KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Mengenang Peristiwa 21 Mei 1998 22 Mei 2019 14:14 WIB

 

Buktikan Tuhan Itu Ada!

 
ROHANI

Buktikan Tuhan Itu Ada!
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 15-Feb-2019, 14:39:15 WIB

KabarIndonesia - Jagat media sosial sempat heboh di sebuah grup agama dan spiritual, saat seorang anggotanya masuk dan melempar pertanyaan, "Kalau Tuhan itu memang ada, coba buktikan bahwa Tuhan itu memang ada. Tunjukkan juga siapa disini yang pernah melihat Tuhan!"

Lemparan tanya itu seketika bagai sebongkah batu yang dijatuhkan ke dalam kolam jernih yang lumut dan kotoran ikannya mengendap di dasar kolam.  Begitu ikan-ikan menggeliat riuh karena menyangka itu lemparan makanan, semua lumut dan kotoran pun bangun berhamburan mengusir kejernihan kolam. Grup orang-orang spiritual dan beragama itu tiba-tiba riuh seperti pasar burung.

"Gampang, suruh mati saja dulu biar dia bisa bertemu Tuhan di sorga.
"Dasar mahluk beriman secuil!". "Di mana kau taruh kitab sucimu? Atau kau tidak beragama?". "Ini pasti mahluk atheis. Di mana-mana sama saja!". "Kalau kau tidak percaya adanya Tuhan, itu urusanmu. Jangan tanyakan atau lecehkan keyakinan kami!". "Dasar mahluk tak bertuan. Dia kira siapa yang menciptakan dirinya!". "Mulutmu harimaumu!  Semoga Tuhan menghukum orang-orang yang tidak tahu berterima kasih sudah pernah diciptakan di bumi!".


Sumpah serapah ternyata lebih banyak mengalir menjawab pertanyaan itu.  Sebagian lainnya masih mencoba sabar dan memberi jawaban bijak.

"Tuhan itu keyakinan.  Tidak bisa dibuktikan dengan cara apa pun, sebab Dia tidak berwujud.  Dia tidak bisa dijelaskan dengan pikiran, apalagi untuk dilihat dengan panca indra.  Tuhan itu rasa keyakinan.  Jika kau tidak yakin, ya sudahlah.  Jangan mengganggu keyakinan orang lain."


Lalu di bawah komen itu sang penanya membalas.

"Bila Tuhan itu tidak bisa dibuktikan, berarti Dia memang tidak terbukti ada.  Bila tidak bisa dijelaskan, maka Tuhan itu adalah sesuatu yang tidak jelas.  Bila tidak bisa dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, berarti Dia itu sungguh tidak nyata.  Berarti Tuhan itu keyakinan yang membabi buta, bukan?"


Membaca balasan komentarnya, semakin serulah keriuhan di jagat maya itu.  Sumpah serapah makin ramai masuk di balasan komennya.  Nasrudin yang ikut membaca debat kusir di jagat maya itu hanya tertawa.

"Hai Nasrudin, apa yang kau tertawakan?  Apakah kau mengerti perdebatan mereka?". Dengan tenang si Nasrudin menjawab seadanya.
"Ketika para kaum buta berdebat tentang seekor gajah yang tak pernah mereka lihat, begitulah pertanyaan dianggap sebagai sebuah serangan.  Si penanya hanya ingin dibuktikan dan dijelaskan tentang Tuhan.  Tetapi para penjawab malah menyerang pribadinya dan bukan mencoba menjawab pertanyaan itu."


"Lalu menurutmu, apa sebaiknya yang bisa dijadikan jawaban, Nasrudin?""Sederhana.  Bila tidak tahu cara menjelaskan Tuhan, katakan saja apa adanya.  Katakan bahwa mereka tidak cukup cerdas menjelaskan tentang Tuhan, karena terbatasnya kata-kata dan kemampuan pikiran untuk menjelaskan itu.  Lalu sarankan ia menemukan orang yang mampu menjelaskan padanya dan membagi penjelasan itu di sini.  Beres kan?"
"Wah, benar juga.  Seharusnya cukup dengan jawaban merendah apa adanya, semua akan beres."

"Begitulah.  Karena semua takut dianggap keliru karena meyakini apa yang tidak jelas, ketakutan itu membuat mereka memilih untuk menyerang balik.  Sebagian memilih melarikan diri dari debat tersebut.  Inilah kebiasaan orang-orang saat dirinya terancam oleh apa saja.  Otak reptilnya akan memberi pilihan fight atau flight, melawan serangan atau menjauh."Lanjut Nasrudin.

"Wah, tampaknya kau tahu banyak tentang hal ini Nasrudin.  Jika kau tahu sedikit cara menjelaskannya, kenapa tidak kau jelaskan saja di sana?  Atau cobalah kau jelaskan padaku bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada."
"Aku rasa tidak perlu menjelaskan pada orang-orang yang tidak merasa perlu akan penjelasan.  Tapi bila ia bertanya padaku dengan serius dan hati terbuka, tentu akan kujelaskan padanya."

Lalu Nasrudin berbicara setengah berbisik.  Kira-kira seperti ini kata-katanya saat menjelaskan apa yang diketahuinya."Tuhan itu awalnya diyakini sebagai sesuatu yang abstrak, tak berwujud dan ada di mana-mana mengisi segenap kekosongan di alam semesta ini.  Jadi, bila ada yang meminta penjelasan tentang apa atau siapa itu Tuhan, maka jawabannya hanyalah bahwa Dia adalah yang tak berwujud, imaterial yang mengisi segenap kekosongan di alam semesta ini.
Bagaimana mungkin membuat panca indra bisa melihat dan mendengar-Nya yang tak berwujud, bila panca indra itu fungsinya hanya pada apa yang berwujud?

Di bagian aspek-Nya yang abstrak, maka Dia bisa dikenali dan dipahami sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang ada di setiap ruang kosong, dari ruang kosong terkecil hingga ruang kosong tak terbatas di semesta ini.  Wilayah ini adalah wilayah keyakinan. Karena itu hanya bisa dipahami oleh ajaran agama dan metafisika. Namun saat Dia, Sang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas menunjukkan kemampuan-Nya sebagai Sang Pencipta, di situlah kemampuan-Nya melakukan usaha disebut sebagai Energi Semesta.  Energi Semesta bisa dirasakan oleh panca indra atau dilihat ketika berwujud Energi Cahaya atau Nur atau Div.  Manakala Energi Semesta memampat, maka mulailah energi itu berwujud materi, sehingga disebut Materi Semesta, yang menjadi bahan-bahan pembentuk seluruh isi dari kekosongan alam semesta ini.

Begitulah seluruh bintang, galaksi, planet dan berbagai isi alam semesta termasuk mahluk hidup di dalamnya adalah pemampatan dari Energi Semesta menjadi berbagai wujud Materi Semesta. Di dalam setiap materi terkecil di semesta ini terdapat ruang-ruang kosong yang bahkan meliputi 99,9999% dari materi terkecil atau atom itu.  Dan di sana pulalah Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu mengisi ruang-ruang kosong yang ada di tingkat atomis.  Itu sebabnya Dia disebut ada di mana-mana di alam semesta ini.

Akhirnya, semua bentuk mahluk hidup yang tersusun dari materi-materi semesta ini adalah hasil karya Sang Pencipta, sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu.  Maka lihatlah keindahan beraneka warna-warni bunga, burung-burung, kupu-kpu atau segala keindahan lainnya.  Dengan itu kau akan bisa membuktikan bahwa ada Kecerdasan Semesta Tak Terbatas sedang mencipta di dalamnya.  Di situlah Tuhan berada sebagai Pencipta yang tak pernah berhenti mencipta, memelihara ciptaan-Nya dan akhirnya melebur ciptaan itu.

Dalam aspek berupa kemampuan-Nya sebagai Energi di semesta dan yang memampat sebagai Materi Semesta yang nyata, Dia dipelajari oleh ilmu-ilmu fisika dengan akal dan kecerdasan intelektual.  Sedangkan dalam aspek-Nya sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, keabstrakan itu dipelajari oleh agama dan spiritualitas lewat kecerdasan spiritual.

Maka bila ada yang bertanya tentang Tuhan yang abstrak, jawablah dengan ajaran-ajaran agama dan metafisika melalui kecerdasan spiritual. Bila ada yang ingin melihat bukti keberadaan-Nya, jelaskan dengan ilmu fisika dengan kecerdasan intelektual dan akal.  Semua akan mudah dipahami bila pilihan cara menjelaskannya tepat. 

Kenalilah Sang Penyair dalam setiap syair-syairnya.  Kenali Sang Musisi pada setiap lagu-lagunya.  Lalu lihat dan kenalilah Sang Pencipta pada setiap ciptaan-Nya di alam semesta ini.  Jika kau sudah memahami ini, kau akan mudah melihat bukti-bukti bahwa Tuhan itu memang ada sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, yang sedang berada dalam setiap ciptaan-Nya.  Ketika sudut matamu meneteskan air mata saat melihat semua keindahan itu, itulah pertanda kejernihan batinmu sedang mengenali-Nya di mana-mana. Itulah rasa keyakinan sejati."

Begitu Nasrudin usai menuturkan apa yang dipahaminya, ia segera pergi sembari tersenyum penuh arti.  Ia meninggalkan ruang hening yang menghadirkan perenungan.(*) 
Kuta, 16 Pebruari 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia