KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupJokowi Blusukan Asap: Tahun Depan Indonesia Harus Tanpa Asap oleh : Wahyu Ari Wicaksono
27-Nov-2014, 15:09 WIB


 
 
Jokowi Blusukan Asap: Tahun Depan Indonesia Harus Tanpa Asap
KabarIndonesia - Pekanbaru, 27 November 2014 – Kesediaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Blusukan Asap ke Riau melihat lokasi kebakaran lahan gambut dan hutan menumbuhkan harapan Indonesia bisa bebas tanpa asap pada tahun depan. Ini menunjukkan komitmen Presiden Jokowi menjadikan penyelesaian
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Maaf dan Terimakasih untuk Ibu 28 Nov 2014 13:58 WIB


 

Investasi dan Pelepasan Tanah di Papua

 
OPINI

Investasi dan Pelepasan Tanah di Papua
Oleh : Dominggus A Mampioper | 31-Okt-2007, 01:47:37 WIB

KabarIndonesia - Memang harga tanah adalah Rp 500 meter persegi, tetapi dipotong Rp 100,- untuk biaya pembangunan 24 unit rumah untuk bapak bapak. Selain itu bapak bapak juga adalah pemegang saham dalam perusahaan. Di tempat lain belum pernah ada sistem seperti ini. Kalau bapak bapak tidak setuju dengan harga tersebut, program ini akan dipindahkan ke daerah lain. Sementara itu salah satu dari hadiri berbisik, "Tapi kenapa rumah rumah untuk permukiman baru sudah dibangun? Itu berarti tanah kita tetap akan diambil meskipun orang orang belum setuju."Begitulah dialog antara mantan Gubernur Irian Jaya Barnabas Suebu dengan warga dusun Marau soal pelepasan tanah adat yang dikutip dari buku berjudul Program Pengembangan Pariwisata dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Sekitar disusun oleh DR PM Laksono dan kawan kawan terbitan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD-Irja), tahun  1993.

Beberapa tahun kemudian satu demi satu hotel berbintang empat dipreteli mulai dari tempat tidur, kursi, hingga pintu-pintu semua hilang. Kini  hotel mewah dengan investasi sebesar Rp 500 Milyar yang dibangun di atas lahan seluas 325 hektar dengan harga ganti rugi sebesar Rp 1,3 Miliar  tinggal kenangan. Sebulan setelah dilantik menjadi Gubernur Agustus 2006, wartawan Tabloid Pesona Papua meminta tanggapan Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu tentang nasib hotel berbintang empat. " Saya sangat menyayangkan investasi sebesar itu harus hancur dan kita harus mulai dari nol," ujar Gubernur Provinsi Papua Barnabas SuebuLebih lanjut tambah Gubernur Suebu kalau pun hendak membangun hotel berbintang empat itu harus dimulai lagi dari permulaan ketimbang bangun kembali.. "Lebih murah dibangun dari awal ketimbang memperbaiki yang sudah hancur dan rusak," ujar Suebu.

Hotel Marauw sejak awal diresmikan oleh mantan Menteri Parawisata dan Postel era Presiden Soeharto yakni  Soesilo Sudarman pada 11 Maret 1991 lalu.Mantan Menparpostel Soesilo Sudarman meletakan batu pertama pembangunan hotel pada areal 325 ha yang direncanakan akan dibangun 6 sampai 8 hotel berbintang empat dengan total kamar 1800 yang terbagi untuk setiap hotelnya antara 250 sampai 300 kamar. Pembangunan hotel ini merupakan kerja sama antara pemerintah daerah dengan Biak Irian Tourism Development Corporation(BITDC) bersama Bali Tourism Development Corporation. Sebagai pengelolaannya adalah BITDC yang dipercayakan oleh pemerintah.
Pembagian saham dalam kepemilikan hotel sudah diatur masing-masing Pemerintah daerah Irian Jaya 30 %, BITDC 25 %, Bank Exim 7,5%, Bank Dagang Negara  7,5 %, Bank Eramita 10 % serta pihak swasta lainnya sebesar 20 %.

Pembangunan daerah wisata Marauw selain hotel menurut feasibility studynya juga akan dibangun beberapa fasilitas lainnya untuk kepentingan para wisatawan. Antara lain obyek wisata bahari seperti diving, surving, taman laut di pulau-pulau, bungalow sebanyak 100-200 buah, di samping itu juga Country Club Compleks dengan 18 hole untuk golf. Sayang belum sampai sepuluh tahun hotel berbintang dengan biaya ratusan milyard itu harus menjadi bagian dari sisa-sisa perang dunia kedua alias menjadi puing-puing rumah dan bangunan tua bagaikan rumah hantu. Begitu pula dengan Pabrik Pengalengan Ikan warirsan perusahaan milik Perancis di Biak tinggal kenangan." Warga mulai mengambil besi besi tua peninggalan pabrik pengalengan ikan di Sorido untuk dijual. Yah itulah sisa sisa bekas pabrik pengalengan ikan,"ujar Frites Rumbrawer warga Kampung Inggiri kepad Jubi belum lama ini di Biak. Rumbrawer menambahkan mungkin hanya pabrik pengolahan kayu saw mill yang saat ini masih bertahan tetapi tidak seaktif dulu.Pelepasan tanah tanah adat di Kabupaten Biak Numfor  lahan Kapet Biak di Kampung Urfu seluas 1500 hektar masih belum dikelola. Karena pemerintah baru membayar tahap pertama kepada tujuh klen pemilik tanah sebesar Rp 700 juta.

Sejak pembayaran tahap pertama pada 24 September 1997 sampai sekarang sisa dana sebesar RP 14 milyar belum dibayar kepada masyarakat adat di Kampung Urfu Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor.Kini ada gagasan baru untuk menjemput program peluncuran satelit di Biak karena dianggap mampu memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi di Biak. Pasalnya selama ini Kabupaten Biak Numfor mempunyai PAD terendah sehingga usaha meninggkatkan pendapatan merupakan peluang besar bagi daerah. Tetapi apakah benar investasi besar yang melibatkan negara negara besar selalu memperhatikan masyarakat di sekitar lokasi proyek. Inilah persoalan sebab pengalaman investasi besar terutama dalam kontrak kontrak karya jarang melibatkan masyarakat. Bahkan pemerintah daerah saja tidak pernah terlibat termasuk Majelis Rakyat Papua (MRP).

Nota kesepakatan dalam Memoruy of Understanding (MoU) antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada September lalu di Jakarta jelas harus dilakukan aparat pemerintahan dibawahnya. Dalam bahasa pejabat biasa disebut harus mengamankan kebijakan atasan. Sehingga tak heran kalau Bupati Yusuf Maryen menilai karang panas Pulau Biak yang  keras itu adalah anugerah bagi 99.798 penduduk kabupaten seluas 2.360 kilo meter persegi itu. Apalagi Bandara Internasional Frans Kaisiepo masih dalam pengelolaan Perum Angkasapura tentu proses percepatan peluncuran satelit tinggal menunggu persiapan dan waktu saja.
 
Lalu bagaimana dengan enam klen pemilik yaitu Rumbiak, Wakum, Rumaropen, Ronsumbre, Simopiaref dan Yarangga.Sejak 1943 tentara Jepang membuka lapangan terbang Frans Kaisiepo hingga pemerintah Belanda dan kembalinya tanah Papua ke dalam NKRI tampaknya secara  sepihak  pemerintah telah menerbitkan sertfikat kepemilikan tanah. Meskipun banyak pihak menilai proyek Air Launch Syatem (ALS) mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah tetapi yang jelas pemanfaatan ALS bagi  penduduk lokal dan pemilik tanah ulayat jelas belum bisa dibayangkan atau pun diperhitungkan. Terutama yang berkaitan dengan dampak dampak sosial bagi masa depan masyarakat di sekitarnya. Pengalaman selama ini di tanah Papua dalam investasi padat modal yang melibatkan banyak negara tentunya sulit untuk memperhitungkan kondisi sosial budaya masyarakat di sekitar lokasi.

Suku Amungme dan Kamoro adalah gambaran di mana bertahun tahun mereka berjuang untuk memperoleh hak hak mereka. Pemberian dana satu persen bagi suku Amungme dan Kamoro berhasil diterima selama 20 tahun. Itupun setelah terjadi korban jiwa akibat pelanggaran HAM dan laporan mantan Uskup Jayapura Mgr Herman Muninghof tahun 1998.Lidia Beanal dalam bukunya berjudulArti Tanah  Menurut Suku Amungme mengatakan menyangkut persoalan tanah tanah adat suku Amungme sampai sekarang  masih terus terjadi pergumulan bathin. Pasalnya tanah tanah adat bagi suku Amungme adalah merupakan tempat tinggal dalam melakukan semua eksistensi mereka sebagai makhluk individu, sosial, religius di mana menjadi tempat mereka menikmati suka dan duka.  Terakhir justru mereka mengalami penderitaan lahir bathin karena ulah pihak luar dengan masuknya perusahaan raksasa milik Amerikat Serikat, Freeport Mc Moran yang kemudian beroperasi dibawah panji PT Freeport Indonesia Coorporation. "Ini sangat membawa korban jiwa, material dan spiritual. Mengapa demikian? Persoalannya menyangkut konsep suku Amungme terhadap tanah. Suku Amungme melihat tanah sebagai ibunya. Bagaimana perasaanmu jika kami mengambil ibumu dan kami belah payudaranya? Itulah perasaan orang Amungme sekarang," tulis Beanal.

Selain dampak sosial timbul pula dampak lingkungan. Walau pun kedua dampak itu selalu dikaji melalui Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL )  mau pun pemantauan lingkungan. Toh belum mampu menjawab persoalan.Study on Molulusc Consumtion Among People Reside Around Mimika's Estuaries sebagai gambaran di mana luapan tailing mendangkal sungai dan tambelo berubah warna kehitam hitaman.

Pada 1997 pemerintah Indonesia telah menyetujui Dokumen AMDAL PT FI untuk memroduksi sampai 300.000 ton bijih per hari. Akibatnya warga Kampung Omawita di kawasan hulu sungai Mawati mengeluh bahwa telah ditemukan kasus perubahan warna tambelo menjadi bintik bintik berwarna hitam dan masyarakat semakin sulit memperoleh beberapa siput tertentu yang biasa dikonsumsi mereka. Jenis jenis Molluska yang biasanya dikonsumsi dan disukai penduduka adalah Bactronophorus thoracites(tambelo), Nerita baltetata, Nerita plasnospira, Naqueita capulina, Pugilina cochilidium dan Telecopium telescopium(siput) serta Gekoina sp(siput). Dari segi budaya Kamoro Tambelo (Bacthronoporus thoracites dan Bankia orcutti) berperan sebagai makanan pembuka dalam berbagai acara adat. Sedangkan siput (Nerita balteata, Nequeita capicana dan Telecopium telescopium) dan kerang (Archidae, Gelonia of coaxan dan Gelonia sp) berperan sebagai makanan utama dalam berbagai acara/ritual adat seperti Pesta Budaya Karapao Suku Kamoro. (dominggus a mampioper)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemkab Bakal Poles Kota Kasongan 27 Nov 2014 13:07 WIB

 
1795 RTS Pulpis Terima Dana PSKS 26 Nov 2014 15:05 WIB


 
Thailand Permalukan Singapura 2-1 24 Nov 2014 11:17 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 

 

 
Biasakan Tidur Siang Secukupnya 27 Nov 2014 12:46 WIB

Tawas Ampuh Hilangkan Bau Badan 26 Nov 2014 17:31 WIB

 
Endemik Pulau Sumatra 26 Nov 2014 17:34 WIB

Pejuang Cilik 25 Nov 2014 19:26 WIB

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia