KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahPesawat Swiss Dipaksa Mendarat di Medan oleh : Jenda Bangun
15-Apr-2014, 03:53 WIB


 
 
Pesawat Swiss Dipaksa Mendarat di Medan
KabarIndonesia - Medan, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) III Medan, Sumatera Utara, Kamis, sekitar pukul 12.45 WIB menangkap pesawat terbang asing jenis Swearingen SX-300 Nomor N54. JX ketika memasuki wilayah Indonesia karena tanpa izin.

Panglima Kosekhanudnas III Medan,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Perjuanganmu Luar Biasa 10 Apr 2014 11:23 WIB

Gadis Itu Mulai Mengajariku 10 Apr 2014 11:13 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Nyoblos Yes, Golput No 25 Mar 2014 21:39 WIB

 

 
 
OPINI

Membangun Keluarga Sejahtera, Tinjauan Prespektif Iman Katolik
Oleh : Mansetus Balawala | 16-Jul-2009, 13:49:04 WIB

KabarIndonesia - Undang-Undang Nomor 10/1992 serta Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1993 menyebutkan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Dalam BAB I pasal 1, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, secara tegas dinyatakan bahwa keluarga dibentuk melalui suatu proses perkawinan yang sah yang dilangsungkan berdasarkan agama dan kepercayaan dari masing-masing orang (pasangan).
 
Ditingkat hukum internasional, Pasal 16 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia juga menyatakan bahwa keluarga sebagai unit terkecil dan mendasar yang harus mendapat perlindungan dari negara dan masyarakat. Batasan keluarga versi hukum internasional ini sesungguhnya menyatakan bahwa masyarakat internasional menyadari bahwa jaminan terhadap ketentraman keluarga juga harus menjadi tanggung jawab negara dan semua pihak, tidak saja dalam artian bahwa keluarga bebas dari kekerasan secara fisik dan non fisik tapi juga upaya untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga itu sendiri.

Pada dokumen dasarnya, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Katolik, Konsili menyebut keluarga sebagai “Gereja setempat”. Ini berarti bahwa keluarga mempunyai “pemberian khusus diantara hamba Tuhan”. Melalui gereja, rahmat yang besar yang datang kepada gereja itu, dan gereja menyumbangkan bantuannya kepada keluarga. Sepasang suami-isteri mengambil bagian dari kesatuan itu dan membuahkan cinta kasih yang hidup diantara Kristus dan orang-orangnya.

Keluarga harus memperlihatkan segi yang menolong dari gereja. Orang tua harus mengajar dan menyampaikan pesannya kepada anak-anak mereka. Dalam hal ini keluarga mengisi praturan yang spesifik dan unik dalam pekerjaan yang sulit dalam membawa persatuan di dunia. Uskup-uskup Amerika Latin pada pertemuan luar biasa di Puebla tahun 1979 memandang keluarga sebagai kunci dari usaha gereja untuk penyebaran Injil di dunia.

Keluargalah pewarta injil dan pengajar agama yang pertama dan utama. Pendidikan iman, kemurnian dan keutamaan-keutamaan Kristiani lainnya, serta pendidikan seksuil harus dimulai dari dalam keluarga. Cakrawala pandangan keluarga Kristen tidak boleh sempit dan terbatas hanya pada lingkungannya sendiri.

Seluruh keluarga umat manusia harus diperhatikan. Ia mempunyai tugas dalam masyarakat luas untuk memberikan kesaksian tentang nilai-nilai kristiani. Keluarga ikut memajukan keadilan sosial dan siap sedia membantu orang miskin dan tertindas.

Gereja Katolik juga meyakini hidup berkeluarga sebagai panggilan atas titah Tuhan sebagaimana dalam Kitab Kejadian. Diawal penciptaannya, Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita menurut citra dirinya dan berfirman kepada mereka, “beranak cuculah dan bertambah banyak penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segalah binatang yang merayap di bumi (Kej : 1 : 26-29)”.

Tuhan mencipatkan manusia sebagai pria dan wanita maksudnya, sebagai partner terhadap sesamanya. Sebagai partner berarti pria dan wanita itu memang berbeda secara biologis maupun psikologis, namun dengan perbedaan itu bisa saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain. Pria membutuhkan wanita dan wanita membutuhkan pria untuk menjadi pribadi yang utuh dan sempurna. Keduanya sama derajatnya, yang satu tidak melebihi yang lain. Menyadari bahwa hidup berkeluarga merupakan sebuah panggilan, maka Gereja Katolik turut mengambil bagian dalam membina keluarga menuju kemandirian mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Terlepas dari rumusan keluarga yang ditemukan di berbagai literatur, baik dalam bentuk undang-undang maupun rumusan dari para ahli dan ajaran Gereja Katolik, namun pada hakekatnya, keluarga merupakan unit sosial, dimana terjadi hubungan sosial yang dibentuk oleh perkawinan. Keluarga juga membentuk fungsi yang esensial bagi kestabilan dan kelangsungan hidup masyarakat. Karena itu keluarga perlu pengelolaan yang serius untuk mencapai kesejahteraan.

Sedangkan sejahtera oleh Indrawan WS dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, mengartikannya sebagai aman sentosa dan makmur, selamat, terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya. Karena itu kesejahteraan diartikan sebagai keamanan dan keselamatan, kesenangan hidup dan sebagainnya.

Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992, keluarga sejahtera dijabarkan sebagai keluarga yang dibentuk atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya.

Perkawinan Sebagai Sakramen
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa Perkawinan itu sendiri didasari atas ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wanita dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Meski rumusan ini secara tegas menyatakan bahwa perkawinan itu kekal adanya, namun disatu sisi Undang-undang Nomor 1/1974 masih memperbolehkan seseorang untuk menikah lagi dengan alasan–alasan tertentu seperti, salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun bertutut-turut tanpa pemberitahuan, salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri, dan berbagai alasan lainnya.

Tidak demikian bagi Gereja Katolik yang menjadikan Perkawinan sebagai sakramen dalam memulai kehidupan berkeluarga. Sebagai sakramen, perkawinan yang telah diberikan kepada pasangan yang hendak berkeluarga bersifat kekal, dimana tidak bisa diceraikan oleh manusia, karena perkawinan itu sesungguhnya diberikan Tuhan sendiri melalui tangan-tangan orang yang diurapi (baca; imam/pastor).

Bukti intervensi Allah dalam Sakramen Perkawinan itu sendiri nampak jelas pada pengucapan janji perkawinan yang ditujukan kepada Allah sendiri dengan disaksikan imam dan umat yang hadir. Di sini Allah sendiri saecara tegas menyatakan orang yang telah menerima Sakramen Perkawinan akan menjadi satu daging, dan mereka bukan lagi dua melainkan satu Karena itu dalam iman Katolik perceraian tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun (Markus, 10:5-9).

Kendati demikian, dalam kehidupan berkeluarga ada juga praktek perceraian yang dilakonkan umat Nasrani. Menghadapi kenyataan demikian, Gereja Katolik memilki wadah yang disebut dengan Tribunal. Bagi pasangan yang hendak bercerai Gereja Katolik selalu mengupayakan perdamaian sebagai langkah pertama. Bila upaya ini gagal akan dilakukan pisah ranjang. Kedua belah pihak dalam hal ini suami-isteri tinggal berlainan rumah untuk jangka waktu tertentu guna rekonsiliasi. Apabila langkah ini pun gagal maka dibuat gugatan ke Pengadilan Gereja dengan mencari bukti-bukti sejarah hidup untuk dianalisis. Namun gereja tidak memiliki sikap tegas mengenai apakah salah satu pihak boleh menikah lagi setelah proses analisa mengenai bukti-bukti sejarah hidup.

Gereja Katolik juga memandang perkawinan memiliki sifat partnership, dimana suami-isteri yang utuh dan lengkap. Yang menjadi dasar hubungan partnership antara pria dan wanita adalah penciptaan manusia oleh Allah sebagai citraNya, sebagai partner atau lawan bicaranya. Sedangkan cipataan-cipataan lainnya tidak demikian. Karena itu manusia harus terbuka kepada Allah. Dengan demikian hendaknya hubungan cinta antara Kristus dan gerejaNya dijadikan ideal dan patokan bagi hubunghan antara suami- isteri. Meski ideal dan patokan ini terlalu tinggi, tetapi suami- isteri tidak usah takut, karena Tuhan sendiri akan menyanggupkan mereka untuk itu. Jesus telah menjadikan perkawinan ‘alat keselamatan’ bagi suami isteri.

Strategi Gereja Katolik Membangun Keluarga Sejahtera
Gereja Katolik secara hirarki selalu dan senantiasa memainkan peran dalam upaya-upaya mewujudkan keluarga sejahtera. Hal ini ditandai dengan berbagai dukungan konkrit kepada pemerintah dan aksi-aksi nyata yang dilakukan Gerja Katolik dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera lahir dan batin.

Dalam hal upaya mensukseskan program Gerakan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera, Gereja Katolik memberikan dukungan konkrit melalui penandatanganan naskah kerja sama antara Konperensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dengan Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Semarang pada tanggal 14 Pebruari 1992.

Dalam Naskah Kerja Sama ini Gereja Katolik mengambil peranan dalam peningkatan partisipasi generasi muda Katolik dalam gerakan KB nasional melalui pendidikan keluarga bertanggung Jawab. Gereja mendukung program KB karena program ini memiliki tujuan yang mulia yakni membuat jumlah anak semakin berkurang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga. Bila keluarga sejahtera, rakyat seluruhnya pun ikut sejahtera dan makmur, karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.

Dukungan Gereja Katolik terhadap Program KB ini tentunya tetap mengacu pada Iman Kristiani. Karena itu Gereja Katolik mengehadaki umatnya menggunakan metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA) dan jangan sampai menggunakan cara-cara yang melangar hukum Tuhan yakni jangan membunuh.

Strategi lain yang dilakukan Gereja Katolik terhadap upaya mewujudkan keluarga sejahtera juga dilakukan dengan pembentukan komisi – komisi di setiap Keuskupan seperti Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi, Komisi Keadilan dan Perdamaian, Komisi Kepemudaan dan sejumlah komisi lainnya yang berkarya demi kesejahteraan keluarga sesuai dengan tugas dan karya pelayanan masing-masing. Berbagai komisi yang dibentuk, tentunya sesuai dengan kebutuhan hidup masyarakat, karena untuk mewujudkan kesejahteraan, tidak hanya terpenuhinya kebutuhan secara ekonomi tapi juga terpenuhinya kebutuhan lahiria.

Gereja Katolik juga memiliki lemabaga-lembaga sosial lainnya dalam bentuk yayasan yang bergerak dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sebagianya. Bahkan organisasi-organsiasi Katolik begitu banyak dibentuk hingga ke tingkat kelompok Basis Gerejani (KGB).

Gereja Katolik juga sangat menaruh perhatian peningkatan kerasulan dan pastoral keluarga dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh selurih umat Allah melalui paroki dan khususnya melalui bantuan para pastor dan kaum awam yang membaktikan dirinya pada karya pastoral keluarga. Mereka ini merasul diantara orang-perseorangan, pasangan-pasangan suami-isteri dan keluarga-keluarga guna membantu mereka mewujudkan sesempurna mungkin panggilan hidup perkawinan mereka. Kerasulan ini mencakup persiapan perkawinan, bantuan bagi pasangan-psangan suami-isteri pada segala macam tingkatan hidup perkawinan mereka.

Termasuk pula, program katakese dan ibadat khsusus untuk keluarga; bantuan bagi pasangan suami-isteri yang tidak mempunyai anak; pertolongan bagi keluarga yanag hanya mempunyai bapa atau ibu saja; ibu-ibu yang ditinggalkan suami; bagi janda-janda; bagi keluarga yang hidup terpisah dan cerai; dan secara khsusu bagi keluarga-keluarga dan pasangan suami-isteri yang menderita beban berat karena kemiskinan; ketegangan emosional dan kelainan psikologis; rintangan fisik dan mental; dan berbagai keadaan lainnya yang mengganggu kestabilan keluarga. Gereja juga mendorong usaha mewujudkan kesejahteraan keluarga melalui tema-tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) setiap tahunnya. Tema-tema APP diangkat susuai kebutuhan masyarakat seiring dengan issu-issu yang dipandang strategis untuk dijalankan oleh umat ditingkat Kelompok Basis Grejani (KBG).

Di bidang pendidikan, Gereja Katolik telah melahirkan kurikulum pendidikan untuk pengajaran Agama Katolik mengenai Kesehatan Reproduksi yang diperkenalkan kepada remaja sekolah tingkat SLTA. Gereja memandang bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan ekonomi belaka tapi juga pemenuhan akan berbagai kebutuhan lainnya termasuk kebutuhan biologis.

Usaha-usaha untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga yang dilakukan Gereja Katolik, bertitik tolak dari ajaran gereja tentang Cinta Kasih terhadap sesama manusia. Untuk itulah Gereja Katolik dalam usaha-usaha mensejahterakan umatnya memiliki dasar hukum sebagaimana yang dikemukakan oleh Matius 25:40 “Aku berkata kepadamu, sesungguhya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.” Juga dalam II Kor, 5 : 15 “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”

Hal mengenai kesejahteraan sosial ini pun oleh negara diatur dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 mengenai Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negera No 53, 1974 yang menyebutkan: “Kesejahteraan soaial ialah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial material maupun spritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir bathin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak azasi serta serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila (Pasal 2 ayat 1).

Usaha-usaha untuk meningkatkan keluarga sejahtera merupakan semua upaya, program dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara, memulihkan dan mengembangkan kesejahteraan keluarga. Karena itu, hendaklah dalam melaksanakan usaha kesejahteraan keluarga dapat berpedoman pada beberapa hal yang dapat menjadi pegangan sebagai berikut :

 Melihat setiap manusia sebagai individu yang unik, yang lain daripada yang lain. Dan kita membantu orang itu pda waktu dimana dia berada. Begitupula halnya kalau kita akan membantu kelompok ataupun masyarakat.

 Memberi kesempatan kepada yang dibantu untuk menyatakan perasaan-perasaannya tidak hanya karena ia ingin diperlakukan sebagai individu, tetapi juga untuk meringankan penderitaannya dan memenuhi kebutuhan serta turut serta mengatasi masalahnya.

 Mengekang emosi :
Janganlah kita melibatkan diri kita dengan perasaan emosionil yang tak terkendali. Dimaksudkan disini, untuk membantu orang lain, keterlibatan diri kita memang penting, akan tetapi tak ada gunanya bila kita membantu dengan tidak mengendalikan emosi kita. Hal ini untuk kepentingan orang yang akan dibantu. Menguasi perasaan diri kita sendiri adalah wajib.

 Respek:
Penerimaan dengan respek kepada seseorang sebagaiman adanya merupakan sesuatu yang harus kita perhatikan apalagi kita akan membantu orang itu. Dengan penuh pengertian kita harus dapat menerima pengakuan dari orang tersebut dan memahami keadaan sebenarnya apa yang menimpa orang itu dengan penuh respek.

 Sikap yang tidak menghakimi
Bila kita sudah memutuskan untuk membantu seseorang/kelompok ataupun masyarakat, hal mana merupakan usaha sosial kita, maka tak perlu kita mencari kesalahan atau menyalahkan orang/kelompok yang akan kita bantu tersebut. Kita harus menerima realita bahwa memang demikianlah adanya.

 Memberi kesempatan untuk memilih pilihannya sendiri
Mengharagai sesorang dengan dibuktikan bahwa kita akan memberi kesempatan kepadanya untuk menentukan pilihannya sendiri, tidak mendikte ataupun bersikap dominan, biarpun pada orang yang akan kita bantu.

 Kerahasiaan
Bila orang yang kita bantu mempercayakan segala sesuatu kerahasiaannya kepada kita, kita patut dan harus menghormati kepercayaan itu, tidak menyia-nyiakan dengan menceriterakan urusannya ataupun keadaannya kepada orang lain yang tak berkepentingan.

Dari uraian di atas maka diakhir tulisan ini, penulis memberikan suatu kesimpulan bahwa Gereja Katolik secara hirarki selalu mendukung upaya-upaya untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga. Namun dukunga itu tetap mengacu pada doktrin dan ajaran moral gereja. Karena itu, cara-cara yang dilakukan gereja untuk mewujudkan keluarga sejahtera selalu bertitik tolak pada penghargaan atas kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna. (*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Konser Bruno Mars di Koreaoleh : Syaid Ahmad Fahri
09-Apr-2014, 15:28 WIB


 
  Konser Bruno Mars di Korea Bruno Mars melaksanakan konser di Korea Selatan (8/4) dan mendapat apresiasi yang cukup baik. Salah satu penonton konser tersebut adalah personil boy band asal Korea, yakni Ryeo Wook dand Eun Hyuk Super Junior (SuJu). Mereka mengatakan lagu Bruno Mars yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 

 

 
Squad Merah Putih Hajar Andorra 31 Mar 2014 12:39 WIB

 

 
Pasar Terapung di Kalsel 06 Apr 2014 19:18 WIB


 
Kampus Terkemuka Nasional 15 Apr 2014 03:51 WIB

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

Mengenal Tuhan Lebih Dekat 16 Apr 2014 03:34 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia