KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
EkonomiPemerintah Percepat Penyusunan RUU Pengelolaan Kekayaan Negara oleh : Hotma D.l. Tobing
22-Aug-2014, 11:26 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta,  Saat ini, pemerintah tengah mempercepat penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Kekayaan Negara (RUU PKN). Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan harmonisasi dan finalisasi RUU PKN sebelum disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat, demikian diinformasikan Fiscal News (21/08).

RUU
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 
 
OPINI

Hentikan Penyiksaan Dan Penelantaran Anak
Oleh : Dr Andri | 23-Jul-2008, 11:25:36 WIB

KabarIndonesia - Semua orang tua pasti sekali waktu merasa marah terhadap anaknya. Mengatasi perilaku anak memang bukan perkara mudah. Hanya dengan bilang “tidak” saja belum tentu dapat meredam sikap yang menjengkelkan tersebut.

Dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut banyak orang tua yang lepas kendali sehingga mengatakan atau melakukan sesuatu yang membahayakan anak sehingga kemudian mereka sesali. Jika situasi ini sering berulang, hal ini yang dikatakan sebagai penyiksaan anak, baik secara fisik maupun mental.

Penyiksaan terhadap anak-anak telah dimulai sejak jaman Yunani dan Romawi Kuno. Pada kehidupan sosial yang dikenal sebagai patria potestas (Ayah memegang kekuasaan absolut terhadap keluarga), memberikan hak yang penuh kepada ayah menentukan mati hidupnya anak-anaknya.

Orang-orang Romawi dan Yunani membunuh anak-anak yang dianggap lemah dengan harapan hanya yang kuatlah yang dapat hidup. Pemilihan orang-orang (dalam hal ini anak-anak) yang terkuat dipercaya oleh Plato, Aristoteles, Seneca dan beberapa pemikir lain sebagai hal yang penting untuk memperkuat ras dan diperkuat oleh hukum Romawi yang terkenal dengan sebutan Roman Law Of The Twelve Tables yang melarang memberikan bantuan pada anak-anak yang mempunyai kekurangan pada fisik atau mentalnya.

Penyiksaan dan penelantaran anak yang pada jaman Yunani dan Romawi juga diartikan pembunuhan secara langsung lebih banyak terjadi pada anak-anak perempuan. Di jaman Yunani kuno karena alasan beban ekonomi dalam membesarkan anak perempuan karena pada akhirnya pun mereka akan meninggalkan keluarga dan ikut suaminya, anak perempuan menduduki resiko tertinggi untuk dibunuh. Sangat jarang ditemukan lebih dari satu anak perempuan dalam satu keluarga.

Besarnya frekuensi pembunuhan terhadap bayi-bayi perempuan tercermin dalam ketidakseimbangan antara populasi anak perempuan dan anak laki-laki pada abad pertengahan. Hal ini dicatat oleh Mols seorang sejarahwan dimana terdapat kelebihan jumlah anak laki-laki dibanding anak perempuan pada tahun 1450 dan 1750.

Menurut pendapat Vander Zanden (1989), perilaku menyiksa dapat didefinisikan sebagai “Suatu bentuk penyerangan secara fisik atau melukai anak; dan perbuatan ini dilakukan justru oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh non-keluarga)”.

Menurut data penelitian diungkapkan bahwa penyiksaan secara fisik banyak dialami oleh anak-anak sejak masa bayi, dan berlanjut hingga masa kanak-kanak sampai remaja. Lain lagi pendapat para psikiater yang terhimpun dalam Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di Inggris (1999). Mereka berpendapat, bahwa pengabaian terhadap anak juga merupakan sikap penyiksaan namun lebih bersifat pasif

Profesional di bidang Medik mendefinisikan Penyiksaan Anak (Child Abuse) sebagai suatu kondisi klinik yang terdapat pada anak-anak yang telah dilukai secara sengaja dengan kekerasan fisik

Pendapat Helfer (1987) yang ditujukan untuk para klinisi, penyiksaan dan penelantaran anak adalah “Semua interaksi atau tidak adanya interaksi antara anggota keluarga yang berakibat pada cedera bukan karena kecelakaan pada fisik dan perkembangan individu .
 
Pendapat yang berbeda didapatkan dari The National Commission Of Inquiry Into The Prevention Of Child Abuse (Childhood Matter, 1996 ). Penyiksaan anak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh individu, institusi atau suatu proses yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan luka pada anak-anak atau menyebabkan gangguan terhadap masa depan keselamatan dan kesehatan mereka ke arah perkembangan kedewasaan.

Beberapa kriteria yang termasuk perilaku menyiksa adalah:
• Menghukum anak secara berlebihan
• Memukul
• Menyulut dengan ujung rokok, membakar, menampar, membanting
• Terus menerus mengkritik, mengancam, atau menunjukkan sikap penolakan terhadap anak
• Pelecehan seksual
• Menyerang anak secara agresif
• Mengabaikan anak; tidak memperhatikan kebutuhan makan, bermain, kasih sayang dan memberikan rasa aman yang memadai

Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan oleh orang tua dari banyak etnis, letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan social ekonomi. Kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan penyiksaan fisik terhadap anak-anak.

Beberapa hal yang sering merupakan faktor di belakang penyiksaan terhadap anak:
- peningkatan krisis di tempat tinggal mereka, contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan
- akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis
- peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka
- hubungan antara kemisikinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tua tunggal ( single parent ).
- lingkaran kekerasan yaitu individu yang mempunyai pengalaman disiksa atau mengalami kekerasan semasa kecilnya akan tumbuh menjadi seorang yang mempunyai kecenderungan untuk melakukan hal yang pernah dilakukan terhadap dirinya pada orang lain, tentunya dalam hal ini adalah anak-anak.
- Stress, hubungan antara kekerasan dalam rumah tangga dengan stress di antara anggota keluarga.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan tekanan dalam rumah tangga adalah :
- Kepala rumah tangga yang tidak bekerja
- Kesulitan keuangan
- Kehamilan (hubungannya dengan kekerasan pada istri)
- Orang tua tunggal
- Kehilangan pekerjaan
- Kematian saudara sekandung dari anak
- Mempunyai anak yang mempunyai kelainan mental, anak yang mengalami keterbelakangan mental mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami penyiksaan dan penelantaran. Orang tuanya melukai mereka dalam keadaan marah akibat tindak tanduk mereka yang berhubungan dengan keterbelakangan yang mereka miliki.

Anak yang dicurigai telah mengalami penyiksaan fisik perlu di lakukan penyelidikan lebih lanjut yang melibatkan : Pekerja Sosial, Dokter Anak dan Pihak yang berwajib (Polisi).

Penyelidikan dapat dimulai dengan pemeriksaan fisik yang meliputi :
a. Anamnesis secara lengkap, termasuk pencatatan terhadap penjelasan mengenai luka, waktu terjadinya dan detail-detail lain.
Penyiksaan terhadap anak dicurigai bila terdapat luka yang tidak dapat dijelaskan atau tidak ada alasan yang kuat untuk menerangkan sebab luka. Jika terdapat ketidakcocokan antara luka yang terdapat dengan anamnesis yang didapatkan atau dengan perkembangan anak, kecurigaan akan adanya penyiksaan dapat dilaporkan. Penundaan mencari bantuan medis merupakan faktor lain yang dapat memperkuat kecurigaan akan adanya penyiksaan. Hal ini berhubungan dengan ketidakpedulian orang tua terhadap luka anaknya yang dianggap tidak serius.
b. Anamnesis tentang Perkembangan Anak
c. Pencatatan terhadap ekspresi orang tua mengenai kesulitan mereka menghadapi perilaku, kesehatan dan perkembangan anaknya.
d. Pemeriksaan secara mendetail mengenai anak tentang :
- pertumbuhan, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala
- gizi
- penampakan dan pembawaan umum
- tanda-tanda pengabaian, penyiksaan seksual dan ganguan emosi
- perkembangan termasuk bahasa dan kemampuan sosial
e. Luka yang terdapat di dokumentasikan yang meliputi :
- kemungkinan penyebab luka dan umurnya luka
- sisi yang terkena
- ukuran
- bentuk
- segala bentuk lesi yang mencurigakan
Untuk itu perlu dilakukan pengambilan gambar dengan menggunakan kamera paling sedikit dengan lensa 35mm. Gambar yang diambil untuk mendata:
- Luka
- Luka pada alat genital dan anus
- Aspek-aspek yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan
- Keseluruhan penampakan dan pembawaan anak yang berhubungan dengan pengabaian atau bentuk penyiksaan

Beberapa hal yang dapat kita temukan dari pemeriksaan fisik adalah :
• Luka yang menimbulkan bekas
Merupakan hal yang paling sering terdapat pada kasus penyiksaan anak dan dapat terdapat di semua permukaan badan. Luka yang terdapat pada pantat, alat genital dan punggung jarang berhubungan dengan kecelakaan sehingga patut dicurigai sebagai bentuk penyiksaan.
• Kelainan pada Rambut
Rambut yang ditarik dapat menyebabkan kerontokan atau kebotakan sebagian pada kulit kepala. Rambut biasanya tidak terlihat sama panjang.
• Kulit Terbakar
Lebih dari 10% kasus penyiksaan secara fisik didapatkan kulit yang terbakar salah satunya luka bakar karena rokok.

Penyebab yang paling sering menyebabkan kematian adalah trauma kepala. Dua puluh sembilan persen dari laporan penyiksaan anak didapatkan trauma kepala, wajah dan bagian kepala lain. Lebih dari 95% mengalami luka kepala yang serius selama 1 tahun kehidupannya. Luka Intraabdomen merupakan penyebab kedua terbanyak setelah luka kepala. Anak yang menderita biasanya mengalami gejala muntah yang sering, distensi abdomen, tidak terdapatnya bising perut, nyeri yang terlokalisir. Kulit perut yang fleksibel menyebabkan tidak terdapatnya luka yang membekas pada kulit perut anak akibat penyiksaan

Tata laksana yang tepat secara medis, bedah maupun di bidang psikiatri perlu diterapkan. Penegakkan hukum dilakukan dengan segera melaporkan suatu tindak penyiksaan kepada lembaga yang berwenang. Anak yang mengalami penyiksaan oleh orang tuanya dapat dititipkan di rumah saudara orang tua dengan pengawasan yang ketat dari lembaga yang berwenang

Sebuah tim yang profesional yang terdiri dari dokter anak, pekerja sosial, perawat bidang anak, dan psikiater atau psikolog diharapkan mampu memberikan solusi yang terbaik baik bagi anak yang menjadi korban serta orang tuanya. Seorang dokter anak diharapkan dapat terus memantau anak yang menjadi korban penyiksaan. Hal ini memerlukan kerjasama dengan pekerja sosial dan lembaga yang berwenang dalam mengurus masalah penyiksaan anak

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengidentifikasikan orang tua yang mempunyai faktor resiko yang tinggi untuk melakukan penyiksaan terhadap anaknya. Beberapa faktor yang disebut sebagai resiko tinggi antara lain : berasal dari keluarga yang penuh kekerasan, depresi, ketergantungan obat, masalah kesulitan ekonomi, pasangan usia muda dan orang tua tunggal.

Kedekatan anak dengan orang tua sejak lahir dapat diwujudkan sejak dari ruang bersalin dengan cara meneteki bayi dari awal sesaat setelah lahir. Rawat Gabung (Rooming-in) juga membantu kedekatan psikologis antara bayi dengan ibunya sejak awal. Bayi-bayi prematur harus lebih mendapatkan kontak fisik dengan ibunya,juga diajarkan cara-cara yang tepat untuk mendiamkan bayi yang menangis

Pemberian Informasi dan Edukasi kepada calon-calon ibu merupakan hal yang berguna untuk mencegah penyiksaan dan penelantaran bayi pada nantinya. Informasi ini berupa cara merawat bayi dan hal-hal yang perlu diketahui tentang tindak tanduk bayi yang berbeda dari anak dan orang dewasa.

Penulis adalah Psikiater Keminatan Psikosomatik




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com/
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:http://kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menjaga Perbatasanoleh : Gholib
13-Aug-2014, 16:46 WIB


 
  Menjaga Perbatasan Sebanyak 450 prajurit ditugaskan ke perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Utara yang diangkut dengan kapal KRI Tanjung Nusanive di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jateng, 11 Agustus 2014. Seorang prajurit TNI AD dari Batalyon Infanteri 405/Surya Kusuma, Kodam IV/Diponegoro bergegas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia