KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PemiluPasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014 oleh : Badiyo
26-Jul-2014, 23:44 WIB


 
 
Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014
KabarIndonesia – Jakarta, Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara nasional Pemilihan Presiden (Pilpres), yang berlangsung hari Selasa (22/7) mulai pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Kepiting Sawah

 
OPINI

Kepiting Sawah
Oleh : Js Kamdhi | 07-Jan-2010, 07:59:57 WIB

KabarIndonesia - Sembilan tahun silam, empat kota di Perancis Selatan diserbu kalajengking: Poitiers,Bordeaux, Charente, dan Angouleme. Pejabat di empat kota tersebut mengerahkan seluruh kemampuannya berjuang bagaimana membasmi  serbuan binatang yang bermigrasi dari Afrika itu. Kalajengking yang berukuran 3-5 cm ditempatkan sebagai bencana nasional.

Lain Perancis, lain di negeri yang kita cintai bersama: Indonesia. Bukan kalajengkeng yang menyerang tetapi ‘kepiting sawah’. Kepiting sawah yang berhabitat di rawa, sungai, empang, pematang menyerbu perkotaan: kota kecil maupun megapolitan.

Data empiris kepiting sawah sebagai berikut: hama bagi petani: padi, ikan, udang, maupun banding. Capitnya sangat tajam sehingga pematang atau tanggul yang kokoh-kuat-perkasa pun terlubangi hingga menyebabkan kebocoran, atau malahan jebolnya tanggul dan pematang. Cepat dalam pengembangbiakan. Daya juang-daya hidup kepiting sawah luar biasa.

Serbuan kepiting sawah membuat miris. Betapa tidak? Di setiap jengkal kita bertemu dengan kepiting sawah Seluruh institusi yang ada baik di tingkat pusat maupun daerah menjadi habitat yang ‘sangat nyaman’ sebagai habitat baru kepiting sawah. Gedung-gedung megah-mewah, mobil-mobil mewah, perumahan elit, gedung rakyat belepotan lumpur dan torehan jejak kepiting sawah. Bahkan, gedung-gedung sekolah, tempat anak-anak bangsa pemilik sah republit tercinta, juga dijejali kepiting sawah. Bila di Perancis, sembilan tahun silam, serbuan kalajengking yang bermigrasi dari Afrika, ditangkapi dengan serius-cermat bahkan menjadi bencana nasional. 

Serbuan kepiting sawah di negri yang kita cintai bersama, yang tahun ini, sedang mempersiapkan HUT ke-65, hanyalah sebuah metafora kehidupan saat ini, kini-sini. Mentalitas “kepiting sawah” telah merasuki seluruh sendi kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara.

Mentalitas kepiting sawah yang selalu merongrong, menghalalkan segala cara, piawi membuat rasionalisasi atau scenario demi sembunyi dari ‘kebobrokan’ tidak lagi menjadi sebuah aib, melainkan menjadi tuntutan yang bersifat “wajib” dalam menjalani peziarahan hidup. Tanda-tanda ketidakpastian arah penegaraan terindikasikan dalam ‘pelemahan kinerja pansus Century’, mobil mewah, penundaan pelantikan, efektivitas satgas pemberantasan mafia hukum dan makelar kasus.

Pertama, sebagai rakyat jelata yang tinggal di lereng gunung, saya malu mencermati ‘cekcok mulut” antara Ketua Pansus dan anggota pansus dari layar kaca. Etika “berapat” dengan tetap mengedepan kesantunan sangat memprihatinkan. Apalagi, terdengar di telinga kita ‘kata-kata kasar’ yang dalam kondisi apa pun perbedaan persepsi-pendapat, tidak layak dan etis.

Kedua, kontroversi mobil mewah, dengan label harga mencapai 1,3 milyar, yang menyeret seorang menteri ‘harus menjadi malu mengapa harus berpro-kontra” semakin memperdalam “luka batin rakyat’. Apalagi, bila ditilik dari kondisi kehidupan masyarakat dan standar tertinggi pembelian mobil dinas!

Ketiga, penundaan wakil menteri. Secara konseptual dan fungsional penambahan wakil menteri,  terus-terang secara jujur penulis berkeyakinan bukan sebuah kebutuhan mendesak.  Masalahnya, selayaknyakah sebuah lembaga kenegaraan, begitu saja menempuh jalan “penundaan”? . Sebagai orang awam penulis pun bertanya bagaimana sistem rekrutmen, sistem pemberkasan persyaratan: apakah tidak ada analisis situasi, persoalan, keputusan dan dampaknya?  Lebih memprihatinkan nama-nama telah dipublikasikan secara luas, yang nota bene ‘sang calon wakil menteri” memiliki keluarga-famili-relasi. Tidakkah masuk dalam pertimbangan penundaan? 

Keempat, komtmen satgas pemberantasan mafia hukum dan makelar kasus. Mengapa berorientasi pada “the big fish”? Bila telah mengetahui, mengapa tidak langsung ditangkap dan diproses secara hukum?

Barangsiapa tidak setia dalam perkara-perkara yang kecil, dia tidak dapat dipercaya dalam hal-hal yang besar. Sangat ironis, berjuta-juta rakyat berkeyakinan, dengan mencermati hasil rekaman penyadapan KPK yang diperdengarkan di MK, apalagi dengan mencermati Rekomendasi Tim 8,  the big fish ada di pelupuk mata. Adakah ‘nyali’ untuk memulai dari yang ‘kasat mata’ tersebut? . “Prodentia est locata in delectu bonorum ac malorum”! Kebijaksanaan itu terletak dalam membuat pilihan antara yang baik dan yang jahat.  

Orang-orang bijaksana (bonorum) akan sangat kooperatif, tanpa beban, lugas, apa adanya, berpihak pada yang lemah, tersisih, terpinggirkan, yakni mereka yang tidak pernah dimanusiawikan. Sebaliknya, kita akan melihat wajah-wajah malorum (pecundang): mengaku bersih, suci, tak bersalah, lincah-gesit-rapi dalam merekayasa peristiwa sehingga seolah-olah ada-nyata, meski hanya tipuan.  

Kita rindu pemimpin. Kita rindu tokoh. Kita rindu panutan. Kita semua merindukan panutan=tokoh-pemimpin yang baik (bonum), yang benar (verusm), yang mulia (pulchrum), dan yang saleh (sanctum). Mengapa?

Pubilius Syrus seorang penulis dan aktor papan atas dari Italia, pernah menulis, “Trust, like the soul, never neturn, once it is gone. KEPERCAYAAN SEPERTI JIWA, BILA TELAH HILANG TAK PERNAH KEMBALI. Salam Merdeka!      

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia