KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilLita Tamzil Ingin Berbagi dengan Ilmu Gaul oleh : Redaksi-kabarindonesia
09-Feb-2010, 05:53 WIB


 
 
Lita Tamzil Ingin Berbagi dengan Ilmu Gaul
KabarIndonesia - Nama Lita Tamzil semakin banyak dibicarakan setelah buku pertamanya "Belajar Gaul, Jadi Manusia Unggul" terbit. Buku setebal 218 halaman yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama ini, merupakan bukti kesuksesan Lita Tamzil, yang atas prakarsa suaminya, Paulus Tamzil,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Best Jobs from Kawanku Magazine 07 Feb 2010 15:30 WIB


 

 
LOMBA PUISI: Jelas Sudah 09 Feb 2010 13:48 WIB

 
1500 Orang Preman Ancam Pendemo 06 Feb 2010 19:39 WIB



 
BERITA LAINNYA
 

 

Nasionalisme Tinggal Cerita | HOKI | Harian Online KabarIndonesia
 
 
OPINI

Nasionalisme Tinggal Cerita
Oleh : Aulia Asep Ralla | 23-Sep-2008, 17:31:53 WIB

KabarIndonesia - Nasionalisme menurut kamus bahasa Indonesia berarti paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, politik untuk membela pemerintah sendiri, atau kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabadikan indentitas, integritas, kemakmuran serta kekuatan bangsa dan semangat bangsa.

Dulu, ketika bangsa ini masih dijajah Belanda atau Jepang, nasionalisme begitu lekatnya pada setiap anak bangsa untuk bangkit dan berjuang dengan gigih untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Nasionalisme saat itu merupakan tonggak untuk berjuang demi kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu penjajah yang menguasai  Indonesia beberapa abad lamanya. Kini, nasionalisme bangsa Indonesia tinggal sebuah cerita. Diakui atau tidak, disadari atau tidak nasionalisme sekarang ini hanya dimiliki oleh sebagian generasi bangsa Indonesia. Tentunya pembicaraan nasionalisme ini terlepas dari TNI.

Bagi mereka nasionalisme bukanlah barang baru, karena senantiasa dipupuk dan dilestarikan dalam kehidupannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi nasionalisme bangsa kita sekarang ini begitu memprihatinkan. Semua itu bukan serta merta dan tanpa sebab. Bila kita kaji lebih mendalam, merosotnya nilai nasionalisme tersebut lebih banyak diakibatkan oleh perubahan jaman yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu,

Pertama
, berkembangnya pemahaman yang keliru terkait siapa yang paling bertanggungjawab terhadap bela negara. Opini yang berkembang dalam masyarakat saat ini adalah “membela bangsa dan negara”  hanya merupakan tanggungjawab tentara sebagi komponen utama pertahanan.

Kedua
, setelah reformasi bergulir, sebagian besar bangsa Indonesia terkena penyakit Euforia reformasi dan demokrasi akut, hal ini menjadikan rakyat mudah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan baik lokal maupun asing yang pada dasarnya ingin menghancurkan bangsa dan negara dengan mengembangkan berbagai isu terkait reformasi, demokrasi serta penegakkan hukum dan HAM dalam negeri.

Ketiga
, sebagian besar kaum cendekiawan, politisi pejabat negara dan tokoh-tokoh terkemuka kehilangan sikap antisipasi dan kewaspadaan. Hal ini diperparah akan keyakinan bahwa Indonesia tidak akan mendapat ancaman dan gangguan sampai dengan 10 tahun kedepan.

Keempat
, krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat rakyat lebih suka berfikir dan bersikap bagaimana cara mencukupi kebutuhan hidupnya daripada memikirkan sebuah nasionalisme.

Kelima
, Banyak sekali gerakan-gerakan bawah tanah yang berupaya mengubah pola pikir rakyat untuk senantiasa merasa tidak puas terhadap kebijakan dan keputusan pemerintah. Hal ini secara perlahan namun pasti akan menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, yang selanjutnya akan menjadi bom waktu munculnya keinginan memisahkan diri dari NKRI. 
           
Melihat kondisi bangsa yang semakin meninggalkan nasionalisme sebagai hal yang pokok dan harus dimiliki oleh bangsa ini, maka seluruh komponen bangsa khususnya yang masih memiliki nasionalisme tinggi hendaknya mengkampanyekan sekaligus mengajak dan menghimbau seluruh komponen bangsa untuk  menggelorakan kembali rasa nasionalisme. Penurunan kadar nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air, bela negara dan militansi bangsa di dalam berbagai sendi kehidupan rakyat patut kita renungkan bersama, dan selanjutnya perlu ditentukan cara-cara bijaksana untuk mencegah proses erosi dan degradasi rasa kebangsaan itu sendiri.

Wawasan nasional dan ketahanan nasional menjadi sangat penting untuk disosialisasikan dan digelorakan secara terus menerus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga tercipta kondisi yang siap dan kuat setia setiap saat dalam membela, melindungi dan mengamankan kelangsungan NKRI yang kita cintai ini.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Tumpukan Sampaholeh : James P Pardede
05-Feb-2010, 09:36 WIB


 
  Tumpukan Sampah Sejumlah turis asing dan lokal tidak menghiraukan tumpukan sampah yang ada di sepanjang Pantai Kuta Bali beberapa waktu lalu. Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya mengatasi permasalahan sampah kiriman tersebut agar tidak merusak citra pariwisata Pulau Bali. Peran serta semua elemen
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 

 
Ledakan Bom di Athena 10 Jan 2010 04:03 WIB

 
Menulislah dan Ayo Angkat Pena! 09 Feb 2010 05:31 WIB


 

 

 
Gus Dur dan Kebebasan Beragama 21 Jan 2010 12:51 WIB

 

 

 
Air Minum yang Aman Tanpa Direbus 08 Feb 2010 20:00 WIB


 

 

 
Rasa Ingin Tahu 08 Feb 2010 19:16 WIB

Mesjid Dipindah, Warga Resah 06 Feb 2010 15:44 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia