KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
EkonomiMenjadi Milenial Produktif Masa Pandemi Covid-19 oleh : Setyo Sudirman
09-Sep-2020, 16:35 WIB


 
 
KabarIndonesia - Salah satu kepiawaian generasi milenial dibandingkan generasi sebelumnya adalah kemahiran dalam teknologi. Boleh dikata, generasi memang sudah terpapar teknologi sudah sejak lahir.

Kalau generasi sebelum milenial biasa menikmati teknologi dengan gegap gempita televisi, milenial sudah beda arahnya dengan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Pdt. Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D Tokoh Gereja dan Pendiri GBI Bethany Meninggal Dunia
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 08-Aug-2020, 09:53:52 WIB

KabarIndonesia - "Shalom, telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Pahlawan Iman yang kita kasihi. Beliau telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara IMAN," tulis Joshua Ivan pada blog (http://joshuaivanministries.blogspot.com/2020/08/selamat-jalan-ps-abraham-alex.html) berdasarkan informasi dari pihak keluarga almarhum.

Diinformasikan, Ps. Abraham Alex Tanuseputra (Pdt. Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D) telah meninggal dunia dengan tenang pada hari Kamis, 6 Agustus 2020, pukul 21.30 WIB, dalam Usia 79 tahun ( 1 Juni 1941- 6 Agustus 2020 ). Jenasah disemayamkan di rumah duka Surabaya dan akan dikebumikan di Pemakaman Kembang Kuning, berdampingan dengan Istri tercinta almarhum ibu Yenny Oentari, pada Sabtu 8 Agustus 2020 Pukul : 09.00 WIB.

Sejarah Kehidupan dan Pelayanannya (sumber Wikipedia Indonesia)

Pdt. Prof. Dr. Abraham Alex Tanuseputra, Ph.D (lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Juni 1941; umur 79 tahun) adalah seorang pendeta dan tokoh gereja di Indonesia. Ia merupakan pendiri GBI Bethany (sekarang menjadi Sinode Gereja Bethany Indonesia) dan merupakan Ketua Umum dari Sinode Gereja Bethany Indonesia untuk periode 2003-2007.

Alex dilahirkan sebagai anak kedua dari empat bersaudara (seluruhnya laki-laki) dalam sebuah keluarga apoteker. Ayahnya meninggal tiga bulan setelah menjadi pemeluk Kristen, sementara keluarga ibunya memang merupakan keluarga Kristen.

Pdt Alex menikah dengan Yenny Oentario pada 23 Februari 1963. Pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, yaitu Pdt. Hanna Asti Tanuseputra atau Hanna Hadisiswantoro, Pdt. David Aswin Tanuseputra, dan Andreas Tanuseputra. Putrinya, Hanna menikah dengan Pdt. Dr. Yusak Hadisiswantoro, MA. Dari putri pertamanya, Pdt Alex mendapatkan tiga cucu, dari putranya yang kedua mendapatkan dua orang cucu dan dari putra yang ketiga adalah empat orang cucu. Ketiga orang anak dan menantu Pdt Alex terlibat aktif dalam Gereja Bethany.

Tahun 1954, Alex Tanuseputra merupakan seorang pengusaha apotek yang melanjutkan usaha ibunya. Sebagai keluarga Kristen, Alex telah pergi ke Gereja tetapi selalu menghindar ketika ditawari untuk melayani. Dalam sebuah pelayanan oleh Pdt. Dzao Sze Kwang, ia dinubuatkan akan menjadi Pelayan Tuhan. Nubuatan ini diteguhkan kemudian oleh Pdt. EB Stube.

Pada tahun 1965, Alex menabrak seorang anak kecil. Anak kecil tersebut terluka sangat parah dan kematiannya tinggal menunggu waktu. Keluarga anak tersebut mengancam akan membunuhnya bila anak tersebut mati. Alex pergi ke sebuah gereja dan berdoa semalam-malaman dan bernazar bahwa ia akan menyerah dan menjadi Pelayan Tuhan jikalau anak tersebut sembuh dan hidup.

Keajaiban terjadi dan anak yang sekarat itu kemudian berhasil dioperasi, sembuh, dan tetap hidup. Alex menyerahkan diri untuk melayani di gereja dan menjual hartanya, mendirikan 14 gedung gereja dan pos-pos penginjilan di Mojokerto.

Pada tahun 1977, Pdt. Alex pindah ke Surabaya beserta seluruh keluarganya. Seluruh 14 gereja yang telah didirikannya diberikan kepada pendeta lainnya. Ia memulai kembali membangun jemaat yang diawali dari 7 orang keluarganya sendiri. Pdt. Alex kemudian bergabung di Sinode Gereja Bethel Indonesia yang memiliki sifat gereja lokal otonom.

Pada tahun 1987, sebuah gedung gereja di Jl. Manyar Rejo II/36-38 selesai dibangun. Pada saat itu, jemaat GBI yang digembalakannya telah mencapai 2.000 jiwa dari 7 orang pada tahun 1977. Pada tahun 1987 ini, diperkenalkan visi slogan "Successful Bethany Families".

Pada tahun yang sama, tak lama setelah gedung GBI Bethany Jl. Manyar Rejo berdiri, Pdt. Alex memulai kembali visi pembangunan Graha Bethany di Jalan Nginden, Surabaya. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 2000 dan memiliki kapasitas 20.000 orang jemaat. Gedung ini dianggap sebagai gedung gereja terbesar di Asia Tenggara.

Tahun 1988 dan 1989, GBI Bethany memulai pembukaan cabang di Indonesia bagian Barat dan Timur (Bethany Barat dan Timur). GBI Bethany menjadi salah satu bagian jemaat terbesar dari Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI).

Tahun 1997, Sinode GBI mengeluarkan keputusan bahwa nama-nama jemaat lokal (seperti Bethany, Tiberias, Mawar Saron, Rehobot, dan lain-lain) harus ditanggalkan dan digantikan dengan nama jalan di mana gereja lokal berdiri. Keputusan ini membawa kepada kerumitan bagi jemaat-jemaat lokal yang telah besar seperti Bethany dan yang lainnya. Banyak dari jemaat lokal yang belum mematuhi keputusan tersebut.

Tahun 2000, Sinode GBI kembali meneguhkan keputusan 1997 tentang penanggalan nama-nama jemaat lokal. Akhirnya, pada tahun 2002, GBI Bethany Barat (di bawah Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo) dan Timur (di bawah Pdt. Dr. Ir. Timotius Arifin Tedjasukmana) menanggalkan nama Bethany. Sementara itu, Bethany Wilayah Indonesia Tengah bersedia menurunkan nama Bethany namun menolak menurunkan visi Successful Bethany Families.

Tahun 2003, pada tanggal 17 Januari 2003, GBI Bethany Wilayah Indonesia Bagian Tengah secara resmi mengundurkan diri dari Sinode GBI dan mendirikan sebuah Sinode baru bernama Sinode Gereja Bethany Indonesia. Pada 15 April 2004, dimulai rencana pembangunan Menara Doa Jakarta.

Tahun 2005, PT. Prasada Jasa Pamudja memulai kembali pembangunan Menara Jakarta setelah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Pdt. Alex merupakan Presiden Komisaris dari perusahaan konstruksi tersebut. Di lingkup Gereja Bethany, menara ini biasa disebut sebagai Menara Doa Jakarta atau Jakarta Revival Center.

Pada 2009, dimulai pembangunan tahap kedua Graha Bethany Nginden dengan jumlah jemaat menjadi 35.000 dalam satu kali ibadah, dan telah diresmikan pada SPGI 2010.

Pada SPGI 2010 terjadi rekonsiliasi antara Pdt. DR. Abraham Alex Tanuseputra, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo dan Pdt. DR. Ir. Timotius Arifin Tedjasukmana setelah tujuh tahun terjadi ketidakharmonisan di antara mereka sehingga terjadilah kembali kesatuan hati kembali di antara mereka para pemimpin Bethany.

Pada tahun 2012, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra mengundang Pastor Benny Hinn untuk hadir di KKR yang berlangsung di Graha Bethany Nginden, Surabaya dan berdoa serta mengurapi secara langsung Pastor Benny Hinn. Pdt. Alex merupakan satu-satunya hamba TUHAN di dunia yang menumpangkan tangan secara langsung mengurapi Pastor Benny Hinn mendoakan pelayanan dan kesatuan keluarga Pastor Benny Hinn. Pada tahun yang sama diwariskanlah penggembalaan Gereja Bethany Graha Bethany Nginden Surabaya kepada putra pertamanya (anak ke dua) Pdt. David Aswin Tanuseputra (sekaligus menjadi Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Indonesia).

Pada tahun 2013, Gereja Bethany kembali mengadakan KKR bersama Pastor Benny Hinn bersamaan dengan SEMINAR KESATUAN GEREJA INTERNASIONAL (SKGI) 2013. SKGI 2013 dilayani oleh Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, Pdt. Niko Njotorahardjo, Pastor Benny Hinn, Pdt. Timotius Arifin, Pdt. K.A.M. Jusuf Ronni, Pdt. Dwidjo Saputro, Pdt. Josia Abdisaputera, Pdt. Eddy Leo, Rev Floyd Lawhon dan Pdt. Jusuf BS. Pada tahun ini TUHAN menjawab doa Pdt. Alex untuk Ps. Benny pada tahun 2012 dengan bersatunya kembali Pastor Benny dan istrinya yang ditandai dengan pernikahan kembali yang dilangsungkan antara Ps. Benny Hinn dan istrinya Suzanne Hinn pada tanggal 3 Maret 2013. Pada tahun yang sama, kisah perjalanan hidup Pdt. Alex diangkat kedalam film layar lebar Optatissimus (Doa Pertama) yang tayang di seluruh jaringan bioskop XXI pada tanggal 23 Mei 2013. Pada tahun yang sama juga, Proyek Menara Jakarta kembali ditangani dan dilanjutkan oleh Pdt. Alex dan Gereja Bethany Indonesia.

Pada tahun 2014, Seminar Kesatuan Gereja Internasional diadakan di Kota Jakarta di Istora Senayan. Seminar ini diadakan oleh Menara Doa Jakarta (Pdt. Abraham Alex Tanuseputra) dan didukung Billion Soul Summit Indonesia. Sejak tahun 2014 ini, Dia mendirikan wadah pelayanan baru bernama Alex Tanuseputra Ministries sesuai dengan Visi yang Tuhan berikan kepadanya untuk Kesatuan Tubuh Kristus, sehingga Dia dapat melayani Seluruh Gereja Tuhan Interdenominasi. Mulai pada tahun ini, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra mendirikan Alex Tanuseputra Ministry dan menjadi hamba Tuhan yang melayani gereja-gereja interdenominasi

Pada tahun 2015, SKGI diadakan di 2 tempat yang berbeda yaitu di Jakarta dan Bandung. Di Jakarta dilayani Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, Pdt. Gilbert Lumoindong, Ps. DR. Peter Kumar, Ps. David Wu, Rm. Aurelius Pati Soge, Pdt. Noldy Luntungan, Pdt. Gondowijoyo. Di Bandung dilayani Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, Ps. Henry Hinn (adik kandung Ps. Benny Hinn) dan Ps. DR. Peter Kumar. SKGI diadakan secara gratis dan terbuka untuk seluruh denominasi gereja Tuhan Kristen dan Katolik. Visi Tuhan untuk Pdt. Abraham Alex Tanuseputra adalah untuk melayani pribadi lepas pribadi, menjawab kerinduan Tuhan Yesus akan kesatuan Tubuh Kristus menjelang kedatanganNya untuk kali yang kedua.

The Last Movement

Menurut Jhosua Ivan Sudrajat: "Satu hal yang saya ingat ketika dia (Pdt Abraham Alex T) kotbah tahun lalu di salah satu streaming Gereja di Jawa Tengah. Beliau mengkotbahkan tentang *The Last Movement*. Beliau mengatakan bahwa ini adalah Kegerakan Allah Yang Terakhir. Saya tidak tahu bisa melihat Kegerakan Allah yang terakhir di Indonesia ini. Saya melihat ada Pencurahan Roh Kudus sangat besar di Indonesia."

" Warisan Rohani yang bisa saya Tangkap Adalah Berjalan Bersama Roh Kudus. Hidup Dalam Karunia-Karunia Roh Kudus. Pada hari-hari terakhir ini beliau melihat ada Pencurahan Roh Kudus besar-besaran di Indonesia.
Anak-anak Tuhan akan berjalan dengan Kuasa dan Otoritas Dari Tuhan untuk melakukan Tanda-tanda yang ajaib." lanjut Jhosua, dan menambahkan bahwa Pdt.Dr. Abraham Alex melepaskan Jubah untuk The Last Movement di Indonesia.

Selamat jalan tokoh gereja, istirahat dalam damai bersama Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus di Keabadian. Amin. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia