|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

OPINI
Simpatisan Parpol Pemicu Karbondioksida?
Oleh : Diar Adhihafsari | 14-Mar-2008, 22:46:44 WIB
|
KabarIndonesia - Setelah hampir empat belas tahun menetap di Pontianak, penulis dapat menyimpulkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan empirisnya, bahwa paling tidak ada lima faktor langganan yang dapat memicu kemacetan lalu lintas di kota yang jumlah kendaraan bermotornya semakin bertambah ini: (1) Kendaraan yang mogok di tengah jalan (2) Kendaraan besar, seperti truk, yang muatannya jatuh di tengah jalan (3) Kendaraan di perempatan lampu merah yang tidak juga melaju, padahal jelas-jelas lampu lalu-lintas sudah berwarna hijau, (4) Segala macam konvoi kendaraan (5) Faktor-faktor kasuistis lain yang mungkin pernah dialami warga lain, tetapi mungkin saja tidak pernah dialami dan/atau diamati oleh penulis.
Yang jelas, kesimpulan lainnya yang dapat ditarik dari lima faktor di atas adalah bahwa kelima faktor tersebut, saat menyebabkan kemacetan lalu-lintas, memiliki persamaan yang siginifikan, yaitu memicu lebih banyak emisi karbondioksida di udara.
Saat kemacetan lalu lintas berlangsung, kendaraan-kendaraan biasanya berjalan lebih lambat di tengah kepadatan dan kesesakan. Saat melaju di arus lalu lintas yang normal saja, dengan jumlah kendaraan bermotor yang begitu banyaknya, karbondioksida yang terbuang ke udara bebas sangat besar jumlahnya, apalagi bila banyak kendaraan tersebut bergerak merayap dalam kemacetan lalu-lintas dalam waktu yang relatif lama. Bayangkan tambahan karbondioksida yang dikontribusikan oleh semua kendaraan tersebut pada atmosfir udara.
Dan, ini yang paling ‘hebat’, bayangkan pula bila arus lalu-lintas yang sekarang saja sudah mulai cukup sesak, ditambah lagi dengan konvoi kendaraan yang kadang, saat momen-momen tertentu. Terus-terang saja, terasa sangat menyebalkan bagi sebagian besar pengendara lain. Misalkan saja ketika ratusan siswa yang baru lulus sekolah berkonvoi dengan sepeda motor, atau ketika banyak anak muda berkonvoi dengan jenis kendaraan yang sama pada malam pergantian tahun baru. Atau mungkin konvoi yang dilakukan sejumlah besar simpatisan partai politik (parpol); bukan hanya dengan sepeda motor, tetapi juga dengan berbagai jenis mobil dan bahkan truk.
Memang konvoi-konvoi seperti demikian bukannya setiap hari dilakukan, tetapi yang menjadi sorotan penulis dalam tulisan ini adalah mengenai pihak-pihak yang melakukan konvoi tersebut, siswa sekolah dan simpatisan Parpol. Bukankah mereka (sejatinya) orang-orang yang berpendidikan? Yang sejak duduk di sekolah dasar mendapatkan asupan pelajaran ilmu pengetahuan alam? Yang di sekolah mendapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan, atau apa pun namanya, selama bertahun-tahun? Yang diberi tahu bahwa udara yang kotor tidak baik bagi kesehatan manusia? Yang diajarkan bahwa mengganggu kenyamanan orang lain di jalan raya itu tidak diperkenankan?
Bukankah pParpol-parpol dipimpin oleh sekian ratus pemimpin yang (sejatinya) berpendidikan tinggi? Sejak dulu, entah kenapa konvoi kendaraan selalu saja dilakukan oleh simpatisan semua Parpol di Indonesia (akankah ada inovasi lain dari bentuk pengerahan massa ini?), tetapi apakah dari dulu juga para pemimpin dan petinggi Parpol sempat berpikir ke arah kontribusi mereka terhadap udara sekitar? Bukankah pemimpin yang bijak (sejatinya) akan berpikir secara menyeluruh hingga ke banyak elemen? Sampaikah pikiran mereka pada elemen kesehatan bumi? Bila mereka begitu menghargai para simpatisan mereka, pernahkah mereka menghimbau simpatisan mereka untuk turut menjaga bumi yang notabene sama-sama mereka diami sejak bayi?
Penulis tidak menyarankan agar konvoi kendaraan bermotor dihentikan sama sekali (mungkinkah?), tetapi paling tidak lakukanlah alternatif yang memberikan win/win solution bagi manusia dan bumi, misalnya daripada mengerahkan ratusan sepeda motor, kenapa tidak mengangkut ratusan simpatisan ke dalam beberapa bus atau truk saja, sehingga buangan karbondioksida dari ratusan sepeda motor bisa lebih dikurangi? Atau bila masih tidak memungkinkan juga, kenapa tidak berkonvoi dengan sepeda biasa? Masih tidak memungkinkan juga? Kenapa tidak, misalnya, menanam satu bibit pohon untuk setiap satu atau dua sepeda motor yang digunakan untuk ‘mengganti rugi’ karbondioksida yang telah terkontribusi ke udara?
Penulis memang sama sekali bukan pakar lingkungan hidup, apalagi penerima penghargaan Kalpataru, melainkan hanya seorang warga biasa yang (mulai) sadar akan pentingnya untuk lebih berterima kasih pada bumi yang semakin renta ini.
Haruskah kita meninggalkan banyak ‘jejak’ karbondioksida di bumi dengan kendaraan kita yang semakin besar jumlahnya dan mewariskan udara serta atmosfir kotor kepada sekian generasi mendatang? Haruskah kita terlalu bergantung pada sejumlah pohon yang berdiri di sepinggiran jalan untuk menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan sebagai gantinya kita mendapatkan udara yang lebih bersih dari pohon-pohon tersebut? Haruskah kita menyadari ini semua bila telah menjadi relawan Greenpeace? Haruskah kita menyadari ini semua bila telah menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup? Bukankah setiap tindakan kecil juga berarti?
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|