KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanGerakan Humanisasi Dunia Pendidikan oleh : Amir Tengku Ramly
21-Nov-2014, 10:22 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Selama puluhan tahun pendidikan Indonesia telah mempraktekkan satu konsep pendidikan yang kurikulumnya bermuara pada ‘dehumanisasi’. Inilah kenyataan paling pahit dalam negara yang mengagungkan hak asasi dan kemanusiaan yang adil dan beradab.  Reformasi dengan segala kekuatan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Ibu, Ayah, Tunggu Aku! 21 Nov 2014 10:29 WIB


 

Membaca Persepsi Pengirim Bom Buku terhadap Ulil

 
OPINI

Membaca Persepsi Pengirim Bom Buku terhadap Ulil
Oleh : Susianah Affandy | 21-Mar-2011, 19:01:13 WIB

KabarIndonesia - Apa tanggapan Ulil Abshar Abdallah terhadap kiriman bom buku yang membuat tangan kiri Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Dodi Rahmawan harus diamputasi? Kepada wartawan yang menemuinya (17/3) Ulil justru menyangsikan bom tersebut dikirimkan terkait dengan aktifitasnya di JIL. Selama 10 tahun aktif dalam gerakan pemikiran keislaman yang cenderung membela kelompok minoritas dengan ide-ide demokrasi dan pluralisme tak pernah sekalipun Ulil menghadapi teror. Justru dugaan Ulil kiriman bom buku untuknya terkait erat dengan posisinya di Partai Demokrat. Pernyataannya tentang reshuffle kabinet Ulil rasakan menimbulkan kecemasan bahkan rasa tidak suka beberapa pihak.

Mayoritas masyarakat menilai kiriman bom buku kepada Ulil, Ketua BNN, Ketua Umum Partai Patriot dan bos Republik Cinta Management (RCM) Ahmad Dhani dilakukan oleh kelompok Islam garis keras yang tiada henti beraksi di negeri yang meski dilakukan dengan cara baru yakni tidak lagi komunal namun ditujukan kepada person. Sebagian kecil masyarakat justru ada yang memberi penilaian lain dengan motif pengirim bom buku tersebut. Masyarakat di kelompok kecil ini menilai bahwa isu bom buku termasuk kiriman sepatu kepada warga yang dikira bom (18/3) adalah deretan isu yang sengaja diciptakan untuk mengalihkan issu yang sedang hangat melanda tanah air. Maklumlah di negeri ini banyak persoalan bangsa yang tertelan bumi hanya dengan pengalihan issu.


Pembentukan Persepsi

Drever dalam Sasanti (2003) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima setiap manusia sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individunya.

Apa yang dipersepsikan seseorang terhadap perilaku orang lain antara manusia yang satu dengan lainnya sangatlah bersifat subyektif. Hasil penilaian yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya terhadap obyek yang sama sangat ditentukan oleh latar belakang kehidupan pribadi sang perseptor. Dalam hal ini Istiqomah (1988) menyebutkan bahwa persepsi sosial dibangun atas tiga hal yang saling mempengaruhi yakni:

1) variabel obyek-stimulus,
2) variabel latar atau suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan
3) variabel diri preseptor.

Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2005) mengemukakan lima tipe jenis/bias yang mempengaruhi persepsi, dan dua diantaranya adalah stereotip dan harapan. Stereotip diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan dan generalisasi perilaku individu-individu dari anggota kelompok tertentu (etnis, agama, suku bangsa, jenis kelamin, gender, pekerjaan, dan lain sebagainya).


Persepsi Agama dan Politik

Dengan memahami teori tentang pembentukan persepsi kita akan arif dalam melihat motif apa yang ada di balik perilaku pengirim bom buku yang sampai saat ini menjadi diskusi hangat di media massa. Di sinilah penulis ingin membaca dua persepsi dari dua motif yang berbeda. Pertama persepsi yang dimiliki oleh pengirim bom buku yang oleh masyarakat di sebut sebagai neo teroris. Kelompok ini jelas sekali memandang Ulil sebagai orang yang sesat, kafir dan wajib dibunuh seperti tertulis disampul buku “Mereka Harus Dibunuh Karena Dosa-Dosa Mereka Terhadap Islam dan Kaum Muslim”. Gagasan Ulil terhadap pluralitas beragama di pandang oleh kelompok ini sebagai pembenaran yang dilakukan Ulil kepada semua agama.
Para penganut Islam garis keras yang sejak kecilnya mendapat didikan agama memaknai Al-Qur’an surat Ali ‘Imran: 85 yang artinya “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”, membuat mereka antipati dengan gagasan pluralisme yang Ulil usung karena dianggap sesat. Kelompok yang mereka sesatkan sebelumnya di antaranya alm. Gus Dur dan alm Nurkholis Madjid.

Jika kita yakin aman dengan matinya gembong teroris namun tidak demikian dengan para teroris itu sendiri. Dalam pandangan penulis, matinya gembong teroris membakar semangat para kadernya untuk berjuang lebih keras. Mereka yang mengganggap dirinya mujahid dengan membawa seruan Allah untuk berdakwah (kewajiban berdakwah ada dalam surat Ali Imran ayat 104 dan ayat 110) berkeyakinan bahwa perbuatan teroris adalah mulia dan berbuah surga. Sedangkan sosok seperti Ulil yang meski dilahirkan dari keluarga pesantren dan menyelesaikan pendidikannya juga di Madrasah Matholi’ul Falah, Pesantren Mansajul ‘Ulum, Pesantren Al-Anwar, alumni Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) itu tetaplah dalam pandangan penganut Islam garis keras Ulil kafir dan darahnya halal.

Jika dirunut dari lembaran sejarah sebenarnya gerakan seperti ini sudah ada sejak 1949. Bahkan ketika itu di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lebih ektrim lagi mendeklarasikan Negara Islam Indonesia yang juga dikenal dengan nama Darul Islam (DI) pada 7 Agustus 1949. Dalam pandangan penganut DI/TII, pendirian negara Islam adalah upaya mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin.  Meski gerakan ini dibubarkan, pemerintah bahkan Masyumi juga menjadi partai terlarang di zaman Orde Lama tidak membuat gerakan ideologis bawah tanah para kadernya otomatis terhenti. Apalagi dengan jaringan teroris internasional yang menganggap bahwa kehancuran dan kemiskinan dunia ketiga karena ulah Amerika yang kafir.

Kepada wartawan (16/3) pengamat politik Hermawan Sulistyo menyebutkan meski gembong teroris yang selama ini diincar negara, seperti Dr. Azahari, Imam Samudera, Amrozi, Nurdin Top dan Dulmatin yang oleh pemerintah Amerika Serikat kepalanya dihargai senilai Rp. 93 Milyar itu telah mati, namun di negeri ini masih terdapat 1.500 ahli bom. Menurut Hermawan, dari jumlah tersebut yang masih aktif dalam jaringan teroris sekitar 500-600 orang.

Kedua, persepsi politik yang diyakini oleh segelintir masyarakat adalah isu bom buku merupakan isu politik untuk mengalihkan isu nasional yang ada. Dalam hal ini pengirim bom buku berhasil mengecohkan masyarakat Indonesia untuk memusatkan perhatian pada isu bom dan melupakan isu politik yang tengah hangat. Begitu pun media juga berebut berita soal pengiriman sepatu di Jatinegara (18/3) yang dikiranya bom. Selama ini seperti kita mafhum, banyak sekali kasus politik negeri ini tertutup juga karena pengalihan isu. Asumsi masyarakat yang melihat motif pengiriman bom sebagai upaya pengalihan isu memang sangat beralasan. Pengirim bom buku yang tentunya orang terdidik itu tentu menyadari bahwa pada saat bom buku dikirimkan posisi Ulil sedang di luar kota. Sangat tidak logis jika pengirim bom buku melepaskan begitu saja jadwal Ulil sebagai korban dari pengamatannya. Dengan adanya kabel-kabel yang ada di buku, tentu pengirim berharap agar penerima di Kantor Berita 68H tempat Ulil berkantor itu curiga dan segera menghubungi pihak berwajib.

Jika issu teroris yang menghendaki orang seperti Ulil yang selama ini banyak membela kelompok minoritas non muslim sebagai targetnya, lalu mengapa Ketua BNN juga mendapat kiriman bom serupa. Begitu pun dengan Ahmad Dani dan Yapto Soejosoemarno yang jelas-jelas tidak terlibat dalam pemikiran Islam modernis juga mendapatkan kiriman bom buku serupa? Di balik teka-teki, banyak masyarakat Indonesia justru penulis bertanya kemanakah pihak intelejen negara selama ini? Bukankah melalu jaringan bawah tanahnya yang sangat kuat BIN sangat memahami semua gerakan di Indonesia? (*)


Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Sosiologi Pedesaan


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Jadwal Piala AFF 2014 22 Nov 2014 12:04 WIB

Timnas Indonesia Tiba di Vietnam 20 Nov 2014 15:15 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 
Sesuatu di Balik Introvert 13 Nov 2014 20:45 WIB

 

 
DNA Bisa Diedit? 18 Nov 2014 19:11 WIB


 
Drone Konservasi Pemkab Katingan 17 Nov 2014 14:59 WIB

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia