KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Mengenang Peristiwa 21 Mei 1998 22 Mei 2019 14:14 WIB

 

Menafsir Ulang Doktrin, Belajar dari Diri Sejati (1): Bahasa Tuhan Penuh Simbol dan Kiasan

 
ROHANI

Menafsir Ulang Doktrin, Belajar dari Diri Sejati (1): Bahasa Tuhan Penuh Simbol dan Kiasan
Oleh : Tonny Djayalaksana | 12-Mei-2019, 07:43:41 WIB

KabarIndonesia - Merujuk kepada penjelasan yang sudah saya paparkan pada tulisan-tulisan terdahulu, didukung oleh ayat-ayat Suci Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai referensi, maka untuk mencapai kesempurnaan hidup, satu-satunya cara adalah, saya sebagai tubuh/jasad harus betul-betul bisa merasakan meng-Esa dengan Ruh atau merasakan Manunggaling Kawula Gusti. Pasalnya, hanya dengan demikian saya baru bisa beresonansi dengan Tuhan (Allah) sehingga bisa lebih mudah mendapatkan bimbingan dari DIA.

Jelas sudah bahwa Tuhan (Allah) yang menguasai Alam Semesta dan seisinya itu mempunyai Kerajaan Maha Besar yang absolut, sekaligus juga menguasai bertriliun-triliun Kerajaan Kecil yang dititipkan di setiap makhluk dan benda yang ada di semesta ini. Termasuk yang ada di dalam tubuh/jasad saya, dan saat ini secara ilmiah sudah bisa dibuktikan kebenarannya,         

Setelah paham bahwa dalam tubuh saya ada "Kerajaannya Tuhan (Allah)", yang namanya "Kerajaan" tentunya pasti lengkap dengan fasilitas dan seluruh infrastrukur penunjangnya serta pasukan-pasukannya.         

Untuk itu berikut saya lampirkan link hasil dari pada penelitian secara ilmiahnya : https://septiantriputra.blogspotn.com/2012/07/100-fakta-ilmiah-tubuh-manusia-yang.html http://info-wahib.blogspot.com/2014/12/god-spot--saraf-yang-mendorong-manusia-menemukan-tuhannya.html          

Hasil temuan dari ilmuwan-Ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, lambat laun, sedikit demi sedikit, tapi pasti, sudah mulai bisa menyingkapkan rahasia/misteri Alam Semesta. Dimana ketika selama ini saya belajar agama, itu semua hanya berdasarkan "Doktrin".       

Sebuah doktrin dengan kata "IMAN", "KAFIR", dan "TAQWA" yang langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara harafiah saja.  "IMAN" diartikan sebagai "Percaya/Yakin". "KAFIR" itu diartikan sebagai "Tidak Percaya/TidakYakin", adapun "TAQWA" diartikan sebagai Percaya Adanya Allah, Membenarkannya dan Takut akan Allah.          

Padahal definisi kata "IMAN" yang sesungguhnya menurut Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh beberapa Hadits adalah: TASHDIQUN BIL QOLBI WA IQRORUN  BI LISAN WAL 'AMALUN BIL ARKAN, yang artinya  PEMBENARAN OLEH QOLBU DIUCAPKAN OLEH PERKATAAN DAN DI AMALKAN DENGAN PERBUATAN.         

Jadi, arti kata "IMAN" menurut Nabi Muhammad SAW, harus diawali dengan proses pembenaran oleh Qolbu. Artinya harus lewat tahapan proses menemukan dahulu, baru kemudian bisa ada pengenalan. Selanjutnya barulah diucapkan oleh lisan dan kemudian dikerjakan oleh perbuatan.       

Hal ini terasa berbeda sekali dengan pemahaman saya tentang kata "IMAN" dalam konteks agama. Menurut pemahaman saya, kata-kata "IMAN" dalam Al Quran itu arti dan hakekatnya adalah manusia-manusia yang sudah terbuka Mata Qolbunya. Dengan begitu, mereka mengenal Tuhan (Allah)nya.         

Adapun kata-kata "KAFIR" artinya adalah manusia-manusia yang masih tertutup Mata Qolbunya atau bisa juga diartikan bahwa mereka belum mengenal Tuhan (Allah)nya. Jadi berbeda dengan yang saya pahami sebelumnya, kata-kata "IMAN" itu diartikan sebagai manusia-manusia yang memiliki satu keyakinan yang sama tentang agama. Adapun kata-kata "KAFIR" adalah manusia-manusia yang keyakinan beragamanya berbeda dengan dirinya.         

Mengenai definisi kata "TAQWA", disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat : 63 yang berbunyi sebagai berikut: "Dan ingatlah ketika Aku mengambil janji darimu lalu Aku angkat "Gunung"mu, pegang teguhlah apa yang Aku pertunjukkan padamu dan ingatlah selalu apa yang ada di "Gunung"mu agar kamu menjadi seorang yang berTAQWA".         

Jadi sangat berbeda dengan yang selama ini saya pahami. Ada lagi satu julukan untuk satu kaum yang paling populer di dalam Al Quran, yaitu "BANI ISROIL" yang selama ini saya pahami artinya sebagai anak cucunya Bangsa Israel (Yahudi),         

Padahal ternyata negara Israel sendiri baru Merdeka 70 tahun yang lalu melalui resolusi PBB. Sedangkan Al Quran sudah berusia 1300 tahun yang lalu. Sehingga menurut saya sangat kontradiktif dan tidak koheren.         Karena itu arti hakekat dari kata BANI adalah KAUM (KELOMPOK atau KOMUNITAS) ISRO artinya JALAN, ELI artinya TUHAN (dalam bahasa Ibrani). Jika hal itu dirangkum menjadi kalimat, maka artinya adalah KAUM YANG BERJALAN MENUJU TUHAN.         

Karenanya sangat wajar dan tidak mengherankan jika BANI ISROIL di dalam Al Quran adalah Kaum yang selalu diunggulkan, karena mereka adalah kaum/komunitas yang selalu berjalan menuju kepada Tuhannya.         

Seperti sudah pernah saya jelaskan dalam tulisan saya yang terdahulu, bahwa Al Quran itu diturunkan melalui Wahyu. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa bahasanya adalah bahasa Tuhan (Allah) yang penuh dengan kata-kata, kalimat-kalimat simbolik dan kiasan-kiasan. Karena itu tidak bisa diterjemahkan hanya memakai ilmu tafsir atau persepsi manusia saja, tanpa bimbingan diri sejati yang punya akses kepada Tuhan (Allah) Sang Pemberi Wahyu.         

Tuhan (Allah) sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, bagaimana mungkin, bisa dipahami oleh manusia yang Ilmunya sangat-sangat terbatas? Adapun satu-satunya jalan adalah harus belajar melalui diri sejati kita. Dimana, diri sejati kita itu pada hakekatnya adalah Rosul/Utusan dari Tuhan (Allah) yang dititipkan sebagai penghubung antara Hamba dengan Tuhan (Allah)nya.   (BERSAMBUNG)           

  Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com       

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia