KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Kemanakah Engkau, Tuhan?

 
ROHANI

Kemanakah Engkau, Tuhan?
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 16-Mar-2019, 14:39:49 WIB

KabarIndonesia - Rentetan suara peluru yang mendesing di tengah ruang kekhusyukan itu menggetarkan nyali Joko Kendal.  Suara itu seperti mewakili nyawa-nyawa yang tercerabut dari tubuh yang tak berdaya, bahkan tak sadar bahaya bisa datang di tempat sesuci itu.  Malaikat pencabut nyawakah itu yang datang tanpa kabar, ataukah itu hanya setan dari kegelapan ego yang hendak menunjukkan kuasa kegelapannya?

Joko Kendal merasakan basah di sudut kelopak matanya.  Bibirnya tercekat batinnya tercenung. "Kemanakah Engkau, Tuhan?", bisiknya lirih.
"Di tempat orang-orang yang berdoa memohon perlindungan-Mu pun tak ada rasa aman.  Di ruang yang seharusnya penuh dengan kuasa cinta kasih-Mu, kematian datang dengan begitu kejam.  Lalu apa gunanya doa-doa, apa guna-Mu maha kuasa dan maha pelindung?"

Bergetar bibirnya mengalirkan kalimat-kalimat yang penuh rasa kecewa.  Sungguh ia tak kuasa menangkap hikmah di balik semua kejadian tragis ini.  Bila di tempat suci yang semestinya penuh perlindungan pun tidak ada jaminan keselamatan, lalu kemana manusia harus berlindung?  Ataukah ia harus ikhlas menerima bahwa tragedi ini pun sudah atas kuasa dan kehendak-Nya, karena telah diajarkan bahwa kematian selalu atas wewenang dan kehendak-Nya?

Tapi ada yang sulit untuk tidak memberontak dalam batinnya.  Apakah betul kematian akibat kejahatan kemanusiaan di tengah kekhusyukan doa-doa manusia adalah juga atas kehendak-Nya?  Ataukah kalimat indah ini hanya penghiburan diri? Lalu melengganglah segala bentuk kejahatan yang memutus perjalanan hidup kemanusiaan, hanya karena ikhlas oleh kata-kata penghiburan itu?

Joko Kendal tak menemukan setitik pun cahaya terang pemahaman.  Langit terasa gelap seperti malam yang dipenuhi mendung. Tak ada cahaya rembulan, bahkan kerlip kecil bintang-bintang pun terselubung.  Maka ia memutuskan menemui sahabatnya, Nasrudin.

"Kau dengarkan berita itu, kawanku? Kau dengarkah berita kematian para pendoa di ruang suci itu? Kemanakah menurutmu Tuhan melalaikan kuasa perlindungan-Nya?"

Nasrudin yang sedang menengadah menatap pohon besar di pinggiran desa hanya terdiam.  Namun kemudian ia menjawab pelan.

"Aku mendengarnya. Ya..aku mendengar berita itu. Betapa banyak nyawa para pendoa di sebuah mesjid di sana mesti melayang oleh rentetan tembakan.  Aku juga pernah mendengar betapa banyak kematian terjadi oleh ledakan bom di sejumlah gereja.  Aku pun mendengar kematian-kematian serupa di tempat-tempat suci yang lain." Sahutnya datar sambil kembali menatap pohon besar itu.

"Lalu apa yang sedang terjadi menurutmu, Nasrudin? Kemana Sang Maha Pelindung hingga di rumah-Nya sendiri bencana itu dibiarkan terjadi? Aku tak melihat pelajaran hikmah apa pun di sana, dalam peristiwa kegelapan yang dibawa oleh setan-setan penuh angkara murka itu.  Berhentilah terdiam menatap pohon besar itu, Nasrudin.  Bebaskan aku dari kebingungan ini."

Akhirnya Nasrudin kembali bicara.

"Tidakkah kau dengar suara gemerisik dedaunan itu, Joko Kendal.  Heningkan batinmu.  Dengarlah daun-daun itu bergesek seperti sedang bicara."  Joko Kendal tentu saja tak mendengar bisikan apa pun dari balik suara dedaunan itu.  Maka Nasrudin melanjutkan.

"Dengarlah pohon tua ini berkata; Aku telah berusia ribuan tahun untuk menjadi saksi di bumi ini atas kehidupan kalian.  Aku telah melihat begitu banyak pertikaian atas nama agama, karena kepentingan agama, karena salah tafsir terhadap kebenaran ajaran agama.  Manusia menciptakan pertikaiannya sendiri, menciptakan perangnya sendiri atas nama agama, lalu menyalahkan Tuhan sebagai Sang Maha Pelindung yang hanya terdiam."

"Manusia menciptakan peristiwa dalam kehidupannya sendiri, merangkai pelajaran hidupnya sendiri, lalu mengatakan bahwa semua itu ujian dan cobaan dari Tuhan.  Lalu menganggap Tuhan tidak menuntun mereka memahami pelajaran yang mereka buat sendiri."

Joko Kendal bergetar mendengar aliran kata-kata Nasrudin.  "Kawan, aku belum begitu jelas memahami pesan itu.  Terangkanlah padaku."

Nasrudin menarik napas dalam-dalam. "Kawan, hampir sebagian besar kehancuran di kehidupan kita ini disebabkan oleh hasil kerja pikiran kita dalam menggerakkan tubuh.  Terutama karena pikiran kita bekerja dalam bisikan kegelapan ego dan hasrat duniawi yang tak terkendali.  Bahkan ajaran agama yang diturunkan untuk membantu kita menyadari hadirnya kegelapan ego dalam diri, agar kita selalu bisa memilih tuntunan hati nurani dalam berpikir, berucap dan bertindak, justru  malah terkotori oleh pembenaran ego kita sendiri."

"Maka pelajaran-pelajaran dalam peristiwa kehidupan yang kita ciptakan sendiri dari bimbingan kegelapan ego, tidak mampu dengan jelas kita baca hikmahnya.  Bagaimana membaca dengan terang hikmah pelajaran itu bila kita justru mencoba membacanya dengan gelapnya kemarahan?"

"Tuntunan Tuhan akan hadir lewat kecemerlangan cahaya hati, lewat hati nurani yang bening.  Cahaya pengetahuan itulah yang akan memudahkan kita membaca dan memahami pelajaran apa yang bisa kita petik dari apa yang telah kita lakukan di kehidupan ini.  Namun sekali lagi, kegelapan ego selalu mendominasi pikiran kita saat hendak membaca makna dari pengalaman hidup kita."

Joko Kendal kembali merasakan sudut matanya melembap. Namun ia merasakan suara Nasrudin mulai bergetar aneh, lalu menggumamkan kata-kata yang bukan seperti biasanya.

"Harus berapa ribu kelahiran kalian lewati untuk mengerti pelajaran sederhana ini? Harus berapa banyak kehancuran kalian saksikan hanya iuntuk mengerti arti kedamaian? Harus berapa Guru Suci, berapa Nabi, berapa utusan harus Ku-turunkan ke bumi ini untuk mengajari kalian arti kasih sayang dalam kehidupan?"

"Harus berapa lembar ajaran dalam kitab suci Ku-alirkan bagi pikiran kalian hanya untuk memahami arti kebersamaan? Harus berapa banyak kematian sia-sia yang kalian saksikan hanya untuk mengerti pentingnya kehidupan ini sebagai ruang dan waktu bagi Jiwa mematangkan kesadaran dirinya?"

"Aku tidak kemana-mana. Tidak pernah kemana-mana. Aku hanya menjadi saksi dalam diam-Ku, untuk memberi kalian kesempatan menyadari sendiri semua akibat dari pilihan tindakan kalian dalam kehidupan ini. Belajarlah dengan kecerdasan akal pikiran kalian sendiri. Aku tidak kemana-mana."

Joko Kendal merinding mendengar kata-kata yang mengalir dari bibir sahabatnya.  Ia hanya bisa terdiam. Lalu keduanya terdiam, menatap pohon tua yang dahan-dahannya terus melambai tertiup angin sore itu. 
Kuta, 16 Maret 2019

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia