KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanTeliti Situs HOKI, Cucu Sulastri Lulus Sarjana UIN Syarif Hidayatullah oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom.
21-Sep-2014, 20:01 WIB


 
 
Teliti Situs HOKI, Cucu Sulastri Lulus Sarjana UIN Syarif Hidayatullah
KabarIndonesia - Ketertarikan Cucu Sulastri dalam dunia jurnalistik dan komunikasi, akhirnya mengantarkannya menjadi salah satu calon wisudawati UIN Syarif Hidayatullah dalam waktu dekat ini. Pada 26 Juni 2014 kemarin, Cucu Sulastri baru saja menyelesaikan penelitian berjudul: Dinamika Kerja Citizen Journalism
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kehadiran-MU 23 Sep 2014 00:31 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 
 
OPINI

Tingkah Aneh Caleg dan Kecurangan Pasca Pemilu
Oleh : M Djufri Rachim | 17-Apr-2009, 03:01:40 WIB

KabarIndonesia - Banyak caleg gagal yang enggan ke rumah sakit jiwa. Mereka lebih memilih berobat dengan caranya sendiri, misalnya pergi ke dukun, atau sakit di dalam rumah sendiri. Walaupun ada juga yang langsung meninggal. Astaghfirullah. Namun ada pula caleg yang melampiaskan kegagalannya dengan cara meminta kembali uang yang sebelum pemilu dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Ini terjadi di banyak daerah.

Di Palembang, seorang caleg yang gagal memperoleh suara banyak pada pemilu lalu meminta kembali seperangkat alat musik (band) yang telah disumbangkan sebelumnya. Di Bulukumba, seorang caleg kini menutup sumber mata air miliknya, padahal telah digunakan ratusan kepala keluarga di sekitarnya selama berpuluh-puluh tahun. Di Ambon, caleg menarik kembali karpet yang telah disumbangkan kepada ibu-ibu pengajian. Atau di Kolaka, seorang kepala desa menutup taman kanak-kanak karena caleg jagoannya kalah. Ada juga caleg yang nekad menutup jalanan karena merasa itu adalah tanahnya.  Semua itu rasanya merupakan bentuk lain dari kegilaan juga. Sadar atau tidak, para politisi itu patut segera berkonsultasi kepada psikiater untuk menangani guncangan kejiwaannya.

Melihat kenyataan demikian sesungguhnya akan menambah keyakinan kita bahwa caleg yang mendeklerasikan diri siap kalah dan siap menang sebelum pelaksanaan pemilu, justru hanya siap menang tetapi tidak siap kalah. Mereka tidak kesatria sehingga menginjak-injak harga diri sendiri.  Deklarasi "siap kalah, siap menang" bagi caleg memang agak aneh, mestinya deklarasi siap kalah saja. Bukankah semua caleg sudah pasti siap menang? Caleg yang sekadar "celeng" atau "calleda" ("kegila-gilaan") pun akan siap menerima kejutan untuk menang. Kemenangan adalah sesuatu yang menyenangkan. Aneh jika kemudian ada caleg yang tidak siap menerima kemenangan yang menyenangkan. 

Awalnya banyak caleg yang memang siap kalah, utamanya para caleg yang menempati nomor urut besar. Mereka tidak terlalu berharap banyak, seperti halnya pada pemilu lima tahun lalu (2004). Namun dalam perjalanannya, tiba-tiba Mahkamah Konstitusi menetapkan sistem suara terbanyak untuk caleg yang akan duduk di kursi parlemen. Putusan MK tersebut menjadi penyemangat bagi semua caleg, tidak memandang di nomor urut besar atau kecil, untuk saling berebut kekuasaan.            

Mereka "bersemangat" mendekati konstituen dengan berbagai cara. Menggratiskan usaha TV kabelnya, menyumbangkan alat-alat olahraga, alat musik, membagi-bagikan uang, sembako, dan aneka kebutuhan masyarakat lainnya. Tentu dengan harapan agar dapat terpilih pada pemilu yang berlangsung 9 April 2009. Kini kenyataan sudah bercerita. Banyak caleg yang tidak terpenuhi harapannya. Maka ditariklah segala kebaikan yang diperlihatkan sebelum pemilu itu.            

Selain tingkah caleg yang tidak siap kalah tersebut, pemandangan lain yang dipertontonkan pasca pemilu adalah banyaknya kecurangan yang terjadi pada proses rekapitulasi hasil perolehan suara pemilu. Rekapitulasi penghitungan perolehan suara caleg dan atau partai politik di tingkat kecamatan (PPK) diwarnai aneka kecurangan, utamanya penggelembungan suara. Hasil perolehan suara di tingkat TPS yang telah dikantongi saksi parpol tidak sama angkanya dengan yang terdapat pada PPK. Akibatnya, di banyak tempat terjadi kericuhan, tidak terkecuali di Kota Kendari.            
Panitia pemilihan kecamatan pun tidak dapat memenuhi jadwal yang ditetapkan KPU. Seharusnya PPK telah merampungkan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan mengumumkannya serta mengirimkannya kepada KPU kabupaten/kota pada tanggal 15 April 2009. Namun rupanya, kita menyaksikan di banyak tempat, PPK hingga kini masih berjibaku dengan penghitungan suara hasil pemilu.
           
Penggelembungan suara perolehan hasil pemilu dapat saja terjadi karena dimungkinkan oleh beberapa hal. Pertama, salinan sertifikat hasil penghitungan suara dari seluruh TPS ditempelkan oleh PPS di tempat umum (seperti kantor lurah) guna diketahui secara luas oleh publik. Kedua, tidak semua partai politik menempatkan saksinya di TPS pada hari pelaksanaan pemilu. Ketiga, banyak pihak, utamanya caleg dan fungsionaris parpol atau siapa pun yang berkepentingan langsung dengan pemilu, tidak memiliki bahkan tidak peduli dengan data-data yang meliputi; perolehan suara bagi setiap parpol (bukan saja parpolnya), jumlah suara yang batal atau tidak sah, jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya, dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di setiap TPS.           

Padahal dengan memenuhi tiga hal di atas maka akan mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang hendak berbuat curang. Demikian pula untuk pengawasan pada tingkatan selanjutnya. Hendaknya, mulai saat ini bagi PPK yang telah merampungkan tugasnya agar mengumumkan salinan sertifikat hasil penghitungan suara di kecamatannya, sementara saksi partai politik mengikuti detail semua hasil yang telah diputuskan dalam pleno PPK tersebut. Dengan demikian, ketika rekapitulasi penghitungan tiba di tingkat KPU kabupaten/kota dan KPU provinsi, bahkan KPU pusat, partai politik tinggal mencocok-cocokkan dengan data yang sudah dimiliki.(*)


(M Djufri Rachim, mantan anggota KPU Provinsi Sultra periode 2003-2008)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/
  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obat Ambeiyen Akutoleh : Kholil Effendi
22-Sep-2014, 10:39 WIB


 
  Obat Ambeiyen Akut Handeuleum/Daun Wungu (Graptophylum pictum Griff) adalah tumbuhan perdu yang berbatang tegak. Umumnya tumbuh liar di daerah dataran rendah, sangat bermanfaat bagi penderita ambeiyen ringan dan akut. Caranya ambil 7 helai daunnya, lalu diremas-remas dengan air hangat sampai hancur dan saring
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Pejabat Negara dan Penjara 23 Sep 2014 00:35 WIB

 

 
HMI Gelar Training Leadership 23 Sep 2014 10:03 WIB

 

 
Indonesia Siap Hadapi Thailand 22 Sep 2014 13:06 WIB

Asian Games 2014 Resmi Dibuka 22 Sep 2014 11:59 WIB

 

 
Kumpulan Petapa dari Kanekes 19 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia