KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Menapaki Jalan Beragam Agama (1): Al-Quran Sama Sekali Tidak Eksklusif

 
ROHANI

Menapaki Jalan Beragam Agama (1): Al-Quran Sama Sekali Tidak Eksklusif
Oleh : Tonny Djayalaksana | 09-Mar-2019, 20:56:10 WIB

KabarIndonesia - Setelah belajar lebih dalam lagi tentang Islam secara spiritualitas, akhirnya saya bisa memahami bahwa Islam adalah sungguh sebagai jalan untuk membawa Rahmat dan Kesejahteraan bagi seluruh Alam Semesta (Islam Rahmatan Lil Alamin).

Al-Quran adalah sebagai petunjuk jalan, untuk  menjadi Islam (Pasrah/Damai/ Sejahtera).         

Sesungguhnya isi dalam kitab suci Al-Quran itu diperuntukkan sebagai petunjuk jalan bagi seluruh manusia yang ada di muka bumi ini. Sama sekali tidak ada eksklusivitasnya atau hanya diperuntukkan satu golongan/komunitas/bangsa saja. Namun, karena para ahli tafsir yang menafsirkan ayatnya secara berbeda, sehingga terjadi seperti saat ini.          
Banyak sekali golongan dan kelompok yang merasa pemahaman merekalah yang paling benar. Paling sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, dan pada umumnya dengan tujuan yang sama, yaitu sukses masuk surga, selamat dari neraka.   
       
Seperti yang sering saya katakan dalam tulisan-tulisan saya di beberapa artikel yang lain, bahwa pada umumnya ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci dari semua agama, kalimat-kalimatnya itu berupa simbolik atau kiasan.     
     
Menurut saya bahasa yang dipakai di semua kitab suci itu bahasa Tuhan/Allah. Jadi tidak bisa langsung diterjemahkan secara serta merta menurut Kamus Besar yang ada saat ini. Karenanya, bagi yang membuat tafsir kalimat-kalimat yang ada di seluruh kitab suci sekarang ini, banyak sekali hakekat maknanya yang melenceng jauh. Akibatnya jadi tidak koheren. Malah jadi kontradiktif dan tidak nyambung.     
     
Kita ambil beberapa contoh yang sangat ekstrim dan sensitif sehigga membuat para pemeluknya seperti terkena Pencucian Otak (Brain Wash). Mereka kehilangan nalar sehatnya, merasa paling benar, dan menganggap orang-orang yang bukan golongannya salah semua.  
        
Di dalam Al-Quran ada sebuah ayat yang bebunyi seperti ini: INNA DINNA INDALLAHI ISLAM. Ayat ini diterjemahkan oleh mayoritas ulama-ulama ahli tafsir Quran, termasuk oleh Departemen Agama Republik Indonesia, dengan terjemahan seperti ini: INNA=SESUNGGUHNYA, DINNA=AGAMA, INDALLAHI=DISISI ALLAH, ISLAM=AGAMA ISLAM. Jadi menurut tafsir mereka-mereka ini berarti, SESUNGGUHNYA AGAMA DI SISI  (YANG DITERIMA) ALLAH ITU, ADALAH AGAMA ISLAM.
         
Setelah mendapat pemahaman dari Guru Mursyid, saya akhirnya menyadari. Hakekat makna dari kalimat tadi, bukanlah seperti yang diterjemahkan oleh mayoritas para ulama ahli tafsir Al-Quran, termasuk Departemen Agama Republik Indonesia tersebut.  
       
Adapun hakekat makna kalimat tersebut adalah seperti ini: INNA=SESUNGGUHNYA, DINNA=AGAMA, INDALLAHI=BAGI ALLAH, ISLAM=PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA. Jadi kalau dirangkum menjadi kalimat seutuhnya maknanya adalah seperti ini: SESUNGGUHNYA AGAMA BAGI ALLAH ADALAH PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA.      
    
Perbedaan yang paling signifikan adalah yang satu kata Islamnya tidak diterjemahkan. Melainkan langsung dimaknai bahwa ISLAM itu sebagai agama. Padahal hakekat makna ISLAM itu adalah PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA.         
 
Coba bayangkan perbedaan terjemahan dalam satu kata saja, sudah jauh sekali makna dari keutuhan kalimat tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau para pemeluk agama Islam yang fanatik, tidak mau mempergunakan kesadaran pikirannya. Akibatnya mereka tidak menyadari bahwa, keterangan dari para Ulama ahli Hadits dan Departemen Agama RI, itu sudah menjadi anker (jangkar) dibenaknya. Masuk ke bawah alam sadarnya masing-masing.      
   
Lalu timbulah pemahaman agama Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah SWT. Di luar agama Islam semuanya ditolak. Orang-orang yang memeluk agama Islam mereka namakan sebagai orang IMAN dan jaminannya pasti masuk SURGA. Sedangkan orang-orang yang memeluk di luar agama ISLAM semuanya KAFIR. Dengan konsekuensinya semua masuk ke NERAKA.   
        
Padahal IMAN yang dimaksud dalam Al-Quran maknanya bukan seperti yang mereka pahami sekarang yaitu, YAKIN/PERCAYA. Namun hakekat makna kata IMAN, menurut Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits bunyinya adalah sebagai berikut: TASDIQUN BIL QOLBI WA IQROLUN  BILLISAN WA AMALLUN BILL ARQAN= PEMBENARAN OLEH QOLBU DIUCAPKAN DENGAN LISAN DAN DIAMALKAN DENGAN PERBUATAN. Jadi IMAN itu perlu proses, bukan asal YAKIN/PERCAYA.         Adapun prosesnya adalah seperti berikut ini: PEMBENARAN OLEH QOLBU, artinya harus ada penyaksian mengalami dan memahami dulu oleh QOLBUNYA, baru bisa ada PEMBENARAN.          

Setelah ada PEMBENARAN OLEH QOLBU, proses selanjutnya baru ada yang bisa DIUCAPKAN DENGAN LISAN. Setelah itu selanjutnya baru bisa DIAMALKAN DENGAN PERBUATAN. Itulah rangkaian proses hakekat makna dari kata IMAN.          

Lalu kalau begitu pertanyaannya, apa hakekat maknanya kata KAFIR? Adapun hakekat mana KAFIR menurut pemahaman saya adalah orang-orang yang MATA QOLBUNYA masih tertutup.        

Belum bisa menyaksikan, mengalami dan memahami. Akibatnya tidak bisa mengucapkan, apalagi mengamalkan. Maknanya sangat berbeda dengan yang mayoritas para Ulama ahli tafsir Quran dan terjemahan Departemen Agama RI. Pada umumnya mereka yang memaknai kata KAFIR, adalah orang-orang yang tidak YAKIN/PERCAYA sama agama ISLAM, atau pemeluk agama selain Islam.      
   
Setelah saya memahami penjelasan-penjelasan di atas tadi, maka sesungguhnya bagi pemahaman saya yang disebut orang IMAN itu adalah orang-orang yang sudah TERBUKA. Sudah tahu atau kenal dengan Tuhannya/Allah. Tidak peduli orang itu beragama apa, yang penting dia sudah tahu dan mengenal Tuhannya/Allah. Dan sebaliknya yang disebut orang KAFIR itu adalah orang-orang yang masih TERTUTUP. Belum tahu atau belum mengenal Tuhannya/Allah. Baik itu orang beragama Islam, atau beragama selain Islam.        
 
Maka saat ini hampir mayoritas orang Islam dalam pengamalannya itu, sesungguhnya mereka itu tidak tahu apa-apa. Mereka hanya ikut kata ulama yang mengajarkannya saja. Pada umumnya, baik itu masyarakat biasa maupun kaum intelektual, percaya/yakin begitu saja, tanpa menggunakan lagi kesadaran akal dan pikiran sehatnya. Mengikuti dengan taklit buta.             

Yang ironisnya lagi, para ulama-ulama pengajarnya itu sendiri, umumnya juga tidak tahu. Mereka sendiri tidak tahu bahwa dirinya itu tidak tah. Lebih memprihatinkan kalau diberitahu cenderung sok tahu dan merasa lebih tahu. Itulah fenomena yang terjadi di seantero bumi saat ini.         Pertanyaannya, dari mana saya mengambil kesimpulan itu? 

Jawabannya adalah, semua tulisan-tulisan artikel saya ini semua berbasis dari pengalaman saya sendiri. Bukan mendengar atau mengetahui melalui orang lain yang sifatnya baru KATANYA. Lalu yang KATANYA itu diberitakan lagi ke orang berikutnya. Terus sambung menyambung seperti kejadiaan yang sering kita lihat atau dengar, atau sedang kita alami pada saat ini. (Bersambung)       
 
Penulis: Tonny Dayalaksana - 
Mualaf Zaman Now 
ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT 
www.djayalaksana.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia