KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Memanusiakan Tuhan

 
ROHANI

Memanusiakan Tuhan
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 15-Mar-2019, 08:35:07 WIB

KabarIndonesia - Manusia sungguh mahluk yang cerdas di antara mahluk-mahluk hidup yang ada di kehidupan bumi.   Kelebihan volume otak membuat manusia mampu dengan cerdas mengatasi berbagai masalah dan kendala dalam kehidupan mereka di bumi.  Otak manusia sebagai organ yang mampu menghasilkan proses berpikir yang begitu kompleks dan rumit, sungguh membantu manusia dalam proses evolusi dan beradaptasi dalam menghadapi seleksi alam yang begitu ketat di bumi ini.

Mungkin sudah banyak yang tahu kenapa kita disebut sebagai manusia.  Manusia berasal dari kata "Manasya", di mana kata Manas atau Manah berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pikiran.  Jadi manusia adalah mahluk yang bisa berpikir.  Dari kata yang tersebut kemudian menjadi kata Man dalam bahasa Inggris untuk makna yang sama.  Dengan demikian, ketika manusia belum menggunakan otaknya untuk proses berpikir, sesungguhnya ia belum benar-benar menjadi manusia.

Ketika otak seseorang di masa lalu telah berkembang dengan mengagumkan, saat ia mencapai Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual dan Spiritual yang matang, ia menjadi seseorang yang penuh kebijaksanaan dan kesadaran Jiwa. Dari sini, orang-orang tersebut menemukan "Sesuatu yang Maha Agung" yang disadari sebagai Sang Maha Pencipta bagi semesta raya tak terbatas.  Mereka juga menyadari betapa berbahayanya pikiran manusia yang cerdas ini bila tidak digunakan demi kepentingan kemanusiaan dan kelestarian kehidupan.

Maka lahirlah ajaran-ajaran suci tentang Tuhan, tentang kesadaran semesta, tentang kehidupan, kematian dan pentingnya susila atau etika dan norma-norma dalam kehidupan manusia.  Ajaran-ajaran suci yang kemudian melembaga menjadi "organisasi" agama-agama di dunia.
Tentu saja orang-orang "suci" seperti itu, yang dialirkan ajaran-ajaran dan pengetahuan kesadaran semesta, bisa muncul di mana saja di bumi, sesuai latar belakang budaya, peradaban dan tingkat kesadaran komunitasnya.  Maka lahirlah agama dan keyakinan di dunia ini dengan jumlah yang tak terhitung.

Lalu demi menyikapi perbedaan tingkat kecerdasan, kemampuan imajinasi dan pemahaman setiap orang dalam komunitas sosial mereka, maka keyakinan akan keberadaan "Sesuatu Yang Maha Agung" itu kemudian mewujud menjadi beragam bentuk instrumen.  Ini menjadi cara untuk memudahkan pikiran kebanyakan orang agar bisa terhubung dengan Sang Maha Agung yang tak berwujud itu.  Mulailah pula upaya mempersonifikasikan Sang Maha Agung.

Bahkan Sang Maha Agung yang ditemukan para kaum suci di masa lalu itu kemudian diberikan sebutan, berbagai nama untuk mewakili keagunganNya.  Salah satu sebutan itu adalah TUHAN (di Indonesia).  Di tempat-tempat lain, pada budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja sebutan bagi Sang Maha Agung itu berbeda pula.

Ketika Dia diberi sebutan atau nama dalam personifikasiNya, mulai pula sifat-sifat manusiawi disematkan pada-Nya; Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pelindung, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Ada, Maha Adil, bahkan Maha Menghukum dan sebagainya.

Sesungguhnya semua upaya "mewujudkan" Dia Yang Maha Agung ke dalam sebutan, nama bahkan beragam bentuk materi, awalnya hanyalah untuk memudahkan keterhubungan antara batin manusia dengan "Sesuatu" yang abstrak namun ada di semesta ini.  Tidak ada yang salah dalam tujuan awal itu.  Namun sayang, perbedaan nama, sebutan, dan manifestasi itu di kemudian hari sampai saat ini justru menyisakan benih-benih pertikaian dan saling klaim kebenaran.

Ada yang menganggap bahwa mewujudkan Tuhan adalah sebuah cara yang salah, membatasi Dia yang tak terbatas. Ada yang menganggap bahwa berdoa kepadaNya tidak boleh untuk meminta sesuatu. Lalu manakah kebenaran sejati di balik semua upaya ajaran agama menciptakan personalisasi terhadap Tuhannya?

Ketika mendengar pertanyaan itu, Nasrudin hanya tersenyum sembari membacakan sebuah syair dengan tenang; 
"Sembahlah Aku, bila dengan cara menyembah itu menjadikanmu rendah hati." 
"Pujalah Aku, bila dengan pemujaan itu menjadikan terhormat oleh rasa hormatmu sendiri." 
"Cintailah Aku, bila dengan cintamu itu kau bisa merasakan kecintaan-Ku lebih besar pada Jiwamu." 
"Persembahkanlah sesajian pada-Ku, bila dengan segala persembahan itu kau merasa bahwa semua ini adalah milik-Ku, dan Jiwamu terbebas dari segala kemelekatan atas rasa kepemilikan." 
"Menunduklah di hadapan-Ku, bila dengan itu kau menemukan rasa kepasrahan dalam kuasa-Ku yang tak terbatas." 
"Namailah Aku bila dengan itu kau lebih mudah memanggil-Ku yang tak bernama." 
"Wujudkanlah Aku bila dengan itu lebih mudah bagimu membayangkan-Ku dalam ingatanmu yang terbatas." 
"Berdoalah pada-Ku bila dengan doa-doa itu kau merasa bisa selalu terhubung dengan-Ku." 
"Memintalah pada-Ku bila dengan permintaan itu kau menemukan setitik cahaya harapan dalam perjalanan hidupmu." 
"Temukanlah kekosongan dalam diamu, bila dengan itu kau bisa menemukan-Ku sebagai yang mengisi segala kekosongan." 
"Dan heninglah, bila dengan keheningan itu kau bisa merasakan kehadiran-Ku di mana-mana." 
"Kelak saat kau telah benar-benar mengenal-Ku, kau akan bisa menerima semua jalan adalah jalan menuju pada-Ku. Di situ kau akan bisa berdamai dengan segala keragaman yang berbeda dalam kehidupan semesta-Ku yang tak terbatas ini."   
Usai membacakan aliran kalimat itu, Nasrudin pun berlalu tanpa kata. 
Kuta, 15 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia