KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupJokowi Blusukan Asap: Tahun Depan Indonesia Harus Tanpa Asap oleh : Wahyu Ari Wicaksono
27-Nov-2014, 15:09 WIB


 
 
Jokowi Blusukan Asap: Tahun Depan Indonesia Harus Tanpa Asap
KabarIndonesia - Pekanbaru, 27 November 2014 – Kesediaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Blusukan Asap ke Riau melihat lokasi kebakaran lahan gambut dan hutan menumbuhkan harapan Indonesia bisa bebas tanpa asap pada tahun depan. Ini menunjukkan komitmen Presiden Jokowi menjadikan penyelesaian
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Soeharto, Putera Mahkota Soekarno

 
OPINI

Soeharto, Putera Mahkota Soekarno
Oleh : Ki Semar | 27-Jan-2009, 02:18:43 WIB

KabarIndonesia - Indonesia sebagai suatu bangsa sebenarnya pernah mendapat anugerah surga. Hal itu terwujud karena di bumi Nusantara ini pernah terlahir 2 tokoh besar yang hidup dalam jaman yang berkesinambungan. Yang satu menggantikan yang lainnya. Ke-2 tokoh tersebut adalah SOEKARNO dan SOEHARTO. Dalam satu abad ke depan saya tidak yakin Indonesia mendapat pengganti ke-2 tokoh besar tersebut.

Berbicara hubungan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto, pikiran kita akan langsung tertaut pada peritiwa berdarah G30S PKI. Yang tampak dalam pemikiran kita serta berbagai analisa selama ini adalah JENDERAL SOEHARTO melakukan KUDETA terselubung atas Presiden SOEKARNO. Adakah yang pernah berpikir bahwasanya Jenderal Soeharto  adalah Kader Terbaik Presiden Soekarno, atau dalam bahasa Poltik kita menyebut:  JENDERAL SOEHARTO MERUPAKAN PUTERA MAHKOTA PRESIDEN SOEKARNO?


Untuk lebih menjelaskan permasalahan di atas, maka kita harus kembali mengevaluasi 'Siapa Presiden Soekarno dan bagaimana paham politik yang diyakini dan dijunjung tinggi oleh Soekarno sejak menginjakkan kaki di kancah Pergerakan Nasional'.

Presiden Soekarno menjunjung tinggi Nasionalisme, dan mengaplikasikan paham Demokrasi dalam menjalankan Pemerintahan. Salah satu inti dari pemerintahan yang menganut paham Demokrasi adalah Jabatan Presiden bukan bersifat abadi. Tetapi terus bergulir dengan berpedoman pada suara dan aspirasi rakyat.

Membaca penjelasan tersebut tentu akan mengundang pertanyaan: Mengapa Soekarno mengangkat dirinya sebagai Presiden seumur hidup, yang berarti pula bahwa Presiden Soekarno telah mengangkat dirinya sebagai Raja di Indonesia. Jawaban dari pertanyaan di atas adalah TIDAK. Sekali lagi TIDAK. Pengangkatan Presiden Soekarno sebagai Presiden seumur hidup adalah merupakan strategi politik Presiden Soekarno. Presiden Soekarno menyadari bahwa jabatan sebagai Presiden RI merupakan incaran beberapa tokoh, baik tokoh politik maupun tokoh militer. Dengan mengangkat diri sebagai Presiden seumur hidup, Presiden Soekarno berharap dapat membunuh harapan orang-orang yang mengincar kursi Kepresidenan. Presiden Soekarno membutuhkan waktu untuk menggodok PUTRA MAHKOTA hingga siap menerima tongkat komando sebagai  Presiden RI.

Kita semua tahu bahwa Presiden Soekarno sejak masih muda sudah keranjingan untuk belajar berbagai teori politik yang ada. Dan salah satu teori politik yang sedikit mempengaruhi pola pikir Presiden Soekarno adalah teori Komunis. Hal ini bukan sebagai bukti bahwa dia Komunis. Presiden Soekarno tetap Nasionalis. Salah satu strategi Komunis yang digunakan Presiden Soekarno adalah menutup rapat rahasia siapa sebenarnya Putra Mahkota yang tengah dipersiapkan untuk menerima Komando Presiden RI ke-2.

Keberadaan Putera Mahkota hanya diketahui oleh SEGITIGA EMAS, yakni Presiden Soekarno, Jenderal Soeharto dan Letkol Untung. Penempatan Letkol Untung selaku salah satu Komandan Pasukan Cakra Bhirawa adalah hasil kesepakatan Segitiga Emas. Dalam hal ini Letkol Untung berfungsi sebagai pelindung Presiden Soekarno dan penghubung antara Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto. Yang tentu saja semua itu dilakukan secara diam-diam. (Operasi Intelijen). Dengan kata lain, Letkol Untung merupakan JEMBATAN EMAS antara RAJA dan PUTERA MAHKOTA.

Kedekatan Untung dengan Jenderal Soeharto diawali saat Jenderal Soeharto menjabat Pangdam Diponegoro. Atas perintah Presiden Soekarno, Lekol Untung mendampingi Jenderal Soeharto dalam Operasi Mandala. Tugas utamanya adalah menyelamatkan sang Putera Mahkota apabila terjadi kondisi darurat. Setelah selayang pandang kita tampilkan hubungan Segitiga Emas dalam rencana Suksesi Nasional, maka sebagian kita pasti bertanya: Di mana posisi PKI dalam proses alih generasi ini?

PKI mendapat dukungan kuat dari RRC, hal ini membuat Partai ini sempat melambung di kancah Politik Nasional. Kekuatan dukungan dari RRC ini membuat Presiden Soekarno tidak gegabah dalam menghadapi PKI. Tapi kita semua tahu, bahwasanya Presiden Soekarno adalah seorang Muslim yang taat menjalankan ibadah agamanya. Dalam hal keagamaan, Presiden Soekarno berpaham Muhammadiyah. Dengan dasar sebagai muslim yang taat ini, sebenarnya Presiden Soekarno tidak menginginkan keberadaan Partai Komunis di Indonesia.

Dalam suatu percakapan dengan beberapa tokoh Nasionalis, Presiden Soekarno mengatakan “ Aku sekarang sedang fokus dalam konfrontasi dengan Malaysia. Masalah PKI nanti akan tiba waktunya.“ Menghadapi kondisi yang serba sulit ini, maka Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto mengatur strategi agar dapat menghancurkan Partai Komunis dengan cara MELEMPAR BOLA API LALU BAKAR. Atau dengan kata lain MENGGIRING PARTAI KOMUNIS UNTUK MENGGALI KUBUR SENDIRI. Suatu operasi Intelijen besar yang tumbuh dari 2 jenius Indonesia.

Fakta-fakta di bawah ini akan menambah keyakinan kita bagaimana sebenarnya hubungan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto.

1. Saat Jenderal Soeharto diadili untuk kasus penyelindupan peralatan tempur TNI AD, Presiden Soekarno memerintahkan menghentikan proses hukum yang tengah berjalan. Hal ini menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan besar bagi para Perwira yang menangani kasus tersebut.

2. Jenderal Soeharto tidak masuk dalam daftar KANDIDAT calon Pangdam Diponegoro. Tetapi karena campur tangan Presiden Soekarno selaku Panglima tertinggi ABRI, maka jabatan Pangdam Diponegoro diserahkan kepada Jenderal Soeharto.

3. Pengangkatan Jenderal Soeharto sebagai PANGKOSTRAD juga tak lepas dari peran Presiden Soekarno. Presiden Soekarno memahami bahwa jabatan Pangkostrad merupakan jabatan Strategis di lingkungan TNI AD. Maka hanya seorang Putera Mahkota yang berhak mendudukinya.

4.  Rencana pengangkatan Jenderal Pranoto sebagai pengendali sementara TNI AD pasca terjadinya G30S PKI hanya sebuah sandiwara. Pada kenyataannya Jenderal Soehartolah yang menduduki jabatan tersebut. Sandiwara perlu dilakukan untuk menutup kedekatan Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto.
 
5. Tidak tercantumnya nama Jenderal Soeharto dari daftar Jenderal yang diculik pada peristiwa G30S PKI pada awalnya menjadi sebuah misteri besar. Secara logika, apabila operasi tersebut ditujukan untuk melenyapkan Jenderal yang berposisi strategis di lingkungan TNI AD, maka sebagai Pangkostrad seharusnya menduduki daftar teratas setelah Jenderal A. Yani. Tetapi bila kita lihat bahwa komandan operasi tersebut bagian dari Segitiga Emas, maka wajar jika Jendral Soeharto tidak termasuk di dalamnya. Dan bila kita lebih jeli melihat nama para korban penculikan, tampak di sana sederet nama yang pernah terlibat dalam pengusutan Jenderal Soeharto dalam kasus penyelundupan peralatan tempur TNI AD, dan mereka mencium bau kurang sedap tentang kedekatan Jenderal Soeharto dan Presiden Soekarno. Jadi pada dasarnya penculikan bebrapa Jenderal di jajaran TNI AD tersebut lebih terfokus untuk menghapus jejak adanya Putera Mahkota Presiden Soekarno.

6. Pemberian SUPERSEMAR dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto merupakan titik puncak rencana Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto untuk melenyapkan PKI dari Indonesia. Dan hal ini dipandang oleh dunia luar sebagai dampak percobaan Kudeta yang dilakukan oleh PKI dengan bantuan beberapa Jenderal TNI AD yang tergabung dalam Dewan Jenderal. Tugas penumpasan PKI dianggap sebagai tugas yang sangat besar, sehingga hanya layak dilakukan oleh seorang Putera Mahkota. Dalam hal ini Jenderal Soeharto.

Jelas tampak di sini, bahwasanya pemberian SUPERSEMAR bukan bersifat paksaan, apalagi di bawah todongan senjata Basuki Rahmat, dan M. Yusup, seperti kabar yang beredar saat ini. Perlu diingat, bahwa pemberian Supersemar dilakukan oleh Presiden Soekarno saat dia masih menjabat Presiden RI/Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI. Dengan Jabatan tersebut alangkah mudahnya Presiden Soekarno menggunakan kekuatan TNI AU, TNI AL dan POLRI untuk menghancurkan kekuatan Jenderal Soeharto, serta menghukum gantung Basuki Rahmat dan M. Yusup, atas kelancangannya mengancam seorang Presiden.

Proses Suksesi kepemimpinan nasional mulai bergulir. Dengan Supersemar  di tangan, perlahan Jenderal Soeharto menerima tongkat estafet kepemimpinan nasional. Pada posisi inilah sejarah berputar 180 derajat. Tanpa diduga sebelumnya, CIA melancarkan operasi anti Soekarno. Berbagai elemen masyarakat dimasuki oleh CIA. Sehingga dalam waktu singkat berkobarlah api anti Soekarno. Para mahasiswa juga ambil bagian dalam gerakan anti Soekarno. Dalam situasi ini, siapa pun yang dipandang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soekarno akan dihancurkan. Kondisi yang sangat sulit ini menyebabkan Jenderal Soeharto segera merubah strategi yang dijalankan. Dari seorang Putera Mahkota berbalik berdiri di belakang Mahasiswa mengobarkan api anti Soekarno. Sehingga dalam waktu singkat, Jenderal Soeharto berhasil mendapat simpati elemen masyarakat, mahasiswa dan CIA. Mereka menganggap Jenderal Soeharto sebagai calon pemimpin masa depan dan layak mendapat dukungan. Ganjalan satu-satunya tinggal Letkol Untung, hanya dia yang tahu bahwa Jenderal Soeharto merupakan Putera Mahkota Presiden Soekarno. Sebelum semuanya terbongkar, maka disingkirkanlah Letkol Untung oleh Jenderal Soeharto. Di sini tampak, bahwa pembunuhan Letkol Untung bukan karena menjadi Komandan Penculikan Jenderal Angkatan Darat, tetapi karena Letkol Untung mengetehui siapa sebenarnya Jenderal Soeharto.

Untuk lebih meyakinkan perannya sebagai Jenderal yang anti Soekarno, maka mulailah Jenderal Soeharto melakukan teror kepada Presiden Soekarno dan keluarganya serta para pengikut setia Presiden Soekarno.

Bukan suatu hal yang aneh apabila dokumen bersejarah Supersemar  yanga asli sampai saat ini tidak ditemukan, karena susunan kata yang ada dalam Supersemar yang asli, Presiden Soekarno mulai mengungkapkan tentang keberadaan Putera Mahkota.  Apabila hal ini sampai diketahui kalangan luar, maka Jenderal Soehartolah yang akan diburu oleh berbagai elemen masyarakat, karena ternyata Jenderal Soehartolah orang  yang paling dekat dengan Presiden Soekarno.

Puncak pertanyaan besar dalam permasalahan di atas adalah : Mengapa Presiden Soekarno membiarkan dirinya menjadi korban arus Revolusi? Jawabannya adalah Presiden Soekarno tidak sepenuhnya merasa kalah. Walau kenyataan pahit yang harus ditelannya, tetapi paling tidak Presiden Soekarno merasa puas karena Putera Mahkotanya berhasil menjadi Presiden RI ke-2 menggantikannya.(*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemkab Bakal Poles Kota Kasongan 27 Nov 2014 13:07 WIB

 
1795 RTS Pulpis Terima Dana PSKS 26 Nov 2014 15:05 WIB


 
Thailand Permalukan Singapura 2-1 24 Nov 2014 11:17 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 
Bukan Sembarang Kuda (Lumping) 27 Nov 2014 12:55 WIB

 

 
Biasakan Tidur Siang Secukupnya 27 Nov 2014 12:46 WIB

Tawas Ampuh Hilangkan Bau Badan 26 Nov 2014 17:31 WIB

 
Endemik Pulau Sumatra 26 Nov 2014 17:34 WIB

Pejuang Cilik 25 Nov 2014 19:26 WIB

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia