KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanRiset Penyembuhan Kanker Darah, Penyakit yang Diderita Ibu Ani Yudhoyono oleh : Kabarindonesia
14-Feb-2019, 12:25 WIB


 
 
KabarIndonesia - Ani Yudhoyono, istri mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sakit kanker darah. Bagaimana perkembangan metode peneliti untuk penyembuhan jenis penyakit ini?Dalam keterangan resmi melalui video yang diunggah di Youtube, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberitahukan bahwa istrinya, Ani
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
KPK "Banding" Vonis JB Kotjo 15 Feb 2019 11:05 WIB

 
Hujan Lakukan Padaku 16 Feb 2019 12:08 WIB

Lika Liku Cinta 16 Feb 2019 05:24 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mengingat dan Menyebut Nama Allah

 
ROHANI

Mengingat dan Menyebut Nama Allah
Oleh : Syaiful Karim | 16-Jan-2019, 16:05:40 WIB

KabarIndonesia - Sejak kecil saya mengalami konflik kognitif yang sangat luar biasa dalam menjalankan kehidupan beragama. Hal ini disebabkan banyaknya istilah-istilah yang banyak dipakai dalam kehidupan beragama sehari-hari yang sangat berbeda dengan dengan penalaran yang jujur. 

Padahal sejak kecil saya mendengar, katanya Nabi Muhammad saja pernah mengatakan beberapa statemen berikut : "Agama adalah akal, dan tiada agamanya bagi yang tidak berakal". Dalam pernyataan lain, beliau bersabda: "Bebaskan pikiranmu, dan bebaskan kehendakmu", dan banyak lagi pernyataan-pernyataan yang lainnya. 

Berikut contoh konflik kognitif bagi saya  pribadi pada saat itu, yakni: Banyak sekali perintah Allah dalam Al-Qur'an untuk berdzikir. Dzikir artinya adalah mengingat. Tetapi dalam prakteknya malah menyebut. Sedangkan mengingat dan menyebut adalah dua pekerjaan yang sangat berbeda. Mengingat adalah pekerjaan bathin, sedangkan menyebut adalah pekerjaan mulut.

Anehnya lagi banyak orang-orang yang sedang menyebut-nyebut nama Tuhan, ketika ditanya mereka mengklaim bahwa mereka sedang berdzikir (mengingat).  Mengingat itu secara logika baru akan bisa dilakukan bila tahu yang diingat. Berarti syarat sah-nya ingat adalah harus tahu yang diingat. 

Tidaklah mungkin kita dapat mengingat sesuatu yang kita tidak tahu. Dalam Q.S 2:200, secara eksplisit Allah menyatakan bahwa mengingat Allah itu semudah mengingat Bapak kita. Pada saat ini, ketika artikel ini sedang saya buat, saya bisa mengingat Ayah saya walaupun beliau sudah lama berpulang ke  Rahmatullah, karena saya pernah berjumpa dengan beliau, karena saya mengenal beliau. 

Sebaliknya siapapun yang sedang membaca artikel saya ini, dapat dipastikan tidak akan pernah mengingat Ayah saya, sekalipun ribuan kali menyebut-nyebut nama Ayah saya. Jadi, mengingat itu bahkan sudah tidak perlu lagi menyebut. Untuk mengingat Ayah saya, tentu saja saya tidak perlu lagi menyebut-nyebut Nama beliau.   

Logika sederhana ini telah mendorong saya untuk melakukan proses pencarian dalam kurun waktu yang sangat panjang, hampir 13 tahun saya melakukan pencarian untuk mendapatkan jawabannya. Berbekal sebuah keyakinan, siapa yang mengalirkan pertanyaan ke dalam dirinya, maka semesta akan mengalirkan jawaban. 

Pertanyaan bagi pikiran yang kritis dan kreatif adalah sebuah makanan. Pikiran itu seperti parasut, baru akan berfungsi kalau terbuka. Saya membuka pikiran seluas-luasnya, sebebas-bebasnya, sejujur-jujurnya, tanpa tekanan. Ternyata, pertanyaan itu seperti sebuah kail berumpan yang dilempar ke laut lepas, pada saaatnya pasti akan disantap ikan, dan kita akan mendapatkanya.  

Para leluhur saya sering menasehatkan, mencari seseorang yang benar-benar tahu, dia itu tahu bahwa dia tahu, yang dapat mengajarkan apa yang kita tidak tahu, seperti mencari jejak elang di langit, seperti mencari jejak ikan di air, seperti mencari semut hitam legam di bebatuan berwarna hitam dalam kegelapan. Dan memang yang saya rasakan sesulit itu kalau bukan karena pertolongan Allah. 

Dalam Hadist Qudsi Allah menyatakan :"Para Wali-Ku ada dibawah naunganKU, tak akan ada yang menyentuh seorang Wali tanpa seizinKu". Makanya, bagi saya dalam kehidupan ini ada tiga Hadiah Besar yang Allah berikan kepada kita yang paling utama: Yang pertama adalah diberikan Tubuh yang sempurna, karena tubuh ini satu-satunya kendaraan yang dapat mengantarkan Sang Jiwa kepada Dia Sang Maha Jiwa. Yang kedua adalah Kehidupan yang luar biasa ini. Bagi saya Kehidupan ini adalah Hadiah Allah yang sangat luar biasa, Cinta Kasih-Nya yang tak terhingga. 

Dan yang ketiga adalah bisa bertemu dengan seseorang yang bisa dijadikan sebagai GURU yang dapat mengantarkan kita kepada Allah. Dalam perjalanan pencarian Jati Diri Pribadi, saya banyak sekali dipertemukan dengan orang yang tidak tahu, tetapi dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu, tetapi sok tahu, seperti orang yang tahu, padahal sesungguhnya dia itu tidak tahu, namun dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Bahkan ketidaktahuannya itu dia bungkus dengan segala atribut yang melekat dalam dirinya. 

Rusaknya kehidupan beragama itu karena terlalu banyak model-model manusia yang seperti ini. Terbuka mulutnya, sementara mata qolbunya masih tertutup. Terbuka mulutnya sementara pikirannya masih sempit. Merasa paling benar, lalu menghakimi orang lain yang berbeda dengan dirinya sendiri. 

Inilah yang dalam banyak Kitab Suci sering disebut sebagai Ulama Palsu, yang mengerti sesuatu baru kulitnya saja. Dan itulah yang disebut dalam Q.S 3:49 dengan sebutan penyakit kulit. Penyakit ini biasanya cepat sekali penularannya. Dan bibit intoleransi itu sumbernya dari sini, tidak dapat menerima dan menghargai perbedaan. Alergi terhadap perbedaan. 

Dalam Q.S 20:14 , Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah Sholat untuk mengingatKu'. Jadi, kita baru dikatakan telah menyembah Allah, bila sholat kita berhasil mengingat Allah. Bila Sholat kita mengingat piring berantakan di dapur, tentu saja yang kita sembah bukan Allah, melainkan piring berantakan itu, karena yang diingat ketika Sholat adalah itu. Aneh bin ajaib, banyak sekali orang yang sesungguhnya tidak menyembah Allah dalam Sholatnya, tetapi merasa paling hebat di hadapan Allah. 

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah Allah merasa disembah oleh kita? Jangan-jangan yang kita sembah selama ini adalah pikiran dan perasaan kita sendiri, bukan Allah. Ibnu Atha' dalam Kitab Al-Hikam menyatakan: "Kalau kita ingin tahu Sholat kita diterima atau tidak oleh Allah, tidak perlu bertanya kepada Allah, tetapi lihatlah perilaku kita setelah Sholat, berubahkah?".  Orang Sholatnya tidak mengingat Allah, menurut Q.S 4:142 adalah orang-orang munafik. Jadi semakin jelas bahwa menyebut dan mengingat itu adalah dua jenis pekerjaan yang sangat berbeda. 

Hampir semua perintah "MENGINGAT ALLAH" dalam Al-Qur'an selalu dimulai dengan perintah "BERHAJJI". Dalam Q.S 2:198 :"Apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, ingatlah Allah di Mas'aril Haram. Ingatlah Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu, dan sebelum itu sungguh kamu termasuk orang-orang yang sesat". ‘Arafah bukan sekedar nama tempat di Mekah sana. ‘Arafah pada hakikatnya adalah "Padang Pengenalan". 

Allah lebih dekat kepada Kita melampui dekatnya urat nadi leher kita. Berarti sesungguhnya untuk mengenal Dia kita jangan keluar dari diri kita sendiri. 
Siapa yang mencari Dia keluar dari dirinya, maka dia akan sesat sejauh-jauhnya sesat. Hajji adalah berkunjung ke Baitullah (Rumah Allah), untuk bertemu dengan Dia. 
Dalam Q.S 106:3, Allah berpesan :"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah".  Jangan menyembah RumahNya, tetapi sembahlah Dia Yang Memiliki Rumah, sembahlah Dia Sang Penghuni Rumah. 

Dalam Q.S 2:200, Allah menyatakan:"Apabila kamu telah menyelesaikan hajjimu, ingatlah Allah sebagaimana kamu mengingat Bapakmu sendiri. Bahkan kamu harus lebih banyak daripada itu." Ayat ini kembali menegaskan bahwa untuk mengingatNya, kita harus berkunjung dulu ke Baitullah, harus ber-hajji dulu, harus bertemu dulu, harus mengenal dulu. 

Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman :"Langit dan Bumi tidak akan cukup untuk menampung Zat-Ku, tetapi Qolbunya orang yang beriman, itulah sebenar-benarnya RumahKu". Makanya, puncaknya Hajji adalah Wukuf di Padang ‘Arafah. Wukuf artinya istirahat, Padang ‘Arafah adalah Tempat Mengenal. Istirahatlah sementara waktu untuk MengenalNya. Istirahat dari apa?  Istirahat dari segala kemelekatan akan hawa nafsu dan dunia. Makanya Kita harus menggunakan dua lembar kain ihram. Ihram artinya melepaskan pakaian berjahit dan diganti dengan pakaian tak berjahit, itu maknanya adalah melepaskan segala "jahitan" atau "ikatan". 

Bagaimana kita bisa menyatu dengan Allah kalau kita belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan atau jahitan-jahitan dengan selain Allah. Makanya yang menggunakan kain ihram adalah laki-laki. Laki-laki adalah simbol dari Ruhani kita. 

Itu sebabnya Hajji adalah sebuah perjalanan spiritual, bukan perjalanan material. Jadi yang harus dilepaskan adalah keterikatan Ruhani kepada hawa nafsu dan dunia. Barulah Kita kan berhasil memasuki RumahNya, dan Kita akan bersentuhan denganNya. Q.S 56:79 :"Tidak akan ada yang bisa menyentuhNya, kecuali orang-orang yang suci". 

Perjalanan Hajji pada  dasarnya adalah menyelami seluruh simbol-simbol Hajji untuk diterapkan dalam proses perjalanan Sang Jiwa untuk menemukan Sang Pemilik Jiwa. Untuk mempertemukan Nur Insani dengan Nurullah dan Nur Muhammad, untuk merasakan "rasanya" Syahadat yang sesungguhnya. 

Semoga kita semua dapat berhajji secara syariat, sekaligus menemukan hakikatnya. Pada akhirnya kita akan menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan siapa-siapa di hadapan Allah Robbul ‘Alamiin.(*)
Penulis adalah Pembina Perguruan Spiritual Itsbatulyaqiin.    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Marc Marques Juara Dunia MotoGP 09 Feb 2019 02:01 WIB


 

 
 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia