribadi seseorang.  Tak ada yang salah. Semua benar di ruang dan waktunya masing-masing."

"Jika kau telah memahami makna simbolisasi ini, apakah lagi yang perlu dipertengkarkan, kawan? Orang boleh tertawa saat bahagia, atau bahkan meneteskan air mata keharuan.  Orang bisa tersenyum saat senang, bisa pula tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.  Semua hanya simbol.  Kau boleh memaknai senyum seseorang dan menebak isi hatinya, namun tak berhak mengakui itu sebagai kebenaran.  Sebab hanya yang punya senyum itu yang sungguh-sungguh memahami senyumnya."

"Begitupun kau boleh dan berhak memaknai simbol-simbol dalam ritual beragama dan simbolisasi Tuhan dalam agama siapa pun, namun kau tak berhak menganggap persepsi dan kupasanmu itu sebagai kebenaran yang harus diikuti.  Sebab hanya ia yang membuat, menciptakan atau menggunakan simbol itu sendiri yang memahami maksudnya."

"Ada yang memakai simbol salib, simbol bulan bintang, Lingga-Yoni, berbagai patung, bintang, huruf, tulisan kaligrafi, atau simbol apapun untuk mewakili keyakinan dan isi hatinya tentang Tuhan.  Tak ada yang salah.  Semua harus saling menghormati.  Sebab dalam keterbatasan pikiran manusia untuk mewujudkan Dia yang tak terwujud, manusia akan selalu memerlukan simbol-simbol untuk memudahkan mereka menjalani kehidupan beragama dan ber-Tuhan itu."

Kesimpulan terakhir yang diungkapkan Nasrudin itu sungguh menyentuh benih pemahaman Joko Kendal.  Ia pun tersenyum membalas senyum terakhir Nasrudin. Keduanya sama-sama tersenyum tanpa mencoba memahami apa arti senyum di depannya.  Mereka hanya merasakan dan menikmati senyumnya masing-masing.   Kuta, 11 Mei 2019.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia