|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|
OPINI
Gay Lebih Ningrat dari pada Homoseksual
Oleh : Lady Asther Laura | 07-Jan-2008, 22:16:29 WIB
|
KabarIndonesia - Semakin banyak laki-laki yang terlibat cinta alternatif atau asmara sejenis ini. Perempuan juga tidak kalah terlibat cinta, seperti menjadi lesbi. Istilah homoseksual sudah ada sejak zaman dulu. Pada zaman Yunani kuno, ada sebuah Pulau Lesbos yang dihuni oleh kaum lesbian.
Dari situlah istilah lesbi berasal. Tapi, bagi kaum homoseksual; sebutan homoseksual sangat merendahkan harkatnya, mereka lebih senang disebut GAY, karena kesannya lebih “ningrat”. Menurut para ahli dan dokter handal, para psikologi maupun profesional lain sependapat bahwa homoseksual bukan penyakit atau kelainan perilaku apa pun.
Homoseks juga bukan tren, karena masih berhubungan dengan orientasi seksual seseorang yang terbentuk pada masa kecil. Ada juga yang mengatakan bahwa homoseks disebabkan oleh hormon yang tak seimbang, ada yang juga mengatakan sebagian otak kurang berfungsi, bisa jadi orang tersebut pernah mengalami kekaburan identitas sexual di masa kecilnya bahkan ia juga tumbuh dalam keluarga yang sangat dominan, yang dipengaruhi dengan bentuk tubuh.
Pada tahun 2005, kelompok homoseksual ini tidak lagi menyuarakan aspirasinya bahkan kelompok itu cenderung menyembunyikan identitas dirinya. Pada masa berikutnya kelompok ini secara total merehabilitasi nama kaum kelompoknya, sehingga citra kaum gay atau homoseksual tak separah itu.
Hasilnya kelompok ini berhasil berani menentang kebijakan yang dibuat Pemerintah, mereka lebih vokal, dan berani unjuk gigi dengan keberadaan kelompoknya. Pimikiran sering mengatakan sesungguhnya homoseksual adalah penyakit yang menular dan berdampak pada siapa saja. Ternyata setelah dipikir bahwa hal itu bukan penyakit menular tapi kaum gay selalu menyediakan pilihan baru atau menu baru dalam bercinta. Jika seorang gay bertemu dengan lelaki normal dan menawarkan “sex alternatif” tentu pria yang normal akan mendapat sex lain dari yang biasanya.
Namun, ini sebatas selingan dari senggama biasa. Bisa juga dikatakan bahwa kaum gay juga memiliki orientasi sex yang berbeda. Orientasi seksual adalah ketertarikan fisik dan emosi terhadap orang lain, yang digambarkan sebagai garis lurus dengan kedua ujung, homoseks murni dan hetero murni.
Orientasi seksual seseorang jatuh pada titik di dalam garis tersebut. Bisa di ujung kanan, di ujung kiri, di tengah-tengah, ke kanan, ke kiri dan seterusnya. Siapa pun orangnya selalu memiliki orientasi seksual yang posisinya berada di tengah-tengah biseksual.
Teori dari Sigmud Freud pakar psikologis dari Jerman ini menerangkan kenapa banyak orang yang sangat memiliki hetero (100%), sangat homo (100%), 70% hetero, 70% homo biseksual, dan lain-lain. Sebelum memasuki masa puber, pada dasarnya anak-anak adalah biseksual, dan orientasi seksual ini terbentuk sampai menjelang dewasa (puber).
Faktor penentu bisa faktor biologis, seperti keturunan, hormon, kromosom atau pun kadar zat kimia di dalam otak. Juga karena faktor lingkungan, budaya, nilai-nilai masyrakat, dan pengalaman lain semasa kecil.
Tingkat orientasi seksual tiap orang berbeda secara fisik maupun lingkungan. Jadi tidak ada hal yang pasti untuk menentukan orientasi seksual seseorang. Pada umunya orientasi seksual ini akan selalu berubah setelah usia remaja awal, yaitu sekitar umur 12-13 tahun.
Nah, jika ada orang yang baru saja menyadari dengan gaya seperti gay/lesbi pada usia itu, artinya selama ini dia memang belum mengenal hal itu. Orientasi seksual seseorang memang tidak bisa diubah, bahkan dengan berbagai terapi yang paling muktahir sekali pun. Namun biasanya ada rasa takut dari kaum hetero saat berdekatan atau bergaul dengan kaum gay.
Ketakutan yang besar sehingga muncul rasa anti atau homophobia (misalnya Saudara Freid, padahal Istri Nabi Luth pun seorang Lesbi dan juga anak-anakya). Lepas dari semua alasan, tentu seseorang yang terlibat alternatif itu akan paham dengan etika/norma yang berlaku, atau tergantung nilai-nilai yang kita anut.
Menurut pemahaman, kaum gay juga dapat diibaratkan orang lahir dengan orientasi tangan kidal. Orang ini tidak memilih dan tidak meminta tetapi diberikan sedari lahir. Tapi meski ia kidal, ia tidak berbeda dengan orang lain yang banyak menjalani kehidupan yang diterima oleh masyarakat.
Kaum gay tak berbeda dengan lelaki straight atau normal. Tetapi, biasanya tuduhan masyarakat sering membuat seorang gay menjadi tertekan, sehingga dia bingung, kecewa dan terluka. Namun di luar itu semua, kita juga harus menyadari bahwa kaum gay juga memiliki hak untuk memilih. Dia juga punya hak ingin bercinta dengan orang yang dicintainya. Tapi mau terlibat cinta alternatif atau tidak, kita tetap dapat memilih.
Saat kita hidup di dunia yang kacau, kita juga bisa jadi semerawut, tetapi tergantung bagaimana kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa mampu mengarahkan hidup kita? Keputusannya tergantung di tangan kita sendiri. Jadi, semua harus kembali pada diri sendiri. Mau jadi normal, jadi gay, jadi lesbi, dan jadi-jadian, tentukanlah diri anda sendiri. Karena hidup kita bisa menjadi baik atau buruk semua tergantung yang anda sendiri yang mengarahkannya.
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|