KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
EkonomiGubsu Minta Mobil Mewah Pakai Pertamina Dex oleh : Jenda Bangun
30-Aug-2014, 12:35 WIB


 
  KabarIndonesia - Medan, Pasca normalisasi pasokan BBM, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujonugroho memantau langsung penyaluran BBM bersubsidi di SPBU Pertamina Jalan KL Yosudarso, kemarin.

Gubsu juga mengimbau pengendara mobil mewah yang sedang mengantri mengisi BBM. Dengan ramah,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB

 

 

Meningkatnya Tindak Kekerasan di Kalangan Murid di Eropa

 
OPINI

Meningkatnya Tindak Kekerasan di Kalangan Murid di Eropa
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 08-Okt-2007, 13:32:48 WIB

KabarIndonesia - Belakangan ini semakin terdengar meningkatnya kasus tindak kekerasan di kalangan murid di berbagai sekolah di Eropa. Kekerasan di sekolah juga terjadi di Perancis dan Ceko.
Di Perancis terdapat 7500 sekolah. 10 persen dari sekolah-sekolah itu mengalami masalah kekerasan dan itu sudah lama terjadi.

Sejak awal tahun 2000 psikolog Xavier Pommerau mengamati fenomena baru yang mengkhawatirkan di Perancis: sikap agresif juga semakin sering dilakukan oleh remaja perempuan
„Baru-baru ini di klinik kami terdapat seorang remaja putri yang dianiaya oleh tema-teman sekolahnya. Kami berhasil menyembuhkan dia di pusat rehabilitasi kami, dan merasa sangat heran dimana korban tersebut tidak ingin melaporkan teman-teman perempuan pelakunya. Karena takut dibalas."

Tendensi Tindak Kekerasan Di Kalangan Perempuan Meningkat
Menurut Pommerau, pakar masalah remaja di klinik Rumah Sakit Universitas di Bordeaux, jika selama ini kaum perempuan jika menghadapi masalah identitas dan tekanan sosial cenderung mengarahkan kekerasan terhadap dirinya sendiri, dimana mereka berdiam diri dalam menanggung masalah itu, belakangan ini semakin sering para perempuan muda menunjukkan agresivitasnya dengan kekerasan fisik.

Meskipun demikian dengan satu syarat, seperti disampaikan psikolog remaja Pommeraux „Anak perempuan jarang melakukan tindak agresif sendirian. Mereka bertindak dalam kelompok. Kebalikannya dari anak laki-laki. Seorang anak perempuan baru melakukan tindak kekerasan dalam kelompok remaja atau sebuah gang. Banyak yang menceritakan kepada kami, jika mereka sendirian, mereka tidak pernah dan tidak akan pernah menyundut anak perempuan lainnya dengan rokok. Masalah terbesar dalam usia tersebut, baik remaja pria maupun perempuan mereka melepaskan rangsangan spontanitasnya begitu saja, selama orang tidak membatasinya."

Yang umumnya terjadi selama ini remaja pria  main pukul dan remaja putri melontarkan kata-kata tajam. Demikian disampaikan Fabienne Bertot direktur sekolah di Aubervilliers, sebuah kota dekat Paris. Tapi sekarang para remaja putri yang sedang puber juga melakukan pemukulan.

Untuk memperoleh rasa hormat, mereka mencontoh tindakan agresif yang dilakukan remaja pria. Sasaran mereka jarang sekali jenis kelamin lainnya, tapi sesama perempuan. Hampir setiap kali yang dijadikan kambing hitam harus anak perempuan lainnya. Apakah itu karena lebih cantik, lebih buruk atau hanya karena ia lain daripada yang lain.

Dikatakan Bertot "Di satu sisi mereka mengalami kesulitan menempatkan diri sebagai perempuan. Mereka merasa dirinya terpaksa meniru tindakan remaja pria untuk dapat membela diri pada saat-saat tertentu. Dan di sisi lain, kami semakin banyak menemui murid pria dan perempuan yang tidak dapat mengungkapkan sesuatu secara verbal. Dan jika mereka tidak dapat menyampaikan perasaan lewat kata-kata, mereka akan menempuh  tindak kekerasan."

Di kalangan remaja perempuan tindak kekerasan brutal, terutama dilakukan mereka yang berumur antara 13 sampai 16 tahun. Dengan bertambahnya usia, tingkat agresivitas ini semakin menurun. Demikian dijelasakan Psikolog Pommeraux. Dan pelaku tindak kekerasan di kalangan remaja putri tidak hanya berasal dari kalangan sosial lemah, tapi sering pula dilakukan mereka yang datang dari keluarga berada.

Kesalahan bukan hanya berasal dari orang tua dan guru, tapi juga akibat batasan-batasan sosial. Menurut psikolog spesialis masalah remaja Pommeraux, sekolah hanya merupakan resonans dari fenomena yang tampak dimana-mana. Tidak hanya di Perancis tapi juga di Ceko, misalnya.

Meningkatnya Tingkat Kekerasan di Ceko
Murid-murid di Ceko tampaknya tertib dan menahan diri. Guru-guru di sana memiliki otoritas yang besar. Namun di balik tampilan yang tertib dan penuh disiplin ini di sekolah-sekolah di Ceko, mobbing dan dan tindakan menyulitkan orang lain semakin meningkat

Mischa Vesela:
"Mula-mula saya takut untuk mengatakannya. Tapi ketika hal itu semakin memburuk, saya menceritakannya kepada ibu saya. Ia segera melapor kepada direktur sekolah, yang menjanjikan kami, semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi ia tidak mengambil tindakan apapun untuk mengatasi mobbing, dan akhirnya saya pindah sekolah."

Cerita dari Michaela Vesela, seorang murid kelas 8 bukan kasus satu-satunya. Sekitar 40 persen murid di Ceko sudah pernah menjadi korban tindakan yang menyulitkan. Memang belum pernah terjadi tindakan amok, yang menggemparkan dunia. Tapi menurut pengamatan Bohumil Stejskal dari kementerian pendidikan Ceko „Tindakan agresivitas semakin meningkat. Hal tersebut bukan hanya masalah sekolah seperti pendapat banyak orang di sini. Orang juga melihat misalnya dalam mengemudi mobil. Anak-anak memerlukan panutan yang positif, dan kami orang dewasa tidak menawarkan itu kepada mereka."

Anak-anak di Ceko semakin mencari panutan dalam permainan computer yang brutal dan media massa. Hal yang dianggap Stejskal sebagai penyebab utama meningkatnya tindak kekerasan di sekolah. Perubahan politik, yakni runtuhnya tembok Berlin tahun 1989 bukan penyebabnya

Stejskal:
„Tindakan tersebut sudah muncul juga sebelum tahun 1989. Sejak perubahan politik tahun 1989, hal tersebut dapat dibicarakan terbuka, itulah perbedaannya."

Tindak Kekerasan Harus Dibicarakan Secara Terbuka
Membicarakan tindak kekerasan secara terbuka, justru itu yang sulit dilakukan murid-murid yang bersangkutan maupun orang tua. Juga para guru merasa mendapat beban yang terlalu berat. Meskipun demikian tidak ada yang menolong mereka mengatasi masalah itu. Demikian menurut Ondrej Keiser, murid di sebuah sekolah di ibukota Ceko, Praha. Hanya jika orang menanganinya secara terarah, mobbing dan tindakan kekerasan dapat dihindari sejak dini

Ondrej Keiser:
"Bagaimana pun orang tidak dapat memandang tindakan menyulitkan sekecil apapun sebagai tindak bercanda yang tidak berarti. Bukan sesuatu yang dapat dipandang tidak berarti, jika menganiaya yang lemah dan kesenangan melakukan tindakan itu menjadi mode."

Sekolah Ondrej merupakan salah satu dari sejumlah proyek di Ceko yang mengangkat tema tindak kekerasan dan mobbing dalam pelajaran. Pencetus proyek tersebut adalah psikolog Michal Kolar. Ia yakin bahwa tindak kekerasan di sekolah akan lebih sedikit, jika lebih dilakukan tindakan pencegahan

Kolar:
"Beberapa tahun lalu sebuah proyek percontohan berhasil menurunkan tindak kekerasan di sekolah-sekolah yang terlibat dalam proyek itu. Dalam waktu empat bulan kasus tindak kekerasan menurun 75 persen. Suatu hasil yang sangat menjanjikan."

Sumber: Deutsche Welle

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
KSPI Tolak Kenaikan BBM 29 Aug 2014 10:55 WIB


 

 

 

 
Perang Bintang di MILO Camp 29 Aug 2014 10:57 WIB


 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia