KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Merindukan Kasih Tuhan
Oleh : Js Kamdhi | 24-Des-2010, 07:49:50 WIB

KabarIndonesia - “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.  Inilah pendaftaran yang pertama diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi ke kota Nazaret di Gallilea ke Yudea, ke kota Daud yang disebut Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud, supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:1-7).

Kita merasakan, dari kutipan tersebut, bagaimana Maria dan Yusuf sebagai keturunan Daud, taat akan teradisi-budaya-adat-garis keturunan. Maria dan Yusuf berjalan puluhan kilometer untuk memenuhi tuntutan “sensus penduduk” berdasarkan garis keturunan. Maria dan Yusuf tidak hanya taat sebagai warga masyarakat-bangsa-negara, tetapi juga bangga akan “garis keturunan” yaitu keturunan Daud. Kita pun merasakan, betapa besar kasih sayang Yusuf saat menuntun keledai yang ditumpangi Maria.

Kita pun merasakan bagaimana Maria, yang sedang mengandung, tetap teguh-tegar menjalani kewajiban menghormati ‘garis keturunan’. Bahkan, begitu sampai di Yerusalem tak satupun penginapan yang tersedia. Dan, di Betlehem, Maria melahirkan di kandang penggembalaan. Yesus dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan Sahabat, karena kasih Maria dan Yusuf berjalan dari Nasaret ke tanah kelahirannya untuk memenuhi tuntutan ‘sensus penduduk’. Karena kasih Maria dan Yusuf menjalani kewajiban dengan tulus-ikhlas. Karena kasih Maria dan Yusuf tidak mengumpat begitu diusir dari tempat penginapan yang satu ke penginapan lain. Karena kasih Maria dan Yusuf membungkus anak sulungnya dengan kain lampin dan membaringkannya di palungan. Lalu, apakah yang dapat kita refleksikan dari kelahiran Sang Juru Selamat di Betlehem itu? Nilai apakah yang sangat relevan dalam perayaan Natal? Sahabat, masyarakat-bangsa-negara sangat merindukan kasih.

Masyarakat, bangsa, negara “sedang menjerit” merindukanorang-orang yang berbelaskasih, orang-orang yang mengasihi tanpa syarat, orang-orang yang mengasihi tanpa pamrih, orang-orang yang mengasihi dengan tulus-ikhlas. Masyarakat-bangsa-negara merindukan orang-orang yang tulus-ikhlas meluangkan waktu membantu sesama  “rekan seperjalanan” tanpa harus dibatasi suku-agama-golongan. Lebih dari satu dekade ini, nuansa hidup dan kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara ditandai dengan hiruk-pikuk.

Diwarnai kekerasan-pemaksaan kehendak-penghalalan segala cara. Kita dapat merasakan suatu hal yang kontradiksi dengan sebutan “masyarakat-bangsa-negara yang lemah-lembut, santun, ramah-tamah”. Seolah kita telah “bermetamopose” hingga kehilangan jati diri dengan menganakpinakan tindak kekerasan-sweeping-perang kampus-perang kampung-korupsi-membohongi rakyat.

Jika ada orang yang melihat saudaranya sedang membutuhkan pertolongan tetapi menutup belas kasihannya, bagaimana kasih Tuhan bisa ada di dalam dirinya,” sabda Tuhan. Sabda yang menegaskan kasih-belas kasih inheren, melekat erat dalam kodrat insaniah manusia. Maka, rasul sejati selalu hidup dalam kasih.“Kita harus terus-menerus hidup dalam kasih, dituntun oleh kasih, dan mengikuti kasih.” Sahabat, setiap tarikan napas, Tuhan menaruh kasih dan belas kasihan, sebagaimana matahari bersinar tanpa lelah. Sebagaimana bintang-bintang di angkasa yang yang tetap setia bersinar. Setiap tarikan napas Tuhan mengulurkan kasih dan belas kasihan.

Setiap tarikan napas Tuhan. Oleh karena itu, kita harus memperkaya batin rohani hingga mampu menangkap sinar kasih dan belas kasih Tuhan. Kita harus terus-menerus mempertajam mata batin rohani hingga melihat tangan kasih Tuhan yang selalu terulur. Sahabat, ketika Tuhan menciptakan kita, Tuhan menaruh kasih supratural-Nya dalam hati kita. Bertumbuh-berkembang selama 9 bulan 10 hari dalam rahim ibu dalam sifat kodrati: bonum-verum-pulchrum-sanctum (baik-benar-mulia-kudus).

Tuhan menaruh dalam kodrat insaniah manusia roh yang baik, penuh perhatian, lembah-lembut, penuh kasih. Itu sebabnya, setiap manusia memiliki kesamaan kodrat hingga berkemampuan mengerti perasaan orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain: suka-duka, bahagia-sengsara, gagal-sukses, sedih-gembira. Kasih supranatural Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia selayaklah bertumbuh-berkembang-berbuah.

Masalahnya, kini, mengapa kasih supranatural Tuhan itu seolah hilang dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara? Apakah kita menyediakan diri untuk membuat perubahan yang dilandasi kasih dan belas kasihan? Apakah kita selalu berusaha mendorong semangat orang lain (tanpa membedakan suku-golongan-agama) serta membangkitkan semangat hidup dalam kasih dan belas-kasihan?

Apakah kita mengalirkan kasih supranatural Tuhan kepada sesama yang membutuhkan. Sahabat, perjalanan Maria-Yusuf dari Nasaret ke Yerusalem menyeruakkan getaran kasih untuk mencintai tanah kelahiran, garis keturunan, adat-budaya. Perjalanan panjang Maria-Yusuf merupakan simbol bahwa hidup dalam kasih supranatural Tuhan berlekuk-berliku-penuh tantangan. Perjalanan panjang Maria-Yusuf, dengan puncak kelahiran Yesus di kandang domba merupakan tanda penyerahan total pada sesame. Tanda kesederhanaan. Tanda ketulusan. Tanda campur-tangan Tuhan dalam hidup setiap manusia. (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia