KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
20-Sep-2014, 05:40 WIB


 
 
Top Reporter Bulan September 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan September 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Agus Suriadi sebagai Top Reporter untuk kategori berita artikel.

Segenap Dewan Redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) mengucapkan selamat atas prestasinya dan terima kasih atas kontribusinya selama ini. Semoga terus bersemangat berkarya
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tagihan itu 20 Sep 2014 05:47 WIB

Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 

Mampukah Negeri Ini Bebas Korupsi?

 
OPINI

Mampukah Negeri Ini Bebas Korupsi?
Oleh : Hans Wijaya | 11-Des-2010, 02:20:52 WIB

KabarIndonesia - Entah sudah berapa banyak pejabat masuk penjara gara-gara korupsi. Entah berapa banyak lagi, pejabat publik, baik yang terkenal atau tidak menjadi penghuni hotel prodeo akibat keserakahannya memanipulasi uang rakyat demi nafsu duniawi belaka.

Perilaku korup di negara ini sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hampir semua sudut bangsa ini dipenuhi perilaku koruptif. Korupsi, dalam telaah bahasa sederhana bermakna  merampas hak orang lain demi kesenangan sendiri.

Tanpa kita sadari, perilaku itu dapat terlihat dengan mata telanjang di hadapan kita. Contoh kecil, kita sering melihat pengemudi sepeda motor melewati trotoar demi melintasi kemacetan. Padahal, trotoar merupakan hak pejalan kaki atau jembatan penyeberangan yang dilalui motor demi mempercepat jalur tempuh.  Lagi-lagi kita tahu, jembatan dipergunakan untuk pejalan kaki.

Perilaku tersebut secara sadar atau tidak, sama saja dengan perilaku koruptif karena pengendara motor itu telah merampas hak pejalan kaki. Pengguna trotoar juga akan sewot walaupun dalam hati karena kenyamanannya terganggu. Itu merupakan sebuah contoh kecil saja.

Lantas bagaimana dengan perilaku penyelenggara negara? Ini juga sangat mengkhawatirkan. Bejibun pejabat negara, baik yang masih aktif atau yang sudah pensiun menyabet gelar baru, bukan gelar akademik, tapi gelar tersangka atau terdakwa. Sebegitu parahkah moral penyelenggara negara ini?

Tindakan merampas hak orang lain alias korupsi disebabkan hanya karena dua hal, yaitu ada niat dan kesempatan. Kesempatan di depan mata tapi tidak ada niat melakukannya, mungkin tidak akan terjadi.  Begitu pula sebaliknya, ketika niat sudah bulat melakukan korupsi tetapi kesempatan tidak ada, maka bisa terhindari. Tetapi ketika dua-duanya itu ada, maka korupsi akan menjadi lahan indah bagi pelakunya. Orang yang melakukan korupsi, tentunya tidak akan memikirkan akibatnya di akhirat. Falsafahnya "yang penting happy".


Benteng Agama

Segudang undang-undang yang membentengi negeri ini dari perilaku koruptor, nampaknya tidak mampu mengerem laju pelaku korupsi untuk melakukan pemufakatan jahatnya. Oleh karena pusingnya pada pelaku anti korupsi, sempat bergaung hukuman berat yang perlu ditimpali bagi koruptor, yaitu hukuman mati! Membawa solusikah?

Dari tataran makro, mungkin benar karena setidaknya para koruptor akan berpikir untuk melakukan tindak kriminalitas tersebut, tetapi secara mikro, kita masih menyangsingkan efektifitas pemberlakuannya.

Yang paling masuk akal adalah, pemiskinan pelaku korupsi karena tidak tertutup kemungkinan, semua harta yang didapat itu adalah hasil kejahatan. Tidak cukup sampai di situ, hukuman badan yang lama, tentunya akan memberikan efek domino bagi para pelaku yang belum terbongkar.

Yang paling penting di sini adalah, mengorek kembali sisi nurani anak bangsa ini dengan pendekatan agama. Di sini diperlukan kerja keras semua pihak, baik itu kaum agamawan dan pemeriantah untuk secara berkelanjutan menggemakan nilai-nilai agama agar menjadi pegangan utama dalam menjalani hidup ini.

Bila ini dijalankan secara benar tanpa tendensi politik, Insya Allah Indonesia akan terbebas dari korupsi. Semoga. (*)


Penulis adalah Peneliti International Conference of Islamic Scholars (ICIS)




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Jangan Salah Menuntun Anak di Jalanoleh : Jumari Haryadi
16-Sep-2014, 14:43 WIB


 
  Jangan Salah Menuntun Anak di Jalan Siapa orang yang tak sayang dengan anaknya? Namun ternyata masih ada saja orang yang tak paham cara menjaga anaknya, misalnya ketika sedang membawanya jalan-jalan. Seperti terlihat dalam foto yang di ambil di Jalan Rajawali, Kota Bandung (14/09/2014). Seorang ibu menuntun anaknya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Kumpulan Petapa dari Kanekes 19 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia