KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRupiah Terpuruk, SBY Optimis Jokowi Mampu Temukan Solusi oleh : Wahyu Ari Wicaksono
18-Des-2014, 08:24 WIB


 
 
Rupiah Terpuruk, SBY Optimis Jokowi Mampu Temukan Solusi
KabarIndonesia - "Saya tetap mengikuti perkembangan situasi di tanah air, termasuk terjadinya gejolak ekonomi akibat jatuhnya nilai rupiah akhir-akhir ini. Saya juga mencermati perbincangan masyarakat terhadap persoalan ekonomi terkini, termasuk sejumlah pernyaatan pihak pemerintah.Memang yang paling mudah adalah mencari "kambing
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Terima Kasihku Untukmu 20 Des 2014 11:39 WIB

Jiwaku Gatal 20 Des 2014 11:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Wanita Paling Berharga 18 Des 2014 19:54 WIB


 
 
OPINI

MAHASISWA: Kejujuran dan Kepemimpinan
Oleh : Misbahul Ulum | 06-Apr-2012, 23:26:02 WIB

KabarIndonesia - Dalam pengertian ideal, mahasiswa adalah manusia pilihan yang memiliki pengetahuan cukup luas, baik teoritis maupun praktis, mampu berfikir logis serta mampu menjadikan ilmu yang ia miliki sebagai dasar dalam bertindak.

Pengertian ini adalah gambaran yang sangat ideal. Sebuah cita-cita luhur yang seharusnya tercermin dalam diri mahasiswa. Merekalah yang diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai kebaikan di masyarakat dan sekaligus menjadi penerus kepemimpinan bangsa.

Pemaknaan seperti ini harusnya menumbuhkan tanggungjawab yang besar pada diri mahasiswa, bukan justru menjadikan dirinya sebagai manusia yang hanya berpangku tangan dan berharap pada ijazah dan gelar kesarjanaanya kelak.

Namun, dewasa ini eksistensi mahasiswa sebagai agen perubahan mulai dipertanyakan oleh banyak fihak. Dari tahun ke tahun jumlah sarjana selalu mengalami peningkatan, akan tetapi berbagai persoalan bangsa tak kunjung tuntas. Keberadaan mahasiswa justru hanya menjadi permasalahan tersendiri ditengah carut marut kehidupan bangsa.

Pola kehidupan yang hedonis ditambah dengan matinya semangat akademisi semakin memperburam potret "Mahasiswa" yang harusnya menjadi garda terdepan perubahan. Kehidupan mahasiswa saat ini cenderung hedon dan pragmatis. Kebiasaan copy paste saat mengerjakan tugas dan titip absen saat tak mengikuti perkuliahan menjadi gambaran yang lumrah. Tidak hanya itu, pola pergaulan masa kini yang cenderung tanpa batas juga tak jarang mengakibatkan para mahasiswa terjerumus pada pergaulan bebas.


Tanggungjawab Bukan Beban

Cara pandang mahasiswa terhadap dirinya sebagai "agen of social change" dan "agen of social control" adalah sebuah kebutuhan dan keharusan. Bukanlah hanya sebatas slogan belaka. Siapapun dan dimanapun mahasiswa itu berada berada, ia harus mampu menjadi pemimpin dan mampu memberikan warna.

Harus difahami juga bahwa dalam diri setiap mahasiswa tersimpan harapan masa depan bangsa yang perlu diperjuangakan, dan ini harus dimaknai sebagai kewajiban, bukan beban. Sebab, jika ini hanya dimaknai sebagai beban serta tuntutan maka usaha untuk memperjuangkan masa depan bangsa akan menjadi sulit karena sudah terbentuk paradigma bahwa semua itu adalah beban.

Berbeda jika "agen of social change" dan "agen of social control" difahami sebagai fitrah dirinya sebagi mahasiswa. Dengan penuh kesadaran dan tanpa sedikitpun merasa terbebani, ia akan selalu berproses dan berusaha mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Karena ia menyadari bahwa menjadi agen perubahan adalah konsekuensi logis yang tidak bisa ditawar.

Kesadaran berproses inilah yang dewasa ini hampir hilang dari diri mahasiswa, kecenderungan enggan berproses dan menginginkan sesuatu yang instant tanpa usaha menjadi hal yang biasa. "kongko-kongko" tanpa isi lebih disukai dari pada diskusi. Budaya baca seolah-olah hanya milik orang yang berkacamata tebal saja, membaca menjadi hal yang menakutkan, Perpustakaan bagaikan rumah tua yang tak pernah tersentuh.

Hal yang paling mengejutkan saat ini adalah begitu banyaknya mahasiswa yang tidak mengerti hakekat dirinya sendiri sebagai kaum terpelajar. Dengan anggapan bahwa mahasiswa mampu berfikir mana yang benar dan mana yang salah, tidak jarang tindakan yang diluar batas norma diklaim sebagai sebuah kewajaran atas dasar kebebasan.


Kejujuran dan Kepemimpinan

Disadari atau tidak, budaya yang serba instant ini semakin lama hanya akan menumbuhkan sikap hedonisme dan egoisme, bahkan pada titik tertentu akan membunuh kepekaan sosial. Mereka akan menjadi patung-patung intelektual. Memiliki banyak ilmu, akan tetapi tidak memiliki peran apapun dalam masyarakat.

Mahasiswa sekarang adalah cerminan masa depan bangsa yang akan datang, ia harus mampu merepresentasikan figur seorang pemimpin yang tangguh, karena dalam diri merekelah masa depan bangsa ini disandarkan. Keberadaan dirinya saat ini adalah untuk diproses menjadi pemimpin dimasa yang akan datang. Jika kondisi mahasiswa saat ini ternyata tak mampu memimpin dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia mampu untuk memimpin bangsa di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu, perlu direkonstruksi kembali hakekat mahasiswa sebagai agen perubahan yang diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin yang tangguh dan siap memimpin bangsa ini.  Salah satu cara yang mungkin bisa dilakukan adalah penanaman kembali nilai-nilai kejujuran, pembangunan paradigma, serta memahami arti pentingnya sebuh proses.

Kejujuran adalah hal yang penting. Terlebih dalam usaha menciptakan karakter pemimpin masa depan. Jika semasa mahasiswa tidak mampu mencerminkan nilai-nilai kejujuran bagaimana mungkin bisa diharapkan menjadi pemimpin yang jujur.

Tindakan ketidakjujuran agaknya sudah lumprah bagi mahasiswa, terlebih yang kaitannya dengan persoalan perkuliahan. Mulai dari budaya copy paste saat mengerjakan tugas, nitip absen saat kuliah, menyontek saat ujian, sampai harus memiskinkan diri saat mencari beasiswa. Jika kebiasan ketidakjujuran kecil seperti ini sudah dimaklumi, tentu harapan menjadi pemimpin yang jujur tak akan pernah terwujud.

Untuk menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter jujur, harus dimulai dengan membangun budaya jujur di lingkungan kampus. Sebab, kampus adalah laboratorium serta miniatur negara.

Lebih dari itu, Kepemimpinan yang lahir dari mahasiswa haruslah mampu memberikan cerminan kepemimpinan yang berkualitas. Bukan kepemimpinan hanya berpijak pada orientasi kekuasaan semata. Namun, yang perlu menjadi perhatian utama adalah kepemimpimpinan mahasiswa berorientasi pada kemampuan dan integritas mahasiswa. Wallahu ‘alam bi al-shawab. (*)

*Penulis adalah Aktivis HMI Cabang Semarang, mahasiwa IAIN Walisongo Semarang



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Profesi Pembersih Ayam Potongoleh : Jumari Haryadi
11-Des-2014, 12:16 WIB


 
  Profesi Pembersih Ayam Potong Beragam jenis pekerjaan tersedia di sekitar kita, asal kita mau dan tidak malu melakukannya. Salah satu pekerjaan itu adalah menjadi pembersih ayam potong broiler. Tampak beberapa ibu yang tinggal di sekitar kandang ayam Cikeuting Farm Bekasi milik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Semakin Putih Semakin Sibuk 17 Des 2014 19:12 WIB

Satu Aktor Dua Peran 08 Des 2014 18:44 WIB

 
Budaya Menyontek Mendarah Daging 16 Des 2014 19:19 WIB

Antri Demi Kemajuan Bangsa 16 Des 2014 18:00 WIB

 

 
Menghilangkan Stres dengan Musik 15 Des 2014 12:26 WIB

 

 
Etika Social Media 16 Des 2014 19:24 WIB


 
Shalat Dhuha vs Rezeki Lancar 20 Des 2014 11:38 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia