KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTerbuka Kesempatan Magang di Harian Online KabarIndonesia oleh : Redaksi-kabarindonesia
24-Apr-2019, 03:27 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bila Anda seorang mahasiswa/mahasiswi dari berbagai fakultas di wilayah Indonesia dan memiliki minat di dunia media online termasuk penulisan artikel dan pengeditan, redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) memberikan kesempatan magang di HOKI selama satu tahun sebagai Tim Redaktur.
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Haruskah Beragama?

 
ROHANI

Haruskah Beragama?
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 18-Jan-2019, 16:17:02 WIB

KabarIndonesia -  "Haruskah kita beragama? Apakah hanya dengan beragama kita bisa meraih kebahagiaan? Selama ini dengan jelas terlihat bahwa mereka yang beragama belum tentu mudah mencapai kebahagiaan, sebaliknya mereka yang tidak beragama belum tentu tidak mencapai kebahagiaan hidup. Atau, apakah hanya dengan beragama itu maka seseorang akan menjadi lebih baik dan penuh kasih pada kehidupan? Nyatanya, tidak semua orang yang telah beragama menjadi lebih baik kepribadiannya.  Sebaliknya, ada banyak orang-orang baik di dunia ini berasal dari orang-orang yang tidak beragama.  Lalu, seberapa pentingkah agama itu?"     

Dengan gencar ia membombardir dengan pertanyaan pada sore itu. Rupanya begitu banyak kontradiksi yang telah ia amati selama ini dalam kehidupan nyata, hingga batinnya dipenuhi banyak tanda tanya tentang manfaat agama.  Ia mungkin bukan satu-satunya yang mempertanyakan hal ini. 
 
Berita tentang banyaknya orang-orang yang meninggalkan kehidupan beragama saat ini, bukan saja beralih menjadi agnostik namun bahkan menjadi atheis, sungguh menjadi tantangan bagi para pemuka agama untuk memberi jawaban yang menguatkan peran agama dalam kehidupan.  Bukan jawaban yang justru menguatkan dorongan ego seseorang untuk menganggap beragama hanya sebuah kesia-siaan.

Menjadi Jiwa yang terlahir sebagai manusia memang sesungguhnya penuh berkah.  Mirip seorang anak yang diberikan kendaraan mewah dan canggih oleh Ayahnya untuk melakukan suatu perjalanan wisata.  Tubuh manusia ini adalah kendaraan canggih dan penuh keajaiban.  Mereka yang banyak mempelajari kemampuan tubuh dan pikiran manusia, tentu sangat memahami betapa hebatnya tubuh manusia itu.
    
Di kehidupan bumi ini, manusia bisa menjadi sangat berkuasa dengan kekuatannya. Tidak saja berkuasa terhadap sesamanya, ia bahkan bisa menjadi penguasa atas banyak kehidupan mahluk hidup lainnya.  Manusia bisa menjadi pencipta kelestarian sekaligus kemusnahan kehidupan para mahluk di bumi ini.  Dengan kecerdasan akal pikirannya, manusia bisa menciptakan masalah sekaligus menyelesaikan berbagai masalah kehidupannya. 

Tampaknya Sang Maha Kuasa di semesta ini, sebagai penulis skenario kehidupan sekaligus menjadi sutradaranya, sangat tahu akan kemungkinan itu.  Sehingga di berbagai  jaman dan tempat tertentu dihadirkanlah manusia dengan Roh-Roh suci dan penuh pemahaman untuk menjadi pembimbing dan penuntun dalam kehidupan manusia, agar manusia tidak digelapkan batinnya justru oleh kecerdasan akal pikirannya.  Sebab kecerdasan akal pikiran tanpa dilengkapi hati nurani yang kuat menuntun dari dalam, sangat mudah melencengkan manusia menjadi mahluk penghancur bagi kehidupannya sendiri. 

Ajaran-ajaran dari para guru suci, para nabi dan utusan-utusan Tuhan yang penuh cinta kasih, pastilah berupa ajaran yang juga penuh cinta kasih bagi kehidupan ini.  Ajaran itu hadir untuk membawa cahaya kedamaian, kebahagiaan dan kebersamaan yang harmonis dalam kehidupan semua mahluk."Tapi faktanya? Begitu banyak pertikaian dan peperangan yang berhubungan dengan keagamaan." 

Ia masih belum bisa menerima kenyataan yang tampak berbeda dengan penjelasan tadi.  Fakta itu memang tidak bisa disembunyikan dengan cara dan alasan apa pun.  Toleransi beragama gencar didengungkan, namuan berita tentang pertikaian atau kekerasan atas nama agama di antara manusia juga kerap muncul dalam media sosial.
     
Memang, bila agama diibaratkan sebuah kendaraan, maka ia adalah kendaraan yang bisa mengantar penumpangnya melewati jalan menuju kehidupan yang lebih damai, bahagia dan penuh suka cita. Namun setiap kendaraan selalu berpotensi untuk disalahgunakan oleh pengendaranya.  Pengemudi bisa saling berebutan penumpang, saling salip di jalanan, bahkan saling serempet hingga akhirnya bertabrakan satu sama lain.  Dalam keadaan seperti ini tentu tidak elok menyalahkan kendaraan itu sendiri.
 
Demikian halnya dengan ajaran-ajaran agama yang penuh dengan pengetahuan kebenaran, akan selalu mudah berbelok menjadi ajaran pembenaran ketika ego menyertai dalam pelaksanaannya. Bila ego sudah ikut terlibat, maka ajaran agama yang tujuan awalnya adalah untuk mengendalikan ego manusia dengan kebenaran hati nurani, bisa berubah menjadi ajaran pembenaran yang menguatkan kepentingan ego.  Bahkan bisa pula akhirnya menganggap pembenaran itu sebuah kebenaran.  

Pertanyaannya, sampai kapan kebenaran dalam ajaran agama akan dibelokkan menjadi pembenaran ego dalam keseharian?  Semua tergantung pada diri setiap orang.  Kita tidak bisa menunggu siapa pun untuk mengembalikan agama menjadi ajaran yang benar-benar penuh cinta dan menjadi berkah bagi kehidupan. Setiap orang yang mulai tersadar, mesti memulai dari dirinya sendiri.
 
Sayangnya, orang-orang yang melihat kebenaran ajaran agama itu melenceng menjadi pembenaran diri, justru ikut-ikutan marah dan menghujat.  Tanpa sadar, mereka sesungguhnya juga sedang tersentuh egonya untuk melawan kekhilafan dengan potensi kekhilafan lainnya.  Padahal tidak ada kegelapan yang berubah menjadi terang oleh hadirnya kegelapan batin yang lainnya.  

Saatnya kini bagi yang tersadarkan, tercerahkan dan melihat adanya kekhilafan itu untuk bangkit dan membuktikan dengan penuh cinta, bahwa ajaran agama itu memang membawa pengetahuan yang benar dan menghadirkan cinta kasih bagi kehidupan.
   
Melawan kekeliruan dengan kebencian hanya akan menghadirkan pertikaian baru antara kebajikan dan kebatilan.  Jika kebatilan datang membawa benih kehancuran, maka tugas kebajikan adalah melawan dengan menciptakan perbaikan, bukan menambah kehancuran dari sisi yang lain.  

Menyalahkan agama sebagai pembawa pertikaian atau pencipta kehancuran, adalah bentuk mekanisme perlawanan ego dalam bentuk lain. It is not about the gun, but about the man behind the gun. 

 Semoga setiap pembawa obor penuh cahaya yang hendak mengusir kegelapan, tidak justru terbakar oleh panasnya api obor atau bahkan silau oleh cahaya obornya sendiri.(*)                                                                                           

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia