KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
20-Sep-2014, 05:40 WIB


 
 
Top Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan September 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Agus Suriadi sebagai Top Reporter untuk kategori berita artikel.

Segenap Dewan Redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) mengucapkan selamat atas prestasinya dan terima kasih atas kontribusinya selama ini. Semoga terus bersemangat berkarya
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tagihan itu 20 Sep 2014 05:47 WIB

Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 

CAFTA terhadap Pertanian Indonesia, Peluang atau Ancaman

 
OPINI

CAFTA terhadap Pertanian Indonesia, Peluang atau Ancaman
Oleh : Syaiful Amri Saragih | 09-Mei-2010, 02:27:47 WIB

KabarIndonesia - Hadirnya CAFTA (China-Asean Free Trade Agreement), sebagai suatu bentuk perjanjian perdagangan bebas antara China dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia didalamnya, haruslah benar-benar dicermati dengan teliti. Pasalnya dengan diberlakukannya model perjanjian semacam ini, tentu saja menimbulkan dampak positif dan negatif. Sebagai suatu perjanjian yang muncul pada saat KTT ASEAN ke-7 yang berlangsung di Bangladesh pada November 2001, CAFTA menjadi perhatian banyak pakar untuk melihat bagaimana perkembangannya. Setiap pakar di masing-masing negara ASEAN berusaha melakukan forcasting (peramalan) untuk melihat kesiapan negaranya dalam melakukan perdagangan bebas, khususnya dengan China. Hadirnya CAFTA menyebabkan diberlakukannya tarif bea masuk sebesar 0%. Di Indonesia sendiri, isu ini sejak tahun 2004 sudah sering dibahas. CAFTA di Indonesia ditandatangani pada awal tahun 2004 dan akan diberlakukan pada awal tahun 2010. Dengan demikian, mulai 1 Januari 2010 kemarin, perjanjian CAFTA secara legal telah berlaku. Yang menjadi masalah sekarang, apakah Indonesia siap atau tidak dalam menghadapai CAFTA ini, dan apakah CAFTA ini menjadi peluang atau ancaman bagi sektor pertanian secara khusus?

Banyak pakar mengatakan bahwa selama 6 tahun sejak disetujuinya Indonesia tergabung dalam CAFTA, belum ada persiapan yang maksimal yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Perdagangan bebas berarti perdagangan yang terjadi secara langsung, antara pedagang Indonesia dengan pedagang China, dan juga dengan pedagang dari negara ASEAN lainnya. Kita telah melihat sendiri, bagaimana sejarah pedagang China yang mampu menguasai pasar karena berbagai kelebihan yang dimiliki. Produk-produk China yang dijual di negara-negara ASEAN sangatlah murah harganya dibandingkan dengan produk dalam negeri. Selain itu, pengemasan produk yang cukup baik dan rapi, mulus serta bersih tentu saja menjadi daya tarik sendiri bagi pedagang dalam negeri untuk memilih produk tersebut dibandingkan dengan produk dalam negeri yang notabenenya masih jauh dari kualitas yang baik. Belum lagi selera konsumen yang umumnya lebih memilih produk-produk China dengan alasan kualitas produk yang lebih bagus. Produk-produk ini mampu menerobos supermarket dan kios-kios yang umumnya sering dikunjungi oleh konsumen, sedangkan produk lokal masih banyak yang dijual di pasar-pasar tradisional yang tentu saja masih sedikit konsumen. Alhasil dapat dikatakan produk pertanian lokal tidak mampu menandingi produk luar.             

Dalam CAFTA, dari sekian banyak produk yang diperdagangkan, ada sekitar 50 produk yang termasuk kedalam highly sevsitive, artinya tidak dimasukkan dalam skema perdagangan CAFTA, termasuk di dalamnya beras, jagung, kedelai dll. Namun demikian, masih cukup banyak produk pertanian yang masuk dalam skema perdagangan CAFTA, seperti buah-buahan, produk-produk bioteknologi, sayur-sayuran, dan berbagai macam makanan. Tetapi menurut hemat saya, tidak menutup kemungkinan suatu saat produk-produk highly sensitive tadi akan masuk dalam skema perdagangan CAFTA.             

Yang menjadi pertanyaan mengapa pada tahun 2004 Indonesia memberanikan diri untuk tergabung dalam CAFTA? Beberapa pakar mengatakan bahwa pada saat itu tingkat/rate penjualan produk-produk pertanian Indonesia masih sangat tinggi sehingga Indonesia merasa yakin bahwa Indonesia akan mampu bersaing. Namun mulai tahun 2008, banyak sekali produk yang ternyata secara rate penjualan mengalami penurunan dan semakin lama semakin menurun. Produk-produk China yang pada tahun 2004 jika di rate memang masih rendah dalam skema perdagangan dunia. Namun China dalam beberapa tahun telah mampu bangkit dan memajukan produknya, baik secara kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas, serta mampu menembus pasar dunia. Semakin lama produk-produk China ini semakin menguasai pasar dunia dan semakin menggeser produk-produk lokal.             
Jika memang Indonesia siap untuk bersaing dengan negara-negara lain, khususnya China, persiapan yang dilakukan sejak tahun 2004 kemarin haruslah serius. Dalam peningkatan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk-produk pertanian misalnya, haruslah mendapat perhatian yang khusus. Untuk dapat menghasilkan produk yang baik, semua persyaratan haruslah dipenuhi, seperti saprotan (sarana produksi pertanian), misalnya benih, pupuk, irigasi dan lain sebagainya. Pemberdayaan masyarakat petani (SDM Petani) haruslah dibina dengan sebaik-baiknya, apalagi jika ingin bersiang dengan pihak luar. Modal bagi petani haruslah ditingkatkan. Kelembagaan petani haruslah dikuatkan agar dapat bekerjasama dengan solid sehingga mampu bersaing dengan mantap. Namun kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Saprotan yang diidam-idamkan petani tidak  kunjung datang. Pemberdayaan petani jarang dilakukan. Modal bagi petani juga masih sangat kurang. Kelembagaan petani semakin melemah, bahkan tidak jarang terjadi perang, baik antar petani maupun antara petani dengan aparat. Jika kenyataannya memang seperti ini, apakah Indonesia mampu bersaing dengan luar negeri yang nota benenya sudah sangat siap untuk bersaing dengan kita?             

Sebenarnya tidak ada masalah dengan perdangangan bebas. Bahkan tentu saja perdagangan merupakan aktivitas yang secara alami terjadi dalam kehidupan, karena jika ada yang membutuhkan barang, tentu saja ada yang memproduksinya. Namun akan menjadi masalah jika perdagangan bebas terjadi pada dua kekuatan yang tidak seimbang, atau dikatakan juga perdagangan yang tidak adil. Memang dengan adanya perdagangan bebas ini ada beberapa peluang yang bisa diambil. Misalnya dengan diberlakukannya tarif bea masuk 0%, harapannya pedagang dan pebisnis dari dalam negeri mampu meningkatkan penjualan (ekspor) ke luar negeri. Selain itu, ada beberapa produk yang tentu saja masih dapat dijadikan produk unggulan ekspor, karena tidak semua tumbuhan pertanian tumbuh dan berkembang di China. Namun malangnya, banyak pengusaha yang malah mengembangkan produk yang kurang berkembang dalam pasar. Disamping itu, kehadiran CAFTA ini seharusnya bisa membangkitkan kreatifitas masyarakat, khususnya masyarakat petani, jika dikaitkan dengan dunia pertanian.             

Dalam berbagai diskusi yang menghadirkan berbagai elemen atau stake holder di bidang pertanian, mereka pada dasarnya mengalami keresahan dan tentu saja kekurangsiapan dalam menghadapi CAFTA, seperti badan karantina pertanian, dinas pertanian, penyuluh pertanian, sampai kepada petani. Namun karena perjanjian perdagangan bebas CAFTA ini sudah berlaku, berbagai stake holder ini tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghadapi dengan segala kemampuan yang ada. Berbagai statement yang muncul dari berbagai pihak yang terkena dampak CAFTA ini pada intinya mengemukakan kesiapannya dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat bersaing dengan pihak luar. Dari pihak petani sendiri, mereka mengatakan hanya akan mampu menghadapi CAFTA ini jika berbagai stake holder, termasuk didalamnya pemerintah, akademisi, dan juga swasta, mampu merangkul petani, dan saling bekerjasama. Jika hal ini tidak terjadi, mustahil bagi petani untuk dapat bersaing.             

Ada tidaknya CAFTA, perdagangan secara alami sebenarnya akan terus berlangsung. Sebelum CAFTA diberlakukan secara legal saja, dapat kita lihat bagaimana produk-produk luar sudah membanjiri pasar dalam negeri dengan cukup intensif. Apalagi jika diberlakukan CAFTA yang tentu saja akan semakin membuka peluang masuk dan berkembangnya produk luar ke dalam negeri. Kehadiran CAFTA memang bukanlah peluang ataupun ancaman, namun kehadirannya adalah peluang sekaligus ancaman, khususnya bagi dunia pertanian. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah bagaimana agar kita dapat memaksimalkan peluang dan meminimalkan ancaman. Tetapi merupakan sebuah berita buruk jika ancaman ini ternyata menimpa petani yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini. Apa yang bisa kita lakukan untuk petani merupakan suatu kontribusi yang tentunya sangat berguna agar mereka mampu bersaing.             

Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan sekarang adalah memantau terus bagaimana perkembangan CAFTA, khususnya di negeri kita ini, sembari melakukan apapun yang kita bisa sebagai bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan dunia pertanian di Indonesia. Semua pihak harus berbuat, semua pihak harus siap.    (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Jangan Salah Menuntun Anak di Jalanoleh : Jumari Haryadi
16-Sep-2014, 14:43 WIB


 
  Jangan Salah Menuntun Anak di Jalan Siapa orang yang tak sayang dengan anaknya? Namun ternyata masih ada saja orang yang tak paham cara menjaga anaknya, misalnya ketika sedang membawanya jalan-jalan. Seperti terlihat dalam foto yang di ambil di Jalan Rajawali, Kota Bandung (14/09/2014). Seorang ibu menuntun anaknya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Indonesia Siap Hadapi Thailand 22 Sep 2014 13:06 WIB

Asian Games 2014 Resmi Dibuka 22 Sep 2014 11:59 WIB

 

 
Kumpulan Petapa dari Kanekes 19 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia