KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Cara Bali Membalas Bom dan Teror

 
ROHANI

Cara Bali Membalas Bom dan Teror
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 17-Mar-2019, 13:03:52 WIB

Kabar Indonesia -  Malam itu, Sabtu kelabu 12 Oktober 2002 Bali terguncang keras. Bukan hanya Indonesia yang menangis, dunia internasional pun menangis.  Serangan teroris dengan ledakan bom mobil yang sangat besar menggelegar, mengguncang bumi Bali kala itu. Korban tak terkira, baik yang meregang nyawa maupun beraneka derajat luka pada tubuh.  Tak terkira pula batin-batin yang terluka dan tersayat pedih oleh kenyataan di Paradise Island.

Ini bukan tentang mengenang kehancuran, kepedihan atau mengorek kembali luka lama yang bahkan belum sembuh benar karena terulang kembali tak lama kemudian dalam bom Bali II. Namun ini tentang cara Bali menyikapi datangnya kegelapan ke ruang dan waktu yang mereka jaga selama itu.

Semua orang tahu siapa pelaku serangan teroris itu.  Semua mengenal dari mana mereka datang, apa tujuannya dan kenapa mereka tega melakukan itu.  Mereka menebar rasa takut pada kehidupan orang-orang di Bali.  Namun apakah itu menghentikan semua gerak kehidupan masyarakat? Tidak. Sama sekali tidak.  Tanah Bali tetap bergerak dengan semangat, meski terbalut kesedihan mendalam.

Tak ada kemarahan, tak ada pembalasan, tak ada benih kebencian bertumbuh menjadi alasan untuk melakukan tindakan yang sama.  Sebab tanah Bali telah dibesarkan sebegitu rupa oleh ajaran Karmapala atau pahala atas setiap tindakan (Karma).  Keyakinan mendalam akan ajaran ini, kepercayaan akan hukum tabur tuai di semesta raya dan semesta kecil, memudahkan orang-orang yang hidup di Bali untuk menerima ikhlas setiap kejadian yang tak sanggup mereka cegah.

Maka segera setelah kehancuran oleh serangan itu, semua orang bersatu dalam kebersamaan, tergabung dari berbagai agama, suku, ras, bangsa, latar belakang politik, bangkit untuk memperbaiki keadaan.  Mereka membiarkan keamanan menjadi tugas aparat keamanan, politik pada para politikus.  Sedangkan masyarakat berbaur memainkan peran dan tugasnya masing-masing untuk membangkitkan diri dan membuang jauh-jauh segala bentuk kesedihan.

Para penyanyi melantunkan nyanyian penuh hiburan, membangkitkan semangat bekerja untuk segera pulih dari keterpurukan.  Aparat kesehatan bekerja keras siang malam untuk merawat luka-luka tubuh dan psikis yang masih tersisa.  Masyarakat adat dan agama Hindu di Bali mengadakan upacara besar Karipubhaya untuk menetralisir dampak psikologis dan metafisik akibat banyaknya kematian yang tak diharapkan. Begitu pun doa-doa mengalir dari beragama agama dan kepercayaan.

Setiap tahun di bulan Oktober, mereka mengadakan acara Celebration of Life, merayakan kehidupan dan bukan semata-mata mengenang kematian oleh serangan keji tersebut  Mereka sadar, kegelapan tak bisa diatasi dengan kegelapan. Kematian tak akan kembali oleh kesedihan ataupun kemarahan.  Namun dengan perayaan kehidupan, mereka terus menebar vibrasi dan pesan tentang pentingnya menghargai kehidupan.

Para pembabar kedamaian mengisi ruang dan waktu di depan Monumen Bom Bali untuk terus menebar vibrasi kedamaian dan perdamaian.  Kekerasan tidak dibalas dengan kekerasan, permusuhan tidak diladeni dengan permusuhan.  Semua itu mereka hentikan dengan upaya-upaya positif ke arah persaudaraan.  Mereka tidak menunjuk hidung siapa pun, namun mereka memilih membenahi diri sendiri.

Monumen itu hingga kini seperti mengingatkan kita semua agar tidak perlu meniru tempat-tempat lain, negara-negara lain, di mana kekerasan selalu dibalas dengan kekerasan, kehancuran dibalas dengan penghancuran.  Mereka sadar, kehancuran di manapun hanya akan menyisakan tugas baru bagi diri mereka sendiri untuk membenahinya kembali secara langsung atau tak langsung.  Sebab seluruh mahluk di bumi ini saling terhubung dalam peran dan tugas, meski mereka berjauhan.

Membalas dengan melempar kotoran pada orang yang melempari kita dengan lumpur, hanya akan membuat diri sendiri ikut terkotori oleh lumpur dan kotoran yang kita genggam sendiri.  Lebih baik membersihkan diri dari noda lumpur tersebut dan membiarkan sang pelaku tetap ternoda oleh kotorannya sendiri.

Apakah Bali dan masyarakatnya bertambah hancur oleh pilihan cara yang diambilnya dalam menyikapi serangan teroris itu? Tidak. Semua berjalan kembali dengan baik. Semua bisa segera bangkit kembali.  Bayangkan bila kehancuran itu dibalas dengan penghancuran, tentu sampai saat ini pun Bali akan dikenang sebagai daerah yang hancur lebur.  Tak akan cukup dana untuk membangun kembali apa yang telah porak poranda oleh gelapnya kemarahan.

Kita harus terus percaya, bahwa jumlah orang baik itu lebih banyak dari orang jahat.  Orang-orang yang beragama dengan benar itu jumlahnya lebih banyak dari mereka yang khilaf atau salah tafsir terhadap ajaran agamanya.  Kita hanya perlu terus bergerak menebar ajaran kebajikan, agar langit lebih dipenuhi oleh cahaya indah bintang-bintang dan tidak terselubung oleh mendung gelap pemahaman. 

Biarlah cara Bali menyikapi teroris menjadi cahaya yang mengantar masyarakat dunia memilih jalan yang terang dalam menyikapi keadaan yang sama.  Jangan pernah melawan kegelapan dengan kegelapan. Mari kita hadapi dengan cahaya terang kesadaran.  
Kuta, 16 Maret 2019          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia