KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mengaku Beriman (1)

 
ROHANI

Mengaku Beriman (1)
Oleh : Syaiful Karim | 11-Feb-2019, 17:00:59 WIB

KabarIndonesia - Saat itu usia saya 10 tahun, bersama teman-teman sebaya seperti biasanya tradisi di kampung, menjelang datangnya waktu sholat magrib sudah berkumpul di Musholla. Kami berlari-larian, bermain, tertawa, riang gembira bersama teman-teman sambil menunggu guru ngaji datang. Ketika waktu sholat magrib tiba, kami langsung mengikuti sholat berjamaah dipimpin oleh guru ngaji kami.  

Suasana bermain itu rupanya terbawa ke dalam sholat berjamaah yang berlangsung. Kami tidak berhenti bermain dan berisik, maklum saat itu yang ikut sholat berjamaah hanya anak-anak teman sebaya.
Ketika sholat berjamaah selesai, mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, guru ngaji kami langsung berdiri dan memukuli kepala Kami satu-persatu. Suasana saat itu berubah menjadi sunyi senyap, tak ada yang berani bersuara lagi . Namun sepulang ke rumah kami gak berani mengadu kepada orang tua, karena kami memang salah.

Ketika saya mulai dewasa dan berpikir, mengingat kembali kejadian itu, saya mulai bertanya. Apa yang menyebabkan guru ngaji itu marah dan memukuli kami? Mungkin beliau merasa terganggu dengan perilaku kami. Tetapi timbul pertanyaan lagi, mengapa beliau masih terganggu?. Dan mengapa yang disalahkan kami, sehingga harus dipukuli? Bukannya kalau masih terganggu oleh suasana di luar, yang salah adalah yang merasa terganggu? Mengapa yang disalahkan selalu orang lain? Bukankah itu mencerminkan dirinya masih mengizinkan untuk diganggu? Sama seperti orang yang sakit hati, selalu saja yang disalahkan orang yang di luar dirinya. Padahal sakit hati itu adalah persoalan pribadi, karena dirinya masih mengizinkan  tersakiti. 

Kalau sedikit mau berpikir, bukankah dirinya sendiri yang rapuh? Kata-kata yang dilontarkan orang lain, mau dimasukkan ke dalam hati atau tidak, kan itu urusan diri kita sendiri. Kalau kita masih terganggu oleh keributan di luar diri kita, itu tandanya di dalam diri kita masih ribut juga. Kalau kita belum mencapai kekhusyukan dalam sholat, jangan  memaksa orang lain tenang, akan tetapi perbaiki sholat kita. Kalau kita mau berpuasa lalu memaksa orang yang tidak berpuasa harus menghormati kita, apa bedanya kita dengan yang tidak berpuasa? Sungguh sangat aneh.

Ayah Saya adalah seorang tokoh Agama di kampung. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan aturan Agama yang kami anut. Saat awal bulan Ramadhan, Ayah saya selalu menyampaikan khutbah Agama khusus buat keluarga. Dia selalu menyampaikan setiap tahun Q.S 2:183, yang berbunyi : "Hai orang-orang yang BERIMAN, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelummu agar Kamu bertaqwa." 

Saat itu Saya bertanya dengan pertanyaan yang jujur dan polos dari kebebasan berpikir seorang anak: "Ayah, yang disuruh berpuasa, yang disapa dengan "Hai..." di ayat itu kan ORANG BERIMAN, apakah kita ini orang beriman?" Sontak Ayah marah kepada saya saat itu. Saat itu Saya merasa bingung, mengapa Ayah saya marah?   Demi menghormati Ayah, saya saat itu ikut saja berpuasa sebagaimana lazimnya orang-orang di kampung. Semua anak-anak sebaya saya juga menjalankannya. Dalam diri saya terus berkecamuk pertanyaan-pertanyaan : Apakah saya ini ORANG BERIMAN atau  ORANG YANG MENGAKU BERIMAN?  Apa sesungguhnya IMAN itu? Apa sesungguhnya SHAUM yang diterjemahkan PUASA itu? Untuk apa saya harus SHAUM? Apa sesungguhnya TAQWA itu? Siapakah orang yang BERIMAN dan BERTAQWA itu?

Diam-diam saya terus melakukan pencarian akan hakikat dari semua pertanyaan yang berkecamuk dalam diriku. Saya sudah berkunjung ke banyak Pesantren, menemui banyak Tokoh Agama sahabat-sahabat Ayah saya, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan dahaga pikiran saya waktu itu.

Dalam ruang dan waktunya yang tepat, ternyata Semesta ini mengalirkan jawaban yang sangat luar biasa atas semua pertanyaan itu. Iman adalah terbukanya Mata Qolbu, agar dengan itu kita dapat mengenalNya. Shaum adalah  ber-BUKA dan Ber-JUMPA dengan DIA (hadist qudsi). Taqwa adalah sebuah LAKU yang dapat memelihara dan meningkatkan kadar Iman (Q.S 2:63). Iman, Shaum, dan Taqwa yang sesungguhnya dapat mengantarkan kita kepada tata krama dan kehalusan hati nurani untuk membentuk budi pekerti yang luhur dan akhlaq yang terpuji. 

Jadi, Iman seseorang itu akan nampak dalam perilakunya  sebagai perwujudan dari pengenalan akan diri sejatinya dan Tuhannya. Sifat-sifat Dia memanunggalkan menjadi sifat-sifatnya. Iman tidak dibatasi oleh atribut Agama.Orang yang mewarisi sebuah Agama, belum tentu mewarisi Iman. Nabi Musa sudah beragama sejak lama, tetapi baru mengawali Iman yang sesungguhnya setelah Beliau berjumpa dengan Tuhan (Q.S 7:143).

Meminjam kata-kata indah dari Bunda Teresa:  IMAN itu akan menghasilkan CINTA. CINTA akan menghasilkan PELAYANAN. PELAYANAN akan menghasilkan KEDAMAIAN. Jadi puncaknya iman adalah kedamaian. Lalu timbul pertanyaan, mengapa di banyak tempat yang sepertinya menjunjung tinggi Agama sebagai atribut selalu terjadi peperangan, pertikaian, pembunuhan, kekerasan, bom bunuh diri, kekejaman, intoleransi, tidak dapat menghargai perbedaan ? Mengapa justeru di banyak tempat yang tidak terlalu menonjolkan Agama sebagai atribut, malah disana ditemukan kedamaian, persaudaraan, saling menghormati perbedaan, saling mengasihi dan menyayangi, saling menghormati peran masing-masing, tidak ada pertikaian, hidup damai dalam harmoni penuh ketenangan dan kebahagiaan.Mengaku beriman itu tidak cukup, karena harus diakui keimanannya. Buat apa mengaku kalau tidak diakui? 

Risetnya Prof.Askari di banyak Negara dalam kurun waktu yang lama dan menyimpulkan bahwa Nilai-nilai Agama  tidak begitu tumbuh di tempat-tempat dengan mayoritas pemeluknya beragama yang bersangkutan.  Justeru Nilai-nilai Agama tumbuh dan berkembang pesat di tempat-tempat yang penduduknya justeru tidak beratribut Agama. Nilai-nilai Agama  itu adalah Ketenangan, Ketentraman, Kedamaian, Kebahagiaan, Kesucian, Kebersihan, Keindahan, dan Kemuliaan.

Ketika Agama mampu mewariskan Nilai-nilai luhur Agama, maka Agama bertransisi menjadi Spiritualitas. Itu sebabnya Agama sangat banyak, tetapi Spiritualitas hanya satu.   Rasulullah Muhammad SAW bahkan lebih banyak berbicara Spiritualitas ketimbang Agama. Demikian juga dengan Rasul-rasul sebelumnya, para Bijak Para Suci, para Sunan, Wali, para Guru-guru Kebijaksanaan yang telah mencapai PUNCAK KESADARAN.

Saya hampir tidak menemukan literatur yang mencirikan keimanan seseorang dalam bahasa ritual. Keimanan seseorang kebanyakan dicirikan dalam bahasa spiritual, bahasa kepedulian, bahasa pelayanan yang universal. Contoh dari Nabi Muhammad : "Tidaklah disebut orang beriman jika ia tidur nyenyak sementara tetangganya gak bisa tidur karena kelaparan".   Dalam statement yang lainnya : "Tidaklah disebut orang beriman jika ia melewati sebuah jalan mendapati ranting, tetapi ia tidak membuangnya"

Inilah ciri manusia beriman yang sesungguhnya. Yang memiliki kepedulian kepada sesama. Bukan manusia serakah yang hanya peduli pada kepentingan dirinya dan kelompoknya saja. Iman yang sesungguhnya melampaui suku, agama, dan segala sekat atribut yang memisahkan. Orang beriman berbuat baik kepada siapa saja tanpa dibatasi oleh perbedaan atribut. Inilah Iman yang akan menyatukan. 

Iman dalam tatanan spiritual, bukan dalam tatanan ritual. Lihatlah orang-orang yang "mengaku beriman", Tuhan yang goib disembahnya, sementara Tuhan yang Nyata disakitinya. Tuhan Yang Goib disembahnya, Rumah Ibadah orang lain yang berbeda dengan keyakinan dirinya dihancurkannya. Bahkan menghancurkan Rumah Ibadah orang lain yang berbeda dengan dirinya pun masih atas nama Tuhan dan Agama. 

Tuhan yang mana yang mengajarkan kekerasan seperti itu? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Sudah saatnya Agama berevolusi ke tatanan spiritualitas. Di Rumah Spiritualitas kita akan menemukan ketenangan dan kelembutan. Tenang dalam setiap keadaan, lembut dalam setiap tindakan. Spiritualitas tidak menghentikan datangnya masalah. Ketika sudah memasuki gerbang spiritualitas, masalah tidak lagi berwajah sebagai musuh yang menakutkan. Masalah justeru menjadi Guru Pembimbing untuk melakukan penggalian ke dalam diri yang lebih mendalam. Masalah bisa menjadi jalan untuk bertemu dengan Tuhan. (bersambung)(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia