KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiTradisi Lisan Masih Mendominasi Budaya Baca Bangsa oleh : Susi Susilowati
26-Nov-2014, 17:44 WIB


 
 
Tradisi Lisan Masih Mendominasi Budaya Baca Bangsa
KabarIndonesia - Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita bisa mengetahui apa saja tentang dunia. Membaca merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat karena dengan membaca, kita bisa menambah pengetahuan yang sedang berkembang, menambah informasi dan meningkatkan kecerdasan. Kegiatan membaca
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Ibu, Kasihmu Tiada Dua 25 Nov 2014 10:37 WIB


 

Desa, Basis Kekuatan Ekonomi

 
OPINI

Desa, Basis Kekuatan Ekonomi
Oleh : Jantan Putra Bangsa | 04-Okt-2010, 01:38:15 WIB

KabarIndonesia - Mudik lebaran menjadi ritual setiap tahun bagi masyarakat Indonesia. Meninggalkan kota-kota besar untuk kembali ke kampung halaman (desa). Silaturahmi menjadi semacam “kewajiban” yang tidak boleh terlewatkan. Padatnya alat transportasi tidak menjadi hambatan bagi mereka yang ingin mudik demi bertemu sanak saudara di kampung.

Sebenarnya apa yang menyebabkan di Indonesia terjadi ritual mudik? Jika ditelusuri, ternyata banyak orang rela meninggalkan kampung halaman untuk pergi ke kota-kota besar demi mencari nafkah. Karena semakin menyempitnya lahan pertanian di desa.

Penulis langsung mengasumsikan seperti itu, karena saat ini lahan di desa semakin sempit. Seorang petani sudah tidak mampu lagi menghidupi dirinya serta keluarganya dengan hanya mengandalkan lahan pertaniannya yang sempit. Selain itu, perbedaan infrastruktur yang mencolok antara desa dan kota semakin tajam. Kita lihat saja, bagaimana perbedaan jalan raya antara desa dan kota. Jelas sangat timpang!

Di desa, orang mengakses kendaraan umum bisa menunggu berjam-jam. Sedangkan di kota, kendaraan lalu-lalang dengan seenaknya dan memadati ruas jalan kota. Ini jika kita lihat dari segi infrastruktur dan fasilitas yang membedakan. Banyak hal lain yang timpang antara desa dan kota.

Mari kita lihat dari segi pendidikan. Di kota, sekolah-sekolah dasar—dari SD-SMA—terdapat hampir di setiap sudut kota. Bahkan untuk SD, hampir di setiap kecamatan ada satu sekolah. Sehingga akses pendidikan sangat mudah. Bandingkan saja dengan di desa, orang harus menempuh jarak yang cukup lumayan untuk mengakses sekolah sehingga wajar saja ketika banyak orang pergi ke kota dan meninggalkan desanya.

Hal terpenting, persoalan mata pencaharian. Tanah yang merupakan alat produksi primer bagi petani harus benar-benar dilindungi oleh negara. Banyak petani yang kehilangan tanahnya gara-gara menyekolahkan anaknya atau berobat ke rumah sakit yang biayanya sangat mahal. Awalnya tanah digadaikan. Namun karena tidak mampu membayar akhirnya tanah itu dijual. Jika sudah tidak memiliki alat produksi, bagaimana seorang petani mampu hidup serta menghidupi keluarganya? Maka mereka menjual jasa adalah satunya cara yang diambil. Jika orang desa tidak mau meninggalkan desanya, tentu ia menjual jasa dengan menjadi buruh tani. Jika dia pergi ke kota, akan menjual jasa dengan bekerja di pabrik atau di tempat yang mau menerima jasannya. Hal ini karena alat produksi sudah tidak dimiliki!

Sebenarnya bagi negara untuk memproteksi para petani yang hidup di desa sangatlah mudah. Karena negara mempunyai kekuasaan melindungi warganya. Itulah fungsi negara yang sesungguhnya. Ingat, negara kita adalah negara agraris. Negara yang mempunyai sistem pertanian yang cukup hebat dengan terasiringnya, negara yang mempunyai lahan subur dan terkaya di dunia. Maka dari itu Indonesia disebut Zamrud Khatulistiwa.

Sungguh ironis bukan? Negara dengan lahan subur paling luas tapi masyarakatnya malah memilih pergi ke kota untuk mencari nafkah dan meninggalkan desanya. Padahal di kota sangat sumpek dan padat, tidak ada tanaman. Yang ada hanyalah gedung-gedung bertingkat.

Kita ambil contoh seperti ini, coba anda pergi ke luar Indonesia dan keliling dunia dengan membawa catatan kecil. Silahkan catat di negara selain Indonesia apa saja yang tidak ada di Indonesia. Dengan cepat dan tepat tentu akan membuat daftar panjang hal-hal yang tidak ada di Indonesia. Lalu ketika anda kembali ke Indonesia, silahkan catat apa saja yang tidak ada di dunia. Saya yakin 100 % anda akan kesulitan mencari sesuatu yang tidak ada di Indonesia. Kenapa? Karena di Indonesia semuanya tersedia.

Melihat hal seperti ini, seharusnya kita harus mulai menjadikan desa sebagai kekuatan ekonomi, seperti dalam syair lagu Iwan Fals: "Desa harus jadi kekuatan . . .”  Kita bangun infrastruktur di desa, membuat kebijakan untuk memproteksi para petani.

Negara saja mampu membantu Bank Century dengan mengeluarkan dana triliunan rupiah, masakan tidak mampu mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk para petani. Dengan begitu, desa akan menjadi kekuatan ekonomi nasional. (*)


Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM
Sumber Foto: Google





Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
PDAM Harus Benahi Pelayanan 26 Nov 2014 15:03 WIB


 
1795 RTS Pulpis Terima Dana PSKS 26 Nov 2014 15:05 WIB


 
Thailand Permalukan Singapura 2-1 24 Nov 2014 11:17 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 
Menghargai, Pentingkah ? 26 Nov 2014 18:01 WIB

Menyontek “Membudayakah”? 26 Nov 2014 18:00 WIB

 

 
Tawas Ampuh Hilangkan Bau Badan 26 Nov 2014 17:31 WIB

Putri Tidur Dalam Realita 25 Nov 2014 10:38 WIB

 
Endemik Pulau Sumatra 26 Nov 2014 17:34 WIB

Pejuang Cilik 25 Nov 2014 19:26 WIB

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia