KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

REFLEKSI IMLEK 2560: Momentum Naga-naga Pribumi Bangkit!

 
OPINI

REFLEKSI IMLEK 2560: Momentum Naga-naga Pribumi Bangkit!
Oleh : Daniel Johan | 18-Jan-2009, 00:14:05 WIB

KabarIndonesia - Kita semua tahu benar apa itu batik, wayang kulit, dan wayang golek. Bahkan saat Malaysia mengklaim batik sebagai warisan budaya mereka, segera saja sebagian besar dari kita meradang karena rasa nasionalisme yang terusik. Apa gerangan? Karena kita tahu bahwa batik adalah budaya otentik bangsa Indonesia yang sudah demikian mengakar dalam kehidupan kita. Batik, wayang kulit, dan wayang golek inilah salah satu kreativitas dan jiwa seni yang lahir dari anak-anak bangsa Indonesia pribumi dari Suku Tionghoa.

Suku Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan banyak memberikan pengaruh pada berbagai warisan di berbagai bidang kehidupan, dari pertanian, bahasa, kesehatan, politik, hingga seni dan budaya. Namun sayang kekelaman praktik diskriminasi dan penindasan juga mewarnai kehidupan Suku Tionghoa di Indonesia. Semuanya bermula dari politik pecah-belah devide at impera Belanda yang menggolongkan bangsa Indonesia atas 3 golongan yaitu Eropa, Timur Asing, dan "Pribumi".

Namun, anehnya, kebijakan tersebut diadopsi dengan sempurna oleh Orde Baru. Tengok saja UU Nomor 62/1958 tentang Kewarganegaraan yang intinya mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945 karena UU tersebut justru menggunakan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), 27 Desember 1949 sebagai dasar hukum.

Ironis, sebuah negara merdeka masih tunduk pada keinginan penjajahnya. Konsekuensinya adalah sejak 1959 hingga 2006 warga negara tetap digolong-golongkan, sehingga praktik diskriminasi terhadap golongan yang sengaja dilemahkan, yakni suku Tionghoa telah mengakar demikian kuat. Inpres Nomor 14/ 1967 oleh rezim Soeharto yang melarang segala hal berbau Tionghoa adalah puncaknya.

Butuh kemauan, kerja keras, dan perjuangan bersama untuk menghapuskannya karena meskipun sekarang telah ada UU Kewarganegaraan yang baru dan UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, namun pada tingkat pelaksanaan masih banyak kendala. Dibutuhkan partisipasi aktif semua pihak untuk menuntaskan salah satu masalah bangsa ini.

Suku yang mengenal 12 shio ini selama tiga generasi merasakan pahit dan sakitnya didiskriminasi dan dipinggirkan dari arena kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara sistematis mereka dilokalisir di bidang bisnis dan perdagangan, sehingga secara pelan namun pasti suku Tionghoa di Indonesia kehilangan tulang punggung sosial politiknya, sehingga orang-orang Tionghoa dari jaman Belanda hingga Republik Indonesia tetap berada dalam jangkauan meriam penguasa, hingga setiap saat dengan mudah dikorbankan pada saat keadaan tidak lagi menguntungkan penguasa.

Tanpa tulang punggung sosial politik, shio untuk orang Tionghoa yang seharusnya berjumlah 12 tereduksi menjadi 5 shio, yaitu "kelinci percobaan" bagi kerumitan birokrasi, "kambing hitam" bila terjadi krisis, "sapi perah" di masa aman, "kuda tunggangan" menjelang Pemilu, dan "ayam potong" kalau keadaan sudah genting.

Sementara Pramoerdya Ananta Toer menyatakan, bahwa keseluruhan tindakan dan kebijakan rasialis di Indonesia berakar dari pemalsuan terhadap bentuk dan isi peristiwa-peristiwa sosial oleh oknum-oknum tertentu, dengan tujuan agar Hoakiau lenyap dari Indonesia, tidak menjadi penduduk di negeri mana pun, atau minimal menjadi tempat menyeka kaki.

Tapi reformasi telah membuat Ibu Pertiwi kembali tersenyum. Suku Tionghoa dapat tampil kembali di arena publik, terutama sejak Gus Dur sang pendeklarator PKB, dengan tegas menghapus berbagai pembatasan terhadap suku Tionghoa, termasuk mencabut Inpres Nomor 14/1967 sehingga masyarakat Tionghoa tidak lagi dilarang untuk mengeskpresikan secara publik berbagai kebudayaan dan tradisi mereka.

Kondisi ini harus dimaknai sebagai momentum untuk meregenerasi tulang punggung sosial politik pribumi Tionghoa, sehingga sebagai anak bangsa mampu berdiri tegak sebagai "naga-naga pribumi" yang sama setara dengan warga pribumi Jawa, Batak, Sunda, Papua, dan anak bangsa lainnya.

Semoga Tahun Baru Imlek 2560 membawa harapan baru untuk perbaikan yang nyata. Kaum Tionghoa sebagai warga pribumi sah juga memiliki nilai-nilai yang bisa disumbangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Pemilu 2009 adalah pintu masuk terpenting bagi pribumi Tionghoa dalam meregenerasi tulang punggung sosial politiknya sehingga antusias dan keterlibatan aktif untuk memilih wakil rakyat mereka jangan disia-siakan. Setiap pribumi Tionghoa harus menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya karena masa-masa diskriminasi telah berakhir, sehingga naga-naga pribumi bersama anak bangsa yang lain bisa bersama-sama memberi kontribusi terbaiknya untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia.(*)


* Penulis adalah Wasekjend DPP PKB
* Grafis: Saiful Hadjar



Blog:
http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Modeloleh : Rohmah Sugiarti
24-Jul-2017, 06:03 WIB


 
  Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menandatangani prasasti Desa Sejahtera Mandiri untuk Kampung Berseri Astra Keputih didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Hartono Laras (kanan), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Ramadhan 15 Jun 2017 05:55 WIB

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 
Hari Media Social 2017 11 Jun 2017 04:40 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia