KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRektor Universitas Pendidikan Indonesia Tutup Usia oleh : Barnabas Subagio
23-Apr-2017, 20:52 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bandung, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Furqon, MA. Ph.D., menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (22/4/2017) pukul 10:25 WIB di Rumah Sakit Advent, Jl. Cihampelas No.161, Cipaganti, Coblong, Kota Bandung.
Menurut informasi yang dihimpun pewarta KabarIndonesia, awalnya beliau sedang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Dalam Diam... 12 Apr 2017 17:58 WIB

Jiwa-jiwa Penantang Zaman 04 Apr 2017 23:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ajak Warga Jakarta Bersatu 10 Apr 2017 22:11 WIB


 

 

REFLEKSI IMLEK 2560: Momentum Naga-naga Pribumi Bangkit!

 
OPINI

REFLEKSI IMLEK 2560: Momentum Naga-naga Pribumi Bangkit!
Oleh : Daniel Johan | 18-Jan-2009, 00:14:05 WIB

KabarIndonesia - Kita semua tahu benar apa itu batik, wayang kulit, dan wayang golek. Bahkan saat Malaysia mengklaim batik sebagai warisan budaya mereka, segera saja sebagian besar dari kita meradang karena rasa nasionalisme yang terusik. Apa gerangan? Karena kita tahu bahwa batik adalah budaya otentik bangsa Indonesia yang sudah demikian mengakar dalam kehidupan kita. Batik, wayang kulit, dan wayang golek inilah salah satu kreativitas dan jiwa seni yang lahir dari anak-anak bangsa Indonesia pribumi dari Suku Tionghoa.

Suku Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan banyak memberikan pengaruh pada berbagai warisan di berbagai bidang kehidupan, dari pertanian, bahasa, kesehatan, politik, hingga seni dan budaya. Namun sayang kekelaman praktik diskriminasi dan penindasan juga mewarnai kehidupan Suku Tionghoa di Indonesia. Semuanya bermula dari politik pecah-belah devide at impera Belanda yang menggolongkan bangsa Indonesia atas 3 golongan yaitu Eropa, Timur Asing, dan "Pribumi".

Namun, anehnya, kebijakan tersebut diadopsi dengan sempurna oleh Orde Baru. Tengok saja UU Nomor 62/1958 tentang Kewarganegaraan yang intinya mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945 karena UU tersebut justru menggunakan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), 27 Desember 1949 sebagai dasar hukum.

Ironis, sebuah negara merdeka masih tunduk pada keinginan penjajahnya. Konsekuensinya adalah sejak 1959 hingga 2006 warga negara tetap digolong-golongkan, sehingga praktik diskriminasi terhadap golongan yang sengaja dilemahkan, yakni suku Tionghoa telah mengakar demikian kuat. Inpres Nomor 14/ 1967 oleh rezim Soeharto yang melarang segala hal berbau Tionghoa adalah puncaknya.

Butuh kemauan, kerja keras, dan perjuangan bersama untuk menghapuskannya karena meskipun sekarang telah ada UU Kewarganegaraan yang baru dan UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, namun pada tingkat pelaksanaan masih banyak kendala. Dibutuhkan partisipasi aktif semua pihak untuk menuntaskan salah satu masalah bangsa ini.

Suku yang mengenal 12 shio ini selama tiga generasi merasakan pahit dan sakitnya didiskriminasi dan dipinggirkan dari arena kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara sistematis mereka dilokalisir di bidang bisnis dan perdagangan, sehingga secara pelan namun pasti suku Tionghoa di Indonesia kehilangan tulang punggung sosial politiknya, sehingga orang-orang Tionghoa dari jaman Belanda hingga Republik Indonesia tetap berada dalam jangkauan meriam penguasa, hingga setiap saat dengan mudah dikorbankan pada saat keadaan tidak lagi menguntungkan penguasa.

Tanpa tulang punggung sosial politik, shio untuk orang Tionghoa yang seharusnya berjumlah 12 tereduksi menjadi 5 shio, yaitu "kelinci percobaan" bagi kerumitan birokrasi, "kambing hitam" bila terjadi krisis, "sapi perah" di masa aman, "kuda tunggangan" menjelang Pemilu, dan "ayam potong" kalau keadaan sudah genting.

Sementara Pramoerdya Ananta Toer menyatakan, bahwa keseluruhan tindakan dan kebijakan rasialis di Indonesia berakar dari pemalsuan terhadap bentuk dan isi peristiwa-peristiwa sosial oleh oknum-oknum tertentu, dengan tujuan agar Hoakiau lenyap dari Indonesia, tidak menjadi penduduk di negeri mana pun, atau minimal menjadi tempat menyeka kaki.

Tapi reformasi telah membuat Ibu Pertiwi kembali tersenyum. Suku Tionghoa dapat tampil kembali di arena publik, terutama sejak Gus Dur sang pendeklarator PKB, dengan tegas menghapus berbagai pembatasan terhadap suku Tionghoa, termasuk mencabut Inpres Nomor 14/1967 sehingga masyarakat Tionghoa tidak lagi dilarang untuk mengeskpresikan secara publik berbagai kebudayaan dan tradisi mereka.

Kondisi ini harus dimaknai sebagai momentum untuk meregenerasi tulang punggung sosial politik pribumi Tionghoa, sehingga sebagai anak bangsa mampu berdiri tegak sebagai "naga-naga pribumi" yang sama setara dengan warga pribumi Jawa, Batak, Sunda, Papua, dan anak bangsa lainnya.

Semoga Tahun Baru Imlek 2560 membawa harapan baru untuk perbaikan yang nyata. Kaum Tionghoa sebagai warga pribumi sah juga memiliki nilai-nilai yang bisa disumbangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Pemilu 2009 adalah pintu masuk terpenting bagi pribumi Tionghoa dalam meregenerasi tulang punggung sosial politiknya sehingga antusias dan keterlibatan aktif untuk memilih wakil rakyat mereka jangan disia-siakan. Setiap pribumi Tionghoa harus menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya karena masa-masa diskriminasi telah berakhir, sehingga naga-naga pribumi bersama anak bangsa yang lain bisa bersama-sama memberi kontribusi terbaiknya untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia.(*)


* Penulis adalah Wasekjend DPP PKB
* Grafis: Saiful Hadjar



Blog:
http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Koreografi Tari Kontemporeroleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
04-Apr-2017, 01:32 WIB


 
  Koreografi Tari Kontemporer Mahasiswa jurusan Seni Tari Semester IV ISI Surakarta melaksanakan ujian koreografi tari kontemporer menggunakan media benda keras di Teater Kecil ISI Surakarta, Senin, 3 April 2017. Berbagai benda keras digunakan sebagai media para mahasiswa mengeksplorasi gerak, mulai dari payung, kurungan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
MAKASSAR: Kota Plural dan Nyaman 19 Apr 2017 22:12 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia