KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilDian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia oleh : Robert - Hoki
15-Sep-2014, 11:02 WIB


 
 
Dian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia
KabarIndonesia - Belanda, Kompetisi bisnis antar maskapai penerbangan di Indonesia tergolong tinggi. Pasalnya banyak perusahaan swasta, asing dan milik negara yang memperebutkan pelanggan.
Kesuksesan Garuda Indonesia, sebagai salah satu perusahaan berpelat merah (milik negara) yang bergerak dalam dunia penerbangan dalam negeri
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

Pergi 12 Sep 2014 12:44 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 
 
OPINI

KEBANGKITAN NASIONAL DAN TANTANGAN GLOBALISASI
Oleh : R. Masrr | 25-Mei-2007, 11:42:36 WIB

KabarIndonesia - Meskipun telah hampir satu abad berlalu sejak peristiwa pembentukan organisasi pergerakan Budi Utomo yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tema peristiwa tersebut masih relevan hingga saat ini. Agak mengejutkan memang bila melihat bahwa dalam rentang hampir satu abad tersebut bangsa Indonesia masih menghadapi tantangan yang sama dalam upaya kebangkitan nasionalnya, yaitu globalisasi dan pengaruh asing yang menyertainya. 99 tahun yang lalu, tantangan tersebut berbentuk penjajahan oleh bangsa asing, dan sekarang tantangan tersebut datang dalam bentuk dominasi asing dalam berbagai aspek kehidupan.

Globalisasi sendiri merupakan fakta yang tidak bisa terbendung dan ini bukan gejala baru. Fenomena ini memang semakin terasa beberapa dekade terakhir berkat semakin majunya teknologi transportasi dan komunikasi. Namun sebenarnya telah mulai terbentuk ratusan tahun silam, ketika masa penjelajahan seberang lautan yang didorong motif-motif ekonomi, politik dan militer dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Argumen-argumen pro dan kontra globalisasi telah habis dikupas namun yang pasti ancaman globalisasi terhadap kepentingan nasional memang begitu menakutkan hingga beberapa negara saat ini, seperti Korea Utara dan Kuba, secara efektif mengisolasi diri. Bahkan di negara-negara industri maju pun, banyak segmen masyarakat yang khawatir terhadap ancaman globalisasi perekonomian terhadap kepentingan mereka. Di Amerika Serikat, lobi industri pertanian sangat kuat untuk melakukan proteksi, mungkin belajar dari pengalaman penduduk asli, kaum Indian, yang punah menjadi korban pertama dari gelombang globalisasi.

Di Indonesia perdebatan mengenai dampak negatif dari globalisasi serta pengaruh dan dominasi asing semakin menghangat terutama mengenai pengaruh IMF dalam krisis ekonomi dan dominasi perusahaan-perusahaan asing pada industri-industri strategis seperti perbankan, telekomunikasi, pertambangan serta minyak dan gas bumi. Perdebatan juga semakin diperhangat dengan diskusi mengenai teori-teori konspirasi yang berkaitan dengan globalisasi ekonomi, yang antara lain dipicu oleh kontroversi buku Confessions of an Economic Hitman, karya John Perkins.

Terlepas dari benar atau tidaknya klaim-klaim yang disebutkan dalam berbagai teori konspirasi tersebut, sejarah menunjukkan bahwa globalisasi memang memiliki sifat mengancam yang menakutkan. Dua kali perang dunia pada abad lalu dipicu oleh persaingan global untuk memperebutkan sumber daya ekonomi. Contoh paling mutakhir: pendudukan Amerika Serikat atas Irak yang telah berlangsung 4 tahun juga menunjukkan hal yang sama meskipun dibungkus dengan berbagai argumen.

Namun demikian, suka atau tidak suka, globalisasi adalah fakta yang harus dihadapi. Belum pernah dalam sejarah terdapat suatu negara yang mampu secara konsisten menghadapi globalisasi dengan menutup diri. Isolasi hanya mengakibatkan terhambatnya pertukaran gagasan dan teknologi yang mengakibatkan kemunduran. Cina merupakan contoh paling klasik. Politik isolasi China dimulai ketika teknologi navigasi kelautan dipandang mulai memberikan ancaman sebagai sumber masuknya pengaruh asing. Namun pada akhir abad ke-19 China yang lemah dalam hal teknologi dan ekonomi tidak mampu menahan penggerogotan yang dilakukan kekuatan-kekuatan asing.

Jepang menutup diri setelah misi dagang Eropa dipandang mulai melakukan aktifitas-aktiftas yang mengancam kepentingan nasional, namun 200 tahun kemudian pada pertengahan abad ke-19 sekelompok kecil kapal Angkatan Laut Amerika Serikat berhasil memaksa Jepang yang ketinggalan jaman untuk membuka diri terhadap perdagangan global. Secara alamiah masyarakat memiliki kebutuhan untuk berinteraksi, dan berkompetisi. Politik isolasi menghambat proses alamiah tersebut.

Klise untuk diucapkan bahwa kunci sebenarnya bukanlah menghindari globalisasi namun mengelola tantangan yang dibawa oleh globalisasi. Namun memang demikian yang terjadi. Jelas terdapat banyak negara dan masyarakat yang hancur dan terbelenggu oleh dominasi asing yang dibawa oleh globalisasi, namun banyak juga yang dengan cerdik mengambil manfaat dan berhasil berjuang menghadapinya. Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan, misalnya, adalah negara-negara yang ‘dikuasai’ dan ‘dimanfaatkan’, kalau tidak bisa disebut sebagai sekutu oleh Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya. Namun negara-negara ini mampu memanfaatkan ‘kedekatan’ mereka dengan Amerika Serikat untuk membangun fondasi ekonomi dan teknologi yang solid untuk kepentingan mereka sendiri. Bandingkan dengan Indonesia, Pakistan dan Filipina misalnya, yang juga merupakan ‘sekutu’ Amerika Serikat dalam perang dingin, namun tetap mengalami kebangkrutan. Dominasi dan intervensi asing dalam berbagai aspek kehidupan di berbagai negara merupakan sesuatu yang secara alamiah pasti terjadi. Dan di banyak negara bentuk-bentuk intervensi tersebut bahkan mungkin jauh lebih tinggi intensitasnya.

Jepang merupakan contoh yang sangat tepat. Menjadi musuh Amerika Serikat dalam Perang Dunia kedua, kalah, dijajah selama enam tahun, Jepang mampu menjadi superpower ekonomi dalam waktu cukup singkat. Pada tahun 1985 ketika Amerika Serikat merasa produk-produk otomotif Jepang mulai mengancam industrinya, Jepang dipaksa menerima Plaza Accord yang menaikkan nilai tukar Yen dan mengakibatkan harga produk-produk Jepang menjadi luar biasa mahal. Industri otomotif Jepang bereaksi dengan memindahkan pabrikasi mereka ke negara-negara lain (termasuk ke Amerika Serikat) dan memperkuat integrasi regional untuk menghindari biaya tinggi. Tidak sampai satu dekade kemudian Jepang justru berhasil mendominasi perekonomian Amerika, bahkan juga menguasai sektor-sektor yang strategis dan prestigius seperti properti, media dan hiburan.

Contoh lain adalah China dan India. China tetap merupakan musuh ideologis Amerika Serikat, namun tidak menghalanginya untuk membangun diri menjadi superpower ekonomi yang baru. Sebagai sekutu dekat Uni Sovyet selama perang dingin, India jelas mengalami ‘pembalasan dendam’ setelah berakhirnya perang dingin yang dimenangkan Amerika Serikat. Namun hal tersebut tidak menghalangi India untuk mengembangkan industri teknologi informasi yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonominya.

Pada industri minyak dan gas yang seringkali disebut sebagai contoh yang sangat relevan dalam hal penguasaan asing juga terdapat beberapa contoh di mana negara-negara berkembang mampu mengembangkan industri dan perusahaan nasionalnya di tengah tekanan globalisasi. Malaysia, Brazil dan Norwegia merupakan beberapa contoh negara yang mampu mempertahankan penguasaan mereka dalam industri minyak dan gas nasional dan bahkan mengembangkan perusahaan-perusahaan nasional mereka ke skala global dengan berupaya mengatasi tantangan-tantangan pasar bebas yang dipaksakan oleh proses globalisasi.

Peringatan Kebangkitan Nasional ini seharusnya dapat dijadikan momentum untuk menyudahi polemik dan retorika anti pengaruh asing dan globalisasi. Globalisasi dan pengaruh asing sudah menjadi kekuatan alamiah yang mempengaruhi semua masyarakat di muka bumi, sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Pilihan yang tersedia hanyalah menghadapinya dengan cermat. Pengaruh asing dapat dianalogikan sebagai virus yang menakutkan, namun selama ketahanan nasional sebagai sistem kekebalan tubuh cukup kuat, virus tersebut seharusnya tidak menjadi kekuatan yang mengancam. Polemik dan retorika tidak membantu menciptakan daya saing yang diperlukan untuk terwujudnya Kebangkitan Nasional.

Tidak perlu paranoid dan rendah diri. Indonesia beberapa kali pernah menelurkan gagasan-gagasan besar sebagai jawaban atas tantangan globalisasi. Indonesia merupakan negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaannya setelah Perang Dunia kedua berakhir dan merupakan penggagas berdirinya Gerakan Non Blok pada masa perang dingin. Indonesia juga merupakan penggagas sistem bagi hasil dalam industri minyak dan gas sebagai alternatif terhadap sistem konsesi yang dianggap sebagai bentuk kolonialisme baru. Kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam implementasi gagasan-gagasan besar tersebut seharusnya dapat menjadi pemacu semangat dalam melakukan perencanaan strategi dan konsolidasi yang lebih baik dalam peningkatan kemampuan untuk menghadapi tantangan globalisasi.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Bisnis Fotocopy Semakin Kreatifoleh : Jumari Haryadi
11-Sep-2014, 11:53 WIB


 
  Bisnis Fotocopy Semakin Kreatif Jika ingin sukses berbisnis, diperlukan ide-ide kreatif dan inovatif agar bisa memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif. Tampak sebuah usaha jasa fotocopy di Jalan Cihanjuang, Cimahi (10/09) yang memiliki cara kreatif dalam menarik calon konsumennya yaitu dengan berjualan Alat Tulis
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Desa di Sumut Butuh Dokter 15 Sep 2014 10:43 WIB

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia