KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

KAWIN PAKSA: Kejahatan terhadap Kemanusiaan

 
INTERNASIONAL

KAWIN PAKSA: Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 07-Okt-2008, 00:45:03 WIB

Oleh: Marjolein Stoop*

KabarIndonesia -
Banyak perempuan menjadi korban kawin paksa selama perang saudara di Sierra Leone antara tahun 1991 dan 2001. Pemberontak menyerang sebuah desa, menculik para perempuan, kemudian menyekap selama bertahun-tahun di hutan. Tribunal Sierra Leone menyatakan perkawinan paksa merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Fatu Tukamara diculik empat lelaki pemberontak. "Mereka menguasai kami. Empat lelaki memperkosa dan membawa saya selama empat bulan. Mereka memakai saya seperti seorang istri. Saya tidur tiap malam dengan mereka, masak dan mencuci bagi mereka. Saya juga dipaksa menggunakan senjata api, tapi saya tidak membunuh siapapun."

Psikiater Janneke van God, melakukan penelitian di negara Afrika tersebut, dua tahun setelah perang. Ia berbicara dengan para perempuan yang dikusai pemberontak.

"Para perempuan itu menceritakan, mereka sedang bertani atau bekerja di ladang ketika pemberontak menyerang desa dan membawa mereka. Setelah itu tak jarang para perempuan harus ikut penyerbuan. Kaum lelaki duluan masuk ke desa dan memburu penduduk. Kemudiaan kaum perempuan dan anak-anak mengambil makanan dan membawanya ke hutan."



Hidup dengan Penculik

Penculikan membuat sang perempuan menjadi milik lelaki pembawanya. Hubungan itu melahirkan anak-anak yang harus dirawat, sementara kehidupan di hutan terus berjalan. Setelah perang usai para lelaki dan perempuan keluar dari pedalaman.

"Lelaki mendapat program yang disebut dengan DDR. Kalau menyerahkan senjata, mereka mendapatkan pelatihan dan bantuan untuk kembali ke masyarakat. Tapi perempuan cuma mendapatkan kalimat: kalian sekarang telah bebas, kalian boleh pergi.
Hanya itu."

Keluarga asal perempuan biasanya tinggal sangat jauh. Mereka juga takut akan reaksi masyarakat setempat, karena sangat memalukan bagi seorang perempuan pulang kampung sebagai ibu tunggal. Mereka juga jarang ikut program reintegrasi karena akan dicap perempuan pemberontak.

Oleh karena itu banyak perempuan yang melanjutkan hidup dengan penculik mereka. "Mereka mengatakan, dia sekarang bukan lagi penculik. Dia tidak bisa lagi menguasai saya sepenuhnya. Selain itu, dia ayah dari anak-anak saya yang juga berusha untuk mendapatkan penghasilan. Itulah kenyataanya."


Kejahatan Kemanusiaan

Tiga mantan pembertontak Sierra Leone sudah dijatuhi hukuman di Den Haag karena pembunuhan, perkosaan, dan kawin paksa. Mereka menculik perempuan kemudian disekap bertahun-tahun di hutan. Menurut Jaksa Utama Tribunal, Sierra Leone Stephan Rapp, untuk pertama kalinya kawin paksa diperlakukan sebagai kejahatan tersendiri.

"Ini adalah keadaan di mana anda merampas kekebasan perempuan untuk menentukan sendiri pilihannya. Para perempuan ini diciduk dari komunitas mereka, dan tidak bisa kembali lagi, dan mungkin mereka juga tidak akan bisa kawin lagi dengan pria lainnya. Ini adalah kejahatan berat setara kejahatan terhadap kemanusiaan."


Menurut Rapp keputusan tribunal penting bagi perkara pemberontak RUF yang akan disidangkan dalam waktu dekat. Mereka juga bersalah melakukan penculikan perempuan dan kawin paksa.

"Apabila anda mengakui kawin paksa sebagai kejahatan, maka anda membantu reintegrasi para perempuan itu ke dalam masayarakat. Namun kita berharap bahwa putusan semacam ini membawa keadilan, menimbulkan efek jera. Kejahatan tidaklah menguntungkan.
Ada hukum dan ada konsekuensi."

Enak didengar dan mulia, tapi apa manfaat bagi perempuan Sierra Leone? Misalnya mereka yang masih tinggal dengan mantan pemberontak, karena itu pilihan lebih baik daripada hidup sendiri dengan anak-anak. "Memang sulit," demikian Rapp mengatakan.

"Semua hukum yang saya kenal, menghukum kawin paksa. Tetapi situasi perempuan yang menggugat penculiknya, juga tidak mudah karena proses itu bisa memalukan dan sulit. Kemudian apa sesudahnya? Misalkan sang perempuan sudah lolos dari penculiknya, bagaimana mereka akan bisa menunjang hidupnya sendiri serta anak-anaknya? Sistem hukum tidak memberikan semua jawaban."


Menurut Stephan Rapp, para perempuan dapat menemui kepala suku di desanya untuk mengadili suami-suami tidak sah ini. Apabila mereka takut, maka mereka bisa didampingi melalui program tribunal Sierra Leone.

"Melalui program ini, sudah dua ribu pertemuan diadakan di seluruh Sierra Leone, untuk membicarakan hasil-hasilnya. Kami menjadi perantara dan mencari orang yang dapat memimpin mereka dalam proses ini."


*Disadur ulang oleh Juliani Wahjana

Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)
Sumber Foto Ilustrasi:  Getty Image


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia