KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Menabur Neraka Menuai Sorga

 
ROHANI

Menabur Neraka Menuai Sorga
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 14-Feb-2019, 13:44:02 WIB

KabarIndonesia - Nasrudin Hoja duduk termenung di dangau, memandang ladangnya dengan tatapan kosong.  Meski masih tersisa sedikit benih harapan pada senyumnya yang mencoba ikhlas sembari melantunkan doa-doa, tak bisa dipungkiri bahwa jauh di kedalaman batinnya bergejolak rasa bingung tak terkira.  Ia sungguh tak menyangka waktu betapa demikian lama terlewati, tanpa tanda-tanda kehidupan sedikit pun muncul dari atas tanah ladangnya yang kering.  

Berkali ia mencoba mengusap wajahnya, tak percaya bahwa berhari-hari telah ia lalui dalam kekosongan yang sama.  Warna ladangnya tetap menghampar coklat kering.  Sesekali berdebu terhembus angin yang mungkin juga gerah melihatnya di sana sepanjang hari.

"Ada apa kau di sini setiap hari menatap ladang kosong itu, Nasrudin?  Apa yang kau tunggu di sana, bergelung bagai ular menanti tikus keluar dari lubang sarang tanahnya?"

Seorang teman sekampung akhirnya tak tahan untuk menyapa dan menanyakan si Nasrudin, karena sudah berhari-hari ia melihatnya berpolah aneh seperti itu. Meski sesungguhnya semua orang sudah tahu Nasrudin memang sering berperilaku aneh di desanya.  Dan sapaan itu pun hanya dijawab singkat olehnya.

"Menunggu pohon jagungku berbuah.  Sudah 3 bulan tak muncul apa-apa."
Temannya itu kini turut kebingungan.  Bagaimana mungkin jagung dalam 3 bulan bisa sampai tidak muncul batang pohonnya, apalagi memamerkan buah?

"Seberapa luas ladangmu telah kau taburi benih jagung itu, kawan?", tanyanya penasaran.  Nasrudin lalu dengan tegas menjawab.

"Tidak. Aku tidak menaburi apa-apa. Tapi aku telah menggemburi semua luas ladang ini. Ayahku pernah menanam jagung di sini beberapa tahun lalu sebelum ia meninggal.  Aku menggemburinya untuk memberi ruang akar pohon jagung yang lama itu untuk tumbuh kembali."

Seketika temannya terpingkal-pingkal dan berlari menjauh, tak sanggup menahan geli yang memulaskan perutnya.

"Bagaimana kau bisa berharap dapat buah jagung, sedang kau tak pernah menanam benihnya sebutir pun, Pandir?", teriaknya dari kejauhan.  Dan seluruh desa pun tertawa manakala cerita itu menyebar ke setiap telinga yang selalu rindu merasakan kegelian oleh ulah si Nasrudin.  
Namun Nasrudin sendiri hanya tersenyum menghadapi pandangan geli seisi kampung.  Sebab ia sesungguhnya sedang mengajari sesuatu kepada mereka.  
"Tak ada pohon berbuah tanpa benih tertanam.  Tak ada hasil tanpa usaha yang selayaknya. Tak ada sorga kau tuai dengan menabur penderitaan neraka di kehidupan bumi." Bisik nasrudin dalam senyumnya yang penuh arti.

Dan di sini, di berbagai sudut pemikiran para pejalan agama, sungguh banyak orang-orang yang berpikir seperti mereka.  Berharap menuai kebahagiaan sorgawi sebagai buahnya, sementara mereka lebih banyak menabur benih-benih penderitaan neraka bagi kehidupan ini.

Banyak orang berharap mendapat pelukan cinta kasih Tuhan sebagai buahnya, namun lebih sering menabur rasa takut, kebencian dan kekerasan pada sesama ciptaan Tuhan.  Mencintai Tuhan sembari membenci ciptaan-Nya sendiri.  Memuja Tuhan sembari mencaci maki mahluk-mahluk ciptaan-Nhya di bumi.

Bagaimana bisa mereka berharap Tuhan akan memberi kehidupan yang segar dan penuh kesejukan, sedang pohon-pohon di hutan ditebangi dan dibakar sesukanya.  Bagaimana mereka berharap bumi memberi kesejukan dan kejernihan air mandi dan pelepas dahaga, sedang sungai-sungai dikotori oleh tumpukan sampah yang tak sepantasnya mengalir di sana.

Mereka kerap berbincang tentang setetes nila yang merusak susu sebelanga.  Betapa setitik noda bisa merusak kemurnian yang lebih besar.  Bukankah kehidupan yang penuh berkah ini serupa sebelanga kebaikan yang bisa ternoda oleh sebuah keburukan yang diteteskan lewat pikiran negatif, kata-kata, sikap atau pun tindakan yang menyakitkan?

Sebab kehidupan ini seperti tetesan air di samudra yang saling bersatu.  Mirip pula dengan sel-sel hidup yang saling terhubung dalam tubuh kita.  Menyakiti satu sel bisa memberi penderitaan pada seluruh tubuh.  Begitu pun saat kita menyakiti satu mahluk saja di kehidupan ini, kita sudah menimbulkan ketidak harmonisan yang akan kembali pada kita sendiri sebagai buah dari Karma (tindakan).

Lalu bagaimana akan membuka pintu sorga di akhirat dengan bekal benih-benih penderitaan neraka yang kita tabur di kehidupan bumi?  Bahkan untuk membangun sorga di bumi saja, nyata sekali yang kita perlukan adalah menabur benih-benih kebaikan.  Sudah banyak bukti bahwa orang-orang yang menabur kejahatan kemanusiaan di bumi, akhirnya akan menuai penderitaan dalam sel-sel neraka di negerinya.

Apakah layak orang-orang berpikir bahwa dengan menyebarkan rasa takut, menciptakan kehancuran dan kerusakan di bumi, menyakiti kehidupan dengan berbagai alasan yang datang dari pembenaran ego, lalu pintu kebahagiaan sorga akan terbuka lebar-lebar menanti Jiwa mereka di alam kematian?  Tidak butuh kecerdasan yang tinggi untuk memahami kekhilafan pemikiran seperti ini.

Agama lahir untuk menghentikan hasrat menyakiti dalam kehidupan manusia, bukan untuk mendorong orang-orang menyakiti kehidupan ini dengan dalih pembenaran ego yang haus akan kekuasaan (tahta), kekayaan (harta) dan cinta.  Sebab untuk mengajari manusia melakukan tindakan buruk yang penuh angkara murka, tidak diperlukan kelahiran orang-orang suci untuk sekadar mengajari hal itu.

Tidak dibutuhkan kehadiran malaikat untuk membimbing hati manusia melakukan tindakan kekerasan, kekejaman, beragam perilaku corah atau pun kebatilan pada sesama mahluk lain di kehidupan ini.  Sebab setan dalam diri sudah dengan senang hati akan membakar dorongan sifat hewani itu tanpa perlu diminta lewat doa-doa.  Bukankah doa pun justru dipanjatkan untuk mengusir bisikan setan dalam diri itu?

Malaikat itu memang pembawa cahaya, tentu saja dibutuhkan mata qalbu yang terbuka untuk melihat tuntunannya.  Sedang setan adalah pembawa kegelapan, sehingga hanya menutup mata fisik dan mata qalbu, kegelapan akan segera menyelimuti kesadaran hati nurani.  Lalu benih-benih neraka akan tertabur dalam asuhannya.

Dengan seluruh pemahaman sederhana ini, apakah si pandir Nasrudin tak cukup mampu menyadarkan bahwa benih-benih penderitaan neraka yang ditabur di alam bumi ini lewat kekerasan, kekejaman dan kebatilan lain, tidak akan mungkin menumbuhkan pohon-pohon sorgawi?  Apalagi membukakan pintu sorga bagi Jiwa-Jiwa yang begitu mudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi di kehidupan ini.

Tidak butuh kecerdasan mendalam untuk memahami bahwa cabe akan memberi rasa pedas dan gula akan memberi rasa manis.  Benih apa yang ditabur di bumi saat ini, pohon dan buah itulah yang akan dipetik di kemudian hari, dalam kehidupan duniawi ataupun akhirat. 
Kuta, 15 Pebruari 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia