KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSembilan Butir Testimoni Untuk Presiden Jokowi oleh : Berthy B Rahawarin
01-Okt-2014, 16:21 WIB


 
 
Sembilan Butir Testimoni Untuk Presiden Jokowi
KabarIndonesia - Jakarta, Inilah Sembilan Butir Testimoni untuk Presiden (terpilih) Joko "Jokowi" Widodo dari diskusi politik dengan tema "Etika Politik Impian Rakyat: Testimoni untuk Presiden Jokowi".

Narasumber dalam diskusi politik tersebut adalah guru besar dan pakar psikologi-politik Universitas
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kebebasan Diri 29 Sep 2014 05:20 WIB

Kata-kata Nan Muncul Tiba-tiba 26 Sep 2014 05:49 WIB

 
Tigi Menuju Perubahan! 25 Sep 2014 13:11 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 
Hobi Fotografi Tak Harus Mahal 29 Sep 2014 02:39 WIB


 
 
OPINI

MAHASISWA: Kejujuran dan Kepemimpinan
Oleh : Misbahul Ulum | 06-Apr-2012, 23:26:02 WIB

KabarIndonesia - Dalam pengertian ideal, mahasiswa adalah manusia pilihan yang memiliki pengetahuan cukup luas, baik teoritis maupun praktis, mampu berfikir logis serta mampu menjadikan ilmu yang ia miliki sebagai dasar dalam bertindak.

Pengertian ini adalah gambaran yang sangat ideal. Sebuah cita-cita luhur yang seharusnya tercermin dalam diri mahasiswa. Merekalah yang diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai kebaikan di masyarakat dan sekaligus menjadi penerus kepemimpinan bangsa.

Pemaknaan seperti ini harusnya menumbuhkan tanggungjawab yang besar pada diri mahasiswa, bukan justru menjadikan dirinya sebagai manusia yang hanya berpangku tangan dan berharap pada ijazah dan gelar kesarjanaanya kelak.

Namun, dewasa ini eksistensi mahasiswa sebagai agen perubahan mulai dipertanyakan oleh banyak fihak. Dari tahun ke tahun jumlah sarjana selalu mengalami peningkatan, akan tetapi berbagai persoalan bangsa tak kunjung tuntas. Keberadaan mahasiswa justru hanya menjadi permasalahan tersendiri ditengah carut marut kehidupan bangsa.

Pola kehidupan yang hedonis ditambah dengan matinya semangat akademisi semakin memperburam potret "Mahasiswa" yang harusnya menjadi garda terdepan perubahan. Kehidupan mahasiswa saat ini cenderung hedon dan pragmatis. Kebiasaan copy paste saat mengerjakan tugas dan titip absen saat tak mengikuti perkuliahan menjadi gambaran yang lumrah. Tidak hanya itu, pola pergaulan masa kini yang cenderung tanpa batas juga tak jarang mengakibatkan para mahasiswa terjerumus pada pergaulan bebas.


Tanggungjawab Bukan Beban

Cara pandang mahasiswa terhadap dirinya sebagai "agen of social change" dan "agen of social control" adalah sebuah kebutuhan dan keharusan. Bukanlah hanya sebatas slogan belaka. Siapapun dan dimanapun mahasiswa itu berada berada, ia harus mampu menjadi pemimpin dan mampu memberikan warna.

Harus difahami juga bahwa dalam diri setiap mahasiswa tersimpan harapan masa depan bangsa yang perlu diperjuangakan, dan ini harus dimaknai sebagai kewajiban, bukan beban. Sebab, jika ini hanya dimaknai sebagai beban serta tuntutan maka usaha untuk memperjuangkan masa depan bangsa akan menjadi sulit karena sudah terbentuk paradigma bahwa semua itu adalah beban.

Berbeda jika "agen of social change" dan "agen of social control" difahami sebagai fitrah dirinya sebagi mahasiswa. Dengan penuh kesadaran dan tanpa sedikitpun merasa terbebani, ia akan selalu berproses dan berusaha mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Karena ia menyadari bahwa menjadi agen perubahan adalah konsekuensi logis yang tidak bisa ditawar.

Kesadaran berproses inilah yang dewasa ini hampir hilang dari diri mahasiswa, kecenderungan enggan berproses dan menginginkan sesuatu yang instant tanpa usaha menjadi hal yang biasa. "kongko-kongko" tanpa isi lebih disukai dari pada diskusi. Budaya baca seolah-olah hanya milik orang yang berkacamata tebal saja, membaca menjadi hal yang menakutkan, Perpustakaan bagaikan rumah tua yang tak pernah tersentuh.

Hal yang paling mengejutkan saat ini adalah begitu banyaknya mahasiswa yang tidak mengerti hakekat dirinya sendiri sebagai kaum terpelajar. Dengan anggapan bahwa mahasiswa mampu berfikir mana yang benar dan mana yang salah, tidak jarang tindakan yang diluar batas norma diklaim sebagai sebuah kewajaran atas dasar kebebasan.


Kejujuran dan Kepemimpinan

Disadari atau tidak, budaya yang serba instant ini semakin lama hanya akan menumbuhkan sikap hedonisme dan egoisme, bahkan pada titik tertentu akan membunuh kepekaan sosial. Mereka akan menjadi patung-patung intelektual. Memiliki banyak ilmu, akan tetapi tidak memiliki peran apapun dalam masyarakat.

Mahasiswa sekarang adalah cerminan masa depan bangsa yang akan datang, ia harus mampu merepresentasikan figur seorang pemimpin yang tangguh, karena dalam diri merekelah masa depan bangsa ini disandarkan. Keberadaan dirinya saat ini adalah untuk diproses menjadi pemimpin dimasa yang akan datang. Jika kondisi mahasiswa saat ini ternyata tak mampu memimpin dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia mampu untuk memimpin bangsa di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu, perlu direkonstruksi kembali hakekat mahasiswa sebagai agen perubahan yang diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin yang tangguh dan siap memimpin bangsa ini.  Salah satu cara yang mungkin bisa dilakukan adalah penanaman kembali nilai-nilai kejujuran, pembangunan paradigma, serta memahami arti pentingnya sebuh proses.

Kejujuran adalah hal yang penting. Terlebih dalam usaha menciptakan karakter pemimpin masa depan. Jika semasa mahasiswa tidak mampu mencerminkan nilai-nilai kejujuran bagaimana mungkin bisa diharapkan menjadi pemimpin yang jujur.

Tindakan ketidakjujuran agaknya sudah lumprah bagi mahasiswa, terlebih yang kaitannya dengan persoalan perkuliahan. Mulai dari budaya copy paste saat mengerjakan tugas, nitip absen saat kuliah, menyontek saat ujian, sampai harus memiskinkan diri saat mencari beasiswa. Jika kebiasan ketidakjujuran kecil seperti ini sudah dimaklumi, tentu harapan menjadi pemimpin yang jujur tak akan pernah terwujud.

Untuk menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter jujur, harus dimulai dengan membangun budaya jujur di lingkungan kampus. Sebab, kampus adalah laboratorium serta miniatur negara.

Lebih dari itu, Kepemimpinan yang lahir dari mahasiswa haruslah mampu memberikan cerminan kepemimpinan yang berkualitas. Bukan kepemimpinan hanya berpijak pada orientasi kekuasaan semata. Namun, yang perlu menjadi perhatian utama adalah kepemimpimpinan mahasiswa berorientasi pada kemampuan dan integritas mahasiswa. Wallahu ‘alam bi al-shawab. (*)

*Penulis adalah Aktivis HMI Cabang Semarang, mahasiwa IAIN Walisongo Semarang



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
International Press Card KabarIndonesiaoleh : Kabarindonesia
30-Sep-2014, 14:56 WIB


 
  International Press Card KabarIndonesia International Press Card HOKI ini merupakan Press Card yang bergengsi dan mempunyai nilai yang tinggi. Bagi mereka yang tertarik untuk bisa mendapatkan International Press Card HOKI sebagai reporter ataupun fotografer, silahkan menghubungi Redaksi KabarIndonesia melalui email ke info@kabarindonesia.com dengan subject/judul: “Saya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Indonesia Siap Hadapi Thailand 22 Sep 2014 13:06 WIB

Asian Games 2014 Resmi Dibuka 22 Sep 2014 11:59 WIB

 

 

 

 
Hati-Hati Lahir Premature 01 Okt 2014 16:27 WIB


 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia