KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
EkonomiGubsu Minta Mobil Mewah Pakai Pertamina Dex oleh : Jenda Bangun
30-Aug-2014, 12:35 WIB


 
  KabarIndonesia - Medan, Pasca normalisasi pasokan BBM, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujonugroho memantau langsung penyaluran BBM bersubsidi di SPBU Pertamina Jalan KL Yosudarso, kemarin.

Gubsu juga mengimbau pengendara mobil mewah yang sedang mengantri mengisi BBM. Dengan ramah,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB

 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

 

Jenderal Soeharto Bukan Pengkhianat

 
OPINI

Jenderal Soeharto Bukan Pengkhianat
Oleh : Tony Mardianto | 05-Mar-2009, 00:29:11 WIB

Tanggapan atas tulisan: “Mengkhianati Presiden Panglima Tertinggi Sukarno, Mana Mungkin Jadi Pahlawan Nasional!”

KabarIndoensia
- Tulisan di atas merupakan judul tajuk yang ditulis dalam kolom Ibrahim Isa yang sempat saya baca via forum interaktif KabarIndonesia. Secara singkat tajuk tersebut berisi ketidaksetujuan atau penolakan atas pengusulan untuk menjadikan mantan Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Dasar dari penolakan tersebut dilatarbelakangi adanya pengkhianatan Jenderal Soeharto (saat peristiwa terjadi) terhadap Presiden Soekarno selaku Panglima Tertinggi ABRI saat itu.

Beberapa pengkhianatan yang dilakukan oleh Jenderal Soeharto diantaranya:

Pertama: Sabotase atas pengangkatan Letnan Jenderal Pranoto Reksomamudro untuk memegang pimpinan harian AD. Hal ini dianggap sebagai pembangkangan seorang perwira AD terhadap Panglima Tertinggi ABRI.

Kedua: Penyalahgunaan Supersemar yang seharusnya berfungsi untuk mempertahankan ajaran Presiden Soekarno serta lagalitas untuk mengembalikan kondisi keamanan telah beralih fungsi sebagai Transfer of Power. Sekali lagi sebuah pengkhianatan telah dilakukan oleh Jenderal Soeharto.

Dengan adanya dua fakta di atas maka sangat tidak layak apabila mantan Presiden Soeharto diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
 
Lebih jauh dalam tajuk tersebut disebutkan apabila Presiden SBY mengabulkan permohonan tersebut berarti telah melakukan Political Suicide (bunuh diri politik).

Demikian sekilas makna yang tertuang dalam kolom Ibrahim Isa. Sebuah tulisan yang sangat menarik untuk dikupas karena mengandung sebuah misteri sejarah dan ditulis dalam waktu yang tepat.

Dengan tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat saya kepada penulis artikel di atas, tidak ada salahnya bila saya menulis sebuah artikel tanggapan atas tulisan pada kolom Ibrahim Isa yang saya baca via forum interaktif KabarIndonesia.

Yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah tulisan ini bukan bersifat dukungan atas rencana pengangkatan mantan Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional tetapi terfokus pada penolakan argumentasi yang melatarbelakangi penolakan pengangkatan mantan Presiden RI ke-2 sebagai Pahlawan Nasional.

Beberapa hal yang melandasi pola pikir saya di antaranya:

Pertama: Kejelasan makna kata pengkhianat dalam konteks politik.

Kedua: Fakta di balik gagalnya pengangkatan Letjend. Pranoto Reksosamudro.

Ketiga: Misteri Supersemar.

Kejelasan makna kata pengkhianat dalam konteks politik.
Turunnya Presiden Soekarno serta naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI merupakan peristiwa/ proses politik. Tidak ada kata pengkhianat dalam naik turunnya seseorang dalam jabatan politis. Semua peristiwa berdasar pada kekalahan strategi seseorang Presiden yang tengah berkuasa menghadapi goncangan atau strategi politik pihak lain yang berusaha merebut kursi kepresidenannya. Apabila setiap pergantian kekuasaan identik dengan pengkhianatan, maka kita perlu bertanya bagaimana Amien Rais dan kawan-kawan menggulingkan Presiden Soeharto. Layakkah Amien Rais dan kawan-kawan disebut pengkhianat atau dapatkah kita menyebut Megawati sebagai pengkhianat karena menggantikan Gus Dur yang baru beberapa saat menduduki kursi kepresidenan? Saya rasa tidak.

Fakta yang harus kita akui adalah: Presiden Soeharto tidak sanggup menghadapi strategi Amien Rais dan kawan-kawan sehingga jatuh dan dilengserkan. Begitu pun dengan Gus Dur, harus kita akui strategi Megawati cukup prima dan tajam. Hal ini tampak dari kemampuannya melengserkan Gus Dur yang baru memerintah seumur jagung. Demikian juga halnya dengan Presiden Soekarno. Sebagai tokoh yang handal dalam dunia politik ternyata tidak mampu membendung serangan (kalau boleh disebut demikian) Jenderal Soeharto, sehingga lepaslah jabatan Presiden Soekarno dan digantikan oleh Jenderal Soeharto. Sekali lagi tidak ada unsur pengkhianatan dalam peristiwa ini. Yang ada adalah strategi siapa menang atas strategi siapa.

Fakta di balik gagalnya pengangkatan Letjend. Pranoto Reksosamudro.  Dalam kasus ini penulis melihat adanya kontradiksi keadaan. Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Letjend. Pranoto sebagai pejabat harian pimpinan AD dan ditolak oleh Mayor Jenderal Soeharto mengacu pada 2 hal:

Pertama: Jenderal Soeharto memegang teguh ketetapan dalam Strukur Komando AD yang menyebutkan bahwa: Apabila Panglima AD berhalangan maka komando sementara Angkatan Darat dipegang oleh Panglima Kostrad. Maka sangat wajar apabila Mayjend. Soeharto (pada saat itu) sebagai Pangkostrad menolak keputusan Presiden Soekarno. Satu catatan yang penting di sini adalah latar belakang Presiden Soekarno yang bukan dari kalangan militer seringkali menimbulkan kesalahan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan komando di kalangan militer baik di AD, AL, AU maupun Kepolisian. Sehingga saya memandang tidak ada unsur “Pembangkangan” yang dilakukan oleh Jenderal Soeharto. Yang ada adalah meluruskan serta menegakkan aturan Komando di tubuh AD.

Kedua: Apabila kita menggunakan logika bahwa keputusan Presiden Soekarno didasarkan atas kondisi darurat, sehingga mengabaikan Struktur Komando AD, maka yang perlu dipertanyakan: Mengapa jika Presiden Soekarno menganggap Jenderal Soeharto sebagai pembangkang tidak melakukan tindakan tegas. Baik berupa sanksi bahkan pemecatan terhadap Jenderal Soeharto? Hal ini bukan suatu yang mustahil bagi Presiden Soekarno, mengingat saat itu ia berposisi sebagai Presiden RI dan Panglima Tertinggi ABRI. Ada misteri di balik fakta ini. Misteri tersebut pernah saya kupas dalam artikel yang berjudul: Soeharto Putera Mahkota Soekarno. Dapat di baca di: harian KabarIndonesia, http://www.kabarindonesia.com.

Misteri Supersemar: Penyimpangan pelaksanaan Supersemar (bila benar) seringkali dijadikan alasan untuk mendiskreditkan naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI ke-2 menggantikan Presiden Soekarno. Untuk menganalisa masa tersebut, Penulis akan menampilkan fakta sejarah yang sempat penulis analisa di antaranya:

- Istilah Transfer of Power dalam kaitan dengan Supersemar pernah disinggung oleh Presiden Soekarno dalam Pidato kenegaraan pada saat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI. (kunjungi: Youtube dengan kata kunci: Pidato Presiden Soekarno). Presiden Soekarno bukanlah tipe Presiden yang terbiasa menunda mengambil keputusan. Dekrit Presiden untuk membubarkan Dewan Konstituante dan penunjukan Letjend. Pranoto sebagai pejabat harian di lingkup AD merupakan bukti kecepatan Presiden Soekarno dalam mengambil keputusan (terlepas benar atau tidaknya keputusan yang diambil) menghadapi situasi politik di Indonesia. Terlebih apabila kondisi tersebut menyangkut posisinya sebagai Presiden RI. Secara logika Presiden Soekarno akan segera mencabut Supersemar dari tangan Jenderal Soeharto dan akan mengambil alih Komando Pengembalian Ketertiban dan Keamanan langsung di bawah kendali Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI apabila ada gejala penyimpangan atas pelaksanaan Super Semar oleh Jenderal Soeharto.

- Kabar yang beredar belakangan juga menyebutkan bahwa Supersemar ditandatangani oleh Presiden Soekarno di bawah ancaman senjata 3 Jenderal utusan Jenderal Soeharto. Yang ada dalam pikiran penulis sat ini adalah: Supersemar dikeluarkan pada saat Presiden Soekarno masih menjabat sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Apabila hal tersebut benar-benar terjadi, mengapa Presiden Soekarno tidak mengeluarkan perintah penangkapan Jenderal Soeharto beserta 3 utusannya, andai pun Jenderal Soeharto telah menguasai semua elemen AD masih ada 3 kekuatan yang dapat di komando aleh Presiden Soekarno AL, AU dan Polri? Sekali lagi sebuah misteri telah terjadi di sini. Hanya Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto yang tahu jawabannya.

Dari fakta di atas penulis menarik kesimpulan bahwasanya peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto bukan sebuah proses kudeta ataupun pengkhianatan. Terlalu dini bagi kita sebagai generasi penerus untuk menarik kesimpulan fakta di balik proses alih kepemimpinan nasional dari Soekarno kepada Soeharto.

Realita yang dapat kita terima adalah keduanya merupakan tokoh besar yang pernah ada di Republik ini. Terlepas dari berbagai kelemahan yang dimiliki oleh Soekarno dan Soeharto sebagai manusia biasa, setidaknya kita telah mengenyam berbagai kenyamanan atas jerih payah keduanya.

Soekarno mengantar kita menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, sementara Soeharto telah meletakkan dasar-dasar perekonomian dan pembangunan negeri ini.



*) Nama Pena Penulis: Ki Semar


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
KSPI Tolak Kenaikan BBM 29 Aug 2014 10:55 WIB


 

 

 

 
Perang Bintang di MILO Camp 29 Aug 2014 10:57 WIB


 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia