KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

TRAGEDI SUMUT: Hancurnya Citra DPR dan Jaringan Intelijen Indonesia

 
OPINI

TRAGEDI SUMUT: Hancurnya Citra DPR dan Jaringan Intelijen Indonesia
Oleh : Tony Mardianto | 05-Feb-2009, 00:47:04 WIB

KabarIndonesia - Aksi anarkis yang terjadi di gedung DPRD Sumut tidak bisa dipandang sebagai tragedi regional. Tetapi lebih tepat disebut tragedi nasional. DPRD Sumut merupakan miniatur dari seluruh DPRD di Indonesia. Citra dan perilaku jajaran anggota dewan yang ada di Sumut tidak akan jauh berbeda dengan jajaran anggota dewan lainnya di Indonesia, sehingga apa yang terjadi di Sumut bukan hal yang mustahil akan melanda dan terjadi di gedung anggota dewan mana pun di seluruh Indonesia.

Menangkap dalang di balik peristiwa anarkis di gedung DPRD Sumut merupakan langkah hukum yang tepat. Tetapi memahami pondasi dasar atau akar masalah yang sebenarnya merupakan langkah yang harus segera dilaksanakan. Masalah pemekaran wilayah yang menjadi isu penyebab terjadinya aksi anarkis di gedung DPRD Sumut merupakan faktor eksplisit.

Namun demikian, faktor implisit justru memegang porsi besar sebagai penyebab terjadinya aksi anarkis di gedung DPRD Sumut, bahkan di gedung DPRD manapun di seluruh Indonesia. Dengan gambaran yang lebih singkat dapat dikatakan bahwa faktor eksplisit hanya sebuah detonator, sedangkan faktor implisit merupakan bom waktu yang mengerikan.

Pertanyaannya adalah, apa saja yang termasuk dalam faktor implisit tersebut? Ada dua faktor implisit yang mendorong terjadinya aksi anarkis di gedung DPRD, yaitu (1) perilaku dan citra anggota dewan, serta (2) lemahnya jaringan intelijen di Indonesia.

Disadari atau tidak, citra anggota dewan semakin hari semakin terpuruk. Hal ini merupakan dampak sistem kinerja dewan yang lebih terfokus pada masalah politik dan kesejahteraan anggota dewan. Di saat bangsa ini sedang prihatin dengan adanya resesi ekonomi dan bencana alam yang berkesinambungan, dengan tanpa malu anggota dewan mengajukan kenaikan tunjangan yang sangat fantastis  serta tambahan fasilitas mewah lainnya.

Hal ini  membuat sakit hati sebagian besar rakyat Indonesia. Belum lagi tindakan korupsi yang dilakukan anggota dewan semakin memperdalam rasa sakit bangsa Indonesia. Sakit hati ini kemudian menggumpal menjadi dendam yang membara di hati bangsa Indonesia. Apabila telah demikian parah kondisinya, siapakah yang salah bila terjadi aksi anarkis seperti yang terjadi di Sumut atau bahkan di daerah lainnya?

Peristiwa anarkis di Sumut bukan sekadar sebuah puncak peristiwa anarkis terhadap anggota dewan tetapi merupakan awal dari peristiwa anarkis di beberapa gedung anggota dewan lainnya. Aksi anarkis yang terjadi di Sumut layak dikecam, tetapi sifat arogansi anggota dewan jauh lebih layak mendapat kecaman.

Isu pemekaran wilayah yang menjadi detonator aksi anarkis di gedung DPRD Sumut bukan sebuah proses yang pendek. Sudah lama isu ini berkembang dan menjadi topik pembicaraan yang hangat. Demikian juga rencana aksi anarkis yang melibatkan ribuan orang tidak mungkin dilakukan dalam jangka waktu yang pendek.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kondisi ini bisa lepas dari pantauan jaringan intelijen? Tugas pokok badan intelijen, baik dari BIN ataupun kepolisian adalah membaca situasi yang sedang berkembang di masyarakat, untuk selanjutnya dianalisa serta diprediksi kemana akhirnya masalah tersebut akan berkembang, dan sejauh mana tingkat kegentingan masalah tersebut.

Bila hal ini telah dilakukan, maka akan disusun langkah pencegahannya. Apakah ini merupakan indikasi lemahnya sensor badan intelijen di Indonesia? Mengacu pada pengalaman pahit yang terjadi di gedung DPRD Sumut, perlu kiranya para anggota dewan untuk introspeksi dan melakukan revolusi dalam prilaku serta kinerjanya guna mengembalikan citra dan kewibawaan DPR selaku lembaga tinggi di negeri ini.

Hal serupa juga perlu dilakukan oleh jaringan intelijen di Indonesia untuk lebih meningkatkan sensor terhadap perkembangan yang ada. Bukan hanya di Sumut, tetapi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  


* Foto: flickr.com


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia