KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniBlunder (Sang Buruh) Menteri Tedjo oleh : Arief Rahmat Piliang
23-Feb-2015, 10:52 WIB


 
  KabarIndonesia - Pernyataan Menkopolhukam, Tedjo Edhi Purdijanto, kian hari kian blunder. Setelah sebelumnya menyebut KPK didukung rakyat tak jelas, kini Tedjo memasuki ranah buruh. Ancaman pegawai KPK untuk mogok jika seluruh pimpinannya ditetapkan tersangka oleh Bareskrim Polri, direspon Tedjo dengan jawaban
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Pejuang Hidup 25 Feb 2015 20:38 WIB

Benarkah? 23 Feb 2015 10:55 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Banjir Bikin Stres Deera Idol! 18 Feb 2015 20:35 WIB


 
Kisah Memilukan Sang Penjual Tebu 17 Feb 2015 14:12 WIB

 

Sudahkah Indonesia Merdeka?

 
OPINI

Sudahkah Indonesia Merdeka?
Oleh : Hans Wijaya | 18-Aug-2010, 01:13:29 WIB

KabarIndonesia - Makin tua usia sebuah negara, bukan jaminan akan semakin baik tata kelolanya. Fakta menunjukkan, setengah abad lebih Indonesia lepas dari tangan penjajah, kesejahteraan rakyatnya makin tak jelas. Arah kebijakan negeri ini seperti tak bermuara.

Pemerintah yang diberi kepercayaan meneruskan cita-cita luhur founding fathers menyejahterakan rakyatnya, tak bergerak dengan cepat.  Tampak umumnya dari mereka terbelenggu oleh kepentingan sesaat demi keuntungan pribadi, kelompok dan golongannya.

Tujuan utama para pejuang dulu teramat jelas, membentuk Indonesia sebagai negara yang merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya. Meredeka dari kemiskinan, kebodohan, merdeka dari intervensi asing dan yang lebih utama merdeka dari kelompok-kelompok opurtunis yang membungkus dirinya dengan jargon "demi kepentingan rakyat".

Memasuki usianya yang sudah tak muda lagi, negara sepertinya tak berdaya menghadapi kelompok-kelompok borjuis yang mengeruk kekayaan alam negeri ini. Belum lagi dengan bendera "aspirasi" dengan seenak udelnya mereka mengacak-acak tata kelola bangsa ini dan kita belum merdeka dari itu semua.

Di usianya yang tua ini, Indonesia sepertinya sudah menjauh dari cita-cita mulia yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Negara ini semakin lemah dan mengkhawatirkan. Setiap hari kita disuguhi menurunnya kualitas kehidupan rakyat ini.

Di hadapan publik, pemerintah dengan bangga merilis angka-angka yang fantastis dan menggembirakan dalam kacamata ekonomi makro. Rilis angka itu entah ditujukan kepada siapa. Faktanya, rakyat semakin sengsara, setiap hari ada saja anak bangsa yang teriak kelaparan.

Itu semua karena daya beli yang sangat rendah akibat dari ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan harga dan mengemplang tengkulak-tengkulak yang memainkan harga. Miris hati ini kita disuguhi fakta ada anak bangsa melakukan perbuatan keji, bunuh diri massal sekeluarga, akibat tekanan ekonomi. Entah berapa banyak lagi seorang ibu yang mengajak bunuh diri anggota keluarganya. Semua lini hidup ini semakin mahal.

Di bidang pertahanan, negara seperti tak punya nyali menghadapi ulah negara tetangga. Laut Indonesia yang seharusnya memberikan limpahan rejeki bagi nelayan kita, habis terjarah oleh kapal-kapal asing. Belum lagi persoalan perbatasan, apakah kasus Sipadan-Ligitan akan terulang lagi di masa depan?

Jangankan menindak hal tersebut, negara juga tak mampu menindak kelompok-kelompok yang selalu berbuat anarkis dengan mengusung bendera agama. Hak kebebasan menganut agama dan kepercayaan yang dilindungi UUD 1945 nampaknya hanya sebatas wacana. Parahnya, laskar-laskar anarkis itu diberi ruang gerak bebas melakukan aksinya.

Masih terlalu jauh rakyat negeri ini akan mengalami hidup sejahtera di rumah sendiri. Apabila pemerintah tidak mau dianggap gagal mengelola bangsa ini, momentum 17 Agustus ini hendaknya dijadikan pijakan awal memperbaiki arah kebijakannya. Tunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah di bawah kendali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mampu memberantas korupsi dari semua sudut tanpa harus takut dengan siapa pun. Singkirkan poltik dagang sapi!

Selain itu, berikan kepastian hukum kepada siapa saja tanpa harus takut dengan tekanan politik. Arah pembangunan ekonomi hendaknya lebih ditujukan kepada kepentingan rakyat, bukan kepentingan kaum kapitalis. Jangan sampai di hari kemerdekaan tahun depan nanti, rakyat menjadi lebih apatis dari saat ini. Semoga. (*)


Penulis adalah Ketua Umum Forum PaKAr dan CEO PROmanagament Jakarta



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sisi Lain Wilayah Perbatasanoleh : Ibnu Hafidz
21-Feb-2015, 05:52 WIB


 
  Sisi Lain Wilayah Perbatasan Dua orang pengunjung tengah asyik menikmati suasana waduk Cirata, Kamis, 19/2/2015. Waduk Cirata berada di tiga daerah: Purwakarta, Bandung, dan Cianjur. Tempat ini merupakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di Asia Tenggara dengan luas wilayah 62 KM2. Biasanya para
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
NamaKU = JiwaKU 25 Feb 2015 08:26 WIB

 

 

 
Banjir Jakarta dan Harapan 19 Feb 2015 22:25 WIB

 

 
Belajar dari Kehidupan Lebah 18 Feb 2015 20:28 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia