KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilLita Tamzil Ingin Berbagi dengan Ilmu Gaul oleh : Redaksi-kabarindonesia
09-Feb-2010, 05:53 WIB


 
 
Lita Tamzil Ingin Berbagi dengan Ilmu Gaul
KabarIndonesia - Nama Lita Tamzil semakin banyak dibicarakan setelah buku pertamanya "Belajar Gaul, Jadi Manusia Unggul" terbit. Buku setebal 218 halaman yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama ini, merupakan bukti kesuksesan Lita Tamzil, yang atas prakarsa suaminya, Paulus Tamzil,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Best Jobs from Kawanku Magazine 07 Feb 2010 15:30 WIB


 

 
LOMBA PUISI: Jelas Sudah 09 Feb 2010 13:48 WIB

 
1500 Orang Preman Ancam Pendemo 06 Feb 2010 19:39 WIB



 
BERITA LAINNYA
 

 

Pertahanan, Peradilan dan Nelayan Lautan | HOKI | Harian Online KabarIndonesia
 

Pertahanan, Peradilan dan Nelayan Lautan

 
OPINI

Pertahanan, Peradilan dan Nelayan Lautan
Oleh : Rifqi Muhammad | 03-Jul-2008, 02:15:27 WIB

KabarIndonesia - Indonesia laiknya surga yang nyata, iklimnya tropis dan dua per tiga wilayahnya berupa lautan. Posisi strategis ini menawarkan habitat yang mendukung bagi kehidupan jutaan jenis ikan. Sayang, harta melimpah itu bukan lagi milik kita. Sebab, kita tak sepenuhnya bisa memanfaatkannya. Sebaliknya, anugrah tersebut malah dilahap oleh orang lain  Irono bukan?   Dapat dipastikan, siapapun akan tergiur dengan kekayaan hasil laut Indonesia. Bagi mereka yamg melirik, beragam cara akan dilakukan untuk mengeruk lautan kita.

Tak ayal, penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) menggejala di lautan Indonesia. Celakanya, hingga kini fenomena ini belum juga ditanggapi secara serius. Buktinya, pertahanan laut indonesia masih dilihat sebelah mata. Akibatnya, sektor tumpuan keamanan ini menjadi lemah. Sebab, tak ada niatan untuk memperbaiki atau mengganti sarana infrastruktur dan alat-alat pengaman banyak yang sudah usang.  Padahal, kerugian yang derita negara akibat praktik lllegal fishing sudah sangat banyak, bahkan nilainya mencapai Rp 4 triliun per tahun. Sungguh jumlah yang sangat fantastis. Namun pemerintah tampaknya pasrah dan tidak berkutik, sekalipun hanya untuk menarik kembali hasil tangkapan mereka. Pada 2007 misalnya, kita hanya bisa menyelamatkan sebesar Rp 600 miliar.  

Pada sisi lain, pemerintah juga tidak memperhatikan jutaan nelayan indonesia yang hampir gulung tikar. Padahal, apabila para nelayan tersebut beraktifitas, setidaknya praktik illegal fishing bisa sedikit dicegah. Sebab pada dasarnya kedua elemen tersebut saling berjalin kelindan. Pada saat melaut, para nelayan tidak hanya sedang mengunduh ikan, tetapi juga turut mengawasi perairan kita.  Lepas dari itu semua, selama ini, kejahatan perikanan diperparah dengan pengadilan perikanan di Indonesia yang masih lemah. Hal ini terbukti dengan sedikitnya kapal-kapal asing pembajak ikan yang berhasil dibuktikan dalam pengadilan. Kontan, kita pun tak bisa menarik kembali ikan-ikan tangkapan mereka.  

Dengan demikian, untuk menangani masalah penangkapan ikan ilegal, minimal pemerintah harus bertindak tiga langkah sekaligus. Pertama, meningkatkan kualitas pertahanan laut. Kedua, pemerintah juga harus membantu menyelesaikan  problem nelayan kita. Dan yang terakhir, ketiga, dibarengi dengan komitmen tinggi dari semua aparat penegak hukum untuk menangani tindak pidana perikanan secara jujur, adil dan tegas. Dengan demikian, perlu integrasi dan aksi nyata dari semua pihak, untuk mengawal kelautan Indonesia.  Kalau hanya satu atau dua dari ketiga langkah tersebut yang diselesaikan, niscaya formula penyelesaian itu tidak akan efektif dan tampak timpang. Harus kita akui, menyelesaikan ketiganya secara sekaligus memang terasa berat, namun, pekerjaan rumah yang menumpuk itu tidak bisa sambil jalan. Tidak pula sekadar diramaikan dengan retorika, rapat-rapat yang frekuensi dan intensitasnya ditinggikan, atau gali tutup lubang. Setidaknya, koreksi awal itulah yang mesti dilakukan. Karena itu, penjagaan dan penanganan atas kapal-kapal penangkap ikan illegal mesti menyentuh seluruh aspek.

Setelah ketiga langkah diatas berjalan, pemerintah bisa melanjutkan dengan perbaikan sistem yang lain.   Pengalaman membuktikan, solusi dan kebijakan sebaik apapun tak berarti kalau tidak dilaksanakan. Berangkat dari hal itu, solusi-solusi konkrit diatas harus segera dilaksanakan dengan seksama. Untuk bangkit dari kubangan masalah, kita harus membudayakan langkah get things done, laksanakan dan realisasikan. Dengan demikian, ketiga solusi diatas akan menjadi solutif.  

Rifqi Muhammad, Warga kabarindonesia.com, tinggal di Yogyakarta.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Tumpukan Sampaholeh : James P Pardede
05-Feb-2010, 09:36 WIB


 
  Tumpukan Sampah Sejumlah turis asing dan lokal tidak menghiraukan tumpukan sampah yang ada di sepanjang Pantai Kuta Bali beberapa waktu lalu. Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya mengatasi permasalahan sampah kiriman tersebut agar tidak merusak citra pariwisata Pulau Bali. Peran serta semua elemen
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 

 
Ledakan Bom di Athena 10 Jan 2010 04:03 WIB

 
Menulislah dan Ayo Angkat Pena! 09 Feb 2010 05:31 WIB


 

 

 
Gus Dur dan Kebebasan Beragama 21 Jan 2010 12:51 WIB

 

 

 
Air Minum yang Aman Tanpa Direbus 08 Feb 2010 20:00 WIB


 

 

 
Rasa Ingin Tahu 08 Feb 2010 19:16 WIB

Mesjid Dipindah, Warga Resah 06 Feb 2010 15:44 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia