KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PemiluPasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014 oleh : Badiyo
26-Jul-2014, 23:44 WIB


 
 
Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014
KabarIndonesia – Jakarta, Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara nasional Pemilihan Presiden (Pilpres), yang berlangsung hari Selasa (22/7) mulai pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

BAGAIMANA PANCASILA ITU: Sebuah Tinjauan Filsafat Kebangsaan

 
OPINI

BAGAIMANA PANCASILA ITU: Sebuah Tinjauan Filsafat Kebangsaan
Oleh : Dn Antasena | 04-Okt-2007, 22:16:55 WIB

KabarIndonesia - Pancasila lahir pada pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 dalam rapat PPKI membahas tentang pembentukan Negara Indonesia yang merdeka. Pancasila adalah falsafah Negara; pondasi; yang diistilahkan bung Karno sebagai “weltanschauung”. Corak kebangsaan, yang tak pernah akan berubah dan selalu begitu adanya. “Pancasila” adalah salah satu pilihan diantara 3 nama corak kebangsaan itu. Dua lainnya adalah “Gotong Royong” dan “Trisila”. Kebersatuan, bukan kesatuan!!

Jika sekarang ini Pancasila dijadikan sebagai asas tunggal, sama halnya dengan “mendustai” hakekat Pancasila itu sendiri. Pancasila, sekali lagi, adalah kegotongroyongan; kebersatuan; kebersatuan, dimana perbedaan menjadi kekayaan, bukan menjadi kelemahan. Sejak dari dulunya, bukan Pancasila yang mengajarkan kepada kita tentang phobia terhadap perbedaan. Pancasila yang saya pelajari di bangku sekolah dan kuliah, sama sekali berbeda dengan maksud yang dikandung dalam pidato Bung Karno di hari kelahiran Pancasila itu. “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang menjadi ekspresi bahwa eksistensi Indonesia mustahil tanpa Rahmat Tuhan, diterjemahkan oleh orde baru menjadi agama hanya 5 di Indonesia; yang selain itu dinamakan kepercayaan.

“Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab”
yang ditranslasi dari “Internasionalisme/Perikemanusiaan”, sebagai tekad bangsa Indonesia untuk berperan aktif membebaskan dunia penjajahan dan penindasan, diterjemahkan orba sebagai perilaku saling mengasihi sesama manusia dengan pendangkalan pemahamannya.

“Persatuan Indonesia” dari asalnya “Kebangsaan Indonesia” yang merupakan cermin Kebersatuan daerah-daerah yang beraneka-ragam adat-istiadatnya sebagai kekuatan nasional, diterjemahkan sebagai keharusan menjunjung tinggi rezim pemerintahan dengan dalih kepentingan stabilitas keamanan nasional.

“Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan” yang ditranslasi dari “Mufakat/Demokrasi” sebagai ekspresi demokrasi kegotongroyongan dalam masyarakat Indonesia untuk mencapai mufakat, diterjemahkan orba menjadi demokrasi kapital; demokrasi berdasarkan siapa yang punya modal lebih besar.

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” yang menjadi dasar Sosialisme Perekonomian Indonesia diselewengkan menjadi percepatan kemakmuran beberapa gelintir orang untuk mewakili statistic bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Lebih jelasnya, Bung Karno menyingkat Pancasila menjadi Trisila, seperti idolanya Dr Sun Yat Sen (dengan “San Min Chu I”-nya), yaitu Ketuhanan, Sosio-Nasionalisme (“Kebangsaan” dan “Perikemanusiaan” atau “Persatuan Indonesia” dan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”), serta Sosio-Demokrasi (“Demokrasi” yang menjadi sila ke empat “kerakyatan yang dipimpin…” dan “Kesejahteraan” yang menjadi “Keadilan Sosial….”). Dan pilihan terakhir,” Gotong Royong”, adalah istilah yang paling mudah dimengerti, apa dan bagaimana sebenarnya jiwa dan falsafah bangsa Indonesia; weltanschauung-nya Indonesia; coraknya bangsa Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Itulah yang membuat persatuan Indonesia, tanpa harus menjadi sebuah kesatuan politik; kesatuan falsafah. Kita bersatu meskipun Indonesia berbeda. Kita menjadi sebuah bangsa baru, Imagined Community, karena diatas perbedaan itu kita berjuang bersama, untuk tujuan yang sama. Dan jika sekarang ini ada orang, bangsa Indonesia, yang mengajukan Pancasila sebagai asas tunggal dari apapun bentuk persatuan aspirasi politik, itu sama halnya dengan memfitnah Pancasila. Bisa karena mereka tidak mengerti apa itu Pancasila, bisa juga karena keinginan untuk menang sendiri; sangat berlawanan dengan falsafah dan corak kegotongroyongan bangsa Indonesia. Jelasnya, itu bukan aspirasi politik bangsa Indonesia; itu adalah serangan ideologi dari luar Indonesia. (*)

DN Antasena 4 Oktober 2007


Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia