KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupGunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan oleh : Irma Susilawati Dana
03-Sep-2010, 01:33 WIB


 
 
Gunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.

Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap
selengkapnya....


 

Enthusiasm by Fida R. Abbott

 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Jurnalis 25 Jul 2010 19:29 WIB

Lowongan Desainer Grafis 19 Mei 2010 14:56 WIB

 
Tim Pencari Fakta Insiden Biau 02 Sep 2010 02:14 WIB

Polda Kepri Bekuk Jambret 29 Aug 2010 21:06 WIB

 
Seleramu yang Puitis 01 Sep 2010 00:37 WIB

Pekarangan Tubuh 30 Aug 2010 02:19 WIB

 
Floriade, Festival Bunga 20 Aug 2010 12:47 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Meneguhkan KeIndonesiaan Kita 29 Aug 2010 21:03 WIB

Purnama Theatre, Nasibmu Kini 19 Aug 2010 04:04 WIB

 

Simpatisan Parpol Pemicu Karbondioksida?

 
OPINI

Simpatisan Parpol Pemicu Karbondioksida?
Oleh : Diar Adhihafsari | 14-Mar-2008, 22:46:44 WIB

KabarIndonesia - Setelah hampir empat belas tahun menetap di Pontianak, penulis dapat menyimpulkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan empirisnya, bahwa paling tidak ada lima faktor langganan yang dapat memicu kemacetan lalu lintas di kota yang jumlah kendaraan bermotornya semakin bertambah ini:
 
(1) Kendaraan yang mogok di tengah jalan
(2) Kendaraan besar, seperti truk, yang muatannya jatuh di tengah jalan
(3) Kendaraan di perempatan lampu merah yang tidak juga melaju, padahal jelas-jelas lampu lalu-lintas sudah berwarna hijau, (4) Segala macam konvoi kendaraan
(5) Faktor-faktor kasuistis lain yang mungkin pernah dialami warga lain, tetapi mungkin saja tidak pernah dialami dan/atau diamati oleh penulis.

Yang jelas, kesimpulan lainnya yang dapat ditarik dari lima faktor di atas adalah bahwa kelima faktor tersebut, saat menyebabkan kemacetan lalu-lintas, memiliki persamaan yang siginifikan, yaitu memicu lebih banyak emisi karbondioksida di udara.

Saat kemacetan lalu lintas berlangsung, kendaraan-kendaraan biasanya berjalan lebih lambat di tengah kepadatan dan kesesakan. Saat melaju di arus lalu lintas yang normal saja, dengan jumlah kendaraan bermotor yang begitu banyaknya, karbondioksida yang terbuang ke udara bebas sangat besar jumlahnya, apalagi bila banyak kendaraan tersebut bergerak merayap dalam kemacetan lalu-lintas dalam waktu yang relatif lama. Bayangkan tambahan karbondioksida yang dikontribusikan oleh semua kendaraan tersebut pada atmosfir udara.

Dan, ini yang paling ‘hebat’, bayangkan pula bila arus lalu-lintas yang sekarang saja sudah mulai cukup sesak, ditambah lagi dengan konvoi kendaraan yang kadang, saat momen-momen tertentu. Terus-terang saja, terasa sangat menyebalkan bagi sebagian besar pengendara lain. Misalkan saja ketika ratusan siswa yang baru lulus sekolah berkonvoi dengan sepeda motor, atau ketika banyak anak muda berkonvoi dengan jenis kendaraan yang sama pada malam pergantian tahun baru. Atau mungkin konvoi yang dilakukan sejumlah besar simpatisan partai politik (parpol); bukan hanya dengan sepeda motor, tetapi juga dengan berbagai jenis mobil dan bahkan truk.

Memang konvoi-konvoi seperti demikian bukannya setiap hari dilakukan, tetapi yang menjadi sorotan penulis dalam tulisan ini adalah mengenai pihak-pihak yang melakukan konvoi tersebut, siswa sekolah dan simpatisan Parpol. Bukankah mereka (sejatinya) orang-orang yang berpendidikan? Yang sejak duduk di sekolah dasar mendapatkan asupan pelajaran ilmu pengetahuan alam? Yang di sekolah mendapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan, atau apa pun namanya, selama bertahun-tahun? Yang diberi tahu bahwa udara yang kotor tidak baik bagi kesehatan manusia? Yang diajarkan bahwa mengganggu kenyamanan orang lain di jalan raya itu tidak diperkenankan?

Bukankah pParpol-parpol dipimpin oleh sekian ratus pemimpin yang (sejatinya) berpendidikan tinggi? Sejak dulu, entah kenapa konvoi kendaraan selalu saja dilakukan oleh simpatisan semua Parpol di Indonesia (akankah ada inovasi lain dari bentuk pengerahan massa ini?), tetapi apakah dari dulu juga para pemimpin dan petinggi Parpol sempat berpikir ke arah kontribusi mereka terhadap udara sekitar? Bukankah pemimpin yang bijak (sejatinya) akan berpikir secara menyeluruh hingga ke banyak elemen? Sampaikah pikiran mereka pada elemen kesehatan bumi? Bila mereka begitu menghargai para simpatisan mereka, pernahkah mereka menghimbau simpatisan mereka untuk turut menjaga bumi yang notabene sama-sama mereka diami sejak bayi?

Penulis tidak menyarankan agar konvoi kendaraan bermotor dihentikan sama sekali (mungkinkah?), tetapi paling tidak lakukanlah alternatif yang memberikan win/win solution bagi manusia dan bumi, misalnya daripada mengerahkan ratusan sepeda motor, kenapa tidak mengangkut ratusan simpatisan ke dalam beberapa bus atau truk saja, sehingga buangan karbondioksida dari ratusan sepeda motor bisa lebih dikurangi? Atau bila masih tidak memungkinkan juga, kenapa tidak berkonvoi dengan sepeda biasa? Masih tidak memungkinkan juga? Kenapa tidak, misalnya, menanam satu bibit pohon untuk setiap satu atau dua sepeda motor yang digunakan untuk ‘mengganti rugi’ karbondioksida yang telah terkontribusi ke udara?

Penulis memang sama sekali bukan pakar lingkungan hidup, apalagi penerima penghargaan Kalpataru, melainkan hanya seorang warga biasa yang (mulai) sadar akan pentingnya untuk lebih berterima kasih pada bumi yang semakin renta ini.

Haruskah kita meninggalkan banyak ‘jejak’ karbondioksida di bumi dengan kendaraan kita yang semakin besar jumlahnya dan mewariskan udara serta atmosfir kotor kepada sekian generasi mendatang? Haruskah kita terlalu bergantung pada sejumlah pohon yang berdiri di sepinggiran jalan untuk menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan sebagai gantinya kita mendapatkan udara yang lebih bersih dari pohon-pohon tersebut? Haruskah kita menyadari ini semua bila telah menjadi relawan Greenpeace? Haruskah kita menyadari ini semua bila telah menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup? Bukankah setiap tindakan kecil juga berarti?


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pengungsi Terancam ISPA dan Diareoleh : Andi Cristop
31-Aug-2010, 23:11 WIB


 
  Pengungsi Terancam ISPA dan Diare Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
DFO Bermasalah dan Feng Shui 17 Aug 2010 23:37 WIB

Penganggur Usia Muda Meningkat 17 Aug 2010 13:45 WIB

 
Bantuan untuk 39 Atlet Siak 02 Sep 2010 14:37 WIB

Liga Inggris: Aroma Laga Terendus 29 Aug 2010 21:13 WIB

 
Belajar dari Warren Buffet 26 Jul 2010 22:59 WIB

Ustadz SolMed, Saingan UJE? 26 Jul 2010 22:29 WIB

 

 

 
Arah Perjuangan Baru JOTHI 20 Aug 2010 04:16 WIB

 
Eloknya Si Plirik van Java 31 Aug 2010 13:49 WIB

Perketat Pengawasan Tambang 27 Aug 2010 13:52 WIB

 
Sarana Komunikasi Tersendat 28 Aug 2010 02:10 WIB

Situs Porno Resmi Diblokir 19 Aug 2010 03:17 WIB

 
IIP Santuni Anak Yatim Piatu 25 Aug 2010 12:53 WIB


 
Yayasan Peduli Hutan Lestari
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia