KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon oleh : Bambang
20-Okt-2014, 17:51 WIB


 
 
Jokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon
KabarIndonesia - Alhamdulillah, akhirnya sang ksatria piningit dari kota Bengawan Solo, penyuka musik keras Metallicca & Arkana yang juga pengusaha mebel, mantan Walikotra Solo & Gubernur DKI Jaya yang mencintai kedamaian, Ir Haji Joko Widodo, alias Jokowi dan juragan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Polsek Rappocini Tangkap Buronan 19 Okt 2014 00:16 WIB

 
Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

PerlindunganNya di Bebas Hambatan 16 Okt 2014 17:30 WIB

 
Tigi Menuju Perubahan! 25 Sep 2014 13:11 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Mitos Ratu Adil; Antara ada dan Tiada
Oleh : Agus Wibowo | 09-Jun-2007, 16:01:11 WIB

KabarIndonesia - Budaya Jawa kaya dengan mitos simbolismenya yang masih relevan dengan konteks kekinian. Salah satunya mitos kepemimpinan ratu adil. Sosok fenomenal ini muncul bersamaan dengan ramalan Jayabaya.

Ramalan Jayabaya tidak saja terkenal di kalangan masyarakat Jawa, tetapi juga penjajah Belanda. Pada era-penjajahan, berkali-kali terjadi gerakan rakyat mengatas namakan Ratu Adil di berbagai penjuru tanah Jawa. Gerakan ini bertujuan mengusir penjajah Belanda. Menurut laporan gubernur J.P Coen kepada direksi VOC di Belada, disebutkan bahwa penyerangan Sultan Agung atas VOC di Batavia (1613-1645) sedikit banyak di latar belakangi mitos Sultan Agung sebagai sang Adil tersebut.

Historisitas Ramalan Jayabaya atau jangka Jayabaya, menurut penelisikan Sartono Kartodirdjo (1971), ditulis oleh Raja Jayabaya —seorang tokoh mistik, tokoh mitos sekaligus tokoh legenda— yang diperkirakan menjadi raja di Mameneng (kini daerah Kediri) antara tahun 1135-1157 M.

Sejatinya mitos Ratu Adil hanya merupakan fenomena sosiokultural yang imaginatif, dan sebuah hal yang absurd untuk direalisasikan, tetapi mampu memberikan harapan sekaligus semangat “elan vital” bagi masyarakat pribumi guna melawan penindasan.

Sosok individu dan Legitimasi Politik

Ratu Adil selalu mempribadi pada sosok individu. Beberapa sejarawan Belanda bahkan menggambarkan Ratu Adil sebagai pribadi yang digdaya dalam segala hal: jiwa nasionalisme, intelektualisme, daya religius yang serba briliyan dan perfeksionistis. Dr. G.W.J Drewes dalam tulisannya De drie javaansche Goeroe’s (1925) menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro juga dipercayai rakyat sebagai penjelmaan dari Ratu Adil. Sesudah Diponegoro, muncul figur baru yang mengaku sebagai Ratu Adil, misalnya Kyai Hasan Maulani di Lengkong (1824), Mas Malayadi di Rejowono Kidul (1870) dan Nur Karim dari Pasar Wetan (1870-1875).

Pada masa sebelum dan sesudah perang kemerdekaan, muncul sejumlah nama yang dipercayai sebagai Ratu Adil. Misalnya nama Cokroaminoto dihubungkan dengan Herucokro, nama lain dari Ratu Adil. Rakyat menganggap pemimpin Serikat Islam (SI) ini sebagai penjelmaan Ratu adil. Tetapi HOS Cokroaminoto menyatakan bahwa sosok Ratu Adil bukan mempribadi pada sosok individu, tetapi ia muncul dalam bentuk sosialisme. Pernyataan Cokroaminoto tersebut sekaligus menepis kesan mistik atas dirinya. Rakyat kemudian beralih pada Sukarno —yang mengaku sebagai putra sang fajar— sebagai salah seorang penerima “wahyu” Ratu adil.

Setelah reformasi digulirkan, mitos Ratu Adil kembali menjadi salah satu penentu para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Para elit politik kemudian membangun wacana publik bahwa dirinya merupakan keturunan orang pilihan dan berhak menyandang gelar Ratu Adil tersebut. Sebut misalnya nama Amin Rais yang dikaitkan sebagai keturunan Prabu Brawijaya, SBY yang dikaitkan dengan “pangeran dari tanah Kediri” atau Gus Dur dengan sosok “Satria Pinandita” (kesatria sekaligus guru agama) dan lain-lainnya.

Legitimasi politis mitos Ratu Adil memang memiliki dampak positif jika digunakan untuk tujuan mulia. Hal ini pernah ditangkap secara arif oleh pangeran Diponegoro. Untuk menguatkan bahwa seolah-olah dirinya adalah penjelmaan Ratu Adil, pangeran Diponegoro bahkan mengisahkan dalam Babad-nya bahwa dirinya memperoleh ilham untuk meneruskan peperangan setelah bertemu dengan apa yang disebutnya Ratu Adil. Sang pangeran telah ditakdirkan untuk berperang dalam merebut tanah Jawa. Legitimasi mitos ini pada akhirnya berhasil menggerakkan rakyat untuk melawan penjajah Belanda dengan nama perang Jawi. Pemberontakan paling besar dan paling lama penduduk pribumi atas pemerintahan belanda di Jawa.

Presiden Sukarno juga mengambil keuntungan dari mitos ini. Ia berusaha mempelajari bagaimana karakter tokoh mitos yang mempunyai daya gerak begitu besar pada rakyat pribumi tersebut. Akhirnya, Sukarno berhasil membangkitkan rasa nasionalisme dan kepatuhan membabi-buta rakyat Indonesia atas dirinya. Sayangnya, pengkultusan atas dirinya dilakukan secara berlebih hingga sempat menobatkan dirinya sebagai “presiden seumur hidup”.

Jika melihat perjalanan sejarah pemerintah Indonesia sejak zaman pra-kemerdekaan hingga sekarang, nampaknya pemerintah yang berkuasa dengan plus minusnya belum tepat disebut sebagai representasi sosok Ratu Adil. Misalkan Sukarno dengan ciri khas: tegas, radikal, merakyat serta nasionalis. Tetapi Sukarno kurang memperhatikan aspirasi rakyat serta memerintah dengan menuruti kemauannya sendiri.

Gaya kepemimpinan Suharto yang patut diacungi jempol adalah manajemen birokrasi yang perfeksionis sempat menghantarkannya sebagai “Raja Kecil” di Asia yang memerintah selama 32 tahun. Namun sikap arogansi pemerintahannya yang sarat KKN, menjadi aib. Sama halnya dengan pemerintah era reformasi mulai dari Habibi, Gus Dur, Megawati hingga SBY, “terlalu lemah” dalam menjalankan roda pemerintahan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sesungguhnya apa dan siapa sosok “Ratu Adil” tersebut?

Misi Pembebasan

Sejatinya sosok Ratu Adil seperti halnya Mesianisme bagi bangsa Yahudi; harapan rakyat akan datangnya sang penolong yang bakal melenyapkan kekacauan, kejahatan, dan memerintah dengan adil dan makmur. Gerakan Ratu Adil dipicu oleh kesengsaraan rakyat. Sensibilitas rakyat terjajah yang penuh penderitaan, terhipnotis cerita usaha perubahan dan perbaikan nasib yang diharapkan dengan kedatangan ratu adil tersebut.

Menjelang kedatangan Ratu Adil, digambarkan muncul fenomena alam dan masyarakat yang amat kritis, bencana alam disusul dengan kesengsaraan rakyat, tata-susila merosot dan kejahatan meraja lela. Pada suasana yang carut-marut demikian, munculah raja yang diramal mendatangkan kebahagiaan dalam negeri yang adil dan makmur.

HOS Cokroaminoto pernah menolak bahwa dirinya-lah sosok Ratu Adil tersebut. Menurutnya Ratu Adil adalah simbol kemakmuran yang diwujudkan melalui sosialisme. Jika sosialisme berhasil mengakar dalam kehidupan bangsa ini, maka munculah Ratu Adil tersebut. Ratu adil menurutnya adalah sosialisme. Hal ini dituliskannya dalam majalah Het Tijdschrift (1912: 549-551) bahwa ratu adil tiada lain pengejawantahan jiwa dan kemajuan politik dan ekonomi; suatu hasil angan-angan manusia.

Sukarno sendiri secara jujur melukiskan: “rakyat sengsara dalam kegelapan menanti matahari terbit, rakyat yang menanti sang matahari selalu menangis karena derita nestapa, sang matahari itu tiada lain ialah masyarakat yang adil dan makmur dengan sarana utama kemerdekaan tanah air dan bangsanya”.

Mitos Ratu Adil —yang merupakan simbol perlawanan rakyat— hanya bisa diwujudkan jika rakyat menyatukan tekad untuk membersihkan diri dari segala kotoran hawa nafsu dan egoisme serta memupuk solidaritas sosial yang mendalam. Juga dibutuhkan keikhlasan para pemimpin negara untuk memberi tauladan yang menunjukkan kesungguhan hati hendak memberikan keadilan dan kemakmuran kepada rakyat.[]

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 

 

 
Valentino Rossi Puji Marc Marquez 18 Okt 2014 23:59 WIB


 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia